Bukan Mantan Pacar

Bukan Mantan Pacar
Bab 27 Rindu Papa


__ADS_3

Setelah memesan minuman dan makanan, keenamnya duduk santai sambil mengobrol.


“Tempatnya lumayan keren.” Komentar Leo sambil mengedarkan pandangannya.


“Iya nggak mahal juga makanannya,” sahut Joshua.


“Eh betewe pak erwe, dua temen elo kok nggak ikutan ?” Tanya Mia.


“Devano ada keperluan sama papanya, Ernest juga udah janjian sama mama nya mau kemana nggak tau.” Leo yang menjelaskan.


Mia hanya manggut-manggut sementara Della dan Bianca sedang sibuk dengan handphonenya.


“Duuhh lepasin dulu tuh handphone napa ?” Mia menggerutu. “Jarang-jarang nih duduk makan bareng sama para cogan.”


“Jadi elo ngakuin juga kalo gue ganteng.” Arya langsung menimpali sambil menatap Mia yang langsung cemberut.


“Dih pede banget,” cibirnya.


“Habis elo demennya kasih gue julukan yang nggak-nggak, eh diem-diem ternyata mengakui kalo gue termasuk deretan cogan.” Tutur Arya dengan senyuman mengejek menatap Mia.


“Diihh ampun deh, memang elo kayak kulkas dan muka tembok, kaku dan dingin.”


“Iya tapi…”


“Udah jadian aja deh,” Della memotong ucapan Arya.


”Ogah !” Keduanya menjawab kompak dengan wajah kesal membuat keempat temannya jadi tertawa.


“Kayaknya jodoh sih,” Leo mengelus dagunya dengan memasang wajah sok serius.


“Setuju !” Seru Della dan Joshua sambil mengacungkan jempolnya sementara Bianca hanya tersenyum sambil ikutan mengangkat jempolnya.


“Cinta gue…” Lagi-lagi Arya tidak sempat menyelesaikan perkataannya, pelayan sudah mengantarkan pesanan mereka.


Hampir dua jam keenam siswa SMA Dharma Bangsa itu menghabiskan waktu makan siang sambil ngobrol sana sini dengan serunya. Ternyata Arya bisa juga jadi cowok yang menyenangkan meski kadang-kadang sering jadi bahan tertawaan teman-temannya karena suka tidak nyambung omongannya.


“Arya thankyou so much ya traktirannya,” Mia kali ini memasang tampang manisnya dengan senyuman lebarnya.


Della dan Bianca saling menoleh dan senyum-senyum melihat tingkah Mia yang centil dan ditanggapi Arya dengan muka masam.


“Elo berdua ikut ke rumah sakit apa langsung balik ?” Tanya Arya pada Della dan Mia.


“Bisa anterin balik ke sekolah nggak ? Gue bawa motor. Biar Mia gue yang anter pulang,” sahut Della.


Joshua dan Leo pamit langsung pulang dengan motor dan Arya akhirnya mengantar Della dan Mia ke sekolah.


“Arya, gue naik taksi aja ya, kagak usah dianterin.” Bianca yang sekarang duduk di kursi depan samping pengemudi menatap Arya yang masih fokus menyetir.


“Gue sekalian mau ketemu Om Hendra.”


Bianca menoleh menatap Della dan Mia di bangku belakang dan keduanya hanya mengganggukan kepalanya memberi jawaban supaya Bianca menurut saja pada Arya. Bianca menarik nafas panjang dan akhirnya memilih diam.

__ADS_1


“Thankyou ya, Ya atas traktiran dan tebengannya.” Della membungkukkan badannya supaya bisa sejajar dengan jendela mobil sisi Bianca yang terbuka.


“Sama-sama dan hati-hati ya elo berdua.” Arya menganggukan kepala sambil melambaikan tangannya.


“Titip temen gue Ya, awas jangan diapa-apain loh,” Mia ikutan melongok ke dalam mobil.


“Aman,” Arya mengacungkan jempolnya sambil tersenyum.


“Gue jalan dulu ya Mi, Del. Jangan ngebut lo bawa motornya.” Bianca melambaikan tangan pada dua sahabatnya.


Setelah pamitan, Arya kembali melanjutkan laju mobilnya menuju rumah sakit.


Sekitar 40 menit mereka baru sampai di rumah sakit karena jalanan cukup padat siang ini. Sampai di depan ruang ICU, terlihat mama Lisa sedang berbincang-bincang dengan seorang wanita yang posisinya membelakangi Bianca.


“Ma.”


“Tante.”


Sapa Bianca dan Arya bergantian pada mama Lisa. Dan saat itu juga wanita yang berbicara dengan mama ikut menoleh.


“Tante Angela !” Panggil Bianca dengan ekspresi terkejut. “Kok Tante bisa di sini ?”


“Bisa dong.” Tante Angela, mama Devano itu tersenyum dan merentangkan tangannya lalu mendekati Bianca dan memeluknya sambil menepuk-nepuk bahu Bianca.


“Kamu yang kuat ya. Serahkan semua pada Yang Di Atas.” Pelukan Tante Angela semakin erat.


“Terima kasih, Tante. Terima kasih juga tante sudah meluangkan waktu kemari.” Bianca membalas pelukan Tante Angela.


