
"Sepertinya hari sudah larut?" Felix melihat jam tangannya lalu menoleh menatap Darren. Darren mengerutkan dahinya lalu melihat jam yang melingkar ditangannya.
"Ya memang sudah larut. Jam sudah menunjukkan angka11 malam"
"Kau tidak pulang?" tanya Felix
"Dad, tadi kau mengatakan sangat menyukai saat seperti ini. Saat dimana anak-anak mu berkumpul. Aku hanya memenuhi keinginanmu. Aku akan menginap" Jawaban Darren membuat wajah Mommy nya Mika dan Feli sumringah begitu mendengar Darren akan menginap.
"Tumben sekali kau menginap" sindir Felix
"Mom,,sepertinya Daddy tidak menyukai aku menginap. Mungkin Daddy sudah tidak mengharapkan kehadiranku lagi disini"Darren mengadu dengan wajah yang dibuat semenyedihkan mungkin.
Felix mendengus
"Dasar tukang mengadu"
"Apa kau dan Darren ada masalah?" Mika menatap suaminya penuh selidik. Felix menggelengkan kepalanya.
"Tapi aku merasa sepertinya kau sangat memusuhinya hari ini" Mika menatap suaminya dan putra sulung nya bergantian.
"Ya Mom, aku juga merasa seperti itu. Sepertinya Daddy sangat membenciku hari ini" Darren memanasi keadaan
"Katakan Dad apa kesalahanku?" Darren tersenyum picik kearah Daddy nya. Ia tahu apa yang membuat Daddy nya uring-uringan melihatnya dari tadi. Itu mungkin gara-gara kejadian tadi pagi, dimana ia menemukan baju Feli yang tergelatak dilantai kamar Darren ditambah Darren yang mempertontonkan tubuhnya pada Feli.
Felix hanya berdecak kesal, tidak menjawab pertanyaan istrinya atau pun Darren.
"Biaiklah, sepertinya aku harus kembali kekamar ku. Melihat Daddy dan Darren meributkan hal yang tidak penting tidak akan ada habisnya" sindir Mike seraya beranjak dari tempatnya lalu berjalan menuju kamarnya.
"Baiklah, Mommy akan membersihkan kamar dulu" Mika beranjak dari tempatnya.
"Tidak perlu Mom, biar aku saja nanti yang membersihkannya" Darren menghentikan Mommy nya.
"Kau tidur saja dikamarku" ajak Feli.
"Bukankah kita sudah lama tidak tidur bersama? lanjutnya lagi
"TIDAK BOLEH!" teriak Felix yang membuat Mika dan Felix terkejut. Darren hanya terkekeh. Seperti dugaannya Daddy nya merasa ada yang tidak beres antara ia dan Feli.
"Sepertinya kau sudah ketularan putrimu yang suka berteriak tak tentu waktu" kesal Mika seraya memegangi dadanya.
"Responmu juga terlalu berlebihan. Bukan kah biasanya juga seperti itu, Feli dan Darren tidur bersama"
"Mulai sekarang tidak boleh. Mereka sudah sama-sama dewasa" putus Felix tapi menata kesal kepada Darren dan Feli.
"Mooommm...."rengek Feli tapi matanya juga membalas tatapan Daddy nya dengan tatapan yang tidak kalah tajam.
"Dengarkan saja apa kata Daddy mu. Maklumi saja, semakin tua memang semakin banyak aturan" Mika menenangkan putrinya yang sudah memanyunkan bibirnya lima centi.
"Tenang saja sayang, nanti aku akan datang menyelinap kekamar mu begitu Daddy tidur" bisik Darren. Feli mengangguk dan tersenyum
__ADS_1
"Jangan melakukan hal bodoh seperti menyelinap tengah malam, karna Daddy akan mengawasi kalian" ucap Felix seperti mendengar bisikan Darren pada Feli.
"Daddy menyebalkan!" Feli berdiri dari tempatnya.
"Aku keatas. Aku akan membersihkan kamar Darren" Feli mencium pipi Mommy nya dan Daddy nya lalu terakhir Darren.
"Baiklah sayang, sepertinya kita juga harus istirahat. Aku sudah mengantuk" Mika beranjak dari tempatnya seraya menarik tangan suaminya.
"Kau juga istrihat lah" Ucap Mika sebelum mereka pergi meninggalkan Darren. Begitu Mommy dan Daddy nya tidak terlihat lagi Darren segera beranjak dari tempatnya. Ia berjalan menuju kamarnya. Sesampai dikamarnya ia melihat Feli yang sedang menyemprotkan farpumnya dikamar Darren. Ia tidak tahu tujuannya apa. Darren berjalan menghampiri Feli lalu memeluknya dari belakang.
"Akh..kau mengagetkanku" pekik Feli dengan suara tertahan
"Aku merindukanmu"
"Astaga Darren kita baru baru saja berpisah 5 menit kau sudah merindukanku"
"Didepan Daddy dan Mommy aku harus bersikap seperti kakakmu Feli sayang"
"Dan sekarang aku adalah kekasihmu. Dan kekasihmu ini merindukanmu" Darren meletakkan dagunya dibahu Feli.
