Bukan Mantan Pacar

Bukan Mantan Pacar
Bab 89 Nasehat Para Mama


__ADS_3

Urusan Sella berakhir dengan baik. Bianca bisa menarik nafas lega tapi sekaligus merasa tidak enak


pada Desta dan kedua orangtuanya yang berterima kasih berlebihan bagi Bianca.


Baginya sudah cukup senang diberi kepercayaan untuk membantu Sella melewati masa sulitnya tanpa mengharapkan apapun. Bianca sudah menganggap Sella seperti adiknya sendiri


Bianca sempat terkejut saat pergi ke ATM untuk mengambil uang tunai. Papa Ardi memberikan uang dengan nilai yang cukup besar untuk seorang Bianca.


Dia sempat menemui papa Ardi untuk mengembalikannya namun ditolak mentah-mentah. Menurut papa Ardi uang yang dia berikan tidak sebanding dengan apa yang Bianca lakukan pada Sella. Papa Ardi bilang semoga uang yang diberikannya bisa membantu kelancaran kuliah Bianca untuk mendapatkan gelar profesi sebagai seorang psikolog.


Akhirnya Bianca hanya bisa mengucapkan terima kasih pada Papa Ardi.


Sudah empat hari ini Bianca menjalani kuliah kembali. Tidak terlalu berat seperti masa kuliah di program sarjana sebelumnya.


Karena masalah Sella sudah selesai, Bianca berencana mencari pekerjaan lain yang sesuai bidangnya.


Bianca baru saja menyelesaikan mata kuliah terakhir pada jam 3 sore, saat notifikasi pesan berbunyi di handphonenya.


Mama ❤️ : Bianca, bisa nyusul mama ke mal xx ? Mama mau beli baju tapi bingung nggak ada teman untuk membantu memilih.


Bianca : Bisa Ma. Bianca baru selesai kuliah, langsung jalan ke sana nih.


Mama ❤️ : Ok, nanti telepon mama aja kalau sudah sampai.


30 menit kemudian Bianca sudah tiba di mal yang dimaksud mama Lisa dengan menggunakan ojol.


Bianca langsung menghubungi mama Lisa dan menghampiri beliau yang ternyata sedang berada di salah satu cafe yang ada di mal.


Bianca sedkit ragu saat berjalan mendekati meja mama Lisa yang ternyata tidak sendirian. Ada mama Angela juga duduk bersamanya.


“Cepat juga Bi,” Mama Lisa menyapa Bianca yang sudah di meja mereka.


“Halo sayang,” Mama Angela langsung bangun dan memeluk Bianca. “Sudah lama kita nggak ketemu.”


Bianca pun langsung duduk di antara mama Lisa dan mama Angela karena kebetulan bentuk meja itu bulat.


“Gimana kabar kamu, sayang ?”


“Baik, Tante. Gimana kabar Om dan Diana, Tante ?”


“Mereka berdua baik-baik saja, hanya anak Tante yang satu itu malah banyak diam dsn sering pulang malam.” Wajah mama Angela terlihat sedih.


“Devano suka pulang malam, Tante ?”


“Iya,” mama Angela mengangguk. “Kadang dalam keadaan setengah mabuk. Makanya Tante minta tolong Dimas untuk selalu menemaninya. Tante takut ada yang memanfaatkan kondisi Devan.”


“Memangnya kamu nggak pernah ketemu dengan Devano lagi, Bi ?” Tanya mama Lisa.


Bianca terdiam sejenak dan menghela nafasnya. Berada di dekat mama Angela apalagi mendengar cerita beliau, membuat Bianca samgat merindukan Devano. Ingin rasanya saat ini dia berlari dan memeluk Devano.


Mama Lisa dan Mama Angela saling bertukar pandang dan tersenyum melihat reaksi Bianca.


Rupanya mama Angela sengaja menjemput mama Lisa untuk sekedar berbincang di mal ini. Mama Angela menceritakan apa yang dia ketahui dari Dimas pada mama Lisa.


Kedua mama itu mendukung hubungan Bianca dan Devano tetapi harus kembali merasa sedih karena belum sampai 72 jam, hubungan keduanya terpisah kembali.


“Bagaimana kalau Sabtu ini kamu datang saja ke rumah ? Makan siang sama kami, sesudah itu kita buat kue sama Diana juga.”

__ADS_1


“Hmmm… boleh saya kabari hari Jumat, Tante ?” Bianca merasa ragu untuk menerima tawaran itu karena hubungannya dengan Devano sedang tidak baik-baik saja.


