
Akhirnya seminggu terlewati dan tiba hari yang dina ti oleh kedua mempelai dan keluarga yang berbahagia.
Jam 5 subuh Bianca mulai didandani oleh MUA yang khusus dipesan oleh mama Angela. MUA khusus pengantin itu akan seharian menemani Bianca dan bertanggungjawab atas penampilan Bianca.
Prosesi yang sudah diatur oleh WO dimulai sejak jam 9 pagi, dan tepat jam 10, kedua mempelai beserta keluarga sudah siap melangsungkan pemberkatan pernikahan.
Bianca berdiri termenung di ruang persiapan mempelai wanita. Ada perasaan sedih dalam hatinya karena tidak adanya papa Indra yang akan mengantarnya sampai ke altar. Sekuat tenaga dia menahan airmata yang terus memberontak ingin keluar dari sudut matanya.
Pintu ruangan terbuka membuat Bianca tersadar dari lamunannya dan menatap sosok baya yang terlihat gagah dalam balutan jasnya.
“Apa boleh Opa menggantikan papamu untuk mengantarmu ke altar ?” Opa Ruby mendekati Bianca dan bertanya dengan lembut.
Bianca terkejut mendengar tawaran Opa Ruby dan spontan Bianca mengangguk. Tetesan air mata itu akhirnya menerobos keluar juga. Opa Ruby mengeluarkan saputangan dari saku celananya dan menghapus air mata Bianca perlahan.
“Jangan menangis, ini hari bahagiamu. Opa bersyukur karena Devano bertahan dengan pilihannya, yaitu kamu, untuk menjadi pendamping hidupnya. Opa percaya kalau kalian akan saling membahagiakan satu sama lain.”
“Terima kasih, Opa.” lirih Bianca sambil berusaha tersenyum.
“Yuk, kita masuk ke dalam. Jangan sampai calon suamimu yang tidak sabaran itu menerobos masuk kemari.” Opa Ruby meraih tangan Bianca dan diletakkan pada lengannya yang ditekuk menempel ke pinggang.
Di depan pintu, seorang WO memberi kode supaya musik pengiring dimulai. Pintu pun perlahan dibuka dan dengan wajah berbinar, Devano memandang Bianca yang mulai berjalan perlahan melewati lorong menuju altar didampingi Opa Ruby.
“Jaga cucu kesayangan Opa ini. Awas kamu bikin dia sakit hati,” pesan opa saat menyerahkan tangan Bianca ke dalam genggaman Devano.
“Yang cucu opa ini aku bukan Bianca,” protes Devano.
Baru saja opa mau mendebat lagi, mama Angela ternyata sudah bangun dari kursinya dan menarik opa pelan untuk mundur. Dia sudah hafal kalau anak dan papanya suka berdebat dan tidak mengenal tempat.
Janji suci pun diikrarkan keduanya di hadapan Tuhan, keluarga dan sahabat.
Devano membuka penutup wajah Bianca dengan pancaran rasa bahagia. Perlahan dia mencium kening, lalu kedua pipi dan akhirnya bibir Bianca.
“I love u so much, my wife,” ucap Devano sambil menempelkan kedua dahi mereka.
“I love u so much, my husband,” balas Bianca.
Semua yang hadir langsung memberikan tepuktangan bahagia melihat keduanya akhirnya bersatu dalam ikatan suci.
Hanya di kursi paling belakang, Desta terlihat beberapa kali menarik nafas panjang. Masih ada sedikit rasa tidak rela, namun apa dayanya, Bianca memilih Devano sebagai pelabuhan terakhirnya.
Jam 6.30 malam, grand ballroom sebuah hotel mewah mulai dipenuhi tamu undangan.
Tepat jam 6.45, kedua mempelai bersama orangtua memauki ruangan dan duduk di pelaminan.
Pesta perkawinan akbar putra tunggal dan cucu lelaki satu-satunya dari dua perusahaan besar yang bertaraf internasional digelar dengan menyebarkan 2000 undangan. Semula rencananya hanya 1000 udangan, tapi ternyata tidak cukup mengingat bukan hanya relasi mama Angela dan papa Harry, tapi juga relasi Opa Ruby. Belum lagi keluarga besar mama Lisa dan papa Indra serta sahabat-sahabat mereka.
“Devan, kok tamunya nggak habis-habis,” keluh Bianca yang mulai merasa pegal karena harus menggunakan sepatu hak 5 cm.
“Kamu udah nggak kuat ?”
“Bukan badannya, tapi kaki aku nih. Nggak biasa pakai sepatu begini tinggi.”
