
“Mau kemana ?” Tanya Devano ketus saat Bianca beranjak dari tempatnya berdiri sambil melepaskan genggaman tangan Devano
“Mau ambil tas di loker.”
“Jangan coba-coba kabur. Aku tunggu di parkiran.”
Bianca hanya mengangguk dan setelah pamitan pada semuanya termasuk Desta, Bianca berlalu menuju loker karyawan.
“Elo temenin gue pulang !” Devano melemparkan kunci mobil pada Arya yang langsung ditangkap.
“Kok jadi gue diajak-ajak ?” Arya menunjuk pada dirinya.
Devano tidak menjawab. Dia sempat memberikan lima lembar uang ratusan pada Leo sebelum meninggalkan cafe.
Arya pun akhirnya bangun dan pamitan pada para sahabatnya lalu menyusul Devano ke parkiran. Keduanya menunggu Bianca yang menyusul belakangan. Ternyata di belakang Bianca, yang lainnya juga ikut keluar untuk pulang.
“Ayo,” Bianca menghampiri Devano yang berdiri di pintu belakang sisi penumpang.
“Masuk.” Devano menunjuk pintu depan sebelah sopir.
“Kok gue yang di depan ? Nggak mau. Gue duduk di belakang aja.”
Devano menatap tajam Bianca dan menahan tubuh Bianca yang hendak masuk ke kursi belakang. Hanya dengan tatapan dan gerakan kepala Devano menyuruh Bianca menurut, akhirnya Bianca mengalah.
Ketiganya meninggalkan cafe duluan dengan posisi Arya sebagai sopir dan di sebelahnya Bianca. Devano duduk di kursi belakang.
Tidak ada yang membuka percakapan karena Arya dan Bianca masih bingung dengan sikap Devano sementara cowok itu sendiri bersikap cuek dan sibuk dengan handphonenya.
“Stop di depan Ya,” Devano memberikan instruksi saat mobil melewati minimarket yang bertuliskan 24 jam.
Arya hanya menurut dan menepikan mobil persis di depan minimarket.
“Mau ngapain Van ?” Arya memutar badannya menatap ke Devano.
“Elo langsung anterin Bianca. Gue balik sama Revan.”
Devano langsung membuka pintu belakang setelah meminta Arya membuka kuncinya.
“Devano,” Bianca bergegas melepaskan seatbeltnya dan ikut turun. Dipegangnya tangan Devano sebelum cowok itu berlalu.
“Apa maksud elo malah suruh Arya yang anterin gue ?”
Devano menarik nafas panjang. Dia menoleh menatap Bianca .
“Elo berharap gue yang anterin elo ?”
“Tadi kan elo yang bilang kalo gue pulang sama elo ?” Bianca membalas tatapan galak Devano tanpa takut sedikitpun.
“Hai Nona Bianca, kamu memang nggak pernah bersyukur ya, udah bagus mau dianterin pulang. Siapapun yang bawa mobil dan anterin kamu nggak penting untuk dibahas !”
Devano sengaja memajukan wajahnya yang membuat Bianca mundur 2 langkah ke belakang.
“Kalau elo bisanya hanya tinggal nyuruh orang untuk menunjukkan kekuasaan elo, jangan sekali-kali bersikap sok tanggungjawab terutama di depan gue !”
Bianca maju kembali mendekat pada Devano. Didorongnya sebelah bahu cowok itu dan ditatapnya dengan wajah marah.
“Naik !” Devano mendekati mobil dan membuka pintu depan.
“Nggak !” Bianca membalas tatapan Devano dengan sama galaknya.
“Gue bilang naik !”
“Gue bilang nggak ! Elo berhak nyuruh dan gue juga berhak menolak.”
Devano menarik lengan Bianca hingga gadis itu menabrak dadanya.
“Elo naik baik-baik atau gue cium kayak waktu itu di depan Arya dan Revan.” Bisik Devano.
“Pokoknya nggak mau !” Bianca besikukuh. Dia langsung menutup bibirnya dengan salah satu tangannya.
Devano menarik tangan Bianca dan mendorongnya masuk ke mobil hingga terduduk di kursI depan.
“Van !” Pekik Arya saat melihat Devano bersikap kasar pada Bianca.
Gadis itu meringis karena bokongnya terhempas cukup kencang hingga berasa sedikit sakit. Belum lagi lengannya yang tadi dicekal oleh Devano.
Devano membungkukkan badannya dan memasangkan seatbelt Bianca. Gadis itu sempat memundurkan badannya karena posisi Devano begitu dekat.
“Ya, anterin nih cewek kemana aja elo mau.”
__ADS_1
“What ?” Biamca melotot.
Devano menutup pintu mobil cukup keras. Baru melangkah, Devano berhenti dan berbalik. Diketuknya jendela sisi Bianca.
