
“Elo beneran nggak bohong kan kalau dua-duanya sudah punya calon istri ?” Bisik Nindya saat mereka sedang menunggu pesanan makanan.
Posisi duduk Nindya bersebelahan dengan Dimas dan sejajar dengan Devano yang ada di sebelah kiri Dimas. Sementara di seberang mereka duduk Arya dan Pak Imam.
“Nggak percaya banget sih ?” Omel Dimas sambil menoleh. Suaranya juga terdengar pelan karena tidak mau mengganggu pembicaraan serius antara Pak Imam dan Devano.
“Terus kenapa hari ini gue yang disuruh kemari ? Kan pimpinan cabangnya Pak Husein ?”
“Ini kan hari Minggu, bukan kunjungan resmi juga. Giliran Pak Husein itu Senin atau Selasa.”
“Terus gue cuma disuruh jadi penggembira doang di sini. Musti bayar lembur loh !” Omel Nindya dengan wajah cemberut.
“Kan cuma elo jomblo yang punya waktu fleksibel. Minimal orang cabang harus ada yang nongol dong.”
“Rese !” Umpat Nindya dengan bibir mengerucut.
Dimas hanya tertawa pelan melihat wajah juniornya semasa bekerja di cabang Semarang. Wanita di sebelahnya ini memang tidak ada anggun-anggunnya sejak pertama kali masuk. Dimas sempat geleng-geleng kepala saat awal bekerja dengan Nindya. Lulusan sekolah sekretaris namun tingkah lakunya tidak seperti seorang sekretaris yang anggun. Namun harus diakui kecerdasan dan pegetahuannya masuk di atas rata-rata.
Tepat jam 2 siang acara kunjungan dan makan siang selesai. Setelah berpamitan pada Pak Imam dan Nindya yang menjadi pendamping mereka hari itu, ketiganya melanjutkan perjalanan kembali.
“Kok kita nggak mampir ke kantor cabang Semarang, Dim ?” Tanya Devano yang masih duduk di kursi belakang.
“Ini hari Minggu, Bro. Jadwalnya nanti pas arah balik Jakarta, tergantung selesai urusan di Kopeng.”
Arya yang duduk di kursi penumpang sebelah Dimas mulai mengantuk dan menyenderkan kepalanya ke jendela.
“Mau gue gantiin nggak Dim ?” Tawar Devano saat melihat Arya mulai tertidur. Dia khawatir kalau Dimas mulai mengantuk juga.
“Nggak usah, gue nggak ngantuk kok. Lagian jalan ke arah Kopeng agak berliku, elo belum biasa juga.”
Devano hanya mengangguk. Dimas benar kalau setelah kepulangannya ke Indonesia, Devano belum terlalu sering menyetir. Apalagi jalan yang mereka lalui ini merupakan jalur lintas Jawa yang melewati pegunungan.
“Papa ada proyek apalagi di Kopeng, Dim ?”
“Rencana membangun semacam resort. Daerahnya memang bagus dekat kaki gunung.”
Devano hanya mengangguk-angguk.
“Dim, Nindya tadi pacar elo pas di Semarang ?”
Pertanyaan Devano membuat Dimas tertawa pelan.
“Bukan. Pertama kali dia masuk kantor cabang sebagai sekretaris junior, gue masih kerja di sana. Gue ditugaskan jadi mentor dia. Nindya dirempatjan untuk menggantikan posisi gue di cabang karena Om Harry mau pindahin gue ke Jakarta.”
“Kayaknya cocok buat elo.” Ledek Devano.
“Bukan selera gue, Van. Gue lebih anggap dia kayak sahabat doang.”
“Memang selera elo yang model gimana ?”
“Kayak Bianca.” Jawab Dimas cepat membuat Devano langsung terbelalak. Dimas yang melihat wajah Devano dari spion langsung tertawa.
“Jangan coba-coba lo !” Ancamnya dengan wajah kesal.
“Makanya punya calon istri dijaga,” Dimas tertawa.
”Gue sempat loh kepikiran kalau elo tetap menolak dan memilih perjodohan dengan Arini, gue siap kok jadi pengganti kesayangannya Bianca.”
Devano mendengus kesal dan mengomel tidak jelas membuat Dimas semakin tergelak.
“Van, sebagai sepupu elo yang lebih tua, gue kasih nasehat nih buat elo. Bianca mungkin nggak punya wajah cantik seperti cewek-cewek yang elo kenal, bodinya nggak aduhai…”
“Eh nggak boleh ya perhatiin body calon istri gue !” Protes Devano kesal.
“Yang gue bahas kan body yang terlihat mata, Van. Badan Bianca bisa dibilang mungil buat ukuran cewek.” Ujar Dimas di sela tawanya.
“Tapi yang bahaya itu adalah sikap Bianca yang membuat orang nyaman dan tenang kalau ada di dekat dia.” Lanjut Dimas.
