Bukan Mantan Pacar

Bukan Mantan Pacar
Bab 47 Jalan Baeng Diana


__ADS_3

Bianca sudah sampai jam 7.15 di ruangannya. Eva atau Dimas belum terlihat di sana. Jam kantor memang baru dimulai jam 8..15. Setelah menaruh tasnya, Bianca pergi ke pantri untuk membuat susu sachet yang dibawanya. Tadi belum sempat sarapan di rumah karena bangun kesiangan. Mengingat padatnya busway menuju tempat kerjanya kalau sudah jam 7, Bianca memilih pergi lebih awal dan sarapan di kantor.


Selesai minum susu dan mencuci gelas bekasnya. Bianca menuju toilet dan merapikan diri serta memakai lipstik warna natural dan soft.


Saat memasuki ruangan kerjanya ternyata Eva dan Dimas sudah ada di sana.


“Pagi benar sudah datang Bi ?”


“Pagi Kak Eva, Pagi Kak Dimas.” Bianca menyapa dulu sebelum menjawab pertanyaan Dimas.


Sapanya dibalas oleh Eva dan Dimas.


“Kalau kesiangan busway penuhnya bukan main, Kak. Jadi lebih baik kepagian dan nunggu di kantor daripada jadi pepes setengah matang kalo kesiangan.”


“Pepes setengah matang ?” Eva tergelak mendengar istilah Bianca.


“Nggak enak atuh Bi kalo setengah matang.” Timpal Dimas.


“Iya masih basah-basah dan baunya belum harum Kak.”


Eva dan Dimas geleng-geleng sambil tertawa.


Hari ini Bianca belajar cara menerima dan menjawab panggilan telepon yang baik serta membuat susunan agenda kegiatan harian .boss. Eva dan Dimas bergantian mengajarkan Bianca hal-hal yang diluar pendidikan kuliahnya.


Sesuai info Eva kalau hari ini papa Harry tidak datang ke kantor. Beliau ada meeting diluar mewakili Opa Ruby yang masih ada di Australia. Jadi kegiatan Eva tidak terlalu padat hari ini.


“Bi, boleh denger pendapat kamu gimana sosok Devano ? Apalagi kamu kan calon psikolog, jadi bisa gambarkan dong kepribadian Devano.” Dimas menarik kursi dan duduk di depan meja Bianca.


“Loh bukannya Kak Dimas masih sepupunya Devano ?” Bianca mengernyitkan matanya.


“Aku sepupu jauh Bi, jarang ketemu. Udah lama di perusahaan ini tapi di kantor cabang yang di Semarang.”


“Terus kok bisa mendadak jadi asisten Devano ?”


“Om Harry yang minta langsung. Aku sendiri jarang ketemu, apalagi kan udah 4 tahun ini nggak ketemu sama sekali.”


“Memang selama sekolah di Inggris, Devano nggak pernah liburan ke Indonesia ?”


“Aku nggak tahu itu Bi. Terakhir aku ketemu bulan Januari saat Devano masih kelas 12.”


Bianca manggut-manggut.


“Aku sebetulnya juga nggak terlalu dekat dan akrabsama Devano. Aku hanya tahu dia teman satu angkatan dan termasuk idola di sekolah.”


“Loh bukannya…”


“Stop !” Bianca mengangkat tangannya telat di depan wajah Dimas. “Jangan bilang lagi aku mantan pacar Devano. Aku sama sekali belum pernah pacaran sama Devano atau siapapun.”


Eva tertawa mendengar perkataan Bianca yang terdengar emosi dan kesal.


“Oke, oke.” Dimas mengangkat tangannya membentuk huruf V. “Cewek cantik bukan mantan pacarnya Devano, ceritain dikit dong soal teman kamu itu.”


“Apa yang mau diceritain ? Aku bener-bener nggak terlalu akrab atau dekat sama Devano. Yang aku tahu hanya cowok itu sosok yang pendiam dan terkesan dingin, pribadi yang datar dan cuek. Dan sepertinya hidupnya membosankan.” Bianca terkekeh.


“Aku nggak yakin kalo harus konsultasi sama psikolog macam kamu !” Dimas menyentil kening Bianca.


“Sakit tau Kak Dimas.” Gerutu Bianca.


Saat mereka asyik berbincang membicarakan bermacam-macam hal mulai dari Devano sampai pekerjaan dan perusahaan, pintu ruangan terbuka dan muncul Diana di sana.

__ADS_1


“Bianca !” Pekik Diana. Gadis itu menghampiri Bianca dan langsung memeluknya.


“Jadi beneran kamu kerja di kantor papa. Aku nggak percaya pas papa cerita makanya aku datang untuk membuktikan sendiri.”


Diana melerai pelukannya dan menoleh teringat ada Eva dan Dimas di sana.


“Kak Dimas !” Diana ganti menghampiri Dimas dan memeluknya juga. “Makin ganteng aja. Udah nggak jomblo kan ?”


Dimas menggaruk tengkuknya setelah Diana melepas pelukannya.


“Masih sama Di. Jomblo akut.” Eva yang menjawab dan langsung mendapat pelototan dari Dimas.


“Jadi cuma Bianca sama Dimas yang dipeluk ? Aku dibedain sendiri ?” Omel Eva dengan nada bercanda.


Diana tertawa dan mendekati Eva lalu memeluknya sebentar.


“Kak Eva juga masih jomblo kan ? Kenapa nggak jadian aja sama Kak Dimas ?”


Hueekkkk…. Keduanya sama-sama bersikap seperti orang pingin muntah. Diana tertawa sedangkan Bianca mencibir.


“Hati-hati jadian beneran loh !” Goda Bianca.


“Semoga masih ada pilihan lain.” Eva mengetuk-ketuk punggung tangannya ke meja sampai tiga kali.


“Sama, semoga doa Diana nggak terkabul. Gue masih pengen hidup normal dan punya istri wanita sejati, kagak jadi-jadian kayak elo.” Ledek Dimas sambil menatap Eva .


“Sialan lo !” Eva melempar bolpoin yang ada di mejanya. Dimas menggerakan badannya ke samping untuk menghindar.


“Kalo gitu kalian berdua lanjut debat aja ya. Aku mau pinjam Bianca. Tadi udah bilang sama papa.”


Diana mendekati Bianca dan menarik lengannya.


“Eh memang aku mau diajak kemana ?” Bianca menahan tarikan Diana.


“Makan siang terus ada keperluan deh. Lebih baik kamu bawa tas sekalian. Udah ijin sama papa supaya kamu nggak balik ke kantor.”


Bianca masih berdiam dan menatap Eva serta Dimas bergantian. Dimas menggangguk menyuruh Bianca mengikuti Diana, sementara Eva membuka pesan yang masuk ke handphonenya saat notifikasi berbunyi dan nama Pak Harry Wijaya muncul di layar.


“Bi, Pak Harry suruh kamu nurut aja sama Diana hari ini.” Eva mengangkat handphonenya memberi kode kalau papa Harry sudah memberitahu Eva juga.


Bianca akhirnya membereskan tas nya dan setelah pamit pada Eva dan Dimas, dia mengikuti Diana yang masuk ke lift dan langsung turun ke lobby. Sampai di depan, mobil dan sopir sudah menanti di sana.


“Kita mau kemana Di ?”


“Mau makan di mal.”


“Kok sampai nggak balik kantor ? Kan makan siang doang.”


“Papa udah bilang kan kalau malam ini kamu diundang makan malam di rumah sama mama.”


Bianca hanya mengangguk.


“Mama minta supaya kamu sudah di rumah sebelum jam 5.”


Diana hanya menggeleng dan senyum-senyum penuh rahasia.


“Pokoknya hari ini kamu harus nurut sama aku dan nggak boleh protes. Ini bagian dari perintah papa sebagai boss kamu di kantor.”


Bianca hanya menatap Diana tidak mengerti namun tidak bertanya lebih jauh lagi.

