Bukan Mantan Pacar

Bukan Mantan Pacar
Bab 52 Makan Malam


__ADS_3

Jam 6.50 semuanya sudah berkumpul di meja makan. Bianca duduk diapit Diana dan mama Angela sementara di seberangnya duduk Dimas, Revan, Emilia dan Devano.


“Loh Arini dimana sayang ?” Papa Harry yang baru menyadari ketidakhadiran Arini bertanya pada mama Angela.


“Tadi dia minta sopir menjemputnya saat kalian sedang di ruang kerja.”


Papa Harry hanya manggut-manggut dan mempersilakan semua yang ada di situ untuk memulai makan malam.


Suasana terlihat canggung dan tidak nyaman. Mama Angela dan Diana yang masih merasa kesal dengan kelakuan Devano memasang wajah permusuhan. Sesekali Revan dan Dimas mencoba membuka percakapan untuk mencairkan suasana namun Diana dan mama Angela lebih banyak memilih diam.


“Sayang, aku mau yang itu.” Emilia yang sejak tadi bertingkah manja beberapa kali meminta Devano yang melayaninya mengambilkan makanan.


Kelakuan Emilia itu membuat mama Angela dan Diana semakin kesal dan ingin makan malam segera berakhir.


“Kamu harus coba yang ini,” Devano berkata dengan sikap canggung dan mengambilkan lauk daging sapi yang ada di salah satu mangkuk.


“Masakan mama selalu paling enak dan ngangenin.” Devano berusaha membuka percakapan dengan mama Angela. Diliriknya sang mama yang duduk berhadapan dengannya. Terlihat wajah mama Angela masih bermuka masam, membuat suasana hati Devano tidak enak


“Enak banget, ma. Mama memang selalu top soal masak memasak.” Devano mengacungkan jempol dan kembali menikmati makanannya dengan enak.


“Kamu yakin beneran enak ?” tanya mama Angela dengan wajah datar dan nada yang sedikit mengejek.


“Beneran ma,” Devano mengangguk pasti.


Yes ! Akhirnya mama mau buka suara juga, batin Devano.


“Itu masakan Bianca,” jawab mama Angela santai.


Uhhuukkk… uhhhuukkk… Devano langsung tersedak mendengar ucapan mama Angela. Papa Harry yang ada di dekat Devano langsung memberikan segelas air putih. Pria baru baya itu terkekeh melihar Interaksi istri dan anaknya.


“Hati-hati jadi susah move on kalau suka makanan buatan Bianca.” Ejek Diana dengan nada ketus.


Devano yang sudah kembali tenang dengan wajah memerah merasa lagi-lagi salah langkah. Ingin memuji wanita kesayangannya supaya tidak ngambek lagi malah mendapat skakmat dari sang mama dan adiknya.


“Sayang, kamu nggak apa-apa kan ?” Emilia mengusap punggung Devano yang membuat cowok itu jadi makin salah tingkah.


Emilia sempat menatap sosok Bianca yang duduk berhadapan dengannya. Dia menangkap ada sesuatu antara gadis itu dengan Devano.


Emilia yang sebenarnya memang punya rasa dengan Devano melihat Bianca sebagai saingan terberatnya. Saat Devano mengajaknya berpura-pura jadi pacar, hatinya senang bukan main karena memang selama ini Emilia naksir Devano tapi merasa sulit mendekati cowok itu karena sikap Devano yang kaku dan dingin terhadap kaum hawa.


Bagaikan gayung bersambut, Emilia memanfaatkan permintaan Devano untuk menunjukkan perasaannya. Saat bertemu langsung dengan Arini yang menjadi target permainan pacar pura-pura Devano, Emilia melihat bahwa Arini hanya seorang anak abege yang terobsesi pada Devano, bukan mencintainya. Model seperti Arini sangat mudah digeser oleh Emilia. Dengan pembicaraan singkat penuh dramatisasi dan provokasi, sore ini saja Emilia sudah mampu membuat Arini kesal setengah mati dan memilih pulang ke rumahnya daripada ikut makan malam.


Devano menggeliatkan badannya supaya tangan Emilia yang masih menempel di punggungnya terlepas. Tetapi sayangnya tangan itu sekarang berpindah ke paha Devano membuat cowok itu terkejut.


