Bukan Mantan Pacar

Bukan Mantan Pacar
Bab 71 Psikolog Atau Cenayang ?


__ADS_3

Desta meneleponnya tadi malam, meminta tolong Bianca untuk datang ke rumahnya menemani Sella karena kedua orangtua mereka batal pulang ke Jakarta. Desta sendiri ada beberapa pertemuan penting yang tidak bisa diundur apalagi dibatalkan.


Jam 9 pagi Bianca sudah sampai di rumah keluarga Pratama dengan ojol. Desta sempat menawarkan dijemput oleh supir tapi ditolak oleh Bianca.


Seorang pelayan mengantarkannya ke halaman belakang dengan pemandangan taman bunga dan kolam renang. Sella sedang duduk di kursi taman sambil menikmati sarapan paginya.


“Mau ngapain kamu kesini pagi-pagi ?” Ketus Sella saat lirikan matanya melihat sosok Bianca mendekat.


Bianca menghela nafas. Sebetulnya enggan menerima permintaan Desta. Tapi masalah Sella adalah pelajaran pertama yang harus Bianca hadapi dalam dunia nyata. Ke depannya, bidang pekerjaannya akan menghadapi lebih banyak orang-orang seperti Sella atau bahkan lebih parah lagi kondisinya.


“Mau nebeng sarapan,” Bianca asal dan langsung duduk di kursi yang ada di situ.


Tidak lama seorang pelayan membawakan segelas jus jeruk dan seloyang wafel lengkap dengan madu.


“Terima kasih,” Bianca tersenyum dan mengangguk saat pelayan meletakkan makanan itu di meja.


“Kamu kira di sini restoran ?” Sella masih dengan mode galaknya menegur Bianca yang tanpa permisi langsung menikmati hidangan di depannya.


“Kamu nggak capek marah-marah terus ?” Tanya Bianca dengam santai.


“Kenapa kamu mau aja disuruh Kak Desta buat urusin aku ? Karena uang ?” Sinis Sella.


“Mungkin juga,” Bianca memasukan potongan wafel ke mulutnya.


“Kak Desta memang paling pengertian.” Tutur Bianca sambil mengunyah wafelnya.


“Tapi kamu mempermainkan perasaannya !” Seru Sella dengan nada tinggi. “Kamu memberikan dia harapan palsu.”


“Kamu sendiri bagaimana ?”


“Apa maksudmu ?”


“Kamu tahu bahwa kakakmu itu sangat menyayangimu. Dialah orang yang paling panik dan khawatir saat menemukanmu tergeletak karena minum racun serangga.”


“Karena aku hamil !” Teriak Sella.


Bi Isa sudah berdiri di dekat pintu, namun Bianca memberi kode untuk membiarkan mereka.


“Kamu hamil ? Karena diperkosa dan laki-laki itu tidak mau bertanggungjawab ?” Bianca meletakkan garpu dan pisaunya, meneguk jus jeruk lalu melipat tangannya di dada sambil memandang Sella.


“Bukan urusanmu !” Ketus Sella.


“Sella, berhentilah jadi anak manja yang berharap semua keinginanmu harus terwujud. Jangan memanipulasi cinta kakakmu untuk menutupi kegilaanmu.”


“Apa maksudmu ?” Sella menatap Bianca penuh emosi.


“Aku tahu kamu selalu mendapatkan apa yang kamu inginkan. Materi tidak pernah kekurangan karena itulah cara orangtuamu menggantikan ketidakhadiran mereka. Kakakmu begitu mencintaimu dan selalu menjadi malaikat pelindung bagimu. Dan saat kamu berada di luar zona nyamanmu, kamu mendapati bahwa di dunia luar, orang-orang lain yang hadir dalam hidupmu tidak selalu bisa mewujudkan keinginanmu.”


Sella mendengus kesal dan membuang pandangannya ke sembarang arah.


“Termasuk laki-laki yang kau bilang tidak bertanggungjawab karena membuatmu hamil.”


“Apa maksudmu ?” Sella kembali menatap Bianca dengan tatapan tajam.

__ADS_1


“Kamu tidak diperkosa kan Sella ? Kalian melakukannya karena sama-sama mau, atau mungkin kamu memaksa laki-laki itu menidurimu sampai hamil ?” Bianca memandang Sella sambil tersenyum tipis.


“Kamu…” Sella menunjuk Bianca namun tidak bisa melanjutkan kata-katanya.