“Bianca, kamu belum menjawab pertanyaan mama loh,” mama Lisa menggodanya. “Kamu sudah lama tidak bertemu dengan Devano ?”


“Sudah sebulan lebih, Ma.” Lirih Bianca.


“Tante dengar dari Diana dan Dimas kalau kalian berdua sudah jadian. Tante turut senang mendengarnya. Ada baiknya kamu nasehati Devano supaya menjaga kesehatannya.”


“Memangnya kalian begitu sibuk sampai sebulan tidak bisa bertemu ?” Mama Lisa mengernyit sambil menatap Bianca.


“Bukan begitu, Ma…” Bianca bingung harus bercerita bagaimana pada kedua mama yang ada di depannya.


“Bianca,” mama Angela menyentuh lengan Bianca yang ada di atas meja. “Tante tidak tahu persoalan apa yang ada di antara kalian. Tapi satu hal yang perlu kamu ketahui soal Devano kalau dia sangat mencintaimu. Dia tidak pernah membuka hatinya untuk perempuan lain, bahkan mencobanya saja tidak.”


“Iya Tante.”


“Jangan membiarkan masalah berlarut-larut, Bi. Semua harus segera diselesaikan.” Timpal mama Lisa.


“Iya Ma”


“Boleh Tante cerita sedikit ?”


Bianca hanya mengangguk. Dia meraih gelas minuman es cokelat yang tadi dipesannya.


“Tanggungjawab yang dipikul Devano cukup berat. Dia bukan saja anak lelaki kami satu-satunya tetapi juga cucu lelaki satu-satunya dari Opa Ruby. Tante ini anak tunggalnya Opa Ruby, karenanya Opa Ruby memaksa mencarikan jodoh untuk Tante yang sesuai dengan kriteria opa. Papanya Devano itu bukan dari keluarga kaya namun seorang pekerja keras. Usahanya sekarang ini dirintis dari nol bersama dengan seorang temannya. Sempat mengalami kesulitan pada saat Devano masuk SMA sehingga partnernya menarik semua saham yang ada di perusahaan. Om menyanggupi dan mencari jalan untuk membeli semua saham milik temannya dan berusaha memulihkan kembali perusahaan. kami bersyukur bahwa campurt tangan Tuhan membuat Om bisa memulihkan kondisi perusahaan dalam waktu 1.5 tahun. Dan karena masalah itu, perusahaan sepenuhnya milik keluarga Wijaya.”


Mama Angela berhenti bercerita dan meneguk minuman.


“Sama seperti papanya, tante percaya bahwa Devano adalah tipe lelaki setia. Tuntutan yang dipikulnya membuat Devano menjadi orang yang terlalu banyak pertimbangan dan akhirnya sering terlambat. Saat ini Om sedang mengajarkan kepadanya untuk merubah pola pikirnya sebagai seorang pria dewasa sekaligus pemimpin. Karena kalau terlalu lambat mengambil keputusan, urusan perusahaan bisa berantakan.”


“Kamu dan Devano sudah lama saling mencintai. Hanya karena kondisi dan situasi yang tidak mendukung kalian baru bisa bersatu sekarang. Itu pun masih belum terlambat.”


“Sebaik apapun kalian mempersiapkan diri sebeum memasuki hidup perkawinan bukan berarti semua baik-baik saja.” Timpal mama Angela.


“Pernikahan itu ibarat kita naik kapal dengan suami sebagai nahkodanya. Cuaca dan alam yang berubah-ubah membuat seorang nahkoda sulit memastikan bahwa selama perjalanan semua pasti baik-baik. Tapi dengan kerjasama yang baik dan percaya akan bantuan Tuhan, semua badai dan gelombang laut pasti bisa dilewati. Bahkan bukan tidak mungkin ada perampok yang mencoba merampas isi kapal di tengah perjalanan. Dan dasar semuanya itu adalah cinta. Bi. Cinta suami istri yang mengarungi kehidupan pernikahan akan menjadi kekuatan awal untuk bisa melewati semuanya.”


Bianca hanya terdiam mendengarkan nasehat mama Angela. Hatinya tercubit karena merasa ragu-ragu dengan cinta Devano.


“Mama dan papa juga harus melewati banyak badai, Bi. Jangan pernah takut akan sesuatu yang belum tentu terjadi di masa depan, karena ketakutanmu itu akan membuatmu terhambat untuk maju bahkan malah bisa membuatmu sering terjatuh.”


