
"Kau masih marah?" Darren meletakkan nampan berisi makanan diatas meja. Ia berbalik lalu berjongkok seraya memangkukan kedua tangan nya diatas paha Feli.
"Ini sudah 4 jam lewat 27 menit 5 detik kau mendiamkan aku sayang" Feli melebarkan matanya. Ia tidak percaya Darren bahkan menghitung jam, menit dan detik ia mendiamkan Darren. Feli mendiamkannya begitu mereka sampai di hotel. Feli masih sangat kesal terhadap Emily yang mengaku teman kecil Darren. Dan bagaimana bisa Darren tidak pernah menceritakannya. Dan dengan berat hati Feli harus mengakui bahwa Emily sangat cantik. Rasa cemburu mendominasi perasaannya.
"Makanlah. Kau melewatkan makan siang mu. Jangan menyiksa dirimu hanya karena marah kepadaku" Darren mengambil nampan yang ia letakkan tadi di atas meja. Ia duduk disamping Feli.
"Katakan Aaa.." perintah Darren
"Aa..." Feli menurut. Darren menyuapkan makanan kedalam mulut Feli. Ia tersenyum lalu mengusap rambut kekasihnya itu.
"Apa kau sedang cemburu?"
"Hmmm" gumam Feli sambil mengunyah makanannya. Feli memang selalu jujur dengan perasaannya.
"Kenapa? Kau tahu tidak akan ada wanita lain yang bisa membuatku berpaling darimu" Ucapnya sendu. Feli menatap Darren. Mata mereka saling beradu.
"Aku tahu. Aku cemburu karna ia mengetahui apa yang tidak ku ketahui. Bagaimana kalian menghabiskan waktu bersama.."
"Kau menghabiskan waktu dengan ku hampir selama hidupmu Feli sayang. Sudahlah aku tidak ingin membahas orang lain saat kita bersama. Cepat habiskan makananmu. Aku akan menyiapkan air buat kau mandi" Darren beranjak dari tempatnya menuju kekamar mandi. Meladeni kecemburuan Feli tidak akan ada habisnya.
Feli memasukkan beberapa sendok makanan kedalam mulutnya sebelum beranjak menyusul Darren ke kamar mandi.
"Dia sangat cantik"
Darren menoleh begitu mendengar suara Feli. Ia tersenyum
"Ya..Emily memang cantik" jawabnya jujur. Ia juga tidak menyangka Emily tumbuh menjadi gadis yang sangat cantik walau didalam hatinya Feli tetap yang paling cantik.
Feli mendengus.
"Dia juga memangilmu Lion"
"Ciihh...kekanakan" cibir Feli
"Itu nama belakang ku Feli, dan ya dia satu-satunya yang memanggil ku seperti itu jadi aku langsung mengenalinya"
"Kata Satu-satunya terdengar aneh ditelinga ku Darren" gumam Feli tidak suka.
Darren menghela nafasnya. Lalu berjalan mendekati Feli
"Mandilah. Air nya sudah hangat"
"Dan Feli dengarkan aku. Jangan berfikiran aneh yang membuat persaanmu tidak nyaman. Dihati ku hanya kau satu-satunya wanita yang ku cintai. Kau satu-satunya wanita yang bisa membuat ku jatuh hati dan aku berjanji tidak akan pernah ada wanita lain. Jadi aku mohon singkirkan hal-hal yang menganggu fikiranmu itu" Darren mengacak rambut Feli.
Feli menyunggingkan senyum lebarnya hingga memperlihatkan giginya.
"Darren...kau membuat ku berdebar. Aku sangat menyayangimu.." Feli berjinjit, mengalungkan tangannya dileher Darren. Menyerangnya dengan ciuman bertubi-tubi
"Sayang, aku mohon hentikan. Jika tidak kita akan berakhir diatas buthup itu dan melakukan hal yang erotis" Darren memperingatkan. Lebih tepatnya memperingati diri nya sendiri yang sangat cepat bereaksi setiap mendapat sentuhan dari Feli.
