
Sebulan berlalu sejak pertemuan dengan Diana dan Arini di area olahraga. Masing-masing kembali disibukkan dengan kegiatan perkuliahan dan lainnya. Mia. Arya dan Ernest masih menikmati liburan mereka di Jakarta. Kadang-kadang Bianca masih bertemu dengan kedua sahabatnya di akhir pekan.
Sabtu sore ini Bianca mendapat ajakan bertemu dengan Diana di Cafe Pelangi. Seperti biasa Bianca memang ada jadwal menyanyi di tempat yang sama, jadi mereka sepakat bertemu jam 3 sore ini.
“Maaf aku terlambat.” Diana yang tadi sedikit tergesa memasuki cafe menghampiri Bianca yang sudah duduk di salah satu sudut ruangan dekat jendela.
“Nggak apa-apa. Santai aja.” Bianca tersenyum manis.
“Pesan dulu.” Bianca menyodorkan buku menu pada Diana.
“Apa yang favorti di sini ?” Diana mulai membuka-buka buku menu.
“Hampir semua makanan di sini enak, tergantung selera. Tapi yang populer memang pastanya.”
Diana pun memesan lasagna, mashed potato dan segelas cokelat susu hangat.
“Aku masih harus pantang makanan terlalu berminyak terutama gorengan. Soalnya masih dalam pengobatan masalah jantungku.” Diana sedikit menjelaskan setelah pelayan meninggalkan mereka.
“Aku nggak mengganggu kan ?” Tanya Diana.
“Sama sekali nggak.” Bianca tersenyum sambil menggeleng.
“Eh beneran nggak keberatan kalau aku panggil nama aja tanpa embel-embel kakak ?”
“Santai aja Di. Aku malah senang dipanggil nama tanpa tambahan kakak. Jadi berasa seumuran.” Bainca tertawa diikuti oleh Diana.
“Masih suka berhubungan dengan Kak Devano ?” Pertanyaan Diana yang tiba-tiba membuat Bianca tersedak saat menikmati kentang gorengnya.
“Sejak sekolah aku hampir nggak pernah komunikasi sama Devano.”
“Apa Kak Devano nggak pernah menghubungi kamu sama sekali ?”
Bianca menarik nafas sebentar dan menyedot minuman lemon squash nya. Ditatapnya Diana lekat.
“Kenapa ? Kamu nanya-nanya begini karena khawatir ya aku masih berusaha sama Devano ? Tenang aja, aku nggak akan merebut posisi sahabat kamu sekaligus adiknya Arya.”
Diana langsung terbelalak kaget mendengar penuturan Bianca.
“Eh bukan maksud aku begitu. Pertanyaanku nggak ada hubungannya sama Arini. Beneran deh.” Diana mengangkat kedua jarinya membentuk huruf V.
“Iya juga nggak apa-apa.” Bianca tersenyum getir.
“Arya sudah cerita kok gimana dekatnya kalian berdua dan soal perjodohan yang sudah diatur oleh opa kalian.”
“Tapi sungguh Bi…” Diana menghentikan perkataannya karena pelayan datang mengantar pesanannya.
“Silakan menikmati.”
“Thanks mbak Nina.” Bianca yang menjawab sambil tersenyum ke arah temannya itu. Nina salah satu pelayan tetap yang sudah senior di Cafe Pelangi.
“Aku sambil makan ya.” Diana mengambil peralatan makan dan mulai menikmati hidangan.
“Hmmmm enak Bi. Pantas ya cafenya selalu ramai dan cukup viral.”
“Harganya juga lumayan murah untuk anak-anak muda.”
__ADS_1
Percakapan pun berlanjut seputaran kuliah Diana di salah satu perguruan tinggi swasta ternama di Jakarta, cerita-cerita tentang kehidupan Diana dan mengapa dia memilih balik kuliah di Jakarta serta sedikit cerita Bianca tentang masa-masa sekolahnya. Tidak ada masalah Devano secara pribadi diangkat dalam percakapan mereka, hanya sesekali Diana menceritakan masa kecil yang dilaluinya dengan Devano sebelum dia dikirim ke Australia.
“Mama kangen pengen ketemu kamu, Bi.” Diana meletakkan alat makannya di atas piring yang suah bersih.
“Kapan-kapan main ke rumah. Mama pasti senang bisa ketemu sambil ngobrol lagi.”
Bianca tersenyum tipis dan sekilas membuang pandangan keluar jendela.
“Maaf kalau itu aku tidak bisa.” Bianca langsung menjawab, tidak mau memberikan harapan palsu pada Diana dan mama Angela.
“Loh kenapa ?”
Bianca menggeleng sambil kembali tersenyum tipis.
“Maaf.” Lirih Bianca
“Bi,” Diana menyentuh punggung tangan Bianca. “Boleh aku membahas Kak Devano dan cerita soal dia sama kamu ?”
Bianca menatap lekat mata Diana dan akhirnya mengangguk.
“Sungguh Bi, aku ngajak ketemu hari ini bukan karena Arini atau mama apalagi Kak Devano.”
Diana menjeda omongannya sambil mengambil air putih kemasan dan meminumnya.
“Aku pengen mengenal lebih dekat sosok Bianca yang sering diceritakan oleh mama..”