“Maaf aku pamit ke belakang sebentar.” Devano beranjak bangun dan meninggalkan meja makan.


Sebetulnya kamar mandi bukanlah tujuannya. Tapi Devano tetap masuk ke sana dan duduk di atas kloset yang sudah ditutupnya. Dia mengelus-elus dadanya sendiri dan merasakan sikap Emilia semakin berlebihan padanya.


Awal kesepakatannya, Emilia cukup bersikap layaknya seorang pacar hanya di depan Arini. Di luar itu Devano sudah memintanya untuk bersikap layaknya teman seperti hubungan mereka selama berkuliah di Amerika. Tapi sepertinya Emilia malah kebablasan.

__ADS_1


Sementara di meja makan, Emilia menjadi salah tingkah dan tidak lagi menikmati makanannya. Saat Devano meninggalkan meja makan, mama Angela dan Diana langsung memberikan tatapan tajam dan tidak bersahabat.


Awas kalian ! Lihat saja kalau Devano sudah menjadi kekasihku bahkan suamiku. Kalian pikir tidak mungkin bagiku untuk mendapatkan Devano. Batin Emilia dengan hati kesal


Tidak lama Devano kembali ke meja makan dan belum sempat duduk kembali, mama Angela langsung bangun.


“Sayang,” papa Harry menyentuh jemari mama Angela.


“Aku sudah selesai sayang,” mama Angela tersenyum tipis pada suami tercintanya.


Papa Harry melirik piring makan mama Angela yang ternyata memang sudah bersih. Papa Harry mengedipkan sebelah matanya untuk membuat suasana hati mama Angela lebih baik, namun hanya ditanggapi dengan senyuman tipis.


Diana yang juga kehilangan selera makannya ikut bangun. Bianca yang melihat kedua wanita yang mengapitnya bangun akhirnya ikutan bangun juga.


Devano yang tadinya ingin kembali duduk akhirnya hanya berdiri di samping kursinya dan memandang kepergian mama Angela, Diana dan Bianca dengan perasaan kacau.


Akhirnya acara makan malam yang sangat tidak nyaman itu berakhir. Papa Harry dan mama Angela melanjutkan obrolan di ruang keluarga sambil menonton TV sambil makan buah.


Diana yang masih dalam mode jutek langsung diajak ke halaman belakang oleh Revan, sementara Devano mengajak Emilia untuk bicara di teras depan. Semula Devano ingin membawa Emilia ke halaman belakang, tapi melihat Diana dan Revan sudah berjalan ke sana, Devano mengurungkan niatnya.


“Diana sayang, jangan jutek terus.” Revan meraih tangan Diana yang sudah duduk di sampingnya di gazebo dekat kolam ikan.


“Sebel aku sama Kak Devano. Bisa-bisanya milih pacar kayak gitu.” Ketusnya sambil memberenggut.


Revan tertawa dan mengacak rambut Diana.


“Jangan dikeselin, Devano nggak pacaran beneran sama bule jadi-jadian.”


“Tadi pas di ruang kerja papa Harry, Devano cerita kalau Emilia itu dititipkan oleh kakaknya untuk diajak pulang sekaian ke Jakarta. Nanti ada orang suruhan orangtuanya menjemput dan membawa pulang ke Surabaya.”


“Tapi kelakuannya lebay, udah kayak pacar beneran.” Diana mengerucutkan bibirnya.


Melihat itu Revan jadi tambah gemas dan mencium pipi Diana. Gadis itu terkejut dan langsung melotot.


“Enak aja main cium-cium nggak permisi”


“Habis mulut kamu yang cenberut melulu malah bikin gemas.” Revan mencubit kedua pipi Diana pelan.


“Iiihhh tambah kesel deh,” Diana menepis tangan Revan yang dibalas dengan gelak tawa.


“Kamu harus percaya sama Devano. Kita ikutin aja gimana rencana Devano seanjutnya. Fokus sama Bianca biar kita tetap dukung dia terus untuk mendapatkan kejujuran hati Devano.”


Revan menghentikan tawanya dan berkata pelan sambil membelai rambut Diana yang sebahu.


