
"Morning sunshine" senyum hangat dan tatapan penuh cinta Darren menyambut pagi Feli.
"Morning, honey" jawab Feli masih dengan suara serak khas bangun tidur.
"Aku kesiangan lagi, maafkan aku"
"Tapi kenapa kau tidak membangunkanku, dengan begitu aku bisa menyiapkan pakaianmu" Feli memanyunkan bibirnya antara kesal dan menyesal.
"Kau terlihat sangat pulas, aku mana tega dan Feli ini hanya pakaian sayang, aku bisa mengurusnya sendiri, kecuali hal lain yang tidak bisa kuurusi pasti aku akan memintamu"
"Katakan hal lain apa yang tidak bisa kau urusi, aku akan mempersiapkannya"
Darren tergelak, lalu berjalan ke arah Feli, duduk di atas tempat tidur dan berhadapan dengan Feli.
"Mendekatlah, aku akan membisikkannya" perintah Darren yang langsung diangguki oleh Feli.
"Hal lain yang tidak bisa kuurusi adalah hal yang selalu kita lakukan tiap malam, sayang"
"Mengurusi pesawat tempurku" Darren menggigit pelan telinga Darren dan detik berikutnya Feli mendorong tubuh Darren hingga menjauh darinya.
"Pergilah kau mesum!" teriak Feli dengan wajah merona.
"Mandilah, aku sudah menyiapkan air hangat. Aku akan menunggumu dan kita akan turun bersama" Darren mengacak rambut Feli.
"Darren kenapa kau manis sekali, aku tidak tahu apa jadinya aku tanpamu, berjanjilah kau tidak akan pernah berubah. Sungguh hidupku sangat indah bahkan dibanding dengan cerita tuan putri dalam sebuah dongeng sekalipun yang selalu mommy bacakan kepada kita. Aku takut kebahagiaan ini hanya sementara. Kau tahu aku banyak kekurangan, sementara kau terlalu sempurna" terlihat jelas ketakutan dalam nada dan raut wajah Feli. Feli sadar betul akan kekurangannya. Mulai dari awal sejak ia mengenal Darren, Darren selalu mengalah padanya. Darren selalu mengutamakan kepentingannya dan Darren selalu berbuat lebih padanya. Darren memang tidak pernah mengeluh atau mempermasalahkan semuanya tapi tetap saja Feli merasa khawatir mengingat betapa banyaknya kekurangannya sebagai istri. Bahkan hanya untuk sekedar menyiapkan baju buat Darren ia selalu bangun kesiangan.
"Hei sayang, ada apa denganmu? Kenapa kau mendadak jadi seperti ini, hmm?" Darren tersenyum hangat seraya membelai lembut rambut Feli. Ia sadar perubahan sikap Feli yang berubah-ubah dan perasaan sensitif lainnya adalah bawaan hamil.
"Kau adalah pusat kehidupanku lalu bagaimana mungkin aku bisa meninggalkanmu. Aku melakukan semuanya agar kau nyaman dan hidup bahagia bersamaku. Jika kau bahagia itu sudah cukup bagiku, Feli. Jadi aku minta berhentilah memikirkan hal aneh dalam otak kecilmu ini karena sekalipun kau memintaku pergi kau tahu aku tidak akan pernah pergi" Darren berhenti sesaat, menarik nafas dan menjeda ucapannya.
"Sekarang kau mandilah, mungkin yang lain sudah menunggu kita di bawah atau aku perlu lagi untuk memandikanmu?"
"Maka kita akan melewatkan sarapan dan berakhir dengan acara smack down di kamar mandi" jawab Feli yang membuat Darren tergelak.
"Dan kau tahu aku tidak akan keberatan, sayang."
ππππ
"Apa kau sudah melakukan apa yang kuperintahkan, Luc?" Darren menatap Lucas sahabatnya yang juga merupakan orang kepercayaannya.
"Apa maksudmu menyelidiki latar belakang Bernard Lincoln?"
Darren mengangguk
__ADS_1
"Hmmm, dari apa yang kuselidiki, Bernard Lincoln beberapa kali harus berurusan dengn kepolisian. Bukan hanya menggelapkan uang perusahaan, merampok, bahkan ia juga tidak segan untuk membunuh orang yang menghalangi jalannya untuk mendapatkan apa yang dia inginkan. Bernard adalah orang yang sangat serakah dan perlu kau ketahui Darren, dari informasi yang kudapat Bernard bahkan pernah menjadi ketua salah satu genk mafia" Lucas menjeda ucapannya, menatap Darren untuk melihat reaksi atas ucapannya. Wajah Darren terlihat datar seperti tidak terpengaruh atas ucapannya. Darren menautkan kedua tangannya menopangkan dagu di atasnya, menunggu Lucas menyelesaikan ucapannya.
"Ckckk..kenapa kau terlihat santai" Lucas berdecak kesal.
"Apa hanya itu informasi yang kau dapat?"
"Informasi yang kudapat itu juga sudah cukup menunjukkan bahwa orang yang kau hadapi sekarang bukanlah orang sembarangan, kawan" Lucas menekan ucapannya agar Darren tahu bahwa seorang Bernard adalah orang yang cukup mengerikan.