“Jangan membuat orang lain menderita karena keinginanmu tidak terwujud Sella. Dan berhentilah menjadi anak manja yang membuat kakakmu itu selalu khawatir.”


Sella terdiam. Nafasnya sempat memburu naik turun seperti orang habis berlari jauh.


Bianca menyodorkan segelas air putih yang ada di dekat Sella.


“Tenangkan dirimu. Dan jika kamu membutuhkan teman bicara, aku siap menjadi pendengar atau penasehatmu. Jangan anggap aku sebagai seorang psikolog yang bertugas menyembuhkanmu, tapi pandanglah aku sebagai seorang sahabat yang akan selalu membantumu.”


Sella menerima gelas yang diberikan Bianca dan meminumnya. Pelan-pelan nafasnya mulai teratur. Cairan bening mulai keluar dari kedua sudut matanya.


“Bukannya kamu kemari sebagai seorang psikolog yang disuruh Kak Desta ? Dokter pernah bilang kalau aku membutuhkan seorang psikolog atau psikiater.”


Dengan wajah yang mulai basah karena air mata, Sella menatap Bianca yang memandangnya dengan senyuman. Perlahan tatapan mata Sella tidak lagi segalak tadi malah terlihat sendu dan sayu.


“Kamu itu psikolog atau cenayang ?” Tiba-tiba pertanyaan Sella membuat Bianca tertawa pelan.


“Bukan dua-duanya,” jawabnya di sela tawanya.


“Aku belum boleh menyandang titel seorang psikolog profesional sebelum menyelesaikan S2-ku dan bukan cenayang karena tidak punya indera keenam apalagi ketujuh dan kedelapan.”


Sella ikut tertawa pelan di sela tangisnya.


“Lalu kenapa kamu bisa mengambil kesimpulan kalau kehamilanku bukan karena perkosaan ?”


Bianca menghentikan tawanya dan berganti dengan senyuman sambil memandang Sella penuh kehangatan.


“Sok tahu ! Mulai gaya kayak psikolog beneran, padahal aku bilang kamu lebih cocok jadi cenayang.”


Sella mencebik. Dia mengambil tissue dan menghapus buliran air matanya. Bianca hanya tertawa.


“Apa cowok yang kamu taksir itu ganteng banget ?” Bianca memajukan sedikit posisi duduknya dan mengerjapkan matanya memandang Sella.


Adik Desta itu kembali mencebik melihat kelakuan Bianca. Sella mengambil handphonenya dan membuka galeri fotonya.


“Namanya Andre,” Sella menunjukan foto di handphonenya.


“Ganteng.” Gumam Bianca.


“Aku menyukainya sejak SMP. Dia anak pindahan dari luar kota saat kami masuk kelas 7. Aku mendekatinya dan mulai menjalin pertemanan dengannya. Namun sejak kelas 8 semester 2, Andre menjauhiku bahkan menghindariku. Aku nekad bertanya padanya saat kenaikan kelas 9. Kami bicara berdua di cafe dekat sekolah. Andre tidak pernah mau memberikan penjelasan apapun. Dia hanya bilang merasa tidak cocok berteman denganku.”


Sella berhenti sejenak dan menghela nafas.


“Tadinya aku mau pindah saat masuk SMA, aku tidak mau satu sekolah dengan Andre karena dia melanjutkan ke SMA sekolah kami. Awalnya mama dan papa setuju, namun detik terakhir, seminggu sebelum tahun ajaran baru, mama menyampaikan padaku bahwa aku melanjutkan SMA di sekolah lamaku.”


“Kamu tanya sama mama atau papa kamu kenapa mereka tiba-tiba memintamu tetap di SMA yang sama ?”


“Iya aku tanya,” Sella mengangguk. “Menurut mama karena sekolah itu yang terbaik untukku apalagi Kak Desta adalah almamater sekolah yang sama.”


Bianca mengangguk-angguk dan meneguk kembali jus jeruknya. Bianca masih menunggu Sella melanjutkan ceritanya.

__ADS_1


“Ternyata aku dan Andre sama-sama masuk jurusan IPA, bahkan kami sekelas. Namun sikapnya seolah-olah tidak pernah mengenal aku sama sekali dan menganggap aku tidak ada di kelas.”


Bianca tertawa kecil sambil memandang ke arah kolam renang.


“Kenapa kamu tertawa ?” Ketus Sella. “Aku tahu kamu akan berpikir kalau aku baperan.”


“Tidak.” Bianca menggeleng dan menoleh kembali menatap Sella. “Aku tertawa karena kisah cinta kita sangat mirip.”