“Yakin ?” Diana menatap pujaan hatinya dengan wajah ragu.


“Iya yakin ! Lagian Devano kan udah bukan abege lagi. Mulai Senin dia sudah memulai tugasnya di perusahaan menjadi penerus papa Harry.”


“Semoga mereka berjodoh ya.” Diana merebahkan kepalanya di bahu Revan sambil merangkul lengannya.

__ADS_1


“Duduk !” suara tegas Devano diikuti dengan tatapan tajam menyuruh Emilian duduk di bangku kayu yang ada di teras depan.


“Mau ngapain sih di sini ? Banyak nyamuk tau !” Emilia mengomel sambil menepuk sana sini mengusir nyamuk.


Kelakuan gadis manja ini memang selalu menyebalkan. Kalau bukan karena Erwin yang meminta tolong padanya, rasanya Devano sangat malas menjadi teman perjalanan pulang Emilia. Dan bodohnya dia malah mengajak gadis menyebalkan ini untuk main drama demi menyingkirkan Arini yang tidak berhenti mengganggunya selama Devano kuliah di Amerika. Bukan hanya lewat sambungan telepon atau pesan Arini sering meneror Devano, bahkan adik Arya itu permah nekad datang ke Amerika sendiri dan tau-tau muncul di apartemen Devano !


“Tolong jaga kelakuanmu !” Tegas Devano. “Kesepakatan kita pura-pura pacaran hanya di depan Arini.”


“Aku nggak mau cuma pura-pura pacaran doang.”


Emilia membalas tatapan Devano sambil mengerling genit.


Sikap Emilia membuat Devano mendengus kesal dan mengalihkan pandangannya ke arah lain.


“Nggak bisa ! Aku nggak mau pacaran sama kamu.” Devano kembali memegaskan sikapnya.


“Karena Bianca ?” Emilia malah berdiri dan mendekatkan wajahnya ke muka Devano.


Devano yang terkejut melihat kelakuan Emilia reflek memundurkan badannya beberapa langkah.


“Tidak usah bawa-bawa orang lain ! Kita hanya pura-pura pacaran dan kesepakatan kita berakhir hri ini juga.”


“Nggak mau !” Emilia memberenggut.


“Terserah !”


“Devano !” Emilia menahan lengan Devano yang melewatinya menuju pintu masuk.


“Aku sayang sama kamu dan pingin jadi pacar kamu beneran.” Wajah Emilia berubah memelas.


Devano menarik nafas panjang dan melepaskan tangan Emilia. Dia membalas tatapan Emilia. Mengenal gadis yang manja dan agresif ini membuat Devano juga hafal dengan kelakuan Emilia yang sering mendramatisasi suasana. Beberapa kali Devano melihat kalau Erwin termakan dengan sikap Emilia yang sungguh seorang drama queen. Emtah karena Erwin begitu memanjakan adiknya atau memang termakan dengan sikap Emilia.


“Hubungan kita hanya bisa sebatas teman.”


Devano melanjutkan langkahnya dan mengabaikan Emilia membuat gaids itu cemberut.


“Devano, aku akan membuat kamu mencintai aku dan tidak akan bisa lepas dariku !” Teriak Emilia.


Devano berhenti persis di depan pintu. Satu tangannya tetap pada handle pintu yang sudah terbuka. Dia menoleh menatap Emilia yang kembali memasang tampang sedih.


“Jangan jadi manusia yang terobsesi. Papaku sudah tahu kalau kita hanya pura-pura karena Arini. Lagian aku sudah mengiyakan untuk menerima perjodohan orangtuaku.”


Perjodohan ? Batim Emilia


“Kamu bohong !”


“Itu urusanmu mau percaya atau tidak.”


Devano meneruskan langkahnya dan masuk ke dalam rumah tanpa menutup pintu.

__ADS_1


Emilia menghentak-hentakkan kakinya ke lantai sambil mengomel.


“Perjodohan apa lagi sih ? Bukannya Devano bilang sendiri kalau perjodohannya dengan Arini sudah dibatalkan tapi Arini menolaknya. Siapa lagi yang dijodohkan sama Devano ?” Emilia bicara pada dirinya sendiri.


__ADS_2