Feli memutar tubuhnya, ia mengalungkan tangannya di belakang leher Darren
"Sepertinya kau sudah tergila-gila padaku" Feli tersenyum menggoda
"Aku memang selalu tergila-gila padamu" jawab Darren jujur dan tulus
"Aku tidak percaya kau sudah menahannya selama ini" Feli mengelus rahang tegas Darren
"Apa yang dikatakan Mike benar?" Darren menatap sendu wajah Feli.
"Oh Darren...kau lihat aku baik-baik saja. Dan Dokter juga sudah mengatakan bahwa aku sudah sembuh total. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Kau lihat ini" Feli kembali memghentakkan kaki kanannya seperti yang dilakukannya tadi dihadapan keluarganya.
"Mike mengatakan ia sering mendengar mu meringis kesakitan" Darren menarik tangan dan mendudukkannya diatas ranjang.
"Itu sudah lama Darren. Itu terjadi jika aku merasa tertekan dengan fikiranku" jawab Feli jujur.
"Dan kau tahu, melihatmu dengan beberapa wanitamu yang membuatku merasa tertekan" lanjutnya
Darren berjongkok dihadapan Feli. Mengusap lutut Feli dan menciumnya tepat dibekas lukanya.
"Maafkan aku" lirihnya
"Darren..berhenti menyalahkan dirimu. Itu bukan salahmu. Ambil sisi baiknya, jika saja kecelakaan itu tidak terjadi mungkin kanker tulang dikaki ku ini tidak terdeteksi sedini mungkin" Feli mengusap rambut Darren.
"Darren tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Jika kau tidak percaya kita bisa besok memeriksakannya" Ucap Feli menenangkan Darren
"Jika memang sudah sembuh kenapa kau masih merasakan sakit?"
"Karena psikologis. Ternyata tubuhku masih mengingat rasa sakitnya. Kau tahu tubuh kita lebih pintar dari yang kita kira" jawab Feli asal tapi sepertinya meyakinkan..
__ADS_1
"Maafkan aku dan terimakasih Feli" suara Darren bergetar.
"Ckkk...kau berlebihan. Tapi jika kau bersungguh-sungguh dengan ucapan mu, setidaknya berjanjilah padaku tidak membuat ku cemburu. Aku tidak menyukai saat kau tersenyum pada wanita lain. Kau tahu senyum mu mengandung alkhol yang bisa membuat wanita mabuk"
Darren terkekeh mendengar permintaan dan gombalan Feli terhadapnya
"Baiklah aku berjanji. Tidak ada alasan bagi ku untuk melirik wanita lain disaat aku sudah mendapatkan bidadari seperti mu" Darren duduk disamping Feli lalu menariknya kedalam pelukannya.
"Darren kau sungguh mencintaiku?" gumam Feli didalam pelukannya. Darren melepaskan pelukannya. Menatap Feli heran. Ada apa dengan pertanyaan tiba-tiba itu.
"Aku seperti mengingat sesuatu. Kecelakaan itu terjadi 15 tahun lalu. Kau menyukai ku juga 15 tahun lalu. Apa kau yakin menyukaiku? Atau itu hanya sekedar rasa bersalahmu?"
"Jika aku hanya merasa kasihan atau merasa bersalah seperti yang kau katakan, tidak mungkin jantung ku berdebar setiap melihat senyum mu. Dan yang lebih tidak mungkinnya lagi juniorku memberikan reaksi yang sangat cepat setiap kau menyentuhku" ucapan mesum Darren sangat kontras dengan wajah Darren yang terlihat serius.
"Mesum!" Feli memukul dada Darren dengan wajah bersemu merah.
"Baiklah ayo kita tidur" Darren mengangkat Feli dan merebahkannya dengan sangat hati-hati lalu menyelimuti tubuh Feli
"Bagaimana dengan Daddy?" tanya Feli ragu
"Daddy sudah tidur. Ia tidak mungkin datang memeriksa kita" Darren merebahkan tubuhnya disisi kanan Feli.
"Tidurlah" Darren mengecup dahi Feli
"Selamat tidur Darren" Feli mengecup bibir Darren.
"Sayang...tidak ada malam yang erotis. Jadi jangan menggodaku" Darren mengingatkan.
Feli terkikik geli.
"Ok" ucapnya seraya menyatukan ibu jarinya dan jari telunjuknya
"Mimpi indah" Darren menarik Feli kedalam pelukannya.
"Hmm..tapi Darren kau tahu apa impian terbesarku?" tanya Feli
"Menjadi wanita karir yang sukses dan hebat" Mata Darren sudah terpejam.
"Tidak! Mimpi ku adalah hidup bersama denganmu selamanya dan memiliki akhir yang bahagia bersamamu"
"Dan kau tahu apa impianku Feli?" Darren menanyakan hal yang sama.
"Menjadi pengusaha sukses. Dan sepertinya mimpi mu sudah menjadi kenyataan" jawab Feli
"Bukan. Impianku ku adalah memastikan semua mimpi mu menjadi kenyataan" Darren kembali mengecup kening Feli.
T.B.C
FELICIA BREYONNA
__ADS_1