Bukan Mantan Pacar

Bukan Mantan Pacar
Bab 37 Seorang Van yang Lain


__ADS_3

Waktu berlalu dan hidup berjalan tanpa terasa. Selepas kepergian papa Indra, perusahaan tetap memberikan gaji kepada mama Lisa sebagai bentuk penghargaan meski jumlahnya tidak sebesar yang papa Indra terima semasa hidupnya.


Nilai yang diberikan oleh perusahaan adalah hasil kesepakatan papa Himawan dengan mama Lisa dan Bianca yang pada awalnya menolak pemberian gaji rutin karena merasa tidak memberikan kontribusi apapun pada perusahaan. Namun papa Himawan bersikeras dan akhirnya disepakati pemberian itu hanya akan berlangsung sampai Bianca menyelesaikan kuliahnya, sementara biaya untuk Bermard ditanggung sampai selesai.


Keluarga benar-benar sudah ikhlas menerima kepergian papa Indra. Penyelidikan membuktikan bahwa kejadian tersebut murni kecelakaan karena kelalaian operator alat berat yang tidak sengaja memencet tombol yang salah karena mengantuk hingga membuat penjepit terbuka sebelum sampai di lantai tujuannya.


Baik mama Lisa maupun Bianca pun dengan ikhlas memberi maaf pada si operator. Apalagi mengingat orang itu memiliki dua anak yang masih kecil-kecil dan membutuhkan biaya. Apa jadinya kalau bukan hanya dipecat tapi ayah mereka sampai masuk penjara. Meski demikian perusahaan tetap memberlakukan sanksi dan hukuman tanpa melibatkan aparat penegak hukum.


Dua setengah tahun terlewati.


Bianca melewati waktu kuliah sambil bekerja paruh waktu di cafe sebagai pelayan dekat kampus. Di akhir pekan kadang-kadang menerima pekerjaan sebagai penyanyi di cafe Kak Juan.


Bianca kost dekat kampus dan pulang setiap akhir pekan entah Jumat atau Sabtu untuk menjenguk mama Lisa.


Bernard sudah masuk kuliah kedokteran hampir semester 2. Dia lolos SNMPTN di salah satu kampus negeri ternama di Yogyakarta.


Mama Lisa yang sekarang ditemani seorang art mulai rutin menerima pesanan kue untuk mencari kegiatan di waktu luangnya sekaligus untuk tambahan uang belanja.


“Bianca !”


Bianca menghentikan langkahnya bersama Dewi, sahabat barunya di kampus. Tanpa menoleh dia sudah hafal sosok yang memanggilnya.


“Hari ini pulang ke rumah ?” Revan sudah berdiri di depannya.


“Iya ada tawaran nyanyi di cafe Pelangi besok malam.”


Revan adalah teman satu tim basket Devano dan Arya yang terakhir ditemuinya di cafe Pelangi saat undangan makan-makan dari Arya, Bianca tidak tahu kalau cowok itu akan satu kampus dengannya tapi beda jurusan. Bianca jurusan psikologi sementara Revan jurusan kedokteran.


“Pulang bareng gue aja ya. Gue juga mau balik hari ini.”


“Nggak usah, udah janjian sama Dewi mau naik kereta.” Bianca menoleh ke arah Dewi, berharap Dewi mengerti kodenya untuk mengiyakan.


“Ya udah, Dewi juga bareng aja sama kita. Nanti anterin Dewi dulu.” Revan langsung bicara sebelum Dewi sempat berkata apa-apa.


“Nggak usah, gue mau balik ke kostan dulu.”


“Udah ayo !” Revan langsung menarik tangannya namun Bianca belum juga bergerak.


“Ayo !” Revan berhenti dan menoleh . “Yuk Dewi sekalian.” Revan menoleh ke Dewi dan mengajaknua dengan tatapannya.


“Eehh, nggak usah beneran Van.” Bianca berusaha melepaskan genggaman tangan Revan namun justru tangan Revan semakin kuat menggenggamnya.


Bianca langsung menarik Dewi juga dengan tangan lainnya membuat Dewi sedikit terseok mengikuti langkah Bianca.


“Elo belum pindah kost kan ?” Revan bertanya sambil melirik ke arah Bianca yang duduk di sebelahnya.


Mobil yang dibawa Revan berjalan pelan melewati area kampus.


Bianca hanya menggeleng sebagai jawaban. Dewi pun akhirnya ikut dan duduk di belakang. Mereka berdua satu kost dan kamar pun bersebelahan.


15 menit kemudian mobil Revan terparkir di depan gerbang.


“Gue tunggu di sini.” Revan menoleh dengan senyuman lebar saat Bianca melepaskan seatbeltnya.


