
Bianca dan Sella masih menghabiskan waktu sambil mengobrol di gazebo. Hingga waktu makan siang tiba, mereka kembali masuk ke dalam setelah Bi Isa memanggil.
Devano dan Dimas juga terlihat baru keluar dari kamar.
Arya dan Desta tidak pulang untuk makan siang karena masih melanjutkan pekerjaan di lapangan.
“Bi, besok siang aku harus kembali ke Jakarta, ada urusan pekerjaan yang tidak bisa diwakilkan,” Devano membuka percakapan di meja makan.
“Pulang bareng Arya lagi ?” Tanya Bianca.
“Kemungkinan begitu, nggak tahu urusan dia di sini sudah selesai atau belum.”
“Kenapa Bi, nggak mau Arya cepat-cepat balik ?”goda Dimas.
“Bensin mulai nyamber deh,” Bianca langsung melotot dan menjawab dengan kesal.
“Biarinin aja Bi, efek jomblo kelamaan,” sahut Devano dengan wajah santai.
Bianca dan Sella langsung tertawa, bahkan Bianca langsung menjulurkan lidahnya meledek Dimas.
“Dih mulai kompak nih,” oceh Dimas.
“Sepuluh tahun saling cinta, udah pasti kontak batinnya juga kuat,” Devano kembali menjawab dengan santai.
“Lebay,” Dimas mencebik. “Judulnya bukan saling cinta tapi kugantung cintamu selama sepuluh tahun.”
Sella dan Bianca kembali tertawa sementara Devano hanya bersikap biasa saja.
Selesai makan siang, keempatnya berkumpul di teras belakang menikmati pemandangan dan hawa sejuk meski matahari cukup terik.
“Kak, mau kunjungan ke lokasi proyek nggak ?” Sella menatap Dimas.
“Memang kamu tahu tempatnya, Sel ?” Bianca yang balik bertanya sebelum Dimas menjawab
“Daripada gabut di villa, lebih baik kita jalan-jalan samperin Kak Desta dan Kak Arya. Nanti minta mereka share loc aja.”
“Ide bagus, sih. Gimana Van, elo mau ?” Tanya Dimas.
Devano menatap Bianca dan dijawab dengan gerakan tubuhnya menjawab terserah Devano saja.
“Ya udah, biar sekalian tahu lokasi yang bakal jadi resort,” ujar Devano.
Keempatnya beranjak bangun untuk bersiap. Devano menahan lengan Bianca sebelum masuk kembali ke dalam.
“Kamu nggak ganti baju ?” Devano menatap Bianca dari atas ke bawah.
“Maunya gitu. Kenapa ?”
“Jangan pakai celana pendek begitu, ganti celana panjang aja,” pinta Devano.
“Tapi ini kan juga nggak terlalu pendek Devan, di atas lutut sedikit dan masih sopan.”
Devano hanya menatap tajam dengan ekspresi yang tidak bisa dibantah. Bianca sempat kesal tapi akhirnya menurut juga kembali ke kamarnya dan mengganti pakaiannya.
10 menit kemudian mobil sudah keluar dari villa dengan posisi duduk Devano dan Bianca di kursi belakang, Sella di depan bersama Dimas yang menyetir.
Devano menggenggam tangan Bianca sepanjang jalan sementara Bianca sendiri lebih banyak diam dan memandang ke samping. Sesekali dia menimpali candaan Sella dan Dimas. Devano sendiri lebih banyak jadi pendengar dan sesekali menatap Bianca. Dia tahu bahwa kekasihnya ini masih merasa kesal masalah pakaian.
Ternyata lokasi proyek cukup ditempuh hanya dalam waktu 20 menit. Sebetulnya bisa lebih cepat lagi, tapi karena kondisi jalan yang sedikit bergelombang dan agak sempit, mobil yang dikendarai Dimas harus dibawa perlahan.
Desta dan Arya masih berdiskusi di rumah sederhana yang dijadikan kantor proyek pembangunan. Mereka membahas beberapa masalah ijin dan jual beli lahan yang masih belum selesai.