“Bagus ya pulang sekolah langsung keluyuran,” Sosok wanita yang dipanggil mama langsung menghampiri Arya dan menjewer telinganya.


“Ampun ma, ampun,” Arya mengaduh. “Ini nggak keluyuran tapi anterin Bianca.” Arya mengusap telinganya yang tadi dijewer.


“Ma, kenalin ini Bianca, anaknya Om Indra.” Arya mengulurkan tangannya ke arah Bianca.


“Bi, kenalin ini mama gue.”


“Bianca,” Bianca membungkukkan badannya sedikit sebagai tanda hormat.


“Deasy.” mama Arya yang bernama Tante Deasy itu membalas uluran tangan Bianca.


“Jadi ini toh anak gadisnya Pak Indra.” Tante Deasy tersenyum sambil mengedipkan mata sebelah ke Tante Angela.


“Iya, sekarang ngerti kan ?” Balas Tante Angela dengan kedipan sebelah mata juga.


“Memangnya ada apa ma ?” Tanya Arya bingung.


“R-A-H-A-S-I-A.” Tutur Tante Deasy sambil tertawa.


“Silakan duduk Tante Angela, Tante Deasy.” Bianca mempersilakan keduanya untuk duduk di bangku kosong yang ada di dekat mereka.


“Mau pamit pulang Bianca,” tolak halus Tante Angela. “Sudah dari tadi nih ngobrol sama mama kamu.” Tante Angela tersenyum ramah sambil melirik mama Lisa yang ikut tersenyum.

__ADS_1


“Iya kita pamit dulu ya, sayang.” Tante Deasy menoel dagu Bianca. “Jaga kesehatan, kamu masih ada ujian lagi kan ?”


“Iya tinggal PAS tante,” jawab Bianca sopan.


“Kamu,” Tante Deasy menunjuk Arya. “Mau pulang sama mama apa masih di sini ?”


“Di sini dulu ya ma, belum lama sampai. Janjian sama Om Hendra juga.”


“Modus,” goda Tante Deasy.


“Biasa anak muda, sambil menyelam minum air.” Timpal Tante Angela.


“Awas tenggelam,” mama Lisa ternyata ikut juga menimpali sambil tertawa.


Akhirnya setelah berpamitan plus cipika cipiki, Tante Angela yang datang bersama Tante Deasy pamit pulang hanya diantar oleh Arya sampai ke parkiran. Bianca mengambil duduk aebelah mama Lisa dan menyenderkan kepalanya ke bahu wanita kesayangannya.


“Kangen suara papa ya, ma,” lirih Bianca pelan. Usahanya untuk tidak mengeluarkan air mata ternyata tidak berhasil.


“Yang sabar, papa juga pasti kangen sama kita semua.” Mama Lisa mengelus kepala Bianca dengan penuh kasih sayang


“Aku mau ketemu papa ke dalam boleh ma ?”


“Boleh tapi tunggu jam 4 baru dibuka ya. Itupun nggak bisa lama-lama.”


Bianca mengangkat kepalanya dan menghapus air mata di sudut matanya.


“Ma, Bibi diterima di PTN Jakarta jurusan psikologi.”


Mama menoleh dan ekspresi wajahnya langsung terlihat bahagia.


“Syukur kalau kamu bisa lanjut kuliah di tempat yang kamu inginkan.” Mama membelai pipi Bianca pelan yang membuat Bianca kembali menitikkan air mata.


“Tapi kuliahnya lama ma, bisa 4.5 tahun.” Bianca menundukkan kepalanya.


“Bi, jalani saja dulu semuanya. Nggak apa-apa 4.5 tahun juga.”


“Tapi Bernard akan kuliah 2 tahun lagi dan dia sudah memastikan ingin masuk kedokteran. Biar diterima di PTN tapi tetap butuh biaya, ma.”


“Bi, kita tidak pernah tahu rencana Tuhan dalam hidup kita. Yang penting, apa yang kamu dapatkan saat ini digunakan sebaik-baiknya. Jangan disia-siakan kesempatan yang sangat bagus. Pasti akan ada jalannya.”


“Kalau papa tidak…”


Mama Lisa menaruh telunjuknya di bibir Bianca hingga dia tidak melanjutkan perkataannya.


“Apa yang terjadi saat ini ada rencana Tuhan. Saat kita merasa satu pintu kehidupan tertutup, pasti Tuhan akan membuat pintu lain terbuka. Tidak kita ketahui apa yang ada di balik pintu yang baru terbuka, tapi kalau Tuhan yang membuatnya terbuka pasti ada rencana indah yang sudah disediakan oleh-Nya.” Mama Lisa mengangkat dagu Bianca dan menangkup wajah putri kesayangannya. Dikecupnya kening Bianca dengan penuh cinta.


“Kamu adalah anak gadis papa dan mama yang kuat dan selalu membanggakan. Jangan pernah menyesali apa yang saat ini terjadi. Percaya dan jalankan apa yang sudah diberikan.” Mama Lisa menatap Bianca sambil tersenyum penuh kehangatan.


Bianca berhambur ke dalam pelukan mama Lisa yang memeluknya juga sambil mengusap pelan punggung Bianca.


“Pa, aku kangen,” lirih Bianca dengan airmata mengalir.

__ADS_1


__ADS_2