“Kelebihan itu yang membuat banyak cowok modelan Desta dan cowok di sebelah gue ini merasa tertarik sama Bianca dan ingin memiliki. Karena kriteria calon istri nggak selalu harus cantik, encer otak dan pandai bersolek. Semuanya bisa didapat kalo elo punya uang. Tapi rasa nyaman itu yang susah didapat.”
Devano hanya diam mendengarkan omongan Dimas.
__ADS_1
“Jangan sampai elo memikirkan diri elo sendiri lagi. Hanya demi janji elo sama Opa Ruby, elo mengabaikan perasaan elo sendiri sampai tega menyakiti Bianca.”
“Gue nggak bakal ngulangin kebodohan gue lagi Dim.”
“Untung aja Desta belum masuk terlalu jauh, kalau nggak bukannya nggak mungkin Bianca suka juga sama Desta.”
“Tapi sekarang mereka berduaan, Dim.” Lirih Devano.
“Iya tapi kan posisinya elo udah resmi pacaran sama Bianca. Nggak gantung perasaan dia lagi.”
“Cuma hati gue nggak tenang.”
“Ciihh elo tuh ya Van, harus yakin dong sama Bianca. Dia bisa mempertahankan hatinya buat elo sekian tahun, jadi elo harus percaya sama dia.”
“Justru karena kelamaan bertahan sama gue malah dia keburu capek dan jenuh dengan sikap gue.”
Dimas langsung terbahak mendengar perkataan Devano dengan wajah putus asa. Tawanya membuat Arya terbangun dari tidurnya.
“Berisik deh Dim, ada apaan sih ?” Arya mengucek matanya dan menyugar rambutnya.
“Tuh sahabat elo, Ar. Segitu nggak pe-de nya sama Bianca.”
Arya menoleh dan menatap Devano yang terlihat sendu. Arya geleng-geleng kepala.
“Udah habis ini elo langsung ajak Bianca nikah aja dan kekepin di rumah biar perasaan elo tenang.”
Dimas kembali tertawa mendengar perkataan Arya.
“Memang rencananya mau langsung gue ajak nikah aja.” Jawaban Devano membuat Arya kembali geleng-geleng kepala.
Tidak terasa mereka sudah sampai di tujuan kedua. Kali ini jalan masuk sedikit berbatu meski tidak terlalu parah. Sebagian jalan sudah di asplal sementara sebagian lagi masih jalan aslinya.
Semakin lama pemandangan semakin indah dan udara cukup dingin karena letaknya di lereng Gunung Merbabu. Kabut sedikit meliputi udara di sekitar namun tidak sampai menghalangi pemandangan dari mobil
“Elo bawa jaket kan, Van ?” Tanya Dimas
“Bawa, papa udah pesan kalau akan ke daerah dingin.
“Selamat sore, Pak.” Laki-laki itu membungkukan badannya saat mobil melintas.
Dimas membuka kaca dan mengangkat tangannya.
“Sore Pak.”
Dimas mengangguk dan melajukan kendaraannya maasuk lalu parkir di halaman yang cukup luas itu.
“Kita menginap di sini malam ini ?” Tanya Devano saat mereka sudah turun dari mobil.
“Iya kita menginap mungkin 2 sampai 3 hari ke depan. Tergantung gimana nanti kerjaannya.”
“Silakan masuk, Den.” Lelaki paruh baya itu mempersilakan ketiganya masuk tetapi Devano memilih untuk menunggu di teras.
Akhirnya Arya dan Dimas pun ikut menunggu di teras dan melihat pemandangan khas pegunungan yang menakjubkan.
Devano melangkahkan kakinya ke arah sebelah kiri teras dan di dapatinya hamparan kebun bunga di samping bangunan. Dia berjalan mendekati tembok pembatas rumah yang dipadu dengan tiang pagar besi. Dari dekat tembok, Devano bisa melihat ke arah belakang rumah meski hanya separuh.
Terlihat asri dan menyejukkan. Hawa dingin semakin menyeruak ke dalam tubuhnya. Devano melipat kedua tangannya di depan dada untuk menghalau sedikit rasa dingin lewat hembusan angin.
Langkahnya semakin menjauh dari teras lewat sisi samping rumah yang tembus ke bagian belakang rumah. Saat hampir sampai di ujung tembok bangunan yang tidak terlalu besar itu, matanya terpaku pada pemandangan di depannya. Sebuah gazebo berukuran sedang mengadap ke arah pegunungan Merbabu. Namun bukan gazebo itu yang menarik perhatiannya tetapi orang yang duduk di sana.
“Bianca.” Desisnya.
Devano mempercepat langkahnya, lewati jalan setapak dengan batu alam untuk mendekati gazebo.
“Bianca.” Panggilnya dengan suara yang tidak terlalu keras namun membuat si pemilik nama menoleh.
“Devano ?” Dengan tatapan tidak percaya Bianca membelalakan matanya menatap sosok yang berdiri tidak jauh darinya.
