
Setelah pernyataan Bianca pada Revan, cowok itu hampir tidak pernah lagi mendatangi Bianca dan Dewi apalagi mengajak pulang bareng di akhir pekan.
Hal ini menimbulkan tanda tanya Dewi. Namun setiap kali Dewi bertanya-tanya, Bianca hanya mengangkat bahu, menjawab tidak tahu atau bilang biarkan saja.
“Bi, elo nggak berantem sama Revan kan ?”
Bianca menggeleng. Keduanya menikmati makan siang di kantin setelah menyelesaikan ujian akhir semester hari terakhir. Sudah hampir 3 bulan Revan seperti menghindari keduanya. Pernah beberapa kali tidak sengaja mereka bertemu di pintu keluar kampus atau kantin. Mereka masih saling menyapa namun Revan sering buru-buru dengan berbagai alasan.
“Kok selama ini kayaknya dia menghindari kita. Terutama sama elo.”
Dewi menatap curiga, sementara Bianca dengan santai menikmati baksonya.
“Udah punya pacar kali tuh anak. Takut disangka selingkuh kalo dekat-dekat kita terus.”
“Bi, gue serius.”
“Iya gue juga serius.”
“Apa jangan-jangan dia udah nembak elo dan elo tolak ?” Dewi memicingkan matanya dengan tatapan penuh selidik.
“Mana ada dia nembak gue ? Lagian gue udah mempertimbangkan nasehat elo, Della sama Mia untuk menerima perasaan Revan kalo sampai dia nembak gue.”
“Jadi elo udah move on dari Devano ?” Dewi mencibirkan bibirnya pada Bianca.
“Dih bukan masalah nggak bisa move on ya dari Devano, tapi lebih ke trauma.”
Bianca menghabiskan es jeruknya setelah menghabiskan baksonya.
“Gue trauma mau suka cowok apalagi yang banyak fansnya. Pengalaman di SMA bikin gue agak males buat mikirin cowok. Apalagi sejak papa meninggal, ada target yang harus segera gue capai.”
Dewi masih menatap Bianca penuh selidik. Hati kecilnya mengatakan ada sesuatu yang disembunyikan oleh sahabatnya itu.
Liburan semesteran tiba. Dewi pulang ke rumah neneknya di Jawa Tengah sementara Bianca menghabiskan waktu membantu mama Lisa menerima pesanan kue-kue menjelang hari raya. Kegiatannya menyanyi di Cafe Pelangi masih dijalankannya.
Minggu siang ini Bianca berencana pergi ke salah satu mal untuk berbelanja beberapa kebutuhan pribadinya. Rencananya Bianca ingin mengajak Della karena sudah cukup lama mereka tidak bertemu. Semalam dia sempat mengirimkan pesan namun tidak mendapat balasan Hanya centang dua dan belum berubah warna biru.
Bianca sedang bersiap-siap di kamarnya. Mama Lisa tidak mau ikut karena ingin istirahat di rumah. Masih ada beberapa pesanan yang harus diselesaikan, rencananya Senin besok akan dibuat oleh mama Lisa dan Bianca.
Ting. Sebuah pesan masuk di handphone Bianca.
Della : Bi, sorry baru baca wa. Semalam ada acara jadi handphone di silent lupa di normalin.
Gue oke ke mal. Nanti ketemu di sana ya.
Bianca : Gue udah siap nih… Gue duluan ya.
Nanti kalau sudah sampai mal telepon aja.
Della : Oke 😘
Setelah berpamitan saat taksi online pesanannya datang, Bianca pergi sendiri ke salah satu mal. Della yang baru bangun saat mengirimkan pesan tadi, berjanji akan datang menyusul paling lambat saat makan siang.
Satu jam lebih Bianca berkeliling mencari keperluannya hingga suara handphonenya berbunyi nada panggilan masuk dan ada nama Della terlihat di sana.
Della : Gue baru sampai nih Bi. Ketemu dimana ?
