
Setelah aksi pemaksaan yang Mia lakukan, akhirnya Bianca pun menerima baju yang dipilih berdasarkan pendapat ketiga sahabatnya. Bianca mau menerima dengan syarat bukan Devano yang membelikan. Mia pun meyakinkan Bianca bahwa dia yang akan membelikan dengan membayar menggunakan kartu debit milik Mia.
Bianca cukup sibuk dengan jadwal kuliahnya, hingga dia sendiri tidak menawarkan diri untuk membantu acara yang didengungkan oleh Mia.
Minggu jam 11, Mia bersama Della dan Dewi datang menjemput Bianca untuk mengajaknya makan siang lalu lanjut ke salon.
Kembali drama perdebatan terjadi karena lagi-lagi Bianca menanyakan alasan yang sebenarnya sampai mereka harus pergi ke salon untuk berdandan.
Dewi dan Della pun ikut membujuk Bianca dan memastikan bahwa mereka bertiga pun ikut mempercantik diri di salon, akhirnya Bianca menurut dan mengikuti semua rencana para sahabatnya hari ini.
Mia mengajak Bianca, Della dan Dewi makan di rumah makan padang yang tidak jauh dari salon langganan Mia.
Tepat jam 1, mereka sampai di salon. Dua orang bagian make up wajah dan dua orang bagian tata rambut sudah siap menanti keempatnya.
Della dan Dewi mendapat giliran pertama karena Bianca ngotot ingin melihat dulu hasil make up karyawan salon tersebut.
“Baju kalian dimana ?” Tanya Bianca tiba-tina.
Bianca menangkap kalau Mia sempat terkejut dengan pertanyaannya.
“Kenapa cuma baju aku yang dibawa ke salon ?” Bianca menyipitkan mata dengan tatapan selidik menatap Mia.
Mia sempat terdiam dan terihat memikirkan jawabannya.
“Baju aku habis di laundry. Sibuk urusan acara, jadi aku lupa ambil. Tadi aku sudah minta tolong Arya untuk membawanya langsung ke Cafe Pelangi,” jawab Mia sedikit gugup dan tanpa memandang Bianca.
“Terus kalau punya Dewi dan Della ketinggalan juga ?”
Della dan Dewi yang masih didandani hanya bisa berdoa dalam hati berharap Mia bisa memberikan jawaban yang masuk akal.
“Iii..iya… kan tempat laundry-nya sama juga.”
“Terus kenapa punya gue bisa kebawa dan sempat diambil ?”
Mia semakin gugup diberondong pertanyaan oleh Bianca dengan tatapan penuh selidik.
“Punya elo di laundry beda tempat, Bi.” Della yang menjawab setelah meminta acara dandannya dihentikan sejenak.
“Punya elo itu bahannya khusus. Di tempat laundry baju gue, Mia dan Dewi nggak mau terima untuk baju berbahan yang elo punya,” lanjut Della menerangkan.-
Meski tidak puas dengan jawaban Della, akhirnya Bianca memilih diam dan membiarkan para sahabatnya menganggap masalah beres dsn Bianca bisa menerima penjelasan Della.
Dari lirikan sudut matanya, Bianca bisa melihat tarikan nafas lega dari Mia.
Akhirnya Bianca memutuskan untuk memainkan handphonenya. Sejak kejadian pertemuannya dengan Devano di butik, Bianca tidak pernah berinisiatif lagi untuk mengirimkan pesan apalagi menelepon Devano.
Semalam sempat sekali Bianca membaca pesan dari Devano namun enggan membalasnya. Biar Devano tahu bagaimana kesalnya melihat pesannya hanya dibaca tanpa balasan, padahal isi pesan itu adalah pertanyaan yang membutuhkan jawaban.
Devano : Arya bilang besok kamu langsung ke Cafe Pelangi sama Mia habis dari salon ?
Begitu isi pesan Devano yang diabaikan oleh Bianca. Namun bukannya merasa di atas angin, Devano tidak lagi memberikan wa apapun atau langsung meneleponnya. Bahkan pagi ini Devano tidak lagi memastikan kedatangan Bianca di Cafe Pelangi.