Devano tersenyum lebar dengan wajah bahagia. Bianca sendiri tidak mampu menahan rasa senangnya saat melihat sosok Devano. Sementara Sella yang duduk di sebelahnya hanya tersenyum melihat tingkah keduanya.
Bianca bergerak turun dan memakai kembali sandalnya. Perlahan dia berjalan mendekati Devano yang masih bediri dengan senyuman lebarnya.
__ADS_1
“Kamu kok bisa tahu aku di sini ?”
“Bukan sulap bukan sihir Bi, tapi hatiku yang membawa aku sampai di sini.”
Sebetulnya Bianca ingin tertawa mendengar ucapan Devano yang alay dan lebay. Apalagi Devano yang biasa ditemuinya adalah sosok yang dingin, jutek dan datar bahkan sangat galak saat dia menjadi karyawan magang. Namun melihat kebahagiaan dan pancaran cinta di mata Devano membuat wajah Bianca memerah juga.
Devano langsung menarik Bianca ke dalam pelukannya dan mendekapnya sangat erat.
“Kamu nggak kangen sama aku ?” Bisik Devano.
Bianca hanya mengangguk. Dekapan hangat Devano yang begitu erat membuatnya sedikit sulit bicara.
Bianca berusaha merenggangkan pelukan Devano karena pria berstatus kekasih barunya itu enggan melepaskan pelukannya.
“Kenapa handphone kamu nggak bisa dihubungi ?” Tanya Devano dengan wajah sedikit kesal.
“Handphone aku hilang nggak tahu dimana. Aku cari-cari belum ketemu,” jawab Bianca.
“Aku belikan yang baru ya ?”
“Nggak usah,” Bianca menggeleng. “Aku yakin nggak hilang. Mungkin terjatuh di mobil yang mengantar kami kemari. Aku sudsh minta tolong Desta…”
“Desta ?” Potong Devano sambil menautkan kedua alisnya. Dia melerai pelukannya dan memegang kedua bahu Bianca sambil menatapnya.
“Kamu tinggal bareng Desta ? Berdua aja ?” Rentetan pertanyaan dengan nada kesal diucapkan oleh Devano.
“Nggak berdua aja.” Bianca menggeleng sambil tersenyum.
Bianca menoleh ke arah gazebo dan mendapati Sella sedang menatap ke arah mereka. Bianca melambaikan tangannya memberi kode pada Sella untuk mendekat.
“Kenalkan ini Sella, adiknya Desta.” Bianca memegang bahu Sella saat adik Desta itu sudah dengan posisi mereka.
Bianca memperkenalkan Sella pada Devano dan mereka pun saling menyebutkan nama.
“Aku kemari bukan nemenin Desta tapi Sella.” Bianca memberi penjelasan.
“Tenang Kak Devan, Bianca aman kok di sini.” Tutur Sella sambil tertawa dan mengangkt jempolnya.
Devano kembali menatap Bianca dan menggenggam salah satu jemarinya.
“Aku minta tolong Dimas ya supaya orang Semarang bisa membawakan handphone baru untuk kamu.”
“Nggak usah Devan, tunggu kabar dulu.”
“Kalau nggak ada kan repot. Aku susah menghubungi kamu.” Raut wajah Devano terlihat kesal karena Bianca masih bersikeras menolak tawarannya.
“Nggak usah Kak Devano.” Sella ikut menimpali.
Devano hanya menoleh sekilas. Wajahnya semakin terlihat kesal karena Sella malah mendukung Bianca.
“Taadaaaa…” Sella mengeluarkan sebuah benda pipih dari kantong celananya.
“Loh kok bisa di kamu ?” Bianca melongo dan meraih hanphonenya dari tangan Sella.
“Bukan sulap bukan sihir Bi, memang aku yang menyembunyikannya.” Sella tertawa.
“Maksud kamu apa ?” Ketus Devano.
“Ternyata pacar kamu beneran galak Bi,” cicit Sella sambil terkikik. Devano makin melotot menatap Sella.
“Aku baca pesan dari Kak Arya di handphone nya Kak Desta. Kak Arya bilang kalau akan kemari sama Kak Devano juga. Dan nggak sengaja aku lihat handphone Bianca tertinggal di rusng TV pas Bianca mandi. Jadi biar rasa rindunya menggebu, aku sengaja mematikan handphone Bianca dan menyembunyikannya.”
Bianca hanya tersenyum sambil menggeleng-geleng sementara Devano mendengus kesal sambil membuang pandangan ke lain arah.
“Beneran seru kan rasa rindu Kak Devano terobati dengan kejutan seperti ini ?” Sella mengerling ke arah Bianca.
“Bukan sulap bukan sihir, rasa bahagia Kak Devano pasti lebih dahsyat terobati dengan cara seperti ini.”
Ledek Sella sambil terbahak.
Devano masih memberenggut sementara Bianca mengelus-elus lembut lengan Devano sambil tersenyum manis.
__ADS_1