__ADS_1
Sella dan Dimas langsung menuju ke kantor proyek semantara Devano menggandeng tangan Bianca untuk melihat-lihat lokasi.
“Kamu masih kesal karena aku suruh ganti pakaianmu ?” Tanya Devano sambil melirik Bianca yang berjalan di sampingnya.
“Nggak,” jawab Bianca sambil menggeleng.
“Terus kenapa sejak berangkat sampai sekarang lebih banyak diam ? Biasanya kamu cerewet.”
Bianca membuang pandangan ke samping menghindari mata Devano yang masih menatapnya.
“Devan,” Bianca menghentikan langkahnya membuat Devano juga ikut berhenti.
“Boleh aku tanya sesuatu ?”
Devano mengernyit karena melihat kegelisahan di wajah Bianca tetapi dia mengangguk juga mengiyakan pertanyaan Bianca.
“Apa kamu benar-benar ingin menikahi aku karena mencintaiku ?”
Devan sedikit terperanjat dengan pertanyaan Bianca dan wajahnya berubah menjadi tidak suka.
“Memangnya menurutmu permintaanku untuk menikah karena paksaan orangtua ? Atau karena kamu melihat aku tidak mau kalah bersaing dengan Arya dan Desta ?” Wajah Devano mulai memerah karena menahan kesal.
Bianca mendekat dan menyentuh lengan Devano dengan tangan kanannya yang bebas sementara tangan kirinya masih dalam genggaman Devano.
“Aku tanya baik-baik, kenapa kamu begitu emosi ?”
Devano menarik nafas panjang dan membuangnya dengan kasar. Raut wajahnya mengerut karena kesal.
“Bianca Aprilia, sudah aku jelaskan panjang lebar semalam alasan aku menahan perasaanku padamu. Apa masih kurang jelas untukmu ?” Devano menatap Bianca dengan tajam.
“Dan aku sendiri merasa tersiksa dengan kondisi itu. Aku memang payah karena mungkin di matamu aku seorang pengecut yang bisanya hanya mengalah demi kebahagiaan orang lain. Tapi cintaku, rasa sayangku padamu tidak main-main.”
Devano mengerutkan dahinya dan menatap Bianca dengan tatapan penuh tanya.
“Apa maksudmu baru mengenalku ? Kita pernah sama-sama satu sekolah selama 6 tahun, meski pertemanan yang sesungguhnya hanya berjalan 2 tahun.”
“Itulah yang aku maksud,” jawab Bianca cepat. Dia hanya memandang sekilas wajah Devano lalu menunduk.
“Sekarang coba jelaskan maksud perkataanmu seperti baru mengenalku ?”
Bianca menarik nafas untuk meredakan kegugupannya. Setelah merasa jantungnya lebih terkendali, Bianca akhirnya memberanikak diri mengangkat wajahnya, membalas tatapan Devano.
“Kita baru jadian kurang dari 72 jam. Dan selama itu aku melihat bagaimana sikapmu yang posesif, pencemburu dan protektif. Pekerjaanku di masa depan menuntut untuk bertemu dan berinteraksi dengan banyak orang secara personal. Aku sendiri tidak selalu bisa menentukan siapa yang akan menjadi pasienku. Dengan sifatmu yang baru aku ketahui dalam 48 jam ini, apa kamu bisa menerima dengan hati lapang ? Apa kamu bisa memberikan aku kepercayaan sepenuhnya ?”
Devano menarik nafas panjang kembali dan membuang muka ke lain arah. Dia melepaskan genggamannya.
“Apa kamu takut kebebasan hidupmu akan dirampas setelah menikah denganku ?” Tanya Devano tanpa menatap Bianca. Nada suaranya tidak segalak tadi.
“Mungkin. Aku…”
“Mungkin ?” Devano langsung memotong perkataan Bianca dan menoleh menatap gadis itu dengan senyum sinisnya.
“Jadi kamu benar-benar yakin bahwa aku akan membuatmu terpenjara setelah menikah denganku ?” Sarkas Devano sambil tertawa sinis.
“Apakah kamu hanya bisa melihat dan mencoba mengerti masalah yang ada di orang lain, tapi tidak memahami sikapku dalam 48 jam ini saat statusku jadi pacarmu ?”
