Bukan Mantan Pacar

Bukan Mantan Pacar
Bab 78 Sidak (Inspeksi mendadak)


__ADS_3

Devano yang mendapat tugas pergi ke Semarang di hari Minggu pagi bersama Arya dan Dimas sempat merasa kesal. Papa Harry memberikan tugas kunjungan dadakan tanpa bisa dibantah. Malam itu juga Dimas datang dan menginap di rumah keluarga Wijaya karena rencana akan berangkat jam 5 pagi dengan mobil Arya.


Menurut info dari papa Harry, sesudah meninjau perkebunan kopi di daerah Bawen, Arya akan mengajaknya melihat persiapan pembangunan resort baru di Kopeng yang merupakan milik bersama papa Harry, papa Himawan dan papa Ardi.


Minggu pagi jam 4.45 mobil Arya sudah memasuki halaman rumah keluarga Wijaya. Devano yang masih mengantuk karena baru bisa tidur pukul 3 pagi langsung membuka pintu belakang. Hanya papa Harry yang keluar mengantar kepergian mereka. Perjalanan dimulai dengan disetiri Arya sementara Dimas duduk di sebelahnya.


Devano langsung kembali tertidur di kursi belakang. Semalam Devano susah tidur karena tidak ada satupun pesan untuk Bianca berhasil terkirim. Usaha mencoba menelepon Bianca juga tidak membuahkan hasil karena selalu masuk ke kotak suara.


Pukul 9 mobil berhenti di tempat peristirahatan jalan tol trans Jawa mendekati kota Semarang. Devano terbangun dari tidur lelapnya. Ketiga pria itu turun untuk merenggangkan otot. Selain ke kamar kecil, tidak lupa membeli kopi dan penganan untuk mengganjal perut.


“Berapa lama lagi sampai di perkebunan, Dim ?” Tanya Devano sambil menikmati kopi hangatnya di gelas kertas.


“Sekitar 1.5 sampai 2 jam lagi. Kita langsung lanjut aja yuk, ngopinya sambil jalan biar sampai sana pas jam makan siang.” Ajak Dimas.


Devano dan Arya mengangguk dan berjalan menuju mobil.


“Biar gue aja yang lanjut setir, Ar.” Dimas meminta kunci mobil dari Arya.


Dan ketiganya kembali melanjutkan perjalanan dengan posisi Devano tetap di belakang.


“Elo kayak orang nggak tidur, Van ?” Tanya Arya selagi mobil mulai kembali memasuki jalan tol.


“Habis makan malam handphone Bianca nggak bisa dihubungi sama sekali. Kirim wa hanya centang 1, ditelepon pun langsung masuk kotak suara.” Nada kesal terdengar dari suara Devano.


“Kenapa elo nggak coba hubungi Desta ?” Tanya Dimas sambil melirik dari spion tengah.


“Ogah !” Omel Devano.


“Kenapa ? Takut nggak sanggup terima kenyataan kalau ternyata mereka berdua lagi berdekatan dan menghabiskan malam syahdu ya ?” Ledek Arya sambil tertawa dengan Dimas.


“Jauh nggak sih kalau kita lanjut ke tempatnya Bianca sama Desta ?” Devano tidak memperdulikan perkataan Arya malah menanyakan hal lain.


“Jauh, jauh banget.” Jawab Dimas cepat dan masih dengan tawa kecilnya.


“Baru juga ditinggal sehari udah kelimpungan. Waktu pisah 4 tahun kok bisa baik-baik aja.” Ledek Arya kembali.


“Ya bedalah kondisinya. Waktu itu kan dalam proses melupakan karena diminta sama opa untuk merelekan Bianca buat elo. Kalau sekarang kan udah resmi pacar malah calon istri.”


Perkataan Devano dengan wajah sumringah membuat Arya dan Dimas terbahak.


“Sudah yakin aja dia Ar, sebut Bianca calon istri.”


ledek Dimas.


“Yakinlah !” Jawab Devano mantap. “Cintaku sudah fixed diterima.”