__ADS_1


Tidak lama mobil yang mereka tumpangi sampai di salah satu mal. Bianca merasa sedikit norak karena begitu terpukau dengan bangunan mal yang terkesan mewah. Diana menarik tangannya memasuki restoran Jepang.


Diana menanyakan makanan yang diinginkan Bianca


“Di, pesankan aku apa saja asal jangan mentah ya. Soalnya aku ada alergi sama makanan laut apalagi mentah.”


“Oke.”


Dan tidak lama pesanan mereka sudah tersaji di meja. Diana memesan beberapa macam makanan yang membuat Bianca bingung. Saat melihat Bianca sedikit ragu memulai makan, Diana memberitahu nama dan jenis makanan yang tersaji Diana juga mengajarkan Bianca cara menikmati hidangan.


“Di, aku malu-maluin ya karena banyak nggak ngertinya.”


Diana menggeleng dan tersenyum manis.


“Kamu tahu kenapa aku ajak kamu ke sini dan memperkenalkan kamu makanan yang ada ini ?”


Bianca menjawab dengan gelengan.


“Karena Kak Devano paling suka makanan Jepang.”


Bianca sedikit terkejut mendengar perkataan Diana dan terdiam.


“Akan aku ceritakan pelan-pelan, apa saja makanan yang Kak Devano suka dan tidak suka, kebiasaannya, dan banyak hal.”


Bianca masih terdiam dan pandangannya tertuju pada macam-macam hidangan di meja.


“Bi !” Diana menepuk punggung tangan Bianca yang ada di atas meja.


“Eh maafi Di.” Bianca yang tersadar menjadi sedikit gugup.


“Kamu keberatan kalau aku membahas soal Kak Devano ?”


Bianca menarik nafas panjang dan menatap Diana.


“Kenapa kamu begitu semangat membuat aku tetap menyukai Devano ? Apa karena kamu menyukai Revan ? Kalau aku jadian sama Devano maka kamu bisa jadian sama Revan tanpa rasa bersalah ?”


Sumpit yang dipegang Diana sampai terjatuh karena dia terkejut mendengar pernyataan Bianca.


“Bukan begitu Bi,” Diana menggeleng dengan ekspresi khawatir.


“Terus kenapa kamu terus memaksa aku untuk tetap bertahan menyukai Devano ?”


Diana tertunduk sejenak dan menarik nafas panjang sebelum menjawab.


“Karena aku dan mama yakin kalau Kak Devano menyukai kamu juga, bahkan sampai saat ini.”


“Kenapa kalian begitu yakin ? Apa Devano pernah bilang kalau dia menyukai aku ?” Lirih Bianca. Tatapan matanya berubah sendu membuat Diana jadi tidak enak hati.


“Kamu akan mendapatkan jawabannya malam ini Bi.” Diana menepuk-nepuk punggung tangan Bianca.


Bianca berusaha tersenyum, namun terasa getir.


Selesai makan ternyata Diana mengajaknya berbelanja beberapa pakaian untuk kerja. Bianca langsung menolak keras namun Diana juga bersikukuh malah langsung membayar beberapa stel pakaian.


“Bi, semua ini atas permintaan mama dan papa, bukan kemauanku saja. Tolong diterima.”


Diana meletakkan beberapa kantong belanjaan di depan Bianca yang sedang duduk di bangku yang ada di mal. Tangannya mengatup di depan dada memohon pada Bianca. Merasa tidak enak karena perlakuan Diana yang hanya menjalankan perintah papa Harry dan mama Angela, akhirnya Bianca menerima kantong belanjaan yang diberikam oleh Diana.


“Kita langsung ke rumah ya Bi.” Diana melirik jam tangannya dan waktu sudah menunjukkan pukul 3 sore.

__ADS_1


“Tadinya aku mau ajak ke salon, tapi nggak mungkin hanya satu jam selesai. Besok-besok kita ke salon bareng ya Bi, aku senang punya kakak perempuan seperti kamu.”


Bianca hanya tersenyum tipis. Mobil yang tadi mengantar mereka ke mal, sekarang sudah kembali meluncur di jalan menuju rumah keluarga Wijaya.


__ADS_2