Bukan Mantan Pacar

Bukan Mantan Pacar
Bab 53 Drama Pagi Hari


__ADS_3

“Devano ! Devano ! Buka pintunya !” Gedoran di pintu yang cukup keras membuat Devano terlonjak duduk di kasurnya. Matanya mengerjap-ngerjap dan melihat ke jam dinding di kamarnya.


“Masih jam 8 pagi.” Gumamnya.


“Devano !” Suara teriakan dan gedoran di pintu akhirnya membuat Devano bangun dan berjalan ke pintu.


Begitu pintu terbuka, sosok Emilia yang menangis langsung memeluk Devano erat membuat cowok iti terhuyung ke belakang.


Setelah kesadarannya lebih baik, Devano berusberusaha melepaskan pelukan Emilia. Gadis manja itu semakin erat memeluknya namun Devano juga semakin berusaha melepaskannya hingga akhirnya benar-benar terlepas.


“Ada apaan sih pagi-pagi begini udah bikin rusuh ?” Gerutu Devano.


Dia berbalik untuk pergi ke kamar mandi, namun lamgkahnya ditahan oleh Emilia.


“Devano, tolongin aku.” Emilia memgatupkan tangannya memohon pada Devano. Jangan lupa derai air matanya terus keluar.


Devano berdiri menatap Emilia dengan wajah dingin. Entah drama apalagi yang sedang dimainkannya. Perlahan Emilia mendekati ranjang Devano dan duduk di pinggirannya.


“Aku disuruh pulang sekarang,” terang Emilia sambil sesunggukan. “Padahal aku sudah laporan ke Kak Erwin kalau kita sudah sampai dengan selamat dan aku menginap di rumahmu.”


Emilia melirik Devano namun cowok itu masih berdiri mematung sambil mendekap tangan di depan dadanya.


“Orang suruhan papi sudah menjemput aku dan papi telepon kalau aku harus pulang sekarang juga.”


“Ya sudah tinggal ikut aja kan ? Terus apa masalahnya ?”


Emilia mengambil tissue yang ada di dekat ranjang Devano dan menghapus air mata serta membersihkan wajahnya.


“Aku masih mau di sini. Masih mau menghabiskan waktu sama kamu.”


“Seperti aku bilang semalam, kesepakatan kita berakhir sejak semalam. Aku pun sudah menyelesaikan amanat Erwin membawamu sampai ke Jakarta dengan selamat.”


“Tapi Devano…”


Seorang pelayan mengetuk pintu kamar Devano yang tidak tertutup. Keduanya langsung menoleh.


“Maaf nona, tuan muda, Tuan besar minta nona Emilia segera turun.”


“Devano… Please bantuin telepon papi atau kak Erwin minta supaya aku diijinkan lebih lama di Jakarta. Aku masih ingin dekat-dekat kamu.”


Devano tidak bergeming dan mendahului Emilia keluar kamar melewati pelayan yang tadi mendatangi kamarnya.


Sampai di lantai satu, Devano langsung menuju ke ruang tamu dan mendapati papa Harry sedang berbincang dengan seorang laki-laki seumuran Dimas.


“Pagi Pa.” Sapa Devano sambil membalas anggukan tamu yang ada di situ.


“Pagi Tuan Devano, perkenalkan saya Firman, salah satu staf Pak Arman.” Laki-laki itu mengulurkan tangan dan dibalas oleh Devano.


“Devano. Panggil saya cukup Devano saja, kecuali nanti kita bertemu dalam suasana kerja.”


“Oke Devano,” Firman mengangguk sambil tersenyum.


“Mana Emilia ?” Tanya papa Harry. Devano hanya mengangkat kedua bahunya.


“Firman, coba kamu saja yang masuk ke dalam dan minta Emilia untuk segera ikut denganmu.” Devano memberi kode supaya Firman masuk ke dalam rumahnya.


Firman menatap papa Harry untuk meminta ijin.


“Masuk saja, kamarnya ada di bawah juga. Van, sebaiknya kamu temani Firman sekalian kasih tahu kamar yang ditempati Emilia.”


Akhirnya Devano masuk duluan ke dalam diikuti oleh Firman. Devano hanya menunjuk kamar yang dituju, sementara dia sendiri ke ruang makan untuk mengambil minum.


Dilihatnya ruangan makan kosong dan meja juga sudah bersih.

__ADS_1


“Tuan muda mau makan ?” Bi Sumi yang ada di dapur mendekati Devano yang sedang mengambil minum.


“Nanti saja tunggu Emilia pergi Bik. Mama sama Diana dimana ?”


