Bukan Mantan Pacar

Bukan Mantan Pacar
Bab 59 Kunjungan Sahabat


__ADS_3

Senin pagi-pagi Arya sudah menunggu Leo di kantornya sementara Joshua juga langsung meluncur ke kantor Ernest.


Keduanya sama-sama melakukan proses penerimaan karyawan di tempat yang berbeda. Prosedur tetap berjalan biasa meskipun Joshua dan Leo adalah sahabat anak pemilik perusahaan.


Jam 10 lewat chat lima sekawan mulai ramai. Mereka sepakat akan bertemu di kantor Devano sekaligus makan siang.


Menjelang jam makan siang keempat sahabat Devano tiba dengan waktu yang hampir bersamaan. Arya dan Leo sampai duluan dan langsung naik ke lantai 10 dengan lift karyawan, sementara Ernest dan Joshua menyusul 5 menit kemudian.


“Bibi how are you, dear ?” Joshua dengan gaya lebaynya menyapa Bianca yang duduk di depan ruangan Devano. Dimas juga ada di sana.


“Duh Jojo ganteng, i”m fine dong.” Bianca mengedipkan matanya dengan genit.


Joshua langsung bergaya lemas lunglai membuat Bianca tertawa. Dimas dan Ernest yang melihatnya hanya geleng-geleng kepala.


“Kamu kok jadi cantik sih.” Joshua pura-pura ingin menoel dagu Bianca.


“Dih pasti ada maunya nih.” bianca mencibir


“Oh iya kenalin ini aspri nya Bapak Devano Putra Wijaya.” Bianca memperkenalkan Dimas yang berdiri di dekatnya.


Ketiganya saling bersalaman dan menyebutkan nama masing-masing.


“Udah masuk sana, nanti macan keburu mengaum.” Bianca mendorong Joshua supaya segera masuk ke ruangan Devano.


“Sudah ada Bapak Arya dan Bapak Leo di dalam.”


Bianca membungkuk lalu memgulurkan tangannya mempersilakan keduanya.


“Emang macan kagak jinak udah ditemenin pawangnya ?” Goda Ernest.


“Tuh pawangnya,” Bianca malah menunjuk Dimas. “Gimana Pak Pawang ? Hari ini macan aman nggak ?”


“Yah pantes aja kalo masih suka ngamuk, mana mau sama pawang satu antena, mau juga elo yang jadipawangnya.” Joshua menoyor jidat Bianca.


Bianca hanya cengengesan lalu mengusir Joshua dengan tangannya.


“Udah sana masuk. Hush… hush.”


“Eh elo kira gue kucing ?” Joshua mengomel.


Bianca tertawa. Ernest mendorong Joshua untuk segera masuk ke ruangan Devano yang sudah dibukakan pintunya oleh Bianca.


“Eh lupa,” Bianca mencolek bahu Ernest sebelum masuk. “Mau minum apa ?”


“Apa aja yang gratis, dingin dan manis. Jangan modal air putih doang ya.” Joshua yang menyahut.


“Dih nanya ke siapa, yang jawab situ.” Bianca bicara pelan sambil mencebik lalu menutup pintu ruangan


Mereka pun saling bersapa. Devano masih duduk di kursi kebesarannya sambil bekerja dengan laptopnya sementara Arya dan Leo duduk di sofa dengan posisi berseberangan.


“Elo yakin kalau dia lolos tes masuk kantor elo ?” Ledek Leo sambil melihat ke Joshua.


“Yang pasti kalo lulus, uji nyali juga punya aspri modelan kereta gandeng.” Timpal Arya sambil tertawa.


“Rese ya kalian,” omel Joshua.


“Van, kerjaan masih banyak ?” Ernest menghampiri sahabatnya.


“Nggak sih, cuma balas beberapa email sama tandatangan berkas doang. Sedikit.” Devano menunjuk tunpukan map yang ada di atas mejanya.


“Mau makan siangnya pesan dan makan di sini atau keluar ?” Tanya Arya.


“Keluar aja ya, biar gue bisa rileks sebentar.” Devano yang menjawab.


20 menit kemudian kelimanya bersiap-siap untuk pergi makan siang.


Begitu membuka pintu ruangan, di mejanya Bianca sedang menerima telepon, sementara Dimas langsung menghampiri dan mengambil tumpukan map yang dibawa Devano.


“Siapa ?” Arya yang posisinya di belakang Devano bertanya pada Dimas tanpa suara.

__ADS_1


“Desta.” Dimas pun memberi jawaban hanya dengan gerakan mulut.


Devano sudah berjalan duluan namun langkahnya terhenti saat melihat Arya menghampiri meja Bianca , membuat gadis itu langsung memutus telepon internalnya.


“Makan siang yuk Bi,” ajak Arya.


“Eh nggak usah, gue udah janjian sama temen.”