Bianca : Langsung ke foodcourt aja ya
Della : Oke
Bianca pun melangkahkan kakinya menuju foodcourt mal yang terletak di lantai 3. Tangan kanannya memegang 2 kantong belanjaannya hasil keliling mal.
Sampai di sana ternyata Della sudah duluan. Gadis itu melambaikan tangan saat melihat sosok Bianca muncul dari ujung eskalator.
“Mau makan apa Bi ?”
“Gue lagi pengen ayam goreng. Elo sendiri mau apa ?”
“Gue itu aja.” Della menunjuk salah satu gerai makanan cepat saji ala Jepang.
“Ya udah kalo gitu kita langsung pesan makanan dulu aja ya. Meja kosong masih ada juga tuh beberapa.”
__ADS_1
Della mengangguk dan melangkah ke sisi yang berlawanan dengan Bianca.
Dan di sinilah mereka dengan pesanan makanan masing-masing, duduk di salah satu meja bersisian dengan jalan lalu lalang pengunjung.
“Apa kabar elo Bi ?”
“Baik dan aman gue.” Buanca tertawa. “Elo nggak liburan kemana gitu Del ?
“Bokap lagi ada tugas keluar kota hampir sebulan, jadi gue temenin mama aja.”
Keduanya asyik berbincang sambil menikmati makan siang mereka. Pengunjung foodcourt bertambah ramai karena memang sudah waktunya jam makan siang.
“Revan !” Panggil Della saat melihat sosok cowok itu berdiri tidak jauh dari meja mereka. Revan sedang mengedarkan pandangan mencari meja kosong.
Bianca memutar badannya karena pandangan mata Della menuju arah di balik punggungnya. Didapatinya soaok Revan sedang memegang nampan makanan. Dan yang membuar Bianca sedikit terbelalak, sosok Diana berdiri dekat Revan.
“Sini !” Della melambaikan tangannya pada Revan.
Revan nampak ragu-ragu menanggapi ajakan Della untuk duduk di mejanya dengan Bianca. Dia menoleh menatap Diana yang berdiri di sampingnya dan Diana hanya mengangguk meskipun Revan tidak mengeluarkan kalimat apapun.-
Della pindah posisi ke samping Bianca, memberikan tempat duduk untuk Revan dan Diana duduk berdampingan.
“Apa kabar Bi ?” Diana menyapa dengan senyuman ramah saat dirinya sudah duduk persis di seberang Bianca.
“Baik Di, kamu sendiri bagaimana ?”
“Baik banget,” Diana makin melebarkan senyumnya.
“Makan yuk !” Diana menawarkan ke Bianca dan Della dengan menatap mereka bergantian.
“Silahkan.” Della menjawabnya dengan senyuman.
Revan sendiri lebih banyak diam dan lebih dulu menikmati makanannya.
“Elo kebanyakan obat hari ini Van ?” Della menatap Revan sambil memicingkan mata.
Revan mengangkat mukanya yang tadi sempat menunduk karena sedang menyuap makanan.
“Elo kira gue sawan ?”
“Habis nggak biasanya elo pendiem begini. Biasa kalo ngomong kayak kereta 12 gerbong.”
Revan langsung melotot dan bibirnya mencebik ke arah Della.
“Rese, masa gue dibilang kereta 12 gerbong ?”
Della dan Diana kembali tertawa melihat wajah kesal Revan.
“Apa sekarang jaim karena ada pacar di sebelah elo ?” Della mencibir.
Wajah Revan dan Diana langsung berubah tegang.
“Eh kok pacaran ?” tutur Diana kikuk. “Kami nggak sengaja ketemuan di parkiran.”
Della mengernyitkan alisnya dengan tatapan penuh selidik. Perbuatan Della membuat keduanya bertambah kikuk sementara Bianca masih terlihat cuek.
“Bi,” Della menyenggol bahu sahabatnya. “Ada gosip nggak yang menginfokan kalau mereka berdua pacaran.”
“Sembarangan ya !” Protes Revan cepat.
Bianca menggeleng lalu mengangkat kedua bahunya.
“Bukan urusan gue.”