Bianca tersenyum tipis.
“Ternyata sosok Bianca yang sebenarnya lebih menyenangkan dari cerita mama.” Diana tertawa kecil.
Bianca membelalak saat mendengar perkataan Diana yang kembali tertawa.
“Aku sudah menghapus perasaanku pada Devano sejak kami lulus SMA.”
“Yaahhh jangan dong ! Aku yakin kalau Kak Devano punya perasaan yang sama denganmu.”
Bianca kembali tersenyum getir.
“Halu !” Bianca mencebik. “Bahkan Devano minta supaya aku tidak mencari-cari perhatian Tante Angela.”
“Percayalah bahwa Kak Devano hanya menutupi perasaannya. Dan soal Arini, jangan khawatir. Tidak ada satu pun dari keluarga kami setuju dengan acara perjodohan itu, kecuali Opa Ruby dan Arini sendiri tentunya.”
Bianca hanya diam dan mengaduk minumannya dengan sedotan.
“Bi,” Diana menepuk-nepuk punggung tangan Bianca yang ada atas meja.
“Tolong jangan pernah menghapus rasa sayang ataupun cintamu pada Kak Devano.”
“Terus aku nggak boleh naksir sama cowok lain ?” Bianca cemberut.
“Menunggu adalah pekerjaan yang paling membosankan dan tidak menyenangkan. Apalagi menunggu sesuatu yang tidak jelas.”
Diana tertawa melihat Bianca yang cemberut.
“Kak Devano itu cowok yang terlalu penurut. Ya pada aturan, pada orangtua dan apapun yang diminta kepadanya. Kadang-kadang sikapnya itu jadi bikin dia kaku dan dingin, bahkan mengorbankan perasaan dan keinginan dia sendiri.”
__ADS_1
“Bi, bisakah kamu bertahan sebentar lagi ? Paling tidak sampai Kak Devano kembali lagi ke Indonesia.”
Bianca menarik nafas panjang dan sesekali mengetukan keningnya.
“Bagaimana kalau dugaan kalian salah semua ?” Bianca menatap Diana lekat.
Diana tertawa kecil sambil menggeleng.
“Aku mungkin hanya adiknya yang sudah lebih dari 5 tanun hidup jauh darinya, hanya sesekali kami bertemu Tapi mama adalah seorang ibu yang tidak pernah salah feelingnya.”
“Lalu Arini ? Aku capek karena sudah sering diperlakukan tidak menyenangkan oleh penggemar Devano.”
“Arini urusan mama, aku dan Kak Arya. Kami hanya mohon supaya kamu tetap menjaga perasaan kamu pada Kak Devano. Tolong jangan pernah berubah.”
Diana mengatupkan kedua tangannya di depan wajah dengan tatapan memelas.
Bianca menatapnya sambil tersenyum tipis. Diana masih menggesek-gesekkan tangannya yang terkatup memohon pada Bianca dengan tetap memasang wajah memelas.
“Apa jaminannya kalau Devano punya perasaan yang sama denganku ?”
Diana menurunkan tsngannya dan menarik nafas panjang. Dia terdiam dan mengalihkan pandangannya keluar jendela. Bianca menatap Diana, menunggu jawaban gadis itu.
“Hati manusia bisa berubah, Di. Kami sudah terpisah lebih dari 30 bulan tanpa berita apapun.”
Bianca menjeda sejenak sambil menarik nafas berat.
“Orang yang rajin komunikasi dengan perasaan penuh cinta saja bisa berubah kalau hubungan jarak jauh, apalagi kami yang tidak terikat apapun dan tidak pernah berbagi berita sedikitpun.”
Diana masih dalam mode diam. Dia bingung harus memberikan jawaban apa pada Bianca.
“Lagian aku memutuskan untuk membuka hati pada cowok yang mendekatiku.”
Uhhuukkk… uhhuukkk
Diana yang sedang minum pun tersedak mendengar perkataan Bianca. Matanya membelalak. Diana tidak percaya dengan pendengarannya.
“Apa ada seseorang yang mendekatimu dan mulai membuatmu tertarik saat ini Bi ?”
Bianca hanya menganngguk.
Wajah Diana berubah cemas. Dia *******-***** jemarinya di bawah meja.
“Apa Bianca mulai menyukai Revan ?” Batin Diana.
“Bi, sudah sejauh apa hubungan kalian ?”
Bianca tersenyum tipis. Giliran Bianca memandangi wajah Diana yang terlihat sedikit cemas dan gelisah, namun adik Devano itu berusaha bersikap tenang.
“Aku tidak tahu juga Di. Sudah dua tahun ini kami cukup dekat dan dia sangat baik serta perhatian padaku. Mungkin sudah waktunya aku membalas perhatiannya.”
Diana terdiam dan mengambil kembali gelas air putihnya. Dia membuang pandangan ke arah luar jendela yang terlihat mendung.
“Kamu pikir aku tidak memperhatikan interaksimu dengan Revan yang terlihat akrab, bukan seperti orang yang baru bertemu. Apa yang sebenarnya terjadi antara kalian ?” Batin Bianca.
Suasana keduanya menjadi hening karena Diana masih bingung harus bagaimana dengan Bianca sementara Bianca hanya tersenyum tipis melihat reaksi Diana.
__ADS_1