Arya geleng-geleng kepala sambil tertawa.


“Untung gue udah anggap elo saudara sendiri, makanya gue usahain jagain Bianca sampai suruh-suruh Revan. Gue yakin elo sebenarnya suka sama dia juga dari SMA, cuma kegedean gengsi dan bodoh !” ejek Arya sambil mencibir.


“Kalau bodoh gue nggak bisa selesaikan sekolah dengan hasil cumlaude.” Sungut Devano kesal.

__ADS_1


“Elo itu pintarnya akademis, di kehidupan nyata minus malah,” ejek Arya kembali. “Apalagi soal cinta. Udah tahu cinta mati sama Bianca, bisa-bisanya merelakan dia buat orang lain.”


“Elo beneran udah nggak punya perasaan apa-apa sama Bianca kan, Ar ?” Devano mengangkat alisnya sebelah sambil menatap Arya penuh selidik.


“Ngawur pikiran elo. Gue udah melepas Bianca sebelum kita berangkat kuliah. Mau dipaksa kayak apapun, Bianca susah kepatok sama elo.”


“Elo kira gue ayam suka matok ?” Sungut Devano.


“Siap-siap punya boss bucin loh, Dim.” Ledek Arya pada Dimas yang langsung berakting memasang wajah lesu.


“Gue pengen lihat sejauh mana bucinnya seorang Devano Putra Wijaya,” ledek Dimas sambil tertawa dengan Arya.


“Kagak nurut tinggal potong gaji.” Devano mencibir.


“Mati lo Dim !” Arya menepuk bahu Dimas dari samping.


“Anjir tepokan elo Ar ! Sakit pake banget,” omel Dimas sambil mengusap bahunya dengan tangan sebelah.


“Haiisss lebay banget,” Arya mencebik.


Devano hanya geleng-geleng melihat kelakuan sahabat dan sepupunya.


“Ar, elo jadian sama Mia bukan karena pelampiasan atau pembuktian sama Bianca kalo elo bisa move on, kan ?” Tanya Devano dengan wajah serius.


“Duh Devano… Berapa kali gue bilang kalo gue udah move on dari Bianca. Gue jadian sama Mia juga bukan pas ketemu lagi langsung gue ajak pacaran.”


Devano hanya terkekeh.


“Ya siapa tahu aja itu alasan supaya elo tetap bisa dekat sama Bianca. Kan semua tahu kalau Bianca bersahabat baik sengan Mia dan Della.”


“Dimas, elo kok bisa betah jadi asisten boss model begini. Pintar-pintar oon.” Arya menoleh ke arah Dimas.


“Gajinya menggiurkan, Ar.” Dimas berbisik namun tetap bisa didengarkan oleh Devano.


“Cowok matere !” Ejek Devano.


“Demi bisa menikah muda, Van.” Jawab Dimas sambil tertawa.


Tanpa terasa ternyata mobil sudah sampai di tempat yang dituju. Memasuki halaman parkir yang luas, di sisi kanan terdapat satu bangunan dengan gaya khas Jawa Tengah yang merupakan restoran untuk para pengunjung yang ingin menikmati langsung hasil olahan kopi milik keluarga Wijaya. Tersedia juga makanan dan minuman lainnya selain kopi. Dimas terus membawa mobil melintasi jalan aspal yang lebarnya pas untuk 2 mobil, menuju kantor pengawas perkebunan.


Setelah 300 meter, di sisi kiri terdapat bangunan yang sedang didirikan. Belum sempurna namun bisa dilihat kalau bangunan itu akan menjadi sebuah rumah tinggal bergaya khas jawa.


“Itu lagi bangun apa, Dim ?” Tanya Devano.


Tanpa menoleh Dimas menjawab karena sudah tahu maksud pertanyaan Devano.


“Om Harry akan mendirikam rumah peristirahatan keluarga di situ, bisa untuk liburan atau kunjungan ke kebun kopi. Dari sana pemandangannya bagus banget. Bukan hanya bisa melihat perkebunan kopi tapi juga tempat wisata Eling Bening.”