“Dengan Devano ?” Sella bertanya dengana nada biasa kembali.


“Yups !” Bianca mengangguk. “Coba kamu lanjutkan dulu ceritamu sampai kamu bisa hamil.”


“Selain mengabaikanku, Andre pun mulai berpacaran dengan Gita, seorang siswi favorit yang jadi rivalku di sekolah. Gita yang tahu bahwa aku jug menyukai Andre sering meremehkanku bahkan di depan Andre. Yang membuat aku sakit hati sikap Andre yang masa bodoh bahkan cenderung mendukung segala perbuatan Gita.”


Sella yang mulai emosi mengambil gelas air putihnya dan menghabiskan isinya.


“Waktu kelas 11 akhirnya aku nekad menemui Andre ke rumahnya. Awalnya dia menolak namun aku menunggu di depan rumahnya sampai akhirnya Andre mau menemuiku. Aku bertanya lagi apa yang membuat dia begitu membenciku dan mengabaikanku. Bahkan hari itu….”


Sella menjeda kembali sambil memejamkan matanya.


“Aku bilang kalau aku sangat mencintainya.”


Ada buliran air mata kembali menetes di pipi Sella.


“Andre malah langsung menamparku , membuat aku sangat terkejut. Dia bilang semoga tamparannya membuat aku sadar untuk berhenti bersikap menyedihkan pada dirinya.”


Bianca menyimak semua cerita Sella yang hampir mirip dengannya. Hanya bedanya, Devano tidak memilih pacaran dengan gadis lain apalagi sampai main tangan.


“Aku tidak tahu perasaanku Bi, membenci sekaligus mencintainya. Gita pun tidak berhenti mengangguku mengejekku sebagai seorang pecundang. Sampai akhirnya aku nekad belum lama ini. Pertama kalinya aku menginjakan kaki di club, aku bertemu dengan Andre, Gita dan beberapa teman kami. Aku sendiri diajak oleh teman sekolah yang lain. Ternyata semua itu sudah direncanakan oleh Gita. Dia ingin merusak hidupku agar semakin dibenci oleh Andre. Namun malam itu rencana Gita gagal karena tidak sengaja pula aku bertemu Kak Desta yang sedang bertemu dengan teman-teman kuliahnya. Aku diajak pulang sama Kak Desta yang langsung memarahiku habis-habisan.”


“Berbahagialah kamu memiliki kakak seperti Desta yang begitu sayang dan memperhatikanmu.”


Sella mengangguk dan mengingat sosok kakak nya yang begitu dikaguminya.


“Lalu kalau bukan di club, kejadiannya ?”


“Di rumah Andre.”


“What ? Beneran Sel ?” Bianca membelalakan matanya.


“Iya di rumah Andre. Aku sudah mengumpulkan informasi sebelumnya. Papa dan mama Andre sedang keluar negeri, hanya ada para pembantu dan Andre yang memang anak tunggal. Aku berpura-pura meminta bantuannya untuk memberikan pelajaran tambahan matematika dan fisika. Andre sudah menyuruhku mencari guru les, bahkan dia sempat merekomendasikan beberapa nama. Dia selalu menolak membantuku, tapi entah kenapa hari itu Andre tidak perlu dibujuk sampai aku memohon, dia mau membantuku belajar. Dia mengijinkan aku masuk karena kami akan belajar di rumahnya. Aku bersorak dan sudah siap dengan obat perangsang di tasku. Dan terjadilah hari itu Bi.”


“Darimana kamu mendapatkan obat semacam itu Sel ?” Bianca menautkan alisnya. Bisa-bisanya anak SMA mendapatkan obat terlarang semacam itu.


“Dari kenalan teman yang pernah kutemui di club.”


“Apa Andre tahu bahwa kalian sudah…”


“Aku meninggalkan Andre sebelum dia bangun dan pulang ke rumah karena sudah mulai malam juga. Kak Desta sudah menghubungiku berkali-kali karena Bi Isa memberitahu bahwa aku belum pulang sekolah. Tetapi aku yakin Andre tahu bahwa kami sudah melakukan hal terlarang itu karena bagiku ini adalah pertama kalinya, Bi.”


Sella menunduk dengan wajah sendu. Rasa cinta yang berlebihan membuatnya nekad melakukan perbuatan yang sangat tercela.


Hai readers,

__ADS_1


Jangan lupa memberikan komen, vote, like dan giftnya ya biar makin semangat tulis ceritanya. 😘😘


__ADS_2