
Senin pagi Devano sudah siap berangkat kantor papa Harry. Jadwal acara hari ini adalah perkenalan dengan jajaran direksi dan kepala divisi dilanjutkan dengan seluruh staf.
Rambutnya sudah kembali menjadi warna hitam setelah kemarin ditemani Diana dan Revan ke salon.
Sebetulnya bukan keinginan Devano juga mengganti warna rambut menjadi blonde tapi kerjaan Emilia yang membujuknya dengan alasan biar Arini jadi illfill dan Devano terlihat lebih gaul dan keren.
Bianca, Dimas , Eva sudah siap lebih pagi dari biasanya. Perkenalan dengan jajaran direksi dan kepala divisi kantor pusat diadakan di ruang meeting dan dibuka secara live streaming juga untuk cabang Jawa Tengah dan Sulawesi.
Jam 7.15 papa Harry dan Devano sudah sampai di kantor. Lobby belum terlalu ramai. Dimas dan Eva sudah menunggu di depan lift khusus untuk petinggi. Setelah itu mereka pun naik ke lantai 10.
“Dimas akan menunjukkan ruangan kamu.” Papa Harry meminta Devano langsung ke ruangan pribadinya.
Devano hanya mengangguk dan mengikuti Dimas yang berjalan ke sisi kanan pintu lift.
“Belum ada pengganti Pak Sugih, Dim ?” Devano membuka percakapan.
Pak Sugih adalah asisten papa Harry yang sudah 35 tahun mendampingi papa Harry. 3 bulan yang lalu beliau kena stroke dan sulit menggerakan separuh badannya dari bahu hingga kaki. Karena sakitnya Pak Sugih, papa Harry memindahkan Dimas yang masih keluarga dari mama Angela dari cabang Semarang ke Jakarta. Awalnya papa Harry ingin menempatkan Dimas hanya sebagai pengganti sementara Pak Sugih, namun seiring berjalannya waktu papa Harry merasa bahwa Dimas lebih cocok mendampingi Devano yang terbilang buta dengan perusahaan. Dengan pengalaman Dimas yang sudah bekerja di Berdikari Putra Wijaya selama 3 tahun, Dimas akan sangat membantu Devano. Lagipula usia mereka hanya terpaut 2 tahun, papa Harry yakin bahwa keduanya adalah tim yang baik.
“Belum. Om Harry sudah minta SDM cari penggantinya. Minta yang usianya di atas 35 tahun.”
“Jadi selama ini siapa yang bantu papa ?”
“Ada Eva sekretaris beliau. Dan sementara elo masih di Amerika, gue bantuin om Harry sebagai asistennya.”
Devano hanya manggut-manggut mendengar penjelasan Dimas.
“Selamat pagi Pak Devano, Pak Dimas.” Bianca menyapa mereka sambil membungkukkan sedikit badannya.
“Pagi Bi Bi,” Dimas membalas sapaan Bianca sambil tersenyum dan mengedipkan matanya sebelah.
Bianca mencibir sambil tertawa kecil. Tingkah Dimas sering membuat Bianca geleng-geleng kepala.
“Eheemm.” Devano berdehem membuat keduanya langsung kembali memasang wajah serius.
“Selamat datang Pak Devano.” Bianca kembali menyapa sambil membungkukan badannya kembali.
Tanpa menoleh dan membalas sapaan Bianca, Devano melanjutkan langkahnya ke dalam ruangan Bianca menahan Dimas yang mau mengikuti Devano.
“Kenapa si boss pagi-pagi udah jutek ?”
Dimas menggeleng. “Mana ketehe… mungkin ngeliat muka kamu langsung bad mood.”
“Iihh mana ada begitu.” Bianca memberenggut dan memukul pelan bahu Dimas karena kesal melihat Dimas malah tertawa.
“Dimas !” Teriak Devano dari dalam ruangan. Suaranya sedikit menggelegar karena pintu belum tertutup rapat
“Sana cepetan, macan mulai ngamuk.” Bianca mendorong badan Dimas yang masih tertawa-tawa.
