
Sejak perkenalannya dengan Sella 3 hari lalu, Bianca rutin datang ke rumah sakit menemui Sella. Awalnya gadis cantik kelas 3 SMA ini menolak kehadiran Bianca dan hanya menjawab seperlunya. Namun kehadiran Bianca yang bersikap sebagai seorang sahabat dan kakak, membuat Sella perlahan merasa nyaman. Hanya saja yang membuat hati Bianca tercubit, selama 3 hari ini pula Bianca belum pernah bertemu dengan orangtua Desta dan Sella. Menurut Desta, keduanya sedang ada pekerjaan di luar kota.
Jam 9 pagi Bianca menyusuri koridor lantai 7 menuju kamar Sella. Bianca mengangkat jinjingan yang dibawanya sambil tersenyum. Pagi ini Bianca membuat sandwich ayam dan telur untuk Sella.
“Selamat pagi.” Bianca melongok ke dalam dari balik puntu.
Desta baru saja keluar dari kamar mandi dengan wajah segar. Sudah 3 malam terakhir ini Desta yang selalu menemani Sella dan meminta Bi Isa pulang. Siang hari saat Desta harus bekerja di kantor papanya, Bi Isa yang akan menjaga Sella.
Bianca melihat Sella setengah berbaring di ranjangnya sambil memainkan handphone. Wajahnya terlihat bertambah segar pagi ini. Selang infus sudah dicabut dan sejak kemarin dosis obat penenang pun mulai dikurangi secara bertahap oleh dokter.
“Pagi Bi,” Kedua kakak beradik itu menjawab bersamaan lalu tertawa.
“Duh kalian udah kayak anak kembar aja deh, jawab sapaan aja sampai bareng.”
Bianca mendekat ke ranjang Sella dan meletakkan bawaannya.
“Menu apa lagi pagi ini ?” Desta mendekat dan memperhatikan Bianca yang mengeluarkan bawaannya dari dalam tas kain.
“Kok sarapannya nggak dihabiskan, Sel ?” Bianca melirik nampan yang ada di dekat situ. Hanya piring buah yang kosong, sisanya masih lumayan banyak, bahkan piring nasi masih terlihat utuh.
“Nggak nafsu, enakan juga bekal kamu Bi.” jawab Sella.
“Dek, Bianca ini lebih tua 4 tahun loh dari kamu. Kok panggil nama doang sih ?” Tegur Desta.
“Eh biar aja, aku yang suruh kok,” jawab Bianca cepat sebelum Sella membuka mulutnya.
“Kepo ya kakak Desta,” Bianca terkekeh. “Lagian lebih enak panggil nama aja, kan aku berasa jadi anak abege lagi.”
“Dasar ya nggak mau dibilang tua.” Desta mengacak rambut Bianca membuat gadis itu langsung cemberut.
“Kak Desta ih… Udah nyalon cantik-cantik jadi berantakan.” Bibir Bianca mengerucut.
“Kapan kamu suka nyalon ? Lagian kemarin aja baru balik jam 6 sore, pake ngebohong ke salon segala.”
Sella yang memperhatikan interaksi Desta dan Binca menyunggingkan senyumnya. Dia bisa melihat kebahagiaan kakaknya yang selama ini terlihat berusaha keras untuk memenuhi harapan orangtua mereka dengan bekerja keras. Dan Bianca adalah gadis pertama yang membuat kakaknya terlihat bahagia setelah batal bertunangan dengan wanita yang sudah dipacarinya selama 3 tahun.
Bianca memberikan sandwich dan beberapa tomat cerry pada Sella.
“Makan dulu biar cepat pulih dan bisa pulang. Nanti aku ajak makan seblak atau bakso yang enak.”
“Beneran Bi ?” Wajah Sella berbinar.
“Beneran dong,” Bianca mengangguk. “Makanya jangan betah di rumah sakit.”
Mereka pun menikmati sarapan hari ini dengan perbincangan seru dan penuh gelak tawa.
Sampai hari ini, Bianca tidak pernah menanyakan atau menyinggung masalah kehamilan Sella. Bianca ingin membuat Sella nyaman dulu berada di dekatnya.
“Aku sudah minta Bi Isa tidak usah datang hari ini. Aku yang akan menemani Sella sampai kakak balik.”
Bianca bicara dengan Desta di luar kamar saat pria itu sudah bersiap menuju kantor.
“Kamu yakin ?” Desta menautkan alisnya.
“Sella itu bukan orang sakit yang butuh bantuan orang lain. Semuanya kan bisa dia lakukan sendiri.”
“Iya juga sih.”
“Apa boleh aku tanyakan dokter soal kepulangan Sella ? Aku berharap besok dia bisa keluar dari rumah sakit. Enaknya ngobrol kalau sambil nge-mall daripada suasana rumah sakit begini.” Bianca menaikturunkan alisnya.