“Mia,” Bianca menghentikan aktivitasnya dan menoleh menatap Mia.
Sahabatnya itu terlonjak kaget dan membalas tatapan Bianca dengan raut wajah khawatir.
“Gue masih bingung kenapa Arya mengadakan pesta pertunangan kalian di Cafe Pelangi. Semua tahu bagaimana kaya nya seorang Arya. Jujur gue merasa aneh kalau mengadakan acara pertunangan di sana.”
Mia tertawa kaku dan gugup.
“Ngg…nggg….” mendadak otak Mia menjadi buntu. “Itu… itu karena…”
“Karena Arya menganggap tempat itu spesial, Bi.” Lagi-lagi Della yang membantu menjawab. Dia sudsah bangun dari bangkunya dan berpindah ke sofa lalu duduk di sebelah Bianca.
“Udah sana, elo dandan dulu.” Della menyuruh Mia ke tempatnya tadi.
Mia menggangguk dan bergegas ke deretan bangku di depan kaca untuk aktivitas salon.
“Arya ada sedikit cerita sama gue soal alasannya.” Della menatap Bianca dengan penuh keyakinan.
__ADS_1
“Elo masih ingat kan kalau Arya pernah mengadakan pesta perpisahan sebelum keberangkatan dia, Devano dan Ernest di sana ? Terus pas mereka balik dan bisa kumpul bareng lagi, Arya kembali bisa bertemu para sahabatnya di sana, makanya ada bagusnya kalau salah satu momen terpenting lainnya juga diadakan di sana.”
Bianca hanya mengangguk-anggukan kepalanya dan tidak bertanya lebih lanjut.
Terakhir adalah giliran Bianca. Yang mendadaninya berganti orang dengan alasan tukang make up nya mau makan siang dulu karena belum istirahat sejak pagi.
Mia sempat menolak karena tidak sesuai perjanjian. MUA yang mendandani mereka adalah pilihan Mia. Namun Bianca meminta Mia untuk tidak lagi berdebat apalagi setelah pemilik salon ikut turun tangan dan meyakinkan bahwa MUA penggantinya adalah salah satu unggulan juga di salon.
Bianca pun mulai didandani hingga pukul 4 sore.
Setelah menyelesaikan pembayaran dan sebagainya, akhirnya keempat gadis itu bersiap langsung ke Cafe Pelangi.
Bianca yang semula ingin berganti baju bersama si Cafe Pelangi, kembali dibujuk oleh ketiga sahabatnya untuk langsung mengganti bajunya di salon.
Dan akhirnya untuk menghindari perdebatan panjang di depan umum, akhirnya Bianca menuruti permintaan temannya.
Ternyata sebuah mobil SUV lengkap dengan sopir sudah menunggu mereka di depan salon.
Baru sampai di depan pintu, handphone Bianca berbunyi. Cepat-cepat Bianca mengambil dari tas selempangnya dan terkejut melihar nama Desta.
“Siapa, Bi ?” Dewi yang berjalan di sebelah Bianca langsung melirik berusaha melihat nama yang muncul di layar handphone Bianca.
Tanpa menjawab pertanyaan Dewi, Bianca langsung memgangkat teleponnya. Raut wajahnya berubah pias setelah tadi sempat memperlihatkam ekspresi terkejut. Bianca pun menutup mulutnya yang sempT menganga dengan jemarinya.
Bianca berbincang dengan seseorang yang Bianca sendiri tidak tahu namanya.
“Mia, gue benar-benar minta maaf tidak bisa datang ke acara penting elo hari ini. Gue mustk pergi ke rumah sakit.”
Tanpa menunggu ijin dari Mia maupun Dewi dan Della, Bianca sedikit berlari menuju jalan besar yang berada di depan bangunan salon. Dia menghentikan taksi yang kebetulan lewat dan langsung masuk lalu menyebutkan tempat yang mau didatanginya.
“Bi, siapa yang sakit ?” Teriak Della.
“Desta.” Bianca menjawab setelah membuka jendela. “Sorry Mia, tolong bilangin Arya juga.”
Bianca langsung mematikan handphonenya saat taksi mulai bergerak meniggalkam salon. Bianca tersenyum licik di dalam taksi.
