
Waktu terus berlalu dan kondisi papa Indra belum menujukkan perubahan apapun. Secara medis dokter hanya meminta keluarga banyak berdoa dan berharap yang terbaik dari rencana Tuhan.
Dan hari ini adalah hari yang paling ditunggu-tunggu oleh semua siswa kelas 12 SMA se- Indonesia sebagai gong akhir perjuangan mereka di masa SMA.
Kegembiaraan dan kebahagiaan tergambar di setiap wajah siswa siswi SMA Dharma Bangsa. Tidak ketinggalan Bianca, Della dan Mia saling berpelukan meluapkan rasa bahagia mereka saat menerima selembar kertas yang menyatakan mereka telah menyelesaikan masa pendidikan di SMA. Bahagia sekaligus sedih, karena ketiganya akan terpisah melanjutkan pendidikan di tempar yang berbeda-beda. Apalagi Mia yang akan melanjutkan kuliahnya di Australia.
“Gue boleh ikutan nggak ?”
Arya muncul sendirian di antara ketiga gadis yang sekarang sudah jadi teman greseknya juga.
“Nggak boleh !” Jawab ketiganya kompak setelah melerai pelukan mereka.
“Kan pelukan sahabat.” Arya menaik turunkan alisnya sambil tersenyum jahil.
“Dih mumpung !” Mia mencibir.
Arya menjulurkan lidahnya membalas cibiran Mia sambil melotot.
“Duh yang jodoh,” Della tertawa menggoda.
“Ogah !” Keduanya menjawab kompak.
Tidak lama anak-anak diminta kembali ke kelas untuk bertemu dengan para walikelas membicarakan kegiatan mereka selanjutnya. Tidak ada aksi coret mencoret seragam sekolah karena sudah ketentuan turun temurun di SMA Dharma Bangsa.
“Gue ke toilet dulu, ya.” Bianca sedikit berlari meninggalkan kedua sahabatnya.
“Perlu ditemenin nggak Bi ?” Mia sedikit berteriak.
Bianca hanya mengangkat tangannya dan meneruskan berlari menuju toilet di lantai 3 yang letaknya di lorong antara kelas IPA dan IPS.
Selesai aktivitasnya, Bianca membuka pintu dan mendapati Nindi, Chika dan Lia dengan posisi bersidekap menunggunya persis depan pintu wc.
“Nggak ada puasnya ya lo !” Nindi mendorong bahu Bianca sebelah hingga badan Bianca masuk kembali ke dalam wc.
Bianca langsung keluar lagi sambil menatap Nindi dengan tajam.
“Maksud lo apaan ?” Bianca mendekati Nindi dan sedikit mendongak menatap Nindi.
Tubuh Nindi memang lebih tinggi dari Bianca sehingga gadis itu perlu mendongak sedikit supaya bisa bertatapan langsung dengan Nindi.
“Nggak bisa dapetin Devano sekarang elo usaha sama Arya ?” Ketus Nindi.
“Malah sekalian teman-temannya juga.” Timpal Chika dengan nada sinis.
“Memangnya ada aturan pergaulan di sekolah ini ?”
Suara Bianca tidak kalah galaknya.
“Jadi elo pake cara keroyokan buat dapat perhatian Devano ?” Nindi menubruk salah satu bahu Bianca dengan kasar.
“Eh denger ya cewek sok kecakepan,” Bianca mencekal lengan seragam Nindi. “Urusan gue sama Devano udah selesai. Kalo memang dia tetap kagak tertarik sama elo ya terima lah ! Kenapa gue jadi yang disalahin ?”
“Mulai berani ya elo !“ hardik Chika menarik kerah Bianca dari belakang. Posisi Bianca memang meminggungi Chika sementara Lia sudah berpindah ke pintu masuk utama toilet yang setengah ditutup olehnya.
“Beraninya keroyokan !” Bianca berusaha melepaskan cengkraman tangan Chika di leher bajunya.
__ADS_1
“Dasar cewek kegatelan !” Maki Chika yang akhirnya melepaskan cengkramannya karena cakarsn Bianca.
Tiba-tiba Chika mendorong Bianca ke arah pintu masuk dan di sana Lia sudah siap dengan ember yang berisi air bekas pel.
Byuuurr .
Lia menyiramkan air ke tubuh Bianca membuat gadi itu mencoba menggapai tembok atau apapun untuk pegangan karena air yang disiram bukan saja kotor dan sedikit bau tapi juga licin. Baru saja tangannya memegang tembok wastafel, Chika menyiramnya kembali dengan air got yang entah didapartnya daei mana. Langsung wajah dan seragam Bianca yang tadi sudah berwarna kecokelatan bertambah lagi warna hitam menempel di seragamnya.
Bianca mengepalkan kedua tangannya saat ketiga gadis itu tertawa-tawa senang.
“Rasain !” Bisik Nindi dengan ketus sambil melewati Bianca yang disusul Chika.
“Kalian !…”Bianca menahan seragam Chika lalu mengusap-usapkan wajahnya di bagian belakang kemeja Chika membuat gadis itu berteriak-teriak.
Bianca masih mengusel-uselkan wajahnya sambil memegang seragam Chika dengan erat sampai keluar toilet.
“Dasar gila !” Nindi berteriak. Bersama dengan Lia, keduanya berusaha melepaskan Chika dari cengkraman Bianca.
Keduanya berusaha dengan perasaan jijik karena siraman air tadi juga membasahi tangan Bianca.
Teriakan ketiganya menarik perhatian penghuni kelas yang ada di dekat toilet. Bahkan karena mulai gaduh, kelas lain pun ikut heboh dan keluar kelas meski acara pengarahan dari walikelas belum selesai.
“Bianca lepas ! Gila lo ya !” Nindi masih berteriak-teriak.
“Elo kira dengan apa yang barusan elo perbuat, gue bakal diem aja ?” Seringai Bianca. Tangannya sekarang mencengkram lengan kemeja Nindi.
“Bianca !” Arya yang sudah berdiri dekat situ membuat kedua gadis yang berhadapan itu menoleh.
“Kenapa bisa begini ?” Arya mendekati Bianca dan memberi kode ke Bianca untuk melepaskan tangannya dari seragam Nindi.
“Nindi !” Hardik Arya kesal saat melihat saputangannya malah dipakai oleh Nindi.
Nindi sendiri hanya melihat dengan tatapn mengejek ke arah Bianca dan tersenyum sinis.
Bianca mengepalkan kedua tangannya di samping. Pandangannya beredar mencari sosok yang menjadi sumber masalah baginya.
“Tolong jangan biarinin dia kemana-mana, Ya .” Bianca menatap Arya memintanya untuk menjaga Nindi.
Bianca melangkah mendekati sosok Devano yang berdiri tidak jauh dari kelasnya.
“Ikut gue !” Ketusnya sambil menatap Devano dengan perasaan marah.
Devano hanya diam saja tanpa ekspresi apapun. Sekarang malah merubah posisi berdiri dengan kedua tangan bersidekap di depan dada.
“Devano !” Teriak Bianca. “Elo budeg apa tuli ? Gue bilang ikut gue !”
Melihat Devano yang masih tetap masa bodoh dan malah membuang pandangan ke arah lain membuat hati Bianca semakin geram.
Dari arah seberang, Mia dan Della yang melihat Bianca segera berjalan menuju toilet dimana Arya masih di sana bersama Nindi seorang. Chika yang tadi menangis karena bajunya ikutan kotor dan bau di bawa Lia untuk mencari baju ganti.
Bianca yang semakin kesal melihat Devano langsung menarik lengan Devano untuk membawanya ke tempar Nindi. Secara fisik, Bianca akan kesulitan menyeret Devano kalau cowok itu tetap dalam posisi bertahan. Tetapi melihat kondisi Bianca yang sudah tidak karuan membuatnya ikut melangkah dalam genggaman Bianca.
“Bilang sama penggemar elo ini kalau kita nggak ada hubungan apa-apa !” Perintah Bianca saat mereka sudah kembali berdiri dekat Nindi dan Arya.
Devano hanya diam saja dan membuang muka ke arah lain.
__ADS_1
“Devano !” Bianca mengguncang lengan cowok itu dan membuatnya menoleh menatap Bianca sekilas. Hanya sekilas.
“Tolong bilang sama nih cewek,Devano !” Bianca meninggikan suaranya sementara tangannya menunjuk ke arah Nindi yang berada agak di belakangnya.