Mama Lisa mengusap punggung putrinya. Mama Lisa sendiri memahami beban berat yang harus ditanggung Bianca. Sebagai anak pertama dan kehilangan seorang papa di usia remajanya, Bianca selalu berusaha terlihat lebih tegar di depan mama dan adiknya. Mama Lisa mengetahui saat Bianca diam-diam menangis sendirian karena letih harus bersikap kalau semua baik-baik saja.


“Tante sangat mendukung kamu, Bi. Kalau sampai Devano berbuat macam-macam padamu, tante adalah orang pertama yang akan menghukumnya.” Mama Angela bicara dengan gaya khasnya yang membuat Bianca kembali tersenyum.


“Terima kasih atas nasehatnya, Tante.”


Mama Angela memesan beberapa makanan ringan untuk dinikmati sore itu. Mereka melanjutkan obrolan santai mengenai berbagai hal.


“Ma, tadi bilangnya mau cari baju di sini ?” Bianca melirik jam tangannya karena sejak dia duduk, mama Lisa tidak menyinggung apapapun soal baju.


“Sudah beres, Bi. Tadi tante ajak ke toko langganan. Cuma ukurannya kurang pas jadi perlu dirombak sedikit. Kalau sudah selesai nanti akan tante minta sopir antar atau kamu boleh ambil ke rumah.”


Bianca hanya tersenyum sambil mengangguk.


“Maaf saya permisi mau ke toilet dulu.” Bianca beranjak dari kursinya dan keluar cafe menuju toilet yang ada di mal.


Saat mencuci tangannya selesai ke kamar mandi, Bianca sempat memikirkan kembali nasehat mama Lisa dan mama Angela.

__ADS_1


Lamunannya buyar saat pengunjung lain yang ada di sebelahnya menjatuhkan tempat bedak.


Bianca memantapkan hatinya untuk menemui Devano besok di kantornya sekalian membawakan bekal atau bila tidak memungkinkan, Bianca memastikan akan memenuhi undangan mama Angela untuk makan siang di rumahnya pada hari Sabtu.


Bianca menghentikan langkahnya saat melewati sebuah toko. Bukan etalase toko yang menarik perhatiannya, tapi sosok yang dirindukannya berdiri di depan sana sedang menelepon.


Dengan mengumpulkan keberanian, Bianca berjalan mendekati Devano dan menunggu sampai pria itu menyelesaikan panggilan teleponnya.


“Devano,” panggil Bianca pelan.


Devano menoleh ke arah suara dan meihat sosok Bianca di depannya. Tatapannya terasa dingin dan menusuk hati Bianca.


“Devano, aku…”


Belum selesai Bianca berbicara, dari dalam toko Dimas keluar membawa kantong belanjaan memgikuti seorang perempuan di depannya.


“Nindi ?” Lirih Bianca.


“Bianca ?” Nindi terkejut saat melihat ada Bianca berdiri dekat Devano.


“ Apa kabarnya ?” Nindi mengulurkan tangannya sambil tersenyum.


Bianca sempat mengerutkan dahinya dan terlihat ragu-ragu sebelum membalas uluran tangan Nindi.


“Baik.” Hanya jawaban singkat yang keluar dari mulutnya.


“Kamu sudah selesai ?” Devano bertanya sambil menatap Nindi.


Deg


Jantung Bianca bergemuruh. Devano dan Nindi memberi sapaan aku kamu di antara mereka. Wajah Devano pun tidak sekaku seperti saat berbicara dengannya.


“Sudah, itu belanjaannya,” dengan senyuman yang terus merekah, Nindi menunjuk kantong belanjaan yang dibawa Dimas.


“Mau langsung pulang atau makan dulu ?” Tanya Devano kembali pada Nindi.


“Kalau makan dulu kemalaman nggak ? Soalnya jam segini pasti masih macet.”


“Oke, kamu mau makan dimana ?”


Nindi terlihat berpikir sejenak sebelum menjawab.


“Kalau di Cafe xx gimana ? Dengar-dengar, steak di sana enak dan suasanya juga santai.”


Devano mengangguk dan memberi kode pada Dimas untuk berjalan duluan.


“Ikut sekalin yuk, Bi.” Ajak Nindi dengan ramah.


“Eh. aku mau ke toilet. Lagian aku nggak sendirian juga. Sorry belum bisa gabung.”


Bianca menganggukan kepalanya dan bergegas menuju ke toilet. Namun baru beberapa langkah, tangannya dicekal oleh seseorang.


Bianca langsung menoleh dan mendapati Devano memegang lengannya.


“Devano.” Desis Bianca.


Mereka hanya bertukar pandang sesaat dan tanpa menunggu persetujuan Bianca, Devano menggandengnya untuk menepi mencari tempat yang sepi.

__ADS_1


__ADS_2