Devano terkekeh. “Mau aku minta ambilkan sepatu olahraga ?”
“Maksudnya biar aku gampang lari ? Lari dari kamu boleh ?”
Devano mencubit hidung Bianca.
“Akan aku kejar sampai ke lubang semut.”
“Memangnya muat ?” Bianca mencibir.
“Devan, kaki aku beneran sakit nih,” rengek Bianca lagi.
“Ya udah lepas aja sepatunya. Kan nggak kelihatan juga, ketutupan gaun kamu.”
Akhirnya Bianca pun melepaskan sepatunya. Devano memanggil salah satu staf WO untuk membantu Bianca mengganti alas kakinya.
__ADS_1
Jam 9.30, satu persatu tamu mulai meninggalkan grand ballroom dan menyisakan beberapa keluarga dan para sahabat.
Bianca dan Devano menyempatkan diri untuk makan malam karena mulai merasakan lapar. Padahal jam 6 tadi, pihak WO sudah mengatur supaya Bianca dan Devano bisa makan dulu.
“Makan yang banyak, Bi, biar nanti malam tetap strong,” ledek Devano sambil berbisik.
“Nggak boleh banyak-banyak kalau malam, nggak baik bisa sakit diabetes,” sahut Bianca sambil meraih gelas air putihnya.
“Jadi diabetes kalau energinya tidak bisa disalurkan untuk hal-hal bermanfaat. Kan nanti malam kita masih perlu tenaga lagi.”
“Memang ada acara apalagi ?” Bianca mengerutkan dahinya.
Devano menepuk jidatnya sendiri. Begini rasanya kalau menikah sama perempuan yang terlalu lurus dan nggak pernah pacaran. Kurang ilmu.
“Dimas !” Bianca melambaikan tangannya pada Dimas supaya mendekat.
Dimas yang baru saja mendekat ke meja makan keluarga langsung menghampiri kedua mempelai.
“Aku mau omong sama orang WO, dong. Memangnya habis ini ada acara apalagi ?”
Dimas menautkan kedua alisnya, merasa bingung dengan pertanyaan Bianca.
“Devano bilang kalau aku disuruh makan banyak karena habis dari sini, ada acara lain lagi.”
Dimas yang menatap Devano sekilas dan melihat boss nya sedang mengusap wajahnya dengan kasar langsung mengerti.
Tidak dapat menahan rasa gelinya, Dimas langsung terbahak, membuat keempat sahabat Devano yang ada di situ namun beda meja, ikut mendekat.
“Ada apaan sih ?” Leo langsung menepuk Dimas dan mengangkat alisnya sebelah.
“Tuh tanya sama bininya Devano,” Dimas menunjuk Bianca yang tampak bingung.
Belum sempat Bianca membuka mulut, Devano langsung membekap mulut Bianca dengan tangannya.
“Nggak usah tanya sama mereka, Bi. Kamu udah tahu jawabannya pasti pada ngaco semua,” dengus Devano.
“Bianca nanya habis ini mereka ada kegiatan apa lagi sampai-sampai Devano suruh Bianca makan banyak,” akhirnya keluar juga perkataan Dimas di sela-sela tawanya.
Keempat sahabat itu saling memandang dan akhirnya ikut terbahak juga.
Wajah Devano semakin memerah sementara Bianca semakin bingung melihat para pria itu terbahak.
Tidak berhenti sampai di situ, akhirnya para sahabat Bianca plus Diana dan Revan pun mendekat, menanyakan apa yang mereka tertawakan.
Devano sudah bangun dan menarik Bianca namun ditahan oleh Leo dan Ernest.
“Eiittsss tunggu dulu,” ucap Leo.
“Gue mau pindah. Pusing !” omel Devano.
“Coba tolong jelaskan dulu dong, sama istri tercintamu ini. Habis dari sini lanjut acara apa lagi ?”goda Ernest sambil mengedipkan sebelah matanya.
Para sahabat Bianca, Diana dan Revan yang langsung menangkap maksud Leo dan Ernest akhirnya ikut tertawa belakangan.
“Devan, kamu mau kasih aku kejutan ?” Bianca menatap wajah Devan dengan tatapan bingung.
Devano hanya mendengus dan membuang pandangan ke lain arah.
“Ayo dong, Mas Devan,” goda Joshua.
“Dasar ya sahabat gresek semua !” omel Devano.
“Apa perlu gue yang menjelaskan detailnya sebagai dokter, Van ?” Revan ikutan menggoda.