“Nyonya dan non Diana sedang mengurus tanaman di kebun belakang.”


Devano hanya mengangguk lalu berbalik hendak ke ruang tamu lagi. Saat melewati ruang keluarga, dilihatnya Firman sedang membantu membawakan koper Emilia.


Devano hanya melihat sekilas kemudian lanjut ke ruang tamu. Emilia yang melihat sikap Devano yang masa bodoh jadi menggerutu tidak jelas sambil menghentak-hentakkan kakinya ke lantai.


Tidak lama setelah Devano duduk di sofa, Emilia menyusul didahului oleh Firman yang mendorong 2 buah koper.


“Kamu sudah pamit sama mama nya Devano ?” Tanya papa Harry yang masih duduk di sofa.


“Belum om.” Emilia menjawab dengan kepala menunduk.


“Van, panggilin mama kamu sama Diana dan bilang kalau Emili mau pamit pulang.”


Devano yang masih mengantuk tetap menjalankan perintah papa Harry dengan malas-malasan. Dalam hati dia berdoa semoga mama Angela sudah mau bicara padanya.


Sampai di halaman belakang, Devano melihat mama Angela dan Diana sudah mendekati bangku teras dan mengibas-kibaskan wajah dengan topi yang mereka pakai.


“Ma, Emilia mau pamit pulang ke Surabaya. Papa minta mama ke ruang tamu dulu.”


Mama melirik sekilas namun tidak merespon apa-apa.


“Ma, Devan minta tolong mama keluar biar Emilia cepat pergi. Devan pasti akan jelaskan sama mama semuanya.”


Diana yang sudah duduk di situ hanya diam saja, tidak membantu membujuk mama Angela seperti biasanya.


Akhirnya setelah menghabiskan segelas jus buah yang sudah disiapkan pelayan, mama Angela berjalan melewati Devano. Cowok itu tersenyum dan bersyukur mamanya mau keluar juga.


Sampai di ruang tamu, Firman dan Emilia duduk di satu baris kursi sementara koper milik Emilia sudah tidak ada.


“Saya mau pamit tante.” Emilia beranjak bangun dan mendekati mama Angela. Niatnya ingin cipika cipiki pada mama Angela namun diurungkan melihat wajah mama Angela yang terlihat galak.


“Aku pamit Van.” Emilia tersenyum kikuk melihat Devano juga bersikap dingin dan kaku padanya. Apalagi Devano hanya menjawabnya dengan anggukan.


Papa Harry bangun dan menghampiri istrinya lalu merangkul bahunya.


“Sampaikan salam kami pada papa dan mama kamu. Kapan-kapan kalau pas main ke Jakarta kita bisa janjian ketemu.”


“Baik akan saya sampaikan om.” Emilia memgangguk sekilas dan tersenyum penuh keterpaksaan.


Dua sosok di depannya masih bersikap tidak bersahabat.


Emilia sempat menoleh ke teras sebelum masuk ke dalam mobil. Kedua tangannya langsung mengepal di samping. Hatinya kesal karena tidak ada satupun yang keluar mengantarnya.


Apapun akan aku lakukan untuk menaklukan hatimu Devano. Dan mama mu yang galak itu akan bersikap manis padaku, batin Emilia penuh kemarahan.


Selesai drama pagi ini, Devano langsung merangkul lengan mama Angela dsn bergelayut manja. Papa Harry yang melihat keluakuan putranya tertawa kecil sambil geleng-geleng kepala.


“Mama, laper.”


Mama Angela melirik sekilas dan membiarkan putra sulungnya masih bergelayut di lengannya. Meski hatinya masih sedikit kesal apalagi saat melihat rambut Devano yang blonde itu, mama Angela melangkah menuju ruang makan. Sampai di sana, mama Angela meminta bi Sumi menyiapkan sarapan.


Devano yang semula sudah duduk dan membiarkan mamanya berbincang dengan bi Sumi langsung bangun saat melihat mama Angela hendak berlalu dari ruang makan.


“Ma, temani Devan makan. Sekalian Devan mau cerita soal Emilia.”


“Mama ganti baju dulu, gerah habis berkebun.” Mama Angela mulai menanggapi omongan Devano meski nadanya masih datar.


Yes ! Akhirnya mama mau bicara juga, sorak Devano dalam hati.

__ADS_1


Devano sudah memakan sandwich yang disediakan bi Sumi saat mama Angela kembali ke ruang makan. Ada Diana juga yang mengikutinya di belakang.


Keduanya duduk berhadapan dengan Devano dengan tatapan datar membuat Devano menelan salivanya beberapa kali.


