Bukan Mantan Pacar

Bukan Mantan Pacar
Bab 46 Berdikari Putra Wijaya


__ADS_3

Bianca menghentikan langkahnya di depan pintu masuk gedung bertingkat yang megah ini. Dia menarik nafas panjang dan berat. Merenungkan kenapa hidupnya seperti harus terikat dengan apapun yang berkaitan dengan sosok Devano.


Jam menunjukkan pukul 7.45. Bianca menghampiri meja resepsionis.


“Pagi Mbak,” sapanya pada seorang wanita yang duduk di balik meja. “Nama saya Bianca, mahasiswa magang dari kampus xx. Saya…”


“Mbak Bianca ya ? Langsung aja naik ke lantai 5 ke ruang HRD dan bertemu dengan Pak Sofian.”


Reviana, nama yang tertulis di nametag resepsionis itu langsung memotong omongan Bianca.


“Terima kasih Mbak Reviana.” Bianca mengangguk dengan sopan.


Resepsionis itu sempat bengong saat Bianca menyebut namanya yang sedikit tertutup oleh meja namun Bianca dengan cepat membacanya bahkan menyapanya dengan memakai namanya.


Bianca berdiri depan lift yang dipenuhi dengan para karyawan. Namun tidak menunggu lama, Bianca langsung mendapat giliran dan di sinilah, di lantai 5 Bianca mulai mencari ruangan Pak Sofian sesuai yang diinfo oleh Reviana di bawah tadi.


“Cari siapa ?” Seorang karyawan pria yang membawa gelas menyapanya dari belakang.


“Eh,” Bianca sedikit terkejut dan langsung menbalikkan badan membuat pria itu langsung mundur beberapa langkah supaya Bianca tidak menjatuhkan gelasnya.


“Maaf saya mencari ruangan Pak Sofian.” Bianca berkata dengan sopan.


Cowok itu tidak langsung menjawab namun mengamati Bianca dari atas ke bawah.


“Anak magang ya ?”


“Iya,” Bianca menjawab sambil mengangguk.


“Desta.” Cowok itu mengulurkan tangannya. “Saya salah satu HRD yang biasanya mengurusi anak magang juga.”


Cowok tinggi itu langsung memamerkan senyumnya.


“Bianca. Saya mahasiswa dari universitas xx.” Bianca menerima uluran tangan Desta yang langsung menjabatnya dengan erat.


Sosok Desta masih menggenggamnya saat Bianca berusaha melepaskan tangannya. Cowok itu masih menatapnya dengan senyuman, membuat Bianca merasa jengah. Akhirnya dengan sedikit kasar, Bianca berhasil melepaskan tangannya.


“Eh maaf.” Desta langsung salah tingkah saat menyadari sikapnya.


“Manis dan menarik.” Batin Desta.


“Maaf saya diminta bertemu Pak Sofian.” Bianca kembali menegaskan maksudnya datang ke ruang HRD.


“Oh iya Pak Sofian. Saya antar ke ruangannya.” Desta melewati Bianca dan mendahului gadis itu. Bianca buru-buru berbalik dan mengikuti langkah Desta.


Desta memasuki ruangan yang berisi 5 meja di sana dan melanjutkan ke arah pintu lainnya yang ada dalam ruangan itu. Di depan pintu terpampang papan bertuliskan HRD Manager. Desta mengetuk pintu dan setelah mendapat jawaban, dia langsung membukanya.


“Ada anak magang, Pak.” Desta langsung bicara saat pintu terbuka dan Pak Sofian sedang duduk di balik mejanya.


“Masuk.”


Desta memberi kode Bianca dengan dagunya untuk menyuruhnya masuk. Bianca mengangguk dan mengucapkan terima kasih sebelum Desta menutup pintu ruangan.


“Silakan duduk.” Pak Sofian mempersilakan Bianca.


“Selamat pagi, Pak. Nama saya Bianca, saya…”


“Kamu magang 3 bulan ya di sini ?” Pak Sofian bertanya sambil mengambil surat pengantar yang diletakkan Bianca di atas meja.


“Benar, Pak.”


Pak Sofian mengambil satu map biru yang ada di mejanya dan menyodorkannya pada Bianca.


“Pak Dirut mau bertemu kamu langsung sekitar jam 9 lagi ini. Sambil menunggu, tolong kamu isi formulir data-data ini dulu ya.”


“Baik Pak.” Bianca menerima map tersebut dan mengeluarkan alat tulis dari dalam tasnya.


“Maaf Pak, saya isi di luar atau ?”

__ADS_1


“Di meja sana saja.” Pak Sofian menunjuk meja yang melengkapi sofa yang ada di ruangan.


Bianca hanya mengangguk dan beranjak bangun berpindah ke salah satu bangku sofa. Dia mulai mengisi data-data sesuai yang ada di dalam formulir.


Tepat saat Bianca membubuhi tandatangan pada baris terakhir formulir, telepon di meja Pak Aofisn berbunyi. Setelah telepon ditutup, Pak Sofian langsung bangun dari kursinya dan mendekati Bianca.


“Sudah selesai, Pak.” Bianca menutup map dan menyerahkannya pada Pak Sofian.


“Ayo ikut saya.”


Bianca segera bangun dan mengikuti langkah Pak Sofian keluar dari ruangannya. Mereka naik lift menuju lantai 10. Tidak ada percakapan di antara keduanya sampai mereka tiba di depan sebuah ruangan di lantai 10.


Seorang sekretaris dan staf laki-laki menyapa Pak Sofian di depan ruangan dan mempersilakan keduanya masuk. Setelah mengetuk pintu dan mendapat jawaban dari dalam, Pak Sofian membuka pintu dan menyuruh Bianca masuk lebih dulu.


“Terima kasih Pak.” Bianca mengangguk pada Pak Sofian.


“Kamu langsung temui Pak Dirut.”


“Baik Pak.” Bianca kembali mengangguk, namun dia sempat mengernyitkan alisnya karena melihat Pak Sofian tidak ikut masuk malah menutup pintu.


Bianca masih dalam posisi berdiri karena tidak mendapati siapapun dalam ruangan itu. Dia sempar meremas jemarinya karena cemas. Pikirannya bertanya-tanya sosok siapa yang akan ditemuinya saat ini.


“Bianca ya ?” Suara bariton dan sedikit berat menyapanya. Sosok itu keluar dari ruangan yang ada di balik rak di sudut kanan ruangan.


“Om Harry.” Sahut Bianca reflek.


“Eh maaf maksud saya Pak Harry.”


Papa Devano hanya tertawa melihat Bianca yang salah tingkah.


“Nggak apa-apa panggil Om juga. Ayo duduk.”


Papa Harry langsung duduk di salah satu sofa dan Bianca memilih posisi berseberangan dengannya.


“Kamu siap magang di sini ?” Papa Harry duduk santai bersandar pada sofa.


Papa Harry tertawa kecil. Tidak lama wanita yang tadi ditemui Bianca di depan ruangan masuk dengan nampan berisi minuman.


“Eva, kenalkan ini yang namanya Bianca.” Papa Harry bicara dengan wanita itu memperkenalkan Bianca.


Bianca mengulurkan tangannya dan bersalaman dengan Eva. Keduanya saling menyebutkan nama sambil melempar senyuman.


“Eva ini sekretaris om, dan cowok yang ada di luar tadi namanya Dimas, dia itu yang akan menjadi asistennya Devano.”


Bianca langsung menoleh dan menatap Papa Harry dengan penuh tanya. Papa Harry tertawa melihat tatapan Bianca yang terlihat sedikit terkejut.


“Devano akan pulang minggu depan dan mulai membantu om menjalankan perusahaan. Kamu akan membantu Dimas menjadi sekretarisnya Devano.”


“Sekretaris Om ?” Bianca menautkan alisnya.


“Iya.” Papa Harry tersenyum. “Dan selama seminggu ini Eva akan mengajarkan kamu tentang tugas sekretaris.”


“Tapi saya magang di sini bukan sebagai sekretaris Om.” Protes Bianca


“Sekretaris plus penasehat Devano.” Papa Harry kembali tertawa.


“Tapi Om…”


“Tenang saja, surat keterangan magang kamu aman dan tetap ada kok tugas kamu yang berkaitan dengan jurusan kuliahmu.”


Bianca menundukkan kepala sambil meremas jemarinya.


“Kenapa begini rumit jadinya ? Malah jadi sekretaris Devano ?”


Tanpa sadar Bianca menarik nafas panjang, membuat Papa Harry dan Eva saling bertukar pandang. Papa Harry memberi kode ke Hana supaya keluar ruangan.


“Kamu keberatan ?” Tanya papa Harry saat Eva sudah keluar ruangan.

__ADS_1


“Maaf sebelumnya Om,” Bianca mengangkat wajahnya menatap Papa Harry.


“Apa boleh saya dipindahkan ke tempat lain yang tidak berhubungan langsung dengan Devano ?”


“Kenapa ?” Papa Harry mengernyitkan keningnya.


“Saya tidak mau Devano bertambah kesal dan berpikir kalau saya sengaja masih mendekati dia lewat om, tante atau Diana.”


“Kamu sudah ketemu Diana ?”


“Sudah beberapa kali Om.”


Papa Harry terlihat manggut-manggut.


“Begini saja Bianca, kamu tolong terima dulu pekerjaanmu saat ini. Besok rencana mamanya Devano mau mengundang kamu makan malam. Setelah pertemuan besok, kamu boleh pikirkan kembali dan kita bicarakan perpindahan seandainya kamu keberatan.”


Bianca menatap papa Harry yang dibalas dengan anggukan dan senyuman pria yang sangat mirip dengan Devano itu.


“Baik kalau begitu Om, saya pamit dulu biar bisa mulai belajar.”


Papa Harry menggangguk dan ikut bangun dari sofa. Beliau kembali ke meja kerja sedangkan Bianca keluar ruangan menghampiri meja Eva.


“Kak Eva, mohon bantuannya untuk mengajarkan saya.” Bianca berdiri di depan meja Eva sambil tersenyum.


Dimas yang duduk di meja sebelah Eva bangun dan mengulurkan tangannya pada Bianca.


“Kita belum kenalan. Aku Dimas. Kita bakalan sering ketemu dan bekerjasama kalau Devano sudah pulang.”


“Devano… Devano…” omel Eva. “Biar usianya lebih muda dari elo, dia bakalan jadi boss elo nantinya.”


“Yah kan kalo di kantor panggilnya Pak Devano, kalo di luar mah panggil nama aja dong.” Dimas menjawab sambil menaik turunkan alisnya membuat Eva mencebikkan bibirnya.


Bianca tertawa kecil melihat keduanya.


“Cocok,” gumam Bianca yang terdengar keduanya.


“Nggak !” Protes keduanya bersamaan.


“Jangan terlalu serius dengerin omongan kutu kupret ini Bianca !” Eva bicara dengan sedikit ketus sambil melihat ke arah Dimas. Cowok itu membalasnya dengan kedipan mata.


“Eh gihi-gini gue masih satu darah ya sama Devano.”


“Sok nya !” Eva mencebik lagi.


“Masih saudaraan sama Devano ?” Tanya Bianca.


“Iya.” Dimas mengangguk. “Aku masih sepupunya Devano, sepupu jauh banget sih.” Dimas tertawa.


“Kamu mantan pacarnya Devano ya ?” Tanya Dimas.


“Eh mana ada ya aku pernah pacaran sama Devano.” Protes Bianca cepat. Wajahnya berubah sedikit masam membuar Eva dan Dimas saling berttukar pandang kemudian tergelak.


“Tapi yang kita dengar begitu loh.”


“No !” Bianca kembali protes sambil menggerak-gerakkan telunjuknya. “Nggak ada status mantan pacar. Resmi jadi pacarnya aja belum pernah.”


“Jadi maunya langsung jadi istri ?” Goda Dimas.


“Eh nggak ada ya. Devano udah masa lalu…”


“Dan masa depan.” Sambung Eva cepat.


Eva dan Dimas kembali tertawa dan terus menggoda Bianca membuat anak magang itu tambah cemberut dan mengerucutkan bibirnya.


Setelah Dimas dan Eva puas menggoda Bianca, Eva meminta gadis itu menempati meja yang tadi sempat dipakai Dimas sementara cowok itu hanya duduk di salah satu kursi yang biasanya dipakai untuk menunggu sebelum masuk ke ruangan Papa Harry.


“Setelah Devano datang, ruangan kita di ujung lorong yang lain Bi.” Terang Dimas.

__ADS_1


Bianca hanya mengangguk. Posisinya berpindah ke depan meja Eva dan mulai belajar tentang tugas-tugas administrasi yang harus dijalaninya.


__ADS_2