“Gue nggak ada hubungan apa-apa sama elo dan nggak perduli lagi sama elo !”
“Nggak penting !” Jawab Devano dingin.
“Bukan urusan gue !” Lanjutnya dengan menatap Bianca tajam.
“Devano !” Panggil Arya yang merasa kesal dengan sikap Devano pada Bianca.
“Gue cuma minta tolong bilang sama dia kalo gue udah nggak ada urusan lagi sama elo .” Suara Bianca sudah tidak emosi. Tatapan nya tetap pada Devano dengan ekspresi memohon.
“Gue udah bilang sama elo, kalau itu bukan urusan gue !” Jawab Devano dengan tegas.
Nindi tersenyum mengejek ke arah Bianca yang mendapat perlakuan seperti itu dari Devano. Arya, Mia dan Della mengepalkan kedua tangan mereka di samping. Geram melihat kelakuan Devano.
Lalu tanpa disangka, Bianca mendorong keras badan Devano hingga cowok itu tersungkur ke belakang dan jatuh terduduk di lantai dekat pintu toilet cowok. Dia tidak menyangka kalau Bianca akan mendorongnya sekeras itu.
Bianca berjongkok memposisikan dirinya sejajar dengan Devano dan mendorong kembali bahu cowok itu saat berusaha bangun. Posisi keduanya berhadapan dengan kondisi Devano duduk di lantai bertopang salah satu lengannya sementara Bianca berjongkok di depannya.
“Dengar ya Devano Putra Wijaya !” Bianca memajukan wajahnya mendekat ke telinga Devano.
“Gue sangat benci sama elo. Benci !” Desisnya. Tanpa mampu ditahan kedua matanya mulai mengeluarkan air mata.
“Gue menyesal pernah jatuh cinta sama elo karena ternyata elo nggak lebih dari sekedar pengecut !”
suara Bianca yang sengaja dipelankan membuat Nindi, Arya, Mia dan Della tanpa sadar berkonsentrasi mendengarkan.
Devano masih dalam posisinya tanpa ekspresi. Sesaat dia menoleh saat Bianca mengucapkan kata-kata terakhirnya dan mendapati wajah gadis itu terluka dengan deraian air mata.
“Bahkan di saat gue minta tolong sama elo sebagai seorang teman, elo masih mengganggap gue sampah yang nggak ada nilainya.”
Devano membuang muka kembali. Ada desakan dalam hati kecilnya yang membuat dia tidak sanggup terus menatap Bianca.
“Gue benci sama elo ! Amat sangat benci ! Gue bersumpah nggak bakal kenal sama elo sekalipun kita ketemu lagi !”
Bianca bangun dari duduknya. Mulutnya merasakan campuran air mata dan air kotor membasahi bibirnya. Dia masuk ke dalam toilet wanita untuk membersihkan wajah di wastafel. Della langsung menyusul masuk.
“Gue ambil handuk kecil dulu di tas.” Mia berbalik dan berlari menuju kelas.
Dia berpapasan dengan Bu Yuli dan Pak Arman yang berjalan menuju toilet untuk melihat dsn mencari tau kondiso yang sebenarnya.
“Gue kecewa sama elo Van.” Arya berbisik mendekati Devano yang sudah berdiri.
Nindi masih di posisinya sambil tersenyum puas. Keinginannya untuk memberi pelajaran pada Bianca yang semakin akrab dengan Arya plus teman-temannya membuat hatinya diliputi rasa benci. Meski Devano masih bersikap dingin pada Bianca, tapi melihat mereka bisa duduk satu meja saat makan di kantin, membuat Nindi semakin iri dengan Bianca.
“Nindi !” Panggil Bu Yuli saat melihat gadis itu hendak melangkah meninggalkan toilet.
“Pergi ke ruang BK ! Ada yang harus kamu jelaskan !” Perintah Bu Yuli.
“Kenapa Bu ? Tadi Bianca…..”
“Jelaskan nanti di ruang BK !” Perintah Pak Arman dengan tegas.
__ADS_1
Bu Yuli segera menghampiri Bianca yang masih di dalam toilet dan tidak lama Mia ikut menyusul dengan handuk kecil di tangannya.