
Ketiganya duduk berseberangan dengan posisi Arya di sebelah Mia yang berhadapan dengan Bianca.
“Kalian nggak lagi nge-prank kan ?” Tatapan Bianca menelisik keduanya, menatap mereka bergantian.
“Maksudnya ?” Mia mengerutkan dahinya.
“Arya !” Bianca menatap Arya minta penjelasan.
“Memang apa untungnya nge-prank elo sampai kita harus pura-pura pacaran ?” Ledek --Arya.
“Nggak inget kejadian Revan ?” Bianca mendengus kesal. “Pacar orang elo suruh pura-pura suka sama gue dan ngaku kalau dia itu calon masa depan gue.”
Arya tertawa mendengar omelan Bianca dengan mimik yang menggemaskan.
“Jangan demi memaksakan gue jadian sama Devano, elo berdua pura-pura pacaran !”
“Jadi elo anggap gue nggak pantas jadi pacarnya Arya ?” Mia melotot membuat Bianca memutar bola matanya.
“Bukan nggak pantes, tapi nggak nyangka kalo Arya yang kayak kulkas jadiannya sama elo yang suka absurd. Nggak inget apa pas SMA kalian sering berantem karena Arya sebel sama elo.” Bianca tertawa.
“Parah deh punya sahabat kayak elo” Mia mengomel dan langsung cemberut.
“Sayang, jangan dengerin Bianca yang lagi frustasi sama Devano ya.” Arya merangkul bahu Mia dan sebelah tangannya mengusap jemari Mia.
Bianca menggeleng dan memanyunkan bibirnya.
“Asli menggelikan.” Bianca mencibir.
“Gue beneran pacaran sama Mia.” Arya menegaskan sambil menatap Bianca dengan wajah serius.
“Yakin ?” Bianca mengangkat kedua alisnya.
“Elo bener-bener ya Bibi Bian !” Mia mengomel dengan wajah yang cemberut.
“Mau bukti ?” Arya menantang.
“Memangnya kriminal perlu bukti.” Bianca mencibir.
Tiba-tiba Arya memutar bahu Mia berhadapan denganya dan tanpa diduga langsung
Cup
Arya mencium bibir Mia, membuat gadis itu langsung membelalakan matanya. Arya tersenyum manis menatap Mia
“Sadar sayang,” Arya mengelus pipi Mia. “Kalau mau lebih jangan di depan Bianca. Repot nanti kalau dia kepingin juga tapi Devano nya masih jaim.”
Wajah Mia langsung terasa panas dan memerah mendapat perlakuan Arya.
“Asli geli !” Bianca bertingkah seperti orang ingin muntah.
“Elo masih waras kan Ya ? Belum butuh psikolog kan ?” Bianca memajukan sedikit badannya.
“Sialan lo !” Arya mengomel.
Bianca tertawa melihat Arya kesal namun yang bikinnya susah berhenti tertawa karena melihat ekspresi Mia yang malu-malu kucing begitu. Temannya yang nyablak dan sering nggak jelas ini semasa SMA berubah menjadi gadis manis yang tersipu-sipu.
“Gue ke toilet sebentar.” Mia beranjak bangun.
Bianca langsung pindah ke sebelah Arya dan mencekal lengan cowok itu.
“Elo nggak main-main sama Mia kan ?” Bianca melotot menelisik Arya yang memasang wajah santai.
“Bukan pelampiasan karena gue tolak kan ?”
Uhhuukkk uhhhuukkk…
Arya langsung tersedak mendengar kalimat Bianca.
__ADS_1
“Elo kira gue kayak elo ? Stuck sama satu cowok udah 10 tahun nggak bisa move on ?” Ejek Arya.
“Nggak penting bahas gue sama Devano sekarang !” Tukas Bianca dengan nada galak.
“Awas aja ya kalo elo manfaatin Mia jadi pelampiasan doang !” Bianca memperingati Arya sambil mengangkat telunjuk jarinya.