__ADS_1
Dimas tidak lagi mengetuk pintu yang memang masih terbuka setengah.
“Gimana susunan acara hari ini ?” Devano bertanya dengan nada ketus.
Dimas mengangkat tab yang memang dibawa-bawa sejak tadi pas menjemput Devano. Dia pun membacakan susunan acara hari ini. Belum selesai membacakan, pintu ruangan Devano diketuk dan sosok Bianca langsung masuk tanpa disuruh.
“Maaf sebelumnya Pak Devano,” Bianca mengangguk sekilas. “Baru saja Mbak Eva mengirimkan pesan kalau Pak Harry minta dirubah jadwal perkenalannya.”
“Dirubah gimana Bi ?” Dimas yang bertanya .dengan wajah bingung.
“Pertemuan dimulai dengan para karyawan dulu, Pak. Untuk perkenalan dengan Direksi dan Kepala Divisi setelahnya sekalian makan siang bersama.”
Devano tidak menggubris Bianca sama sekali. Saat Bianca memberi penjelasan, Devano malah sibuk megeluarkan laptop dan menyalakannya.
Melihat reaksi Devano yang terlihat acuh, akhirnya Bianca undur diri.
“Saya permisi Pak.” Bianca kembali membungkukkan badannya sedikit sebelum meninggalkan ruangan Devano.
Jam 8.30 para karyawan dikumpulkan sekitaran lobby yang cukup luas. Pintu masuk utama ditutup dan dijaga oleh satpam. Papa Harry memastikan bahwa hanya butuh waktu 30 menit untuk memperkenalkan Devano pada seluruh karyawan.
“Selamat pagi semuanya,” papa Harry membuka acara perkenalan pagi ini.
“Pagi Pak,” para karyawan membalas sapaan pemilik Berdikari Putra Wijaya.
“Tanpa berlama-lama dan sesuai dengan informasi melalui para kepala divisi, pagi ini saya akan memperkenalkan anak sulung saya Devano yang akan membantu saya menjalankan perusahaan.”
“Selamat pagi semuanya.” Sapa Devano.
“Selamat pagi Pak.” Kembali para karyawan menanggapi sapaan Devano.
“Untuk sementara anak saya belum menduduki jabatan apapun sampai rapat dewan direksi bulan depan. Dia akan belajar mengenal dulu tentang perusahaan ini. Karena itu saya mohon dukungan dan bimbingan dari para karyawan di sini terutama yang sudah lama bekerja untuk membantu Devano menyesuaikan dan mempersiapkan diri menjadi pengganti saya.”
Tepukan tangan langsung terdengar saat Papa Harry menutup sambutannya. Selanjutnya Devano pun memberikan sambutan singkat sebagai perkenalan awal.
“Selamat pagi semuanya. Seperti yang sudah disampaikan oleh Pak Harry selaku pimpinan dan juga orangtua saya bahwa saya akan mulai bekerja di perusahaan ini secara resmi pada hari ini. Saya mohon kerjasama dari bapak, ibu dan saudara semuanya untuk semakin memajukan perusahaan ini demi kesejahteraan bersama. Saya sendiri baru lulus sekolah, jadi masih jauh dari segi pengalaman. Karena itu selain dukungan dari orengtua, saya mengharapkan bantuan dan bimbingan dari seluruh keluarga besar Berdikari Putra Wijaya. Terima kasih atas kesempatan yang telah diberikan pada saya.”
Tepukan tangan kembali terdengar setelah Devano menutup sambutannya.
Bianca memandang Devano dari kejauhan. Hanya Dimas dan Eva yang berdiri dekat mini podium. Kharisma Devano semakin memancar di usianya yang semakin dewasa. Getaran itu kembali menghangat di hati Bianca apalagi mengingat begitu banyak pihak yang memberikan dukungan padanya.
Tapi hubungan cinta bukan hanya ditentukan oleh banyaknya dukungan tetapi pada hati kedua insan yang terlibat langsung di dalamnya.
Bianca menghela nafasnya. Sosok Devano tetap menjadi yang spesial di hatinya, tapi sikap Devano yang tidak berubah sedikitpun malah terasa semakin kaku pada Bianca, membuat gadis itu ingin menyerah dan menghilang jauh dari hadapan Devano.