Devano hanya manggut-manggut sementara Arya sedang menikmati pemandangan sekitar. Jendela kaca dibuka dan AC dimatikan karena udara luar cukup sejuk meskipun hampir tengah hari.


Tidak lama mobil terpakir di depan bangunan berlantai 2 berupa kantor pengawas perkebunan.

__ADS_1


Setelah merenggangkan kembali otot-otot yang kaku karena perjalanan, ketiga pria berwajah tampah itu memasuki kantor pengawas.


Dimas pun menemani Devano yang sedang diajak berkeiiling untuk mengenal langsung kondisi perkebunan. Pak Imam yang merupakan kepala pengawas perkebunan menjadi tour guide langsung untuk anak pemilik perkebunan ini. Banyak hal-hal yang ditanyakan Devano seputar masalah perkebunan. Baru 5 bulan terjun langsung di perusahaan papa Harry membuat Devano harus banyak belajar tentang bidang usaha yang akan diteruskannya.


Arya ikut juga berkeliling dan menikmati suasana di perkebunan kopi. Dimas berjalan beriringan dengannya sambil sesekali melengkapi penjelasan Pak Imam pada Devano yang berjalan di depan mereka.


Kurang lebih 1 jam acara tour keliling perkebunan selesai dan keempatnya kembali ke kantor pengawas. Di sana ternyata sudah menunggu seorang wanita seusia Dimas dengan memakai celana panjang jeans dan kemeja.


“Nggak ada waktu lain buat kinjungan, Dim ?” Omelnya saat melihat Dimas masuk ruangan.


“Komplainnya sama Pak Harry aja,” jawab Dimas sambil terkekeh.


Wanita itu melongok ke samping badan Dimas menatap kedua pria yang duduk di sofa dan masih berbincang dengan Pak Imam.


“Duh bawa 2 berondong ganteng. Pasti yang pakai kaos putih anaknya Pak Harry.” Wanita itu berkata pelan setelah memposisikan badannya kembali berhadapan dengan Dimas.


“Dasar jomblo !” Dimas mencebik. “Nggak boleh lihat cowok ganteng dan mapan, sinyal ke jombloan elo langsung bunyi.”


“Rese lo !” Dipukulmya bahu Dimas cukup keras.


“Duh ! Kenapa pada sukanya mukul bahu kiri gue sih. Tadi dipukul sama Arya, sekarang sama elo.”


“Mau gue pukul yang kanan biar seimbang ?” Wanita itu sudah bersiap dengan kepalan tangannya. Dimas langsung melotot padanya.


“Nama anaknya Pak Harry itu Arya ?” Tanya wanita itu kembali.


Belum sempat menjawab, Pak Imam sudah memanggil mereka.


“Dimas, lanjut mau makan siang di resto ?”


Dimas langsung membalik badannya dan mendekati sofs yang diikuti oleh wanita yang berbincang dengannya.


“Pak Devano, kenalkan ini Nindya, sekretaris pimpinan cabang Semarang.”


Wanita yang bernama Nindya itu pun maju mendekat dan mengulurkan tangannya, namun sempat bingung mau bersalaman dengan yang mana.


Devano pun mengulurkan tangannya setelah melihat wajah Nindya yang ragu.


“Devano.”


“Nindya, Pak.”


Selain dengan Devano, Dimas juga memperkenalkan Arya juga kepada Nindya.


Perkenalan singkat dilanjutkan dengan jadwal makan siang di rumah makan yang ada di depan. Pak Imam dan Nindya naik mobil lain.


“Gila cakep banget ya anak Pak Harry.” Bisik Nindya pada Dimas saat mereka menuju parkiran mobil.


“Udah ada yang punya,” jawab Dimas.


“Temennya juga boleh.” Bisik Nindya kembali.

__ADS_1


“Dasar !” Dimas menoyor kening Nindya. “Carinya cowok lokal aja, jangan halu ketinggian.”


Nindya bersungut-sungut kesal sementara Dimas hanya tertawa melihat wajah cemberut wanita itu.


__ADS_2