“Atau manfaatin dia biar tetap dekat-dekat gue.” Bianca cekikikan.
“Dih kepedean !” Arya menyentil kening Bianca.
“Udah sayang ?” Arya langsung menyapa Mia yang sudah berdiri di belakang Bianca.
Bianca langsung bangun dan pindah ke kursinya semula.
“Gue udah interogasi nih mantan kulkas satu ini Mi. Kalo sampe dia macem-macem, laporan ya sama gue !”
Arya langsung terbahak apalagi melihat Bianca memasang muka galaknya.
“Udah kayak emaknya Bianca aja lo.”
Mia ikut tertawa.
“Baru kali ini gue lihat kepribadian elo yang kepo, Bi. Elo nggak punya kepribadian ganda kan ?” Ujar Mia di sela-sela tawanya.
“Sialan lo !” Umpat Bianca.
“Iya nih anak berubah banyak sejak kuliah psikologi, sayang. Baru tadi aku bahas kalau sekarang Bianca jadi sosok yang bawel dan kepo.”
Bianca mengangkat tangannya dengan posisi mengepal siap meninju Arya.
“Asli geli gue denger kata sayang elo berdua. Aku kamu ? Wuuiihh kayaknya udah serius aja.” Bianca mencibir.
“Kita udah 3 bulan jadian, Bi.” Mia tersenyum manis.
“What ? 3 bulan ? Dan elo sama sekali nggak ngomong di grup kita ?”
Bianca mendengus kesal. Dua mahluk di depannya seperti sudah sehati sejiwa.
“Terus gimana jadiannya ?”
“Kok kita kayak diinterogasi di kantor polisi ya, Yang ?” Mia bergelayut manja di lengan Arya.
“Maklum calon psikolog Yang, jadi perlu data akurat sebelum membuat analisa.”
Keduanya tertawa dengan saling menatap. Arya kembali mengelus pipi Mia dengan lembut membuat wajah si empunya memerah kembali.
Bianca menghela nafas dan membuangnya dengan kasar. Perasaannya campur aduk antara kaget, nggak percaya sekaligus geli melihat kelakuan kedua mahluk di depannya ini. Diambilnya gelas minuman es cokelatnya.
“Gue mau nambah makan, pokoknya elo berdua yang harus bayar ya !”
“Cuma bayarin doang mah nggak masalah.”
Bianca memanggil Rio, pelayan cafe yang kenal baik dengannya.
“Yo, tolong buatin makanan yang paling mahal.”
“Elo maunya apa ?” Rio malah balik bertanya.
“Banana split l. Es krimnya 2 strawberry 1 cokelat dan jangan lupa saus cokelatnya lebihan Lasagna dan pisang bakar cokelat keju.”
Rio malah tertawa mendengar pesanan Bianca.
“Elo udah nggak makan berapa hari Bi ?” Tanya Rio.
Bianca masih memasang wajah kesal karena bukan hanya Rio yang menertawakannya tapi Mia sahabatnya juga ikutan. Kalau Arya jangan ditanya lagi,
bukan hanya tertawa tapi juga memandangnya dengan tatapan meledek.
__ADS_1
“Maklum Yo, pelampiasan karena digantung cinta lama yang belum kesampaian.” Ledek Arya.
Bianca memutar bola matanya dengan muka sebal.
“Semua pesanan dibuat satu billing dan tagih ke bapak ini ya Yo.” Bianca menunjuk Arya.
“Gue input dulu ya Bi,” Rio yang sudah selesai mencatat pesanan Bianca pun berlalu.
“Della sudah tahu ?” Bianca menatap Mia dan mendapat anggukkan dari sahabatnya.
“Tega nya,” Bianca langsung cemberut. “Jadi gue yang belakangan tahu kalian jadian ?”
“Nggak,” tukas Arya.
“Devano, Joshua sama Ernest belum tahu. Baru Leo doang, itupun baru gue ceritain hari ini.”
“Tapi beneran bukan prank kan ?” Bianca menatap sahabatnya dengan wajah serius.
Keduanya hanya menggeleng.
“Terus gimana kalian jadian ? Nggak mau cerita juga ?”
Mia dan Arya saling memandang dan dengan gerakan wajah, saling menyuruh untuk menceritakan soal mereka pada Bianca.
“Awalnya karena gue sering ketemu Mia di Australia, Bi.” Arya mulai bicara serius.
“Kok bisa ? Sengaja nyamperin ?”
“Bisa nggak jangan komentar aneh-aneh sebelum gue selesai cerita ? Apa batal nih ceritanya.” Arya mengomel mendengar pertanyaan Bianca seperti detektif.
“Gue coba bujuk opa Ruby buat menggabungkan perusahaannya dengan perusahaan papa. Biar beliau tenang dan nggak kesel terus soalnya Om Harrydan nguber-uber Devano atau Diana untuk meneruskan usahanya.”
Bianca menahan diri untuk tidak berkomentar daripada membuat Arya ngambek. Kebetulan pesanan makanannya sudah datang. Bianca mulai menikmati lasagna nya dan mendorong pisang bakar ke tengah supaya bisa dinikmati bersama.
“Ternyata Mia ambil jurusan design interior di sana. Sempat jadi freelance di perusahaan Opa Ruby. Jadilah gue beberapa kali ketemuan kalau pas lagi ke sana.”
Bianca menatap Mia yang benar-benar terlihat berbeda dengan yang dikenalnya pas SMA.
“Jangan takut Bi,” Mia mengerling. “Awalnya juga gue berpikir kalau Arya menjadikan gue pelarian doang karena ditolak sama elo. Apalagi kan kita sahabatan, bukan nggak mungkin Arya ngedektin gue buat manas-manasin elo.”
“Butuh waktu 2 tahun Bi buat meyakinkan Mia kao gue beneran suka sama dia.” Arya meraih tangan Mia dan langsung menggenggamnya.
“Berarti elo tahu juga dong soal rencana pacar gila elo ini nyuruh Revan buat ngawasin gue ?” Bianca menatap Mia yang langsung mengangguk.
“Tahu, Arya udah cerita semuanya.”
Lagi-lagi Bianca menghela nafas dan membuangnya dengan kasar. Sepiring lasagna sudah habis berpindah ke perutnya.
“Elo sendiri gimana Bi ? Sama Devano.” Mia gantian bertanya.
“Gue bakal menyerah setelah masa magang gue berakhir.” Bianca tersenyum getir.
“Semua boleh bilang kalau Devano juga punya rasa yang sama kayak gue. Tapi kenyataannya Devano tetap berkeras dengan mulutnya bilang kalau dia hanya menganggap gue temannya.” Mendadak wajah Bianca berubah sendu.
“Gue bakalan menyerah dan …” Bianca menjeda sejenak.
“Elo !” Tunjuknya pada Arya. “Jangan coba-coba kirim orang lagi buat halangin cowok-cowok yang mau usaha sama gue.”
Tatapan galak Bianca tidak membuat Arya gentar malah membuat cowok itu tergelak.
“Iya… iya… Gue janji akan mendukung cowok manapun yang suka sama elo. Makanya jadi cewek jangan agresif menyatakan cinta duluan.” Ledek Arya.
“Awas lo !” Bianca kembali mengepalkan tangannya ingin memukul Arya.
Mia hanya geleng-geleng kepala. Kenapa jadi dia merasa kalau Bianca sekarang berubah menjadi sosok dirinya saat masih di SMA ? Sosok yang ekspresif dan spontan. Sementara Mia merasa jadi seperti Bianca semasa SMA yang kalem dan penyabar.
“Nggak mungkin ada pemindah jiwa yang menukar karakter kita berdua kan ?” Batin Mia.
__ADS_1