“Keren memang !” Tepukan halus di bahunya membuyarkan lamunan Bianca.
“Pak Desta,” Bianca mengangguk sebagai tanda hormat.
__ADS_1
“Diihh kok Pak Desta. Panggil nama aja. Desta.”
“Mana boleh begitu,” Bianca tertawa kecil sambil menggeleng. “Kelihatan kamu jauh lebih tua.”
“Enak aja !” Desta melotot. “Kita hanya terpaut 4 tahun.”
“Kok tahu 4 tahun ?” Bianca memicingkan matanya.
Desta tertawa pelan karena masih ada acara lanjutan setelah sambutan Devano.
“Kamu lupa kalau aku staf SDM juga. Dan tugasku adalah mengurus data-data karyawan modelan kamu.”
“Duh sombongnya.” Bianca mencibir membuat Desta tertawa kembali.
Dari podium, tanpa sadar keduanya mendapat tatapan tajam dari sang pewaris perusahaan. Apalagi melihat interaksi keduanya terlihat akrab dan penuh tawa.
Dimas yang menyadari tatapan Devano fokus ke arah lain mencoba mencari tahu dengan mengikuti arah pandangan Devano. Bibirnya langsung tersenyum saat tahu pandangan tidak suka Devano terpanah pada sosok Bianca yang sedang asyik berbincang dengan Desta.
“Sepertinya hati dan mulutmu sangat bertolak belakang Devano.” Batin Dimas dengan senyum smirknya.
“Eh udah pada bubar. Aku balik ke ruangan dulu ya Pak Desta.” Bianca bergegas menuju lift khusus petinggi namun ditahan oleh Desta.
“Panggil aku Pak Desta lagi denda traktir makan di cafe seberang ya,” Mata Desta melotot dengan wajah dibuat galak.
Bianca hanya tertawa dan mengangguk.
“Oke.. oke Kak Desta ya…” Bianca mengangkat jempolnya.
“Udah jelek, kalau marah tambah jelek.” Ejek Bianca sambil bergegas menuju lift karena melihat posisi Papa Harry, Devano, Dimas dan Eva semakin dekat dari tempat dia berdiri.
Desta hanya melotot tapi langsung tersenyum.
“Eheemm..” Deheman Devano membuat Desta menoleh dan menyingkir memberi jalan.
“Selamat pagi Pak Devano, Pak Harry.” Desta menundukkan kepalanya.
“Pagi.” Jawab Devano singkat sementara papa Harry hanya mengangguk sambil tersenyum.
Sampai di depan lift, Bianca mendahului masuk dan memencet tombol menahan pintu terbuka. Setelah semuanya masuk, Bianca langsung memencet angka 10.
Devano yang berdiri tepat di belakang Bianca tanpa sadar memandangi gadis yang tingginya hanya sebatas bahunya dengan wajah kesal. Papa Harry yang sempat mengajak Devano ngobrol akhirnya menoleh karena tidak mendapat tanggapan. Terlihat senyum tipis di wajah pria paruh baya itu melihat ekspresi Devano. Di belakang keduanya, Dimas dan Eva saling menyikut memberi kode sambil senyum-senyum.
Hanya Bianca yang tidak menyadari kalau Devano sedang menatapnya dengan wajah kesal karena Bianca lebih banyak menunduk atau sesekali menengadah memperhatikan angka yang bergerak di atas pintu lift. Kalau saja pandangannya lurus ke depan, dia pasti akan melihat pantulan wajah Devano yang sedang memperhatikannya dari dinding stainless steel yang melapisi lift.
Keluar dari lift, kelimanya langsung berpisah. Papa Harry dan Eva kembali ke ruangan yang berada di sisi kiri lift, sementara Devano, Dimas dan Bianca ke arah kanan lift.
Devano dan Dimas berjalan sejajar dan berbincang soal perusahaan. Bianca yang berjalan di belakangnya hanya memperhatikan sosok Devano yang semakin tampan di matanya.
__ADS_1