Devano menghempaskan tangan Bianca yang masih memegang lengannya.
“Aku bersikap manja padamu karena setelah hampir 10 tahun akhirnya aku bisa mencurahkan perasaanku padamu tanpa rasa cemas akan beban yang ada di pundakku. Aku menjadi pencemburu karena para lelaki yang ada di dekatmu terang-terangan mengaku padaku kalau mereka menyukaimu. Bahkan tanpa rasa sungkan mereka bilang padaku kalau mereka siap menerimamu kalau kamu memutuskan lepas dariku.”
Api kemarahan terpancar dari tatapan Devano dan ucapannya yang bernada tinggi. Dia membalikkan badan memunggungi Bianca lalu meremas rambutnya sendiri.
__ADS_1
Bianca menatap punggung Devano dengan perasan bersalah. Dia mendekat dan dengan hati-hati mencoba menyentuh bahu Devano.
“Apa ada orang lain yang memberikanmu masukan hingga kamu ragu-ragu untuk menerima permintaanku untuk segera menikah ?” Tanya Devano dengan suara dingin masih dalam posisi membelakangi Bianca.
“Tidak !” Seru Bianca cepat. “Aku hanya takut,” sambung Bianca lagi.
“Takut ?” Ejek Devano dengan sinis. Posisinya sudah berbalik menatap Bianca dengan tatapan marah.
“Seperti dugaanku rupanya. Baru melihat kelakuanku 48 jam terakhir, kamu sudah berpikir kalau semua sikapku itu akan membuatmu terpenjara seumur hidupmu kalau kamu sampai menikah denganku.”
“Bukan begitu Devano !” Tukas Bianca sambil membalas tatapan Devano.
Bianca tidak sanggup saling menatap lama karena bukan hanya kemarahan yang terpancar dari mata Devano tapi juga luka karena keraguan dirinya.
“Seharusnya pertanyaanmu tadi kau tanyakan juga pada dirimu sendiri. Apa kamu benar-benar mencintai aku seperti 10 tahun yang lalu. Atau mungkin…”
Devano membuang mukanya dan tidak melanjutkan perkataannya.
“Bisakah kamu memberikan aku waktu, Devano ?” Lirih Bianca.
“Apa waktu 10 tahun masih kurang bagimu ?” Nada sinis Devano kembali terdengar dalam ucapannya.
“Kalau memang kamu tidak yakin padaku karena ada pilihan lain dalam hatimu, aku akan melepaskanmu.”
Devano hendak berlalu melewati Bianca, namun jemari lentii itu menahannya.
“Aku hanya minta waktu Devano. Aku benar-benar takut dan masih meyakinkan diriku bahwa ini semua kenyataan. Dua kali aku mencoba meyakinkan diri kalau kamu juga mencintai aku. Pertama waktu malam dimana kita bernyanyi bersama di Cafe Pelangi. Kamu tidak menolak permintaanku untuk bernyanyi bersama dan malam itu juga kamu tidak menolak aku genggam bahkan kamu membalas genggamanku. Tatapan matamu malam itu seakan memberikan jawaban atas pertanyaan hatiku tentang perasaanmu. Malam itu tiba-tiba aku yakin bahwa cintaku tidak bertepuk sebelah tangan. Tapi ternyata harapanku itu hanya mimpi karena setelah itu tidak ada kabar apapun darimu.”
“Aku sudah menjelaskan alasannya padamu !” Protes Devano dengan nada kesal.
“Aku tidak tahu kalau kamu tidak memberitahuku.” Balas Bianca dengan sedikit emosi.
Bianca menarik dan membuang nafas beberapa kali sebelum melanjutkan perkataannya. Diliriknya Devano, pria itu hanya diam tanpa memandangnya.