"Aku tidak keberatan sama sekali" ujar Feli
Darren mendorong tubuh Feli kedinding. Mencium bibir Feli dengan lembut, dan tentu saja Feli menyambutnya dengan senang hati.
"Kau bisa merasakannya?" Suara Darren serak. Ia sudah sangat bergairah.
__ADS_1
Feli mengerutkan dahinya
"Merasakan apa?"
Darren menekankan tubuhnya ke tubuh Feli
"Adikku yang dibawah sana sudah sangat bergairah Feli" bisiknya ditelinga Feli. Feli melebarkan matanya dan spontan mendorong tubuh Darren lalu menurunkan matanya kebawah dan sungguh ia terpekik melihat tonjolan dibalik celana Darren
"Kau mesum sekali Darren" teriak Feli sambil mendorong tubuh Darren keluar.
"Apanya yang tidak keberatan, melihat junior ku saja yang menonjol dia sudah takut" gumam Darren mengacak rambutnya frustasi. Ia butuh air dingin.
Feli keluar dari kamar mandi setelah menghabiskan waktu 30 menit. Ia melihat Darren baru saja menutup panggilannya dengan seseorang.
"Kau menelepon seseorang" Feli duduk didepan meja rias.
"Daddy" jawab Darren singkat. Darren mengambil hair dryer dan mengeringkan rambut Feli. Feli sangat menyukai saat Darren mengeringkan rambutnya. Ia merasa sangat diperhatikan. Dan ya Darren memang sangat memperhatikannya. Darren selalu mengutamakan kepentingannya dibanding kepentingannya sendiri. Siapa pun yang melihat bagaimana Darren memperlakukan Feli pasti merasa sangat iri. Selain tampan, mapan, Darren juga sangat lemah lembuh. Sikapnya yang manis akan membuat wanita mana pun bertekuk lutut. Tapi seperti yang dikatakan Lucas, Darren hanya bisa bertekuk lutut dihadapan Feli.
"Daddy mengatakan apa?" Feli menatap wajah Darren dari cermin yang ada dihadapannya.
"Daddy meminta kita segera pulang" jawabnya tanpa mengalihkan tatapannya dari rambut Feli.
"Lalu kau mengatakan apa?"
"Aku mengatakan kita akan pulang satu hari lagi"
"Kenapa cepat sekali" protes Feli
"Daddy merindukan kita" kilah Darren. Ia juga bertanya-tanya dalam hati kenapa Daddy nya seperti memburu mereka agar segera pulang. Apakah ada hal lain yang akan dibahas Daddy nya selain hubungannya dengan Feli yang diyakini Darren sudah diketahui Mommy dan Daddy nya.
"Darren..." panggil Feli
"Hmm..." Darren menarik selimut menutupi tubuh Feli.
"Apa kau baik-baik saja?" Tanya nya.
"Kau ada disamping ku kenapa aku tidak baik-baik saja" Darren naik keatas ranjang dan menepuk lengannya agar Feli merebahkan kepalanya disana.
"Hmm...nyaman sekali" guman Feli yang membuat Darren tersenyum
"Aku merasa kau menyembunyikan sesuatu" ucapnya.
"Semuanya baik-baik saja Feli sayang. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Tidurlah" Darren mengecup kening Feli lalu mematikan lampu agar Feli tidak bertanya lebih lanjut.
Keesokan hari nya Feli dan Darren menikmati sarapannya direstaurant hotel. Akhirnya mereka memutuskan kembali hari ini. Darren juga sudah penasaran untuk mengetahui apa yang akan dikatakan Daddy nya.
"Aku ke toilet sebentar" pamit Feli
"Perlu ku temani?" tawar Darren.
Feli menggeleng
"Aku hanya sebentar" ia beranjak dari tempatnya.
Setelah selesai dengan kegiatannya dikamar mandi, Feli keluar. Ia berjalan sambil menunduk dan hampir saja menubruk seseorang yang sepertinya juga berjalan sambil menunduk juga.