“Batalin aja.” Arya semakin mendekat dan langsung meraih tangan Bianca.


“Beneran nggak usah.” Bianca berusaha melepaskan tangannya. “Tuh ajak Dimas aja, belum ada teman makannya.”


“Udah cepetan elo batalin apa kita pada gendong elo nih ramean.” Joshua mendekat dan mengajak Bianca.


“Ogah ya digendong ramean.”


“Ya udah Devano aja nanti yang gendong elo deh, pasti kuat dia.” Joshua terkekeh dan langsung mendapat pelototan Bianca.


Devano melirik saat mendengar namanya disebut. Tidak seperti biasanya dia tidak protes atau jalan duluan tapi malah menunggu Arya membujuk Bianca.


“Udah cepetan !” Arya menarik lengan Bianca membuat cewek itu terseok karena hampir jatuh dari kursi.


“Eh iya… iya. Bentar gue ambil dompet sama hp dulu.” Bianca meraih tas kecil yang ada di laci mejanya.


“Elo juga ikut Kak,” Bianca menarik lengan Dimas sementara tangannya masih digenggam Arya.


“Gue kagak diajak.” Bisik Dimas.


“Arya !” Bianca melepaskan tangannya yang menarik Dimas. “Kak Dimas juga ikut ya.”


Arya menoleh sekilas lalu mengangguk. Devano sempat melihat ke arah tangan Arya yang menggenggam tangan Bianca. Arya melihat lirikan Devano, namun diacuhkannya. Dia sengaja terus menggenggam Bianca dan tidak melepaskannya


“Arya lepasin,” Bianca berbisik saat di dalam lift meminta Arya melepaskan tangannya. Arya menoleh ke bawah dimana kedua tangan mereka masih menggenggam.


“Gue mau kirim wa ke teman batalin makan siang bareng. Nggak bisa ngetik kalau pake sebelah tangan doang.”


Bianca pun mengetik pesan membatalkan ajakan makan siang Desta yang tadi menghubunginya lewat telepon internal.


Devano yang tingginya jauh dari Bianca bisa ikutan membaca tulisan yang terpampang di layar handphone Bianca. Devano memicingkan mata lalu menautkan kedua alisnya saat melihat nama Desta di sana.


Mereka pun berangkat dengan 2 mobil. Ernest membawa mobilnya sendiri karena rencana langsung balik kantor selesai makan siang. Joshua yang menyetir dan Leo pun ikut di sana.


Mobil Devano yang dikemudikan oleh Dimas membawa bossnya, Arya, dan Bianca.


Bianca sudah bersiap duduk di depan sebelah sopir tapi kemudian ditarik oleh Arya.


“Duduk belakang !” Perintah Arya.


“Ogah.” Bianca menggeleng. “Biasa juga kalau pergi meeting bertiga, gue duduk di depan sama Kak Dimas. Elo aja duduk di belakang sama Devano.”


Arya langsung meraih kedua bahu Bianca dan menggiringnya masuk ke kursi belakang dimana Devano sudah duduk di dalamnya dari pintu sisi sopir.


“Udah nurut. Nanti gue kasih hadiah kejutan.”


“Kejutan apaan ?” Bianca sempat menoleh sebelum masuk ke dalam mobil.


“Kalo gue kasih tahu bukan kejutan namanya.” Arya mendorong pelan menyuruh Bianca masuk. Satu tangannya menjaga di pintu supaya kepala Bianca tidak membentur pintu mobil.


Lagi-lagi Devano hanya diam setelah mobil melaju Beberapa kali Arya mengajaknya ikut ngobrol, namun hanya jawaban singkat yang didapat. Jadilah hanya percakapan mereka bertiga yang mengisi perjalanan.


20 menit mobil sudah terparkir di salah satu restoran yang cukup ramai. Mobil Ernest sudah duluan terparkir di sana.


Notifikasi pesan masuk di grup mereka memberitahu posisi meja yang ternyata sudah dipesan oleh Ernest sejak dari kantor Devano.


Meja bulat untuk sepuluh orang sudah disiapkan. Belum sempat Bianca memilih tempat duduk yang semula ingin dekat dengan Dimas, Arya sudah menarik tangannya. Bianca langsung disuruh duduk di sebelah kiri Devano dan Arya sendiri duduk di sebelah kiri Bianca. Jadilah Bianca diapit oleh Arya dan Devano.


“Wanita di sarang penyamun.” Goda Joshua setelah mereka memesan makanan dan minuman.


“Bi, elo nggak mau coba duduk di sebelah gue ? Siapa tahu dapat pencerahan baru.” Leo menepuk-nepuk bangku kosong di sebelahnya.

__ADS_1


“Ide bagus.” Bianca tersenyum dan hendak beranjak bangun, namun sebuah tangan menahannya.


Bianca tersentak dan memdadak kaku karena merasakan bahwa bukan orang di sisi kirinya yang menahan tapi lengan itu milik sosok yang duduk di sebelah kanannya. Bianca diam terpaku dan tidak berani melirik ke bawah.


“Bi, jadi nggak ?” Leo kembali menepuk-nepuk bangku kosong di sebelahnya.


“Eh di sini aja Le, udah pw.” Jawab Bianca gugup.


“Apaan lagi tuh pw ?” Ernest mengangkat alisnya sebelah.


“Posisi wueeenaakk Bro.” Jawab Joshua.


Dimas yang duduk selisih satu bangku dengan Devano memperhatikan ekspresi Bianca yang mendadak tegang. Saat dilihatnya tangan Devano hanya ada satu di atas meja, Dimas langsung tersenyum tipis. Cuma Devano yang mampu membuat Bianca jadi membeku seperti itu. Arya yang duduk di sebelah Bianca sedang sibuk membalas pesan di handphonenya hingga tidak memperhatikan kejadian itu.


Makan siang para sahabat itu penuh dengan cerita. Dimas yang mengenal Arya dan Ernest cukup baik ikutan nimbrung juga, sementara Bianca justru lebih banyak diam.


“Bi, elo mendadak sakit gigi ?” Ernest menggodanya karena melihat Bianca lebih banyak diam, tidak seperti biasanya.


“Bukan sakit gigi dia Bro, tapi anteng soalnya ada macan di sebelahnya.” Joshua tertawa.


“Macan ompong ?” Timpal Arya membuat semua yang ada di sana tertawa.


Bianca yang digoda hanya terdiam dan memerah wajahnya. Devano yang duduk di sebelahnya hanya terdiam dan bersikap biasa saja.


“Bi, kok mendadak bisu ? Takut dipecat ya sama boss kamu ?” Arya mendekat dan dengan suara berbisik di telinga Bianca.


Namun bukan bisikan sesungguhnya karena perkataan Arya dapat didengar oleh semuanya.


“Bianca nggak bakalan dipecat Ar, wong bukan karyawan tapi anak magang. Bianca takut nilai magangnya dikasih F.” Dimas kali ini yang buka suara.


“Bi, tadi kan elo bilang sendiri kalo macan satu ini suka mengaum alias galak,” Joshua tergelak.


Kali ini Devano menoleh menatap Bianca. Gadis itu sempat melirik lalu menundukkan wajahnya. Rasa panas semakin menjalar di mukanya.


Bianca menarik nafas panjang kemudian mengangkat wajahnya dan mengambil air minum untuk menenangkan hatinya.


“Gue nggak takut macan ngamuk, udah biasa.” Akhirnya Bianca buka suara sambil melirik Devano yang masih menatapnya.


“Tapi seperti kata Kak Dimas, bisa gawat kalau boss kasih nilai F buat penilaian magang gue.”


Yang lainnya langsung tertawa sementara wajah Devano berubah kesal.


“Bapak Devano Putra Wijaya yang ganteng dan baik hati,”


Bianca memutar badannya memghadap Devano. Dibalasnya tatapan kesal Devano dengan wajah memelas.


“Mohon kebaikannya memberikan saya nilai yang terbaik. Bapak kan juga pengen cepat-cepat saya pergi dari pandangan Bapak, jadi jangan kasih saya nilai jelek.” Bianca mengatupkan kedua tangannya.


Sekarang wajah Devano yang gantian memerah dan pandangannya beralih ke sembarang arah tanpa menatap siapapun di meja itu.


“Jangan dengarkan para lebah ini Pak,” Bianca mengedarkan pandangannya menatap satu-satu.


Wajah-wajah menyebalkan itu tidak ada yang terihat tanpa senyuman lebar.


“Kalau kita lebah, elo madunya dong Bi,” goda Leo.


“Boleh dong lebah ganteng ini mendekati si manis madu.” Joshua dengan gaya alaynya mengerling nakal.


“Geli,” Bianca memasang wajah ingin muntah.


Wajah Devano masih terlihat kesal namun pandangannya kembali ke handphone. Bianca sudah kembali pada posisinya semula.


Kelima cowok di depannya masih tertawa-tawa menjadikan Bianca dan Devano topik perbincangan.


“Udah stop !” Bianca mengangkat tangannya dengan suara lumayan nyaring.


“Jam makan siang udah lewat.” Bianca beranjak bangun. “Mohon maaf bapak-bapak yang terhormat, saya dan Dimas harus balik kantor daripada dimarahin boss, soalnya boss kami galak.” Bianca terkekeh sambil melirik Devano yang ternyata sedang menatapnya dengan pandangan yang mengerikan.


Lagi-lagi kelima cowok yang lainnya hanya tertawa-tawa sambil geleng-geleng kepala.

__ADS_1


__ADS_2