Revan dan Diana saling bertukar pandangan lalu menatap Bianca. Selain jawaban Bianca, sikap Bianca saat ini membuat keduanya merasa tidak enak hati.
“Susah amat sih ngaku pacaran. Nggak ada yang ngelarang juga.” Goda Della.
Revan memandang ke arah lain sementara Diana menundukkan kepala sibuk menyantap makanannya.
Della sempat melihat ketiga sosok di meja itu bergantian. Melihat Revan yang terus menghindari tatapan langsung dengannya dan Bianca, sementara sahabatnya juga sibuk dengan handphonenya membuat Della mengernyitkan matanya sambil bertanya dalam hati.
__ADS_1
“Del, jalan yuk. Masih ada yang harus gue beli.”
Bianca beranjak bangun dari kursinya setelah melihat waktu di jam tangannya.
Della menggangguk dan ikut berdiri.
“Revan, Diana, kita duluan ya. Nih mau temenin cewek satu belanja.”
“Masih lama di mal ?” Revan bertanya basa basi.
“Memang ada batasan waktu jalan-jalan di mal selain khawatir biaya parkir membengkak ?” Bianca bertanya dengan tatapan datar.
Revan menggeleng tanpa bersuara. Dilihatnya tatapan Bianca tidak bersahabat seperti biasanya. Diana pun yanh melihat wajah Bianca merasa tidak enak hati.
“Udah yuukkk !” Della mendorong bahu Bianca dan melambaikan tangan pada Revan dan Diana.
“Elo ada masalah sama Revan ?” Della membuka percakapan saat mereka sudah di lantai 2.
Bianca hanya menggeleng. Kakinya melangkah memasuki salah satu toko pakaian.
“Kok sikap elo kayak pacar yang lagi cemburu karena mendapati pasangannya selingkuh ?”
“Ngaco !” Bianca mengomel.
Della menghentikan percakapan dan membiarkan Bianca melihat-lihat pakaian di dalam toko.
“Jangan bilang elo sempet jadian sama Revan ?” Della mensejajarkan langkahnya saat Bianca keluar toko tanpa berbelanja apa-apa.
“Atau elo ditolak dan malah mendapati Revan malah jalan sama adiknya Devano ?”
Bianca menghentikan langkahnya dan memutar bola matanya. Ditariknya nafas panjang dan dihembuskan dengan tiupan di mulutnya.
“Mau tahu aja apa tahu banget ?” Bianca menoleh menatap Della.
“Mau tahu banget lah !”
“Traktir gue es cokelat.”
“Dih kok gue yang bayar ?”
“Kan elo mau denger gue mendongeng. Butuh tenaga buat bercerita dan nggak gratis ya.”
Bianca tertawa saat melihat Della cemberut. Namun tanpa diminta Della melangkahkan kakinya memasuki salah satu gerai coffee shop di lantai 2.
Keduanya memesan makanan dan minuman setelah mendapatkan meja agak pojok sesuai permintaan Bianca.
“Ayo cerita !”
“Nggak sabaran banget sih !” Bianca mencebik.
“Jadi begini… Pada suatu hari…”
“Apaan sih lo !” Della melempar wajah Bianca dengan gumpalan tissue.
“Elo kira gue mau dengerin dongeng Upik Abu ?”
Bianca hanya tertawa melihat Della yang cemberut.
“Lagian kagak sabaran banget sih.”
“Gue kagak suka basa basi dan panjang lebar. Yang singkat dan padat aja tapi berisi.”
“Duh lain yang anak manajemen.”
“Udah ayo deh buruan !”
Bianca menarik nafas panjang dan sengaja diam sejenak. Della sudah memasang muka serius menatap Bianca membuat sahabatnya ingin tertawa.
“3 bulan yang lalu gue nembak Revan.”
“What ?” Pekik Della sambil membelalakan matanya.
__ADS_1
“Elo kagak kapok pernah ditolak Devano ?”
Hai kakak-kakak, jangan lupa vote, like dan komennya ya supaya makin semangat menulisnya 😊😊