“Dokter mesum !” omel Devano.
“Devano, omong aja sih, habis ini kita mau lanjut acara apaan ? Kaki aku udah pegel nih,” rengekan Bianca malah memancing tawa yang lainnya.
__ADS_1
“Duh gimana dong ini, Devano,” goda Arya. “Perlu bantuan tukang pijit nggak ?” Arya mengerling.
Devano kembali menghela nafas kasar. Dia mendekatkan dirinya pada Bianca.
“Kamu beneran nggak tahu habis ini kita mau ngapain ?” tanyanya. Devano menangkup wajah Bianca.
Bianca mengangguk dengan wajah penasaran.
Devano langsung mendekat dan mencium bibir Bianca dalam-dalam.
Spontan para sahabat keduanya langsung berteriak histeris, ada yang menutup mata, ada yang meledek.
Bianca dengan mata terbelalak hanya diam saja saat Devano menciumnya.
“Sekarang kamu ngerti kan ?” tanya Devano setelah melepaskan ciumannya. “Sisanya biar mereka membayangkan sendiri,” ledek Devano sambil memandang para sahabatnya.
Bianca yang akhirnya mengerti langsung menundukkan wajah dan merasa malu.
“Udah Bi, nikmati aja,” goda Dimas .”Kamu kan tahu kalau macan satu ini bakal nurut sama kamu sebagai pawangnya.”
Ucapan Dimas kembali mengundang gelak tawa, apalagi melihat Devano kembali melotot pada Dimas.
Sedang asyiknya mereka menggoda sepasang oengantin baru itu, para pemain musik tiba-tiba memainkan lagu Kopi Dangdut.
Semua langsung saling menatap dan seperti mengerti satu dengan yang lain, semuanya beranjak menuju depan pelaminan.
“Ayo joget dong, Kak. Kapan lagi acara kawinan mewah berakhir dengan dangdutan.” Diana menarik lengan Devano yang masih berdiam.
Devano geleng-geleng kepala namun mengikuti juga langkah Diana sambil menggandeng Bianca.
“Baru kali ini baju princess narinya dangdutan,” ucap Bianca sambil tertawa.
Devano yang semula hanya diam, langsung ditarik para sahabatnya dan dipaksa ikut berjoget. Bianca yang kesusahan bergoyang akhirnya hanya berdiam di pinggir sambil tertawa melihat penampilan para sahabatnya yang berjoget.
Bianca memanggil salah satu WO dan meminta petugas foto dan video yang masih ada di situ mengabadikan momen itu.
Bianca tertawa bahagia saat melihat Devano pun berbaur bersama para sahabatnya dan menikmati alunan musik dan suasana yang ada.
Belum lagi Opa Ruby yang langsung menarik papa Harry dan papa Ardi untuk ikut berbaur dengan anak-anak muda tersebut.
“Terima kasih Tuhan, terima kasih karena Engkau telah menjaga hatinya untukku. Semoga kami bisa menghabiskan waktu bersama hingga maut memisahkan,” batin Bianca.
Tidak terasa air mata menetes dari dua sudut Bianca. Gadis itu membalikan tubuhnya dan mengusap air matanya.
Pelukan dari belakang di pinggangnya dan setangkai bunga mawar putih sudah berada di depannya.
Bianca memutar tubuhnya, dan mendapati sosok Devano di depannya.
“Jangan menangis,” Devano menghapus airmata Bianca dengan ibu jarinya.
“Aku nggak apa-apa. Udah sana kamu gabung lagi.”
Devano mengusap pipi Bianca dengan penuh cinta.
“Aku akan selalu melihatmu sekalipun aku sedang berada jauh darimu. Jangan pernah ragu untuk berbagi rasa denganku, karena mulai tadi pagi kamu adalah belahan jiwaku, separuh nafasku dan hidupku.”
“Terima kasih belahan hatiku, nafasku dan separuh jiwaku,” jawab Bianca dengan pandangan penuh cinta.
“Ikutan yuk !” Devano menarik lengan Bianca. Dia tidak ingin meninggalkan istrinya sendirian.
“Baju aku ?”
“Nggak masalah.”
Ternyata mama Angela pun sudah bergabung di antara mereka. Bianca pun akhirnya ikut bergabung dan berjoget sebisanya.
Malam itu ditutup dengan kebahagiaan Devano dan Bianca karena cinta mereka akhirnya bersatu. Kebahagiaan mereka karena selalu dikelilingi oleh orang-orang yang penuh kasih dan saling mendukung.
__ADS_1
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\= T A M A T \=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=