“Itu mah maunya kamu.” Desta menoyor kening Bianca sambil tertawa.
__ADS_1
“Beneran Kak Desta. Cewek kan kalo jalan sambil belanja berasa hepi, jadi biar makin asyik ngobrolnya.”
“Iya… iya… Kamu atur aja. Kalau besok bisa keluar rumah sakit, aku ijin masuk siang atau kalau perlu cuti. Aku titip dulu ya.”
Desta kembali mengacak-acak rambut Bianca sampai gadis itu cemberut. Desta berbalik dan hendak melangkah menuju kantor, namun langkahnya tertahan oleh tangan Bianca.
“Kenapa ? Minta cium ?” Desta mengerling.
“Mana ada !” Bianca melotot. “Aku mau nanya kok minta cium.”
“Tanya apa ?”
“Apa besok papa dan mama Kak Desta akan pulang menemani Sella pulang ?”
“Rencananya besok sore mereka balik ke Jakarta.”
Bianca mengangguk dan melepaskan tangannya dari lengan Desta.
“Semangat kerjanya, biar kalau aku belanja sama Sella nggak kekurangan uang.”
“Boleh nggak ada batas. Tapi cium dulu dong.” Desta menunjuk pipinya sambil mengedipkan sebelah matanya.
Bianca menjulurkan lidahnya lalu mencebik. Dia lngsung memutar badan kembali masuk ke kamar tanpa menunggu Desta berlalu.
Desta tertawa melihat kelakuan Bianca. Dia berharap Sella akan merasa nyaman seperti dirinya saat berbicara dengan Bianca.
“Apa tidak mungkin bagimu untuk melepaskan Devano sepenuhnya dan menerima cintaku ?” Batin Desta sambil meneruskan langkahnya menuju lift.
“Sel, jangan lupa makan banyak dan cepat sehat. Tadi aku udah minta ijin Kak Desta tanya ke dokter untuk membawa kamu pulang secepatnya.”
Bianca menghampiri Sella yang memilih duduk di sofa sambil nonton TV dan ikut duduk di sebelahnya.
“Beneran boleh pulang Bi ?” Sella menatap Bianca dengan wajah berbinar.
Sella mengangguk dengan wajah sumringah. Hatinya lebih tenang sejak mengenal Bianca. Awalnya Sella merasa celoteh Bianca sangat mengganggu ketenangannya. Tapi ternyata omongan Bianca itu sangat bervariasi, tidak mengulang-ulang topik yang sama, bahkan Bianca masih mengikuti bahasa gaul anak SMA jaman now meski sudah hampir 5 tahun statusnya berganti bahkan sekarang sudah lulus kuliah.
Bianca pun merasa senang karena Sella sudah mulai menanggapi omongannya, tidak jutek lagi. Membiarkan seseorang nyaman membangun relasi adalah langkah awal untuk membuat seseorang yang berada dalam situasi seperti Sella merasa tenang saat membuka diri mereka. Bianca pun sempat mencari tahu pergaulan dan istilah-istilah yang dipakai anak SMA sekarang. Meski masih sebelah tangan hitungan tahun kelulusannya, di jaman yang begitu pesat dan canggih ini, perubahan dalam berbagai aspek ikut melejit dan cepat berubah.
“Bi,” Sella memanggil Bianca tanpa mengalihkanpandangannya ke TV.
“Kamu pernah pacaran sebelum dekat dengan Kak Desta ?”
Bianca tersenyum dalam hatinya. Meski pertanyaan Sella tiba-tiba, namun ini adalah kesempatan awal
supaya Bianca bisa membantunya seperti harapan Desta.
“Pacaran belum, tapi jatuh cinta sudah.”
“Apa laki-laki itu tahu kalau kamu menyukainya ?”
“Tahu banget !” Bianca mengangguk pasti. “Aku kirimin dia surat cinta, dan karena ulah fans nya, satu sekolah bukan hanya tahu aku mengirimkan surat cinta untuk cowok itu malah semua juga tahu isi surat cintaku.”
Sella menoleh dan membelalakan matanya. Dilihatnya Bianca yang tertawa sambil bercerita tentang kisahnya dengan Devano.
“Terus kamu masih suka sama dia sampai sekarang ?”
“Kalau menghapusnya 100 persen belum bisa Sel, tapi pelan-pelan aku belajar membuka diri kok.”
“Memangnya kamu masih sering ketemu sama cowok itu ? Eh siapa ya namanya ?”
“Devano. Namanya Devano. Sebetulnya aku sempat nggak pernah ketemu sama sekali selama kami kuliah karena Devano sendiri melanjutkan ke luar negeri.”