“Aku belajar melupakanmu, tapi kembali para sahabat dan orangtuamu meyakinkan aku bahwa perasaan kita sama. Bahkan orangtuamu sampai mengusahakan aku bisa bekerja denganmu meski tidak ada hubungannya dengan kuliahku. Berbekal dukungan mereka, aku memberanikan diri lagi membuka hati dan perasaanku padamu. Meski kamu tetap menolakku dengan sikap acuhmu bahkan sengaja terus memarahiku dan membuatku kesal. Akumasih berpikir kalau semua itu hanya untuk menutupi perasaanmu dan kamu terlalu gengsi untuk mengakuinya. Dengan keyakinan itu aku tetap bertahan hingga 3 bulan di sisimu.”
Bianca menjeda sejenak, menatap Devano yang masih membuang muka ke arah lain. Wajahnya masih memerah menahan marah tetapi matanya sudah tidak segalak tadi.
“Penolakanmu malam itu di pantai bahkan sampai kamu tega meninggalkan aku, membuat aku meyakinkan diriku bahwa kamu benar-benar tidak mencintaiku. Kalau memang kamu cinta padaku, dengan begitu banyak pihak yang mendukungmu, pasti kamu akan lebih yakin membuktikannya padaku. Hanya karena prinsipmu yang ingin berpegang teguh pada janjimu, kamu mengabaikan orang-orang di sekitarmu dan membuat mereka kecewa. Bahkan membuat kita sama-sama terluka.”
“Lalu sekarang apa yang kamu inginkan dariku.” Tanya Devano dengan nada datar dan dingin.
“Aku hanya minta waktu untuk meyakinkan diriku kalau keputusanku tidak akan membuat aku terbuai dalam mimpi untuk ketiga kalinya. Dan yakinkanlah juga dirimu, bahwa dalam pernikahan tidak akan berjalan dengan baik hanya karena kata ungkapan cinta, bukan sebatas pelukan dan ciuman atau perhatian. Tapi di atas semuanya, suami maupun istri membutuhkan kepercayaan dengan memberikan kesempatan pada pasangannya, terutama kesempatan untuk menjadi diri mereka sendiri. Dan kalau kepercayaan dan kesempatan bisa berjalan beriringan, maka kekuatan cinta suami istri akan semakin kuat dan tidak akan tergoyahkan dalam menghadapi badai rumahtangga.”
Bianca meraih lengan Devano dan meremasnya pelan. Dia bersyukur karena Devano tidak menepisnya meski tidak merespon balik. Pria kesayangannya itu juga tidak mau membalas tatapan Bianca.
“Ambillah waktu sebanyak yang kamu butuhkan.” Devano menurunkan jemari Bianca di lengannya. “Dan seperti kamu bilang, bahwa waktu itu akan menjawab semua keraguanmu. Supaya semua harapanmu bisa terwujud…..” Devano menjeda dan mengeluarkan handphone dari saku celananya.
“Aku akan menutup semua akses yang bisa menghubungkan kita.” Devano memencet tombol-tombol di handphonenya lalu memperlihatkan layar benda pipih itu di hadapan wajah Bianca.
“Aku sudah memblokir nomormu dan semua akun sosial mediamu dari handphoneku. Kita tidak akan saling mengetahui keadaan satu sama lain supaya tidak mengganggu keputusan apapun yang kamu ambil.”
Tanpa menunggu tanggapan dari Bianca, Devano berlalu meninggalkan Bianca yang masih galau dengan hatinya.
Bianca membalikkan badan dan tidak mau melihat kepergian Devano. Dia berharap apa yang dilakukannya tidak akan menciptakan penyesalan. Bianca menarik nafas dan membiarkan bulir air mata keluar dari kedua sudut matanya.
Lebih baik bicara pahit dulu sebelum memasuki pernikahan daripada menyesal dan akhirnya harus berpisah di masa depan.
Bianca sudah memantapkan diri melanjutkan pendidikan untuk mendapatkan gelar profesi sebagai psikolog. Bianca sangat membutuhkan dukungan Devano kalau sampai menikah dengannya supaya dia bisa tenang menjalankan profesinya.
“Semoga Tuhan menjadikan Devano sungguh jodohku. Maafkan aku Devano. Aku ingin menjadikanmu sebagai yang pertama dan terakhir serta satu-satunya lelaki yang berstatus suamiku.” Batin Bianca.
__ADS_1