Sementara masih di parkiran salon, Mia langsung lemas. Della dan Dewi lsngsung menahannya supay Mia tidak sampai jatuh ke tanah.
“Kita nggak bisa putusin Mia, lebih baik langsung ke Cafe Pelangi dulu aja.”
Akhirnya bertiga mereka langsung menuju Cafe Pelangi diantar mobil milik orangtua Mia. Della langsung mengirim pesan pada Arya dan Devano supaya menunggu mereka karena ada hal yang ingin dibicarakan.
Mia sendiri lebih memilih diam, begitu juga dengan Dewi. Mia terlihat meremat kedua jemarinya menagan gelisah di hatinya.
Sampai di Cafe Pelangi, ternyata Arya dan Devano sudah menunggu mereka di dalam dekat pintu masuk. Arya segera menghampiri Mia dan langsung menggenggam tangannya untuk memberikan ketenangan pada Mia.
“Sebetulnya apa yang terjadi ?” Devano terlihat emosi saat bertanya pada Della.
“Tadi pas kita sudah selesai dan mau ke mobil, Bianca menerima telepon nggak tahu dari siapa. Wajahnya terlihat terkejut dan panik, lalu segera pergi naik taksi yang lewat.” Della memberikan penjelasan.
“Terus kalian nggak tanya ada apa dan kemana tujuan Bianca naik taksi ?”
“Bianca sempat menjawab Van, tapi hanya dua kata, Desta dan rumah sakit,” Dewi pun ikut menambahkan penjelasan Della.
“Desta ? Rumah Sakit ?” Devano menautkan kedua alisnya dan tangannya mulai mengepal.
“Kami nggak tahu ada apa dengan Desta dan di rumah sakit mana. Handphone Bianca langsung mati, jadi tidak bisa langsung dihubungi.”
Devano menjambak rambutnya dengan perasaan marah dan salah satu tangannya memukul meja kayu yang ada di dekatnya.
Mama Angela, papa Harry dan mama Lisa langsung mendekati Devano.
“Ada apa, Van ?” Mama Angela mendekat dan mengelus punggung Devano.
“Bianca pergi ke rumah sakit mana nggak tahu, Ma, dan ini semua ada hubungannya dengan Desta. Bianca sempat menerima telepon entah dari siapa. Hanya bilamg rumah sakit dan Desta saja pada sahabatnya.”
Papa. Harry yang mendengar penuturan Devano melambai memanggil papa Ardi yang langsung menghampiri bersama Sella.
“Ada apa, Har ?”
__ADS_1
“Barusan teman-teman Bianca yang ke salon bareng kasih tahu kalau Bianca langsung pergi meninggalkan mereka dengan taksi. Bianca tidak menjelaskan apa-apa hanya menyebutkan Desta dan rumah sakit ?”
“Maksudnya ?” Raut wajah Papa Ardi terlihat sangat khawatir.
“Apa kamu ada terima kabar soal keberadaan Desta ? Apa memang terjadi sesuatu padanya atau gimana ?”
Papa Ardi semakin terlihat khawatir. Papa Ardi pun mencoba menghubungi handphone Desta tetapi langsung masuk ke kotak suara. Sella yang berada di sampingnya memcoba menghubungi Bianca namun kondisimya juga sama.
Papa Ardi pun menghubungi seseorsng di handphonenya dan memerintahkan seseorang untuk melacak keberadaan Desta dan Bianca.
Papa Ardi pun mengirimkan pesan berupa nomor handphone Desta dan Bianca pada orang kepercayaannya.
“Asistenku bilang tidak ada kabar apapun masalah Desta masuk rumah sakit. Aku sudah minta mereka mencari tahu. Kita tunggu kabarnya sektar 30 menit sampai 1 jam.”
Papa Ardi pun mendekati Devano dan menepuk bahunya.
“Sabar, Van. Sebentar lagi pasti akan ada kabar baik.”
“Apa mungkin Bianca memilih Desta daripada saya, Om ? Apalagi lebih dari seminggu ini saya sengaja mendiamkan Bianca.” Lirih Devano sendu.