"Apa kau tidak menemukan hubungan antara para tikus liar yang bersarang di kediaman Maxston dan oh astaga, aku sungguh tidak percaya ini, bagaimana bisa Aunty Laura menikah dengan pria seperti itu."
"Semua kejahatannya tidak diketahui oleh Ny. Laura. Dia benar-benar sudah menipu Ny.Laura dengan topengnya dan ya semua kejahatannya sudah dimusnahkan dari semua media. Bisa kau bayangkan seperti apa pengaruhnya."
Darren hanya mengidikkan bahunya acuh seakan tidak peduli.
"Baiklah Luc, kau sudah bekerja keras. Terima kasih dan teruslah pantau pria tua itu" Darren mengakhiri pembicaraan mereka. Lucas mengangguk lalu beranjak pergi.
Sepeninggalan Lucas, Darren segera mengambil ponselnya, menekan nomor seseorang yang sangat ia rindukan. Panutannya dalam hidup.
"Apa kau sangat merindukanku, son?" terdengar jawaban dari seberang telepon. Senyum Darren mengembang di wajahnya begitu mendengar suara Daddy_nya, Felix O'Neil McKenzi.
"Ya, Dad"
"Bagaimana khabarmu, Mommy dan juga adikku, Dad?"
"Secepatnya aku dan Feli akan kembali, Dad"
"Kau menyebut nama putriku, bagaimana keadaaannya?"
"Aku berada di sampingnya, tentu saja dia baik-baik saja, Dad"
Felix mengangukkan kepalanya sekalipun Darren tidak melihatnya.
"Lalu katakan ada apa kau menghubungi Daddymu ini?"
"Tentu saja karena aku sangat merindukanmu."
"Berhenti berbasa basi, anak muda."
"Aku sudah tidak muda lagi, Dad. Sebentar lagi aku juga akan menjadi seorang Daddy"
"Oh astaga aku melupakannya, kau sudah membuat putriku hamil lalu katakan bagaiman kabar cucuku?"
"Cucumu juga baik-baik saja Dad, dia berkembang dengan sangat baik di dalam perut seksi putrimu."
__ADS_1
"Dad.." panggil Darren.
"Hmm..aku mendengarkanmu, son?"
"Apa Bernard Lincoln begitu mengerikan?"
Felix terdiam sesaat, yang terdengar hanyalah hembusan nafas mereka.
"Dad.." kembali Darren memanggil Daddy_nya. Tidak ada jawaban tapi Darren tahu Daddy_nya masih mendengarkannya dan menunggu ia melanjutkan ucapannya.
"Apa aku mampu menghadapinya, Dad?"
"Kau harus mampu Darren, bukan hanya Feli yang harus kau lindungi tetapi keluarga Maxston lainnya. Tapi son, Bernard adalah lawan yang tangguh. Dia sangat terkenal dalam dunia hitam."
"Ternyata yang dikatakan Lucas benar, Bernard bukan orang sembarangan" Darren bergumam yang masih di dengar oleh Felix, Felix bisa merasakan ada kecemasan dalam nada suara putranya itu.
"Oh, ayolah son, kau dibesarkan oleh seorang McKenzie, jangan membuat Dad malu mendengar ketakutan dalam suaramu, apa Daddy perlu turun tangan untuk membantumu" Felix tergelak sengaja untuk menghilangkan ketegangan dalam diri Darren.
"Daddy penasaran, kenapa Auntymu bisa menikah dengan pria itu. Dari rumor yang pernah Daddy dengar dia memang sudah menikah tapi istrinya masih sangat muda, dan kau tahu istrinya adalah kelemahannya. Jadi aku curiga apa dia memiliki istri lain selain Auntymu."
Istri yang masih muda? apa mungkin istrinya salah satu dari dua tikus liar di kediaman Maxston? Darren membatin.
"Apa Daddy pernah melihat istri yang dirumorkan itu?"
"Sayang sekali Daddy tidak pernah melihatnya."
"Baiklah Dad, sampaikan salamku pada Mommy dan juga Mike
"Katakan pada Feli kami merindukannya dan kami mencintainya"
"Aku juga mencintaimu, Dad"
Felix tergelak mendengar pengakuan cinta dari putranya itu.
"Sepertinya suasana hatimu sangat buruk"
"Percayalah Dad akhir-akhir ini perasaanku tidak enak dan tidak menentu. Aku merasa sesuatu akan diambil dariku, katakan aku harus bagaimana, Dad?"
"Daddy percaya padamu, son. Daddy yakin kau bisa mengatasi semuanya. Yang perlu kau lakukan hanyalah percaya pada dirimu, apa pun yang terjadi tidak akan ada yang menyalahkanmu, karena Daddy tahu kau pasti sudah berusaha sebaik mungkin. Segeralah selesaikan urusan di sana dan lekaslah kembali."
"Thanks Dad, sungguh aku sangat merindukanmu."
T.B.C
__ADS_1