
Sabtu jam 4 sore Bianca sudah di Cafe Pelangi. Biasa jadwal tes sound baru mulai jam 5, tapi Bianca sengaja datang lebih awal untuk bertemu teman-temannya yang menjadi pelayan cafe di sana
Sebagian dari mereka anak part time yang bekerja sambil kuliah sama seperti Bianca. Mereka sudah cukup lama di sana karena Kak Juan dan Kak Mitha, istri Kak Juan, adalah boss yang sangat baik. Meskipun sedikit galak, namun Kak Juan selalu memperhatikan para pegawainya.
Bianca berdiri di area dapur bagian persiapan sebelum dibawa ke tamu. Berhubung dia bukan lagi pelayan resmi di sana, Bianca tidak berani membantu di sekitaran meja kasir.
Keakraban di area dapur membuat Bianca sangat menikmati saat bekerja di sana meski badan capek dan sarat dengan pikiran karena saat itu papa Indra masih dirawat di rumah sakit. Bianca adalah pegawai termuda yang pernah menjadi part timer di Cafe Pelangi. Saat baru lulus SMA. Kalau saja bukan karena permintaan Mia, Kak Juan belum tentu menerimanya.
Tanpa terasa jam sudah pukul 06.45. Setelah melakukan cek sound dan latihan beberapa lagu baru dengan Mas Heri dan band nya, Bianca istirahat sejenak di sudut ruangan yang memang disediakan untuk pengisi acara.
Bianca sedang meneguk minuman jeruk nipis hangatnya saat tepukan di bahu menghentikannya.
“Bibi Bian.” Panggilan yang berupa bisikan terdengar di telinganya.
Uhuukkk uhhuukkk… Bianca tersedak saat mendengar suara itu di telinganya. Sosok itu menepuk-nepuk punggungnya membantu.
“Mia !” Bianca langsung berdiri dan setengah berteriak menatap sosok yang sekarang berhadapan dengannya.
“Kangen !” Ucapnya manja dan langsung memeluk tubuh sahabatnya yang tidak pernah ditemuinya 2.5 tahun ini.
“Bibi, Bian !” Mia ikut memeluk erat sahabatnya dengan suara kembali normal sedikit cempreng khas Mia.
“Duh, gue dilupain !” Protes sosok yang muncul di belakang Mia.
“Della !”
“Dedel !”
Mia dan Bianca memanggil bersamaan.
“Kangen …” Bergantian ketiganya mengucapkan kata yang sama sambil berpelukan bertiga.
“Wwoooiii gue juga mau kalo peluk-pelukan !” Teriak seseorang yang kembali berdiri dekat mereka.
“Arya !” Bianca langsung berucap dengan tatapan terkejut saat melihat sosok Arya berdiri di belakang Mia dan Della.
“Boleh nyelip nggak ikut pelukan ?”
“Modus !” Della memukul bahu Arya saat mereka sudah melerai pelukan.
“Aawww… sakit ! Elo masih jantan aja.” Arya meringis sambil mengelus bahunya.
“Apa lo bilang !” Della mendekat sambil bertolak pinggang dan melotot.
“Ampun guru !” Arya mengatupkan kedua tangannya sambil sedikit membungkukkan badannya pada Della.
Bianca dan Mia hanya tergelak melihat aksi keduanya.
“Jangan bilang elo undang anak-anak lagi hari ini di sini !” Bianca mendekat ke Arya sambil menatap penuh selidik.
__ADS_1
“Nggak !” Jawab Arya spontan. “Miskin gue keseringan traktir banyak orang di sini. Perantauan nih. Dikirimin pake rupiah, biaya hidup pake poundsterlling.”
“Ngaco !” Mia memukul bahu Arya. “Kalo seorang Arya sekarang miskin, apalagi kita, remahan rengginang doang.”
“Kenapa sih dua-duanya mukul bahu yang kanan doang. Satu kiri kenapa biar seimbang !” Gerutu Arya sambil mengusap-usap bahunya yang kembali dipukul oleh Mia.
“Bianca !” Kak Juan memanggil dari dekat panggung. Tangannya memberi kode agar Bianca segera bersiap untuk mulai pertunjukkan.
“Gue ke sana dulu guys.” Bianca melambai lalu menuju ke panggung.
Ketiga sahabatnya duduk di meja yang persis posisinya seperti dua setengah tahun yang lalu. Namun tidak seramai dulu. Hanya disediakan sepuluh bangku di sana.
Bianca mulai menyanyi lagu pertamanya dan ketiga sahabatnya memesan makanan. Saat Bianca menyelesaikan satu lagu, ketiga sahabat Arya datang juga. Ternyata Ernest yang juga pulang liburan ke Indonesia sempat satu pesawat dengan Mia.
Semacam reuni kecil kembali terulang di sana mirip dua setengah tahun yang lalu. Jam 8.15, Bianca berhenti bernyanyi untuk istirahat sejenak. Dia menghampiri meja para sahabatnya.
Bianca memperhatikan teman-temannya yang duduk dan asyik bercengkrama dan tanpa sadar kepalanya beredar mencari sosok yang tidak hadir di sana.
Arya yang memperhatikan gerakan tubuh Bianca mengerti kalau gadis itu mencari keberadaan Devano. Arya menarik nafas panjang. Dua setengah tahun berlalu dan perasaan Bianca belum berubah. Sementara Devano sendiri menolak saat Arya mengajaknya pulang liburