
17 hari berlalu dan belum sekalipun papa Indra membuka matanya. Dokter pun belum bisa memberikan pernyataan bahwa kondisi papa Indra membaik karena memang belum ada perubahan apapun. Mama Lisa yang kelelahan fisik dan mental pun mulai merasakan tidak enak badan. Bianca dan Bernard yang juga harus datang ke sekolah menjelang kenaikan kelas dan kelulusan. Masih ada beberapa ujian tertulis yang harus Bianca selesaikan sebelum mengakhiri masa putih abu-abunya.
Atas bantuan dari pihak perusahaan lewat Om Hendra, disepakati bahwa keluarga menjaga di siang hari sedangkan malam hari Om Hendra menugaskan beberapa orang kepercayaannya untuk menunggui papa Indra secara bergantian. Untuk siang hari dibuat bergilir antara mama Lisa, Bianca dan Bermard.
Senin pagi berlangsung seperti biasanya, kurangnya semangat para siswa memasuki gerbang sekolah. Apalagi menjelang kenaikan kelas dan kelulusan seperti ini.
“Bi,” Mia menepuk bahu Bianca yang sedang melangkah menuju tangga ke lantai 3.
“Pagi Mia,” sapa Bianca dengan senyuman.
“Elo udah tau kalo hari ini pengumuman SNMPTN ? Udah dipasang katanya depan TU.”
“Beneran ?” Bianca menghentikan langkahnya menoleh dan menatap Mia dan mendapati anggukan dari sahabatnya itu.
Bianca mempercepat langkahnya menaiki tangga dan segera sedikit berlari menuju ruangan TU yang terletak di lantai 2. Dia langsung menghampiri papan pengumuman dan mencari-cari namanya.
“Ya Tuhan,” Bianca menutup mulutnya dengan ekspresi tidak percaya.
“Kenapa Bi ?” Mia sudah berdiri di belakangnya.
“Nama gue Mia, nama gue,” Bianca menunjuk ke saah satu baris pada lembar pengumuman.
“Adduuhh ikut seneng Bi,” Mia langsung memeluk sahabatnya itu.
Bianca tidak sanggup menahan luapan kebahagiaanya saat melihat namanya tercantum sebagai siswa yang berhasil diterima lewat jalur SNMPTN. Tidak tanggung-tanggung, Bianca diterima jurusan paikologi di salah satu universitas negeri ternama di Jakarta. Air mata yang ditahannya akhirnya lolos keluar. Bianca semakin mempererat pelukannya pada Mia.
“Duh pagi-pagi udah peluk-pelukan.” Della bersidekap di depan dada sambil geleng-geleng.
“Del,” Bianca memandang temannya dengan air mata yang mengalir. “Gue berhasil diterima Del, gue berhasil.”
Bianca melepaskan pelukan Mia dan berpindah memeluk Della. Mia yang ikutan menangis karena terharu merapatkan dirinya ke Bianca dan Della lalu ikut memeluk kedua sahabatnya.
“Kagak nyangka gue Del.” Bianca mulai sesunggukkan.
Dari ujung tangga, sosok Devano yang baru saja datang melihat Bianca dam kedua temannya yang sedang berpelukan depan ruangan TU. Devano melihat bahwa Bianca sedang menangis saat itu karena bahunya terlihat bergetar.
“Morning Bro,” Joshua menepuk bahu Devano dari belakang dan membuyarkan pandangannya ke arah ruangan TU.
“Serius amat pagi begini.” Ternyata Joshua tidak datang sendirian tapi bersama dengan Leo.
“Samperin Bro,” goda Leo sambil menepuk bahu Devano.
Devano menoleh menatap Leo dan dengan ekspresi datarnya Devano malah membuang muka ke lain arah lalu melanjutkan langkahnya naik ke lantai 3.
“Susah kalo terlalu keras hati,” Leo menggelengkan kepala setelah bertukar pandangan dengan Joshua.
“Baru kesetrum dikit Bro, belum kecantol,” canda Joshua dan membuat keduanya tergelak sambil meneruskan langkah ke lantai 3 menyusul Devano.
__ADS_1
Selang 5 menit Arya dan Ernest datang bersamaan. Pandangan Arya langsung menangkap ketiga sahabat yang baru saja melangkah meninggalkan ruang TU.
“Gue ke sana dulu,” Arya menepuk bahu Ernest dan melambaikan tangannya sambil berlari kecil.
Ernest berhenti sejenak dan mengikuti arah langkah yang dituju oleh Arya.
“Bagus kalau elo dah berubah,” gumam Ernest sambil tersenyum dan melanjutkan langkahnya kembali.
“Bi, elo kenapa ?” Arya dengan tampang kagetnya menatap Bianca yang terlihat sembab.
“Are you okey ?” Arya menyentuh bahu Bianca dengan tatapan penuh khawatir.
Bianca menggangguk sambil tersenyum bahagia.
“Baik banget,” jawabnya dengan senyuman yang bertambah lebar.