“Mobil gue elo bawa pulang aja dulu. Besok pagi gue suruh sopir ambil di rumah elo.”
Devano membungkukkan badan dan berbicara lewat jendela. Setelahnya Devano berlalu menghampiri Revan yang berdiri di samping mobil.
“Kalo bukan calon kakak ipar, nggak bakalan mau nih gue disuruh jemput elo !” Omel Revan saat Devano sudah memasuki mobilnya.
“Thanks.”
“Aneh lo, bawa mobil sendiri kenapa malah suruh Arya yang bawa buat anterin Bianca ?”
“Gue capek.” Devano menyenderkan tubuhnya pada kursi dan memejamkan matanya.
“Elo bener-bener aneh Van. Semua orang tahu kalai elo juga suka sama Bianca, tapi kenapa selalu menghindar dan malah makin berkeras hati.”
Devano hanya diam saja dengan mata yang masih terpejam.
“Semua mendukung elo sama Bianca. Mulai dari keluarga elo, sahabat-sahabat elo termasuk gue. Elo tahu nggak…”
“Stop !” Devano menegakkan tubuhnya dan mengangkat tangannya.
“Gue nggak mau membahas apapun soal Bianca. Gue nggak punya perasaan apa-apa sama dia. Puas ?”
Revan menggeleng-gelengkan kepalanya. Benar-benar keras kepala sahabat dan calon kakak iparnya ini.
Sementara di mobil Devano, Arya melajukan mobil dengan kecepatan sedang.
“Arya.”
“Apaan ?”
“Apa Devano nggak pernah curhat-curhat sama elo ?”
“Soal apaan ? Soal elo ?”
“Yah mungkin…”
“Mungkin ?” Arya tertawa. “Langsung to the point aja Bibi… Elo mau nanya kan apa Devano pernah membahas soal elo ?”
“Empat tahun lebih jauh dari elo, Devano nggak pernah bercerita apapun soal cewek termasuk elo. Dan selama itu juga setahu gue Devano nggak pernah dekat juga sama cewek.”
“Ada… Buktinya dia mau disuruh pulang sama Emilia, bahkan rambutnya sampai dicat gitu. Gue yakin kalo Emilia yang nyuruh Devano.” Bianca sedikit emosi saat bicara soal Emilia.
“Elo cemburu ?” Arya tergelak.
“Emang boleh ?” Bianca menatap wajah Arya dengan mimilk manja yang dibuat-buat.
“Geli !” Arya langsung memasang wajah jijik membuat Bianca tertawa.
“Gue nggak ngerti harus bagaimana.” Bianca menghela nafas.
“Keluarga Devano meyakinkan gue untuk bertahan sama anak mereka, tapi gue merasa kok Devano semakin membenci gue.”
“Elo yakin Devan membenci elo ?”
“Gimana nggak yakin… Tiap hari kerjanya langsung emosi dan marah-marah kalau gue deket sama dia. Selalu saja kerjaan gue salah dan disuruh benerin terus. Duh tatapannya horor kayak mau makan orang.”
Arya malah tertawa mendengar keluh kesah Bianca.
“Iihh orang lagi curhat malah diketawain. Ini beneran Arya ! Gue berharap waktu cepat berlalu supaya gue bisa selesaikan magang gue dan kabur dari perusahaan.”
“Terus elo bakal menjauh selamanya dari Devano ? Bukannya tadi elo bilang keluarganya minta elo bertahan dulu sama Devano ?”
“Yah gue jalanin dulu sebisa gue, tapi kalo Devano nya tetap kayak gitu apa tetap mau dipaksain. Lagian rugi juga buang-buang waktu kerjar hati yang menolak.”
“Asli geli banget gue sama bahasa elo.” Arya mencibir, Bianca tertawa kembali.
“Terus kalo elo tinggalin Devano, elo mau terima Desta ?” Arya melirik Bianca karena pandangannya harus fokus ke jalan raya.
“Desta ? Kok jadi bawa-bawa dia.”
“Eh markonah… Dalam otak elo memang cuma ada Devano doangan ya. Itu si Desta udah terang-terangan suka sama elo. Tadi aja kelihatan kalo dia berusaha bersaing sama Devano.”
“Duh kenapa sih cowok yang baik sama gue harus punya perasaan lebih dari sekedar berteman.”
“Makanya sama cowok jangan terlalu baik, bikin baper.”
__ADS_1
“Termasuk elo ya Arya si kulkas ?” Bianca mendekati wajah Arya dari samping sambil mengerjapkan matanya beberapa kali.
“Dih sengaja mau bikin gue baper lagi ya ?”
Arya menghentikan mobil di dekat gerobak penjual sekoteng.
“Eh mau ngapain berhenti. Udah malam nih,” Bianca melirik pada jam digital yang ada di mobil. Jam 10.45.
“Makan sekoteng sebentar sambil ngobrol. Nggak enak ngobrolnya sambil setir. Bentaran doang. Nanti gue tanggungjawab sama mama Lisa.”
“Dih sejak kapan nyokap gue angkat elo jadi anak ?”
“Anak mantu yang gagal.” Jawab Arya dengan wajah memelas membuat Bianca mencebik.
Arya turun dari mobil dan memesan 2 mangkuk sekoteng untuk mereka. Tidak lama dia kembali dan memberikan satu mangkuk untuk Bianca lewat jendela. Bianca dan Arya memutar badan bersandar ke pintu hingga posisi mereka berhadapan.
“Bi, apa elo akan selamanya menunggu Devan ?”
“Maksud elo ?”
“Kalau dihitung dari masa sekolah, udah hampir 10 tahun elo bertahan dengan perasaan elo.”
“Yang bikin gue gagal deket cowok lain siapa ?”
“Maksud elo ?” Arya menaikan alisnya sebelah.
“Tuh suruhan elo si Revan.” Bianca mencebik. “Dia bikin cowok-cowok di kampus yang mau deket sama gue jadi pada mundur. Dia buat orang berpikir kalo Revan itu bukan sekedar pacar tapi calon suami gue.”
Bianca mengerucutkan bibirnya membuat Arya tertawa dan mengacak rambutnya gemas.
“Dan semua itu elo yang suruh kan ?” Bentak Bianca.
Arya tertawa sambil manggut-manggut.
“Salah tuh cowok-cowok juga, kalau memang beneran mau sama elo kenapa nggak berjuang lebih keras. Kan orang bilang selama janur kuning belum melengkung boleh ditikung.”
“Aaiissshh mana boleh begitu ? Elo tuh bibit pebinor ya ?” Arya malah tertawa.
“Bi, jadi sampai kapan elo mau nurutin permintaan keluarganya Devan ?”
Bianca mengangkat kedua bahunya. Dia menghabiskan suapan terakhir sekotengnya.
“Mungkin hanya 7 minggu lagi Ya. Setelah magang gue berakhir dan Devano masih bersikap penuh kebencian, gue akan ngomong sama keluarganya supaya membiarkan gue bener-bener lepas dari Devano.”
“Elo menyerah ?”
“Bukan soal menyerah atau nggak Ya. Kalau soal hati mana bisa dipaksain. Kayak elo sama gue aja. Gue nggak mau kelamaan bertahan dengan perasaan gue ke Devano, yang ada akhirnya bukan cinta tapi obsesi.”
“Elo udah pernah menyatakan lagi perasaan elo sama Devano ?”
“Pikiran gila !” Bianca memukul bahu Arya sambil melotot.
“Elo kira gue cewek model apaan, udah sekali ditolak berani ngomong lagi. Terus terang aja masalah magang di kantornya Devano udah cukup bikin gue kaget. Kerjaannya sungguh di luar kuliah gue. Kalau bukan karena permintaan om dan tante, gue nggak bakalan mau.”
“Tapi gue yakin kok kalau Devano juga cinta dan sayang sama elo.”
“Terus gue harus bagaiman ? Hidup dan bertahan dengan keyakinan elo semua ? Nggak mungkin kan bertahan dengan sesuatu yang nggak pasti. Memang elo mau punya pacar apalagi nanti sampai jadi suami yang selalu menggantung perasaan elo.”
Arya terdiam lalu keluar mobil mengembalikan mangkok sekaligus membayar.
“Nggak ada rencana buat memastikan perasaan Devano sama elo ?”
Arya sudah kembali mengendarai mobilnya menuju rumah Bianca.
“Nggak ada Ya. Biarkan semua berjalan apa adanya. Capek juga gue mencari jawaban untuk sesuatu yang nggak pasti.”
Arya hanya menggangguk pelan dan terdiam. 10 menit kemudian mobil sudah sampai di depan rumah Bianca. Arya sudah bersiap-siap turun namun ditahan oleh Bianca.
“Nggak usah turun. Tolong tungguin aja sampai gue nutup gerbang ya, habis itu elo langsung jalan lagi aja.”
“Yakin ?” Bianca hanya mengangguk dan keluar dari mobil.
“Thankyou buat jadi teman curhat.” Bianca tersenyum lebar sebelum menutup pintu mobil.
“My pleasure sohib.”
Bianca meleletkan lidahnya meledek Arya dan bergegas membuka gerbang dan masuk ke dalam. Setelah menggembok pintu gerbang, Bianca melambaikan tangan dan memberi kode menyuruh Arya langsung jalan. Arya membalas lambaian tangannya dan berlalu.
“Entah harus bagaimana membuat Devano menyatakan perasaannya yang sebenarnya.” Batin Arya.
__ADS_1