__ADS_1
“Tapi ?” Sella yang sudah merubah posisi duduknya berhadapan dengan Bianca di sofa dan terlihat sangat antusias menunggu Bianca melanjutkan ceritanya.
“Nggak tahu bagaimana asal usulnya, aku malah harus magang di perusahaan keluarganya. Dan parahnya itu adalah perintah dosen yang nggak bisa ditolak.”
“Jadi cowok yang kamu suka itu boss nya Kak Desta juga dong.”
“Anak pemilik perusahaan tepatnya.”
“CLBK dong Bi ?”
Binca tertawa mendengar perkataan Sella.
“Nggak juga sih. Apalagi setelah ketemu lagi dia berubah menyebalkan dan suka marah-marah sama aku. Tiap kesalahan kecil aja, omelannya bisa sepanjang jalan kenangan.”
Sesekali Sella tertawa mendengar cerita Bianca, apalagi melihat cara Bianca bercerita begitu bersemangat dan apa adanya.
“Mungkin karena Devano menutupi perasaan dia yang sebenarnya.” Sella memberi pendapat.
“Nah itu !” Bianca menunjuk Sella dengan telunjuknya. “Sebagian besar orang yang tahu dengan kelakuan Devano bilang sama aku kalau cowok itu bersikap galak karena menutupi perasaannya. Hatinya sebenarnya suka juga sama aku.”
“Terus kenapa nggak kamu makin agresif aja ?”
“Ogah deh Sel…” Bianca menggeleng. “Lagian sampai hari terakhir aku bertemu dengannya, dia tetap bersikukuh bahwa tidak punya perasaan apapun sama aku.”
“Kak Desta tahu soal Devano ?”
“Tahu,” Bianca menganggguk kembali. “Bahkan pernah Devano memaksa aku pulang pas lagi makan malam sama Kak Desta.”
“Kak Desta nggak marah ?”
“Kak Desta sempat melawan tapi nggak sampai berantem.”
“Terus perasaan kamu sekarang gimana ke Devano ?”
Bianca terdiam sejenak. Dia sempat tersadar kenapa malah dirinya yang banyak bercerita tentang hidupnya. Bukannya Bianca ada di dekat Sella untuk menjadi teman curhatnya ?
“Aku sudah bilang sama Devano saat kami mau berpisah bahwa kali ini aku benar-benar akan menghapus bersih semuanya tentang dia dalam hidupku.” Ucap Bianca pelan.
“Apa sudah mulai bisa ?” Bianca hanya mengangguk.
“Butuh waktu Sel, tapi pasti bisa.” Bianca mengepalkan kedua tangannya dan memberi semangat pada dirinya sendiri.
“Apa boleh aku minta sesuatu ?” Tanya Sella hati-hati.
“Kita kan mau jadi sahabat Sel.” Bianca terkekeh. “Selama aku bisa, past aku akan memberikan.”
“Cintai Kak Desta lebih dari sekedar sahabat dan biarkan kakakku itu menggantikan posisi Devano di hati kamu Bianca.”
Bianca terdiam dan melongo. Ditatapnya wajah Sella yang menunjukkan muka serius.
“Kak Desta pernah terpuruk saat rencana pertunangannya dibatalkan karena calon istrinya ketahuan selingkuh. Sejak itu Kak Desta hanya berfokus pada pekerjaan. Dan sekarang aku melihat lagi kebahagiaan itu saat dekat denganmu.”
Sella meraih tangan Bianca dan menggenggam erat dengan kedua tangannya.
“Aku ingin melihat kakakku bahagia. Aku ingin kamu bukan sekedar jadi sahabat baruku, tapi sekaigus kakak iparku.”
Bianca tidak mampu bicara apapun. Hatinya terkejut mendengar penuturan Sella. Bagai buah simalakama, perasaan Sella yang sedang rapuh akan sulit menerima penolakan kembali. Tapi menjadi kekasih bahkan calon istri seorang Desta tidak pernah terlintas di benaknya bahkan keinginan hatinya.
Desta memintanya untuk membuat Sella memiliki semangat hidup kembali dan mempunyai teman bicara. Tapi bukan berarti Bianca harus melibatkan cinta untuk Desta dalam misinya ini. Dan kenapa situasi nya seperti berbalik ?
Bianca terus berpikir mencari cara yang terbaik tanpa melukai Sella lagi.
__ADS_1
“Beneran sulit Sella…. Bukan karena belum move on dari Devano. Tapi sejak awal memang tidak ada getaran apapun saat berdekatan dengan Kak Desta. Bahkan setelah kakakmu menyinggung soal cinta, hati ini tidak bergetar sedikitpun.
Sungguh permintaan yang sulit.” Batin Bianca.