“Kok mata lo…”
“Bahagia Arya… Tangisan bahagia,” sela Mia.
Arya menatap ketiganya bergantian masih dengan ekspresintidak mengerti.
“Bianca diterima di salah satu PTN di Jakarta,” Della yang menyahut.
Seketika wajah Arya berubah penuh bahagia.
“Eehhh no hug,” Della langsung menahan bahu Arya yang sudah bersiap memeluk Bianca.
“Hehehehe sorry, reflek,” Arya cengengesan sambil menggosok-gosok punduknya.
“Gue traktir semuanya nanti siang habis pulang sekolah.” Tutur Arya sambil mengikuti langkah ketiga gadis di depannya.
“Yang mahal ya ?” Mia berhenti dan menoleh sambil memasanh tampang sok imutnya.
“Beres, pilih sendiri.” Arya mengacungkan jempolnya.
Ketiganya masih asyik bercengkrama sambil melangkah menaiki tangga menuju ke lantai 3 dan tidak menyadari ada 2 mahluk yang menatap mereka dengan pandangan berbeda.
Devano yang berdiri di depan kelasnya memandang dengan wajah datar dan tanpa ekspresi apapun. Sementara tidak jauh darinya masih di deretan yang sama Nindi dan beberapa temannya tampak kesal dan geram melihat keakraban Arya bersama tiga gadis rivalnya.
“Kagak kapok juga tuh anak, lihat aja nanti.” Desis Bianca dengan penuh emosi.
“Kasih pelajaran aja sebelum kelulusan Nin, biar dia ingat terus dimana seharusnya dia berada,” timpal Chika mengompori.
Waktu pun berlalu dan jam 11.15 anak-anak kelas 12 boleh pulang karena kegiatan belajar mengajar tidak terlalu padat. Sebelum pengumuman kelulusan, masih ada satu PAS yang harus diselesaikan untuk mengisi nilai raport aemester genap.
Arya, Joshua dan Leo berdiri tidak jauh dari tangga di lantai 1. Joshua dan Leo menemani Arya yang menunggu Bianca, Della dan Mia untuk mengajak mereka makan siang sesuai janjinya pagi tadi.
__ADS_1
“Tuh udah ditunggu.” Mia memberi kode dengan gerakan kepala ke arah Arya dan teman-temannya.
“Jadi mau kemana ?” Tanya Arya begitu ketiganya sudah bediri di depan mereka.
“Terserah.” Mia mengangkat kedua bahunya.
“Ada ide Bi ? Della ?” Arya menatap Bianca dan Della bergantian.
“Gue nggak ikut ya,” tutur Bianca pelan. “Gue mau ke rumah sakit.”
“Makan dulu Bi, paling bentaran doang. Habis makan gue janji anterin elo ke rumah sakit deh,” Arya menatapnya dengan wajah memelas.
“Elo ikut aja dulu Bi, akhirnya kalo udah di rumah sakit elo bakalan lupa makan.” Della menimpali.
Setelah berpikir sejenak akhirnya Bianca mengangguk.
“Nah gitu dong,” Arya tersenyum lebar.
“Nih 2 jagoan ikut juga,” Arya menunjuk ke arah Leo dan Joshua.
“Kalo dibayarin makan siapa yang nolak,” gelak Joshua.
“Enaknya kemana ?” Tanya Arya.
“Cafe Toktok aja yang belum lama buka mau nggak ?” Mia bertanya sambil menatap satu-satu kelima orang temannya.
“Boleh tuh,” timpal Leo.
“Yuk lah kita ke sana,” Arya mengiyakan sambil mengajak ketiga gadis itu menuju parkiran mobilnya.
“Elo berdua gimana ?” Tanya Della sambil melihat ke arah Leo dan Joshua.
“Motor,” Leo mengangkat kunci motornya.
“Sip deh, ketemu di sana ya.” Mia mengacungkan jempolnya dan menyusul Arya serta Bianca dan Della yang sudah berjalan duluan.
Cafe yang sedang viral itu tidak jauh letaknya dari sekolah mereka. Hanya dalam waktu 15 menit sengan mobil mereka sudah sampai di sana.
Saat memasuki cafe yang mulai ramai, keempatnya mengedarkan pandangan mencari Joshua dan Leo yang sudah sampai duluan karena motornya sudah terlihat di parkiran motor saat mobil Arya tiba di depan cafe.
“Guys,” Joshua melambaikan tangannya memanggil keempar orang yang baru masuk cafe.
“Tuh,” Della yang melihat duluan menunjuk ke arah lambaian tangan Joshua.
Dan sekarang di sinilah mereka berenam sibuk membuka-buka menu. Menu yang disajikan memang cocok untuk kalangan anak muda dengan harga yang cukup pas di kantong pelajar dan mahasiswa. Pantas saja cafe ini langsung ramai dan viral di media sosial karena selain tampilannya cukup menarik, makanan dan minumannya pun pas dengan budgetnya anak-anak muda.
“
__ADS_1