“Gue lama loh.” Bianca masih mencari-cari alasan supaya Revan membatalkan rencananya untuk pulang bareng dengannya.


“Nggak masalah. Gue sabar banget kok.” Revan tersenyum sambil mengedipkan mata sebelah.


Bianca hanya menggeleng-gelengkan kepala dan keluar dari mobil diikuti oleh Dewi.

__ADS_1


“Usahanya gencar banget tuh anak.” Dewi buka suara saat mereka sedang berjalan sejajar menuju lantai 2 tempat kamar mereka.


“Gue juga bingung.” Bianca meniup wajahnya sendiri sambil menarik nafas panjang.


Sudah dua tahun ini Revan begitu sering menemuinya sejak mereka tidak sengaja bertemu di salah satu rumah makan dekat kampus. Siang itu Bianca yang baru saja dekat dengan Dewi diajak pergi teman- teman satu jurusan untuk mencoba semacam kantin yang baru beberapa hari buka. Harganya sesuai kantong mahasiswa dengan beragam pilihan sayur dan lauk pauk dengan rasa yang cukup enak.


Revan ternyata sudah tahu kalau dia satu kampus dengan Bianca, tetapi baru setelah enam bulan, Revan menemui Bianca dan mencoba dekat padanya. Itupun setelah Revan tahu bahwa Devano maupun Arya seperti putus kontak dengan Bianca.


“Elo yakin nggak ada hubungan apa-apa sama tuh cowok ?” Dewi bertanya sambil menenteng satu tas baju dan menuruni tangga untuk kembali ke mobil Revan.


Mumpung dapat tumpangan mobil, baik Bianca maupun Dewi membawa barang-barang mereka lebih banyak dari biasanya. Minggu depan sudah libur semesteran setelah ujian baru saja berakhir hari ini. Bianca memutuskan untuk menghabiskan liburan di rumah menemani mama Lisa. Diapun sudah meminta pekerjaan partime pada Kak Juan dsn langsung disetujui oleh Kak Juan.


“Nggak ada, malah kalo nggak salah cuma dua atau tiga kali ngobrol bareng sama tuh anak semasa SMA.” Bianca berusaha mengingat-ingat hubungannya dengan sosok Revan.


“Tapi kayaknya dia nguber elo banget deh.”


“Gue juga ngeliat gelagat ke arah sana. Cuma kok ya ke pedean banget ya kalo langsung berasa dia mengharap lebih.” Bianca tertawa sendiri.


“Elo kagak ada rasa-rasa gimana gitu ?” Dewi menyenggol bahu Bianca sambil tersenyum menggoda.


“Nggak tuh.” Bianca menggeleng sambil tertawa pelan.


“Belum bisa move on ?” Dewi kembali menyenggol bahu Bianca. Mereka sudah sampai di lantai 1.


“Move on darimana ?” Bianca menoleh sambil menautkan kedua alisnya.


“Yaahh mantan pacar lah, masa mantan suami.” Dewi tertawa.


“Dih mantan pacar darimana ? Gue aja belum ngerasain yang namanya pacaran.” Bianca mencebik.


“Tapi gue inget kalo Revan pernah menyinggung nama temen elo… Siapa ya gue lupa, kayaknya ada van van nya juga.”


“Mana ada pacar gue namanya Van Van.” Bianca tertawa.


“Kagak penting !” Bianca tertawa kembali dan menurup gerbang. Tidak lupa mereka pamitan pada Bu Asih, orang kepercayaan pemilik rumah kost yang tinggal menemani para penghuni yang semuanya anak perempuan.


“Revan !” Dewi memanggil dari bangku belakang memecah keheningan yang tercipta sejak Revan mulai melajukan mobil meninggalkan rumah kost.


“Hmm,” Revan melirik Dewi dari spion tengah.


Bianca yang duduk di sebelah Revan sejak tadi memejamkan mata sambil menyenderkan kepalanya ke jendela. Dia sempat ijin tidur pada Revan tidak lama setelah mobil melaju. Alasan yang dibuatnya untuk menghindari percakapan dengan cowok itu.


“Temen elo yang kenal banget sama Bianca siapa ya namanya ? Gue ingetnya belakangnya mirip-mirip nama elo.” Dewi membalas tatapan Revan di spion.


“Rese banget nih Dewi. Awas aja nanti kalo udah turun dari mobil,” umpat Bianca memdengar pertanyaan Dewi.


Gadis itu tidak tertidur. Namun tidak mungkin juga langsung bangun dan melototin Dewi saat mendengar pertanyaan barusan.


“Memangnya kenapa ?” Revan tersenyum tipis.


“Nggak gue tiba-tiba inget aja.”


“Bianca ngomongin tuh anak barusan sama elo ?” Revan sekali-kali melirik Dewi melalui spion. Pandangannya terbagi karena masih menyetir.


“Nggak.” Dewi menggeleng. “Gue tadi tiba-tiba inget aja soalnya elo pernah nyebut dan belakangnya mirip sama nama elo. Perasaan gue temen Bianca kok kagak kreatif, punya nama mirip-mirip.”


Dewi tertawa pelan.


“Devano.” Ucap Revan dengan pandangan fokus di depan.

__ADS_1


“Oh iya Devano,” Dewi menepuk jidatnya sendiri.


“Memang kenapa ? Bianca ada bicara soal Devano akhir-akhir ini ?” Revan menautkan kedua alisnya sambil memandang Dewi kembali lewat spion. Posisi mobil berhenti di lampu merah hingga Revan bisa menatap Dewi lebih lama dan intens.


“Nope !” Dewi langsung menggeleng. “Bianca nggak pernah cerita apa-apa tuh soal yang namanya Devano selama berteman sama gue.”


“Good Dewi. Awas aja lo ngomong macam-macam.” tanpa sadar Bianca menggigit bibir bawahnya namun matanya masih terpejam.


“Memang Devano mantan pacarnya Bianca ?”


Jeduar !


Pertanyaan Dewi barusan membuat Bianca lamgsung mengangkat kepalanya dan menoleh ke belakang sambil melotot. Dewi cekikan melihat ekspresi Bianca. Dia tahu kalau sejak tadi Bianca hanya pura-pura tidur.


“Coba kamu tanya tuh sama orangnya langsung.” Revan tertawa kecil sambil menoleh sekilas ke Bianca.


Revan juga tahu kalau sejak tadi Bianca hanya pura-pura mengantuk untuk menghindarinya.


“Dewi !” Bianca memanggil sahabatnya dengan geram sambil mengatupkan kedua giginya. Matanya masih melotot tajam memandang Dewi yang masih saja cekikikan.


“Bianca, jawab sendiri dong pertanyaan Dewi.” Revan menggoda Bianca sambil tertawa.


Bianca membalikkan badan ke posisi semula. Bibirnya sudah maju 5 centi persis mulut bebek. Revan hanya tertawa melihat sikap gadis di sebelahnya.


“Devano mantan pacar atau mantan gebetsn doang Bi ?” Arya menoel bahu Bianca dengan sebelah tangannya yang bebas


Bianca masih diam dengan mulut mengerucut dan wajah cemberut dan membiarkan kedua mahluk di dalam mobil itu tertawa.


“Mau tahu atau mau tahu banget Wi ?” Revan kembali bertanya sambil melirik Dewi dari spion.


“Mau tahu banget dong.” Dewi tertawa.


“Gue sama Devano kadang sama panggilannya Van di sekolah. Bedanya kalo Devano mantan calon pacar Bianca yang gagal, kalo gue calon masa depannya Bianca.” Revan tergelak.


“Mana ada begitu !” Protes Bianca sambil memukul bahu Revan.


“Eh Bi, gue lagi setir nih. Pukulan elo sakit loh.” Revan mengusap-usap bahu kirinya yang dipukul Bianca.


“Ada Dewi yang bisa gantiin.” Sungutnya kesal.


“Berarti Bianca demennya sama cowok yang selalu panggilannya ada kata Van, gitu ya ?”


“Dewi !” Omel Bianca kesal.


Bianca mengomel sendiri dan membiarkan Revan serta Dewi tertawa menggidanya.


“Awas lo ya Dewi. Bakal gue semprot habis-habisan.” Umpatnya dalam hati.


Bianca membuang padangan ke luar jendela samping dan menyenderkan kepalanya ke kaca pintu. Sekali-kali mulutnya kembali mengerucut mendengar obrolanDewi dan Revan yang kompak saling menyahut


“Apa kabar elo di sana, Devano Putra Wijaya ? Kenapa nama elo musti kesebut lagi setelah dua setengah tahun berlalu tanpa cerita ?” Batin Bianca sambil memejamkan matanya.


Tanpa terasa akhirnya Bianca benar-benar tertidur bahkan saat Dewi turun di rumahnya, gadis itu masih lelap.


“Langsung anter pulang loh Van !” Dewi menoleh sambil menatap tajam ke Revan sebelum turun dari mobil.


“Tenang aja Wi, gue pasti jaga dia baik-baik.” Revan mengacungkan jempolnya.


Dia melambai dan meninggalkan Dewi yang juga sudah berdiri di halaman rumahnya.

__ADS_1


Revan menoleh sejenak ke arah Bianca yang masih pulas tertidur. Senyum tipis terlihat di wajahnya. Rasanya ingin membelai rambut dan pipi Bianca, namun ditahannya karena tidak ingin karena perbuatannya membuat Bianca justru menjauh darinya.



__ADS_2