“Percayalah kalau Desta bukan model lelaki seperti itu. Om tahu benar sifat Desta.” Hibur papa Ardi sambil kembali menepuk bahu Devano.
“Tapi nggak tahu juga kalau Bianca yang meyakinkannya bahwa dia memilih Desta daripada kamu,” goda papa Ardi sambil terkekeh.
“Papa !” Pekik Sella sambil melotot.
“Kamu tuh aneh-aneh aja ngomongnya, Di.” Mama Angela memukul lengan papa Ardi yang disambut dengan kekehan. “Udah tahu anakku lagi panik dan khawatir begini, malah dikompori.”
Papa Ardi masih terkekeh sambil berbalik ke tempat mama Hana, mama Hani dan Om Rizal juga Andre.
“Gue udah suruh orang cari tahu, Bro.” Dimas yang baru saja masuk lagi ke dalam cafe setelah selesai melakukan panggilan, mendekati Devano.
Dimas memberi kode pada pelayan cafe untuk membawakan segelas air putih untuk Devano.
Arya, Mia dan Sella pun menarik bangku dan duduk
semeja dengan Devano yang masih didampingi Dimas.
Della dan Dewi mengajak mama Lisa kembali duduk ke bangku yang sudah disiapkan untuk para tamu. Begitu juga papa Harry mengahak mama Angela kembali duduk dekat Diana dan Revan.
Devano masih tertunduk dan meremas rambutnya sendiri.
“Niat gue mau kasih Bianca kejutan lamaran buat dia, kok malah jadi begini.”
“Sabar Bro, gue udah minta tolong Ernest juga untuk bantu cari lewat jaringannya.” Arya menepuk bahu Devano menenengkan.
“Gue nggak tahu harus kesel, marah atau maki-maki elo, Mi,” Devano menatap Mia dengan wajah sendu. “Kalau saja gue nggak ikutin saran elo untuk pura-pura mengabaikan Bianca supaya kejutannya makin baik, mungkin Bianca nggak akan meninggalkan gue kayak begini.”
Mendengar ucapan Devano, Mia semakin merasa bersalah.
Mia masih ingat saat Arya mengajaknya untuk bertemu dengan Devano yang ingin berdiskusi soal acara lamarannya.
Mia mencetuskan ide supaya Devano pura-puramengabaikan Bianca dan membuatnya cemburu. Devano pun setuju, karena selama ini Bianca lah yang lebih banyak membuatnya cemburu.
Butik yahg didatangi Bianca dengan para sahabatnya adalah langganan Mama Angela. Devano sengaja meminta Mia mengajak Bianca ke sana. Devano sengaja datang juga ke sana karena ingin melihat Bianca mencoba kedua dress pilihannya. Pendapat para sahabat Bianca tentang pilihan dress sebetulnya adalah permintaan Devano juga.
Pucuk dcinta ulam tiba, kekasih dari klien yang ditemuinya siang itu menanyakan tempat penjual pakaian yang cukup bagus di Jakarta tetapi tidak terlalu mahal. Devano merasa sepertinya alam berpihak pada rencannya, diajaklah mereka ke butik yang sedang didatangi Bianca.
Sampai di sana, Devano menyampaikan secara garis besar pada kliennya dan bermaksud meminta tolong pada kekasihnya untuk sekedar memperlihatkan diri seolah datang berdua dengan Devano ke butik itu.
Mereka pun bersedia membantu Devano yang ingin membuat calon istrinya cemburu.
Namun rencana membuat Bianca cemburu gagal.
Bianca memang sempat terlihat kesal pada awalnya, tetapi tidak sampai 10 menit, mood nya sudah kembali normal.
Bahkan Bianca sempat bilang kalau dia percaya pada Devano. Kalaupun Devano macam-macam, dengan penuh percaya diri dan tegas Bianca berkata bahwa dia siap melepaskan Devano.
Semua perkataan Bianca siang itu langsung didengar oleh Devano, karena diam-diam Dewi merekam dan mengirimkannya pada Devano lewat Mia.
__ADS_1
“Apakah kamu benar-benar memilih Desta daripada aku ?” Batin Devano.