__ADS_1
"Maaf"
"Sorry"
Ucap Feli dan wanita itu berbarengan. Feli mengangkat wajahnya dan terkesiap melihat siapa wanita yang hampir saja bertabrakan dengan nya itu. Wanita iti juga tidak kalah terkejutnya dengan Feli.
"Clarissa" gugup Feli. Keringat dingin membanjiri tubuhnya. Ia teringat kejadian 5 tahun lalu. Kejadian ia hampir diperkosa atas perintah wanita yang ada dihadapannya ini sekarang. Ia masih mengingat jelas bagaimana wanita itu menonton dan menertawakannya. Wajah Feli memucat. Ia merasakan sesak di dadanya.
"Feli...kau baik-baik saja" Clarissa mendekat. Ia melihat wajah Feli semakin ketakutan.
"Jangan mendekat" Feli merentangkan satu tangannya meminta Clarissa agar berhenti ditempatnya.
"Ada apa ini" terdengar suara wanita dari belakang Feli. Emily.
Emily mendekat dan melihat Feli yang ketakutan terduduk dilantai.
"Feli..kau baik-baik saja" Emily jongkok dan menyentuh bahu Feli. Feli menoleh menatap Emily.
"Tolong" gumam Feli dengan suara bergetar. Ia mencengkram tangan Emily kuat
Emily mengernyit ia menatap Clarissa meminta penjelasan. Clarissa menggelengkan kepalanya. Ia juga terkejut atas reaksi yang diberikan oleh Feli begitu melihatnya.
"Feli" Feli menoleh begitu mendengar suara Darren. Darren terkejut melihat wajah Feli yang penuh ketakutan dan terduduk dilantai. Ia segera berlari dan menarik Feli kedalam pelukanya.
Darren merasa Feli terlalu lama dikamar mandi sehingga memilih untuk menyusul Feli. Ia takut terjadi sesuatu yang buruk kepada Feli dan ternyata dugaan nya itu benar. Jantungnya seperti merosot kelantai begitu melihat Feli yang gemetar karena ketakutan.
"Heii..Feli sayang..tenanglah. Aku disini sayang" Darren menepuk-nepuk punggung Feli menenangkan.
"Kenapa ia ketakutan?" tanya Darren tanpa menoleh kepada Emily
"Aku juga tidak tahu Darren. Aku melihatnya sudah terduduk dilantai. Sepertinya ia ketakutan melihat Clarissa" ucap Emily ragu seraya menatap Clarissa yang menatap nanar kepada Darren yang sedang menenangkan Feli.
Darren mendongak dan melihat Clarissa yang berdiri dihadapan mereka. Ia memang tidak menyadari keberadaan Clarissa tadi. Wajahnya menggelap begitu melihat Clarissa. Sekarang ia tahu kenapa Feli ketakutan. Feli pasti mengingat kejadian itu
"Apa yang kau lakukan padanya" suara berat Darren terdengar seperti ancaman.
"Aku tidak melakukan apa pun Darren" ucapnya pelan penuh ketakutan.
"Beraninya kau muncul dihadapannya. Apa kau sudah bosan hidup" amuk Darren. Emily dan Clarissa tersentak melihat kemarahan Darren
"Katakan apa yang kau rencanakan wanita sialan" Matanya menyala menatap murka kearah Clarissa
"Darren.."
"Jangan menyebut namaku dengan mulut kotor mu itu sialan. Aku peringatkan sekali lagi jangan pernah muncul dihadapan Feli lagi dan jangan pernah berfikir untuk menyentuhnya karena kali ini aku tidak akan berbaik hati. Aku tidak akan sungkan sekalipun kau wanita" Darren mengangkat tubuh Feli kedalam gendongannya. Membawa Feli meninggalkan kebingungan terhadap Emily dan Clarissa.
"Kau baik-baik saja?" Emily mendekati Clarisa menyentuh bahunya
"Kau sengaja?" Clarissa menatap wajah Emily sinis.
"Apa maksudmu Cla?" Emily terkejut dengan tuduhan Clarissa.
"Aku tahu kau mengerti apa yang ku maksud" ucap Clarissa lalu pergi meninggalkan Emily.
T.B.C
__ADS_1