Buset wanita berdua ini tampangnya serem banget, berasa lagi di kandang macan, batin Devano.


Selesai menghabiskan jusnya, Devano mulai menjelaskan masalah Emilia persis sama dengan yang disampaikan olehnya pada papa Harey semalam. Saat selesai bercerita, terlihat wajah mama Angela sudah tidak seketus tadi. Diana yang sudah tahu lebih dulu dari cerita Revan hanya diam saja dan menikmati cemilan di depannya.


“Lain kali pilih perempuan yang lebih normal kalau mau diajak bersandiwara begitu.”


Devano tergelak saat mendengar perkataan mama Angela. Diana ikut cekikikan.


“Maksud mama Emilia bukan gadis normal ?”


“Iisshh… lebay begitu. Pasti rambut kamu dicat blonde gitu karena diauruh dia kan ?” Cibir mama Angela.


“Kok mama tahu sih ?” Devano mengedipkan mata sebelah dan meraih tangan mama Angela lalu menggenggamnya.


“Mama geli lihat rambut kamu. Hari ini dibalikin ke warna asal. Mana ada seorang pimpinan kayak begitu. Memangnya kamu mau jadi boyband ?”


Devano tertawa dan mengeratkan genggamannya. Bebannya lepas melihat mama Angela mulai bersikap normal.


“Lalu Bianca bagaimana ?” Pertanyaan mama Angela membuat Devano sedikit tersentak dan melepaskan genggamannya.


“Maksud mama bagaimana ?” Devano menautkan alisnya.


Mama Angela memanggil bi Asih yang biasa bertugas merapikan kamar-kamar di rumah ini. Mama Angela meminta tolong bi Asih mengambilkan sesuatu di kamar Devano. Tidak lama bi Asih sudah kembali sambil membawa sebah kotak.


Mama Angela meminta bi Asih meletakkan kotak itu dekat Devano.


“Jangan bilang kalau kamu nggak punya perasaan apapun pada Bianca. Semua buktinya ada dalam kotak itu.”


Devano sempat terkejut saat melihat kotak bekas sepatu itu. Dia tidak menyangka mama Angela akan menemukan kotak ini. Devano terdiam dan membuka kembali kotak itu.


“Mama sama papa sudah beberapa kali bilang sama kamu, Van. Masalah opa Ruby jangan terlalu diambil hati, papa sama mama sudah bicara sama opa kamu.”


“Tapi aku benar-benar menganggap Bianca hanya sebagai sahabat, ma.”


“Tapi isi kotak itu bicara lain, Devano.”


“Ma, isi kotak ini hanya cerita waktu sekolah.” Devano mengangkat wajahnya dan menatap lekar mama Angela.


“Hanya cinta monyet, ma.” Devano berusaha tertawa. “Setelah empat tahun, aku tidak lagi merasakan apa-apa.”


Mama Angela menghela nafas berat. Devano boleh bicara tidak, tapi aebagai seorang ibu yang membesarkan dan punya hubungan yang dekat dengan anak-anaknya, mama Angela bisa menangkap isi hati Devano yang terpancar lewat tatapan matanya.


“Kakak yakin nggak nyesel melepas Bianca ?” Diana buka suara.


“Yakin !” Devano berkata tegas sambil mengangguk.


Mama Angela akhirnya bangun dari kursi makan.


“Kamu sudah mulai dewasa sekarang Van, mama percaya kamu bisa memutuskan dengan baik. Kamu punya waktu 3 bulan untuk meyakinkan hatimu tanpa harus mempertimbangkan perasaan orang lain. Hanya fokus pada hatimu yang sebenarnya.”


Mama Angela menarik nafas kembali untuk menahan emosinya melihat putranya begitu keras hati menyangkal diri.


“Mama dan papa tidak akan ikut campur dalam pengambilan keputusanmu. Dan kalau kamu sampai menyesal karena merasa keputusanmu salah, jangan pernah menyalahkan siapapun.”


Mama Angela meninggalkan ruang makan.


“Kak,” Diana memanggil pelan karena dilihatnya Devano sedang memikirkan sesuatu.


“Aku juga akan mendukung apapun keputusan kakak.”

__ADS_1


Devano tersenyum dan menganggukan kepala pada adik satu-satunya.


Suasana ruang makan kembali hening dan Devano masih duduk di sana. Diana sudah duluan meninggalkan ruang makan. Rasa kantuk yang menyerang kembali akibat jetlag dan kurang tidur membuat Devano akhirnya memilih kembali ke kamarnya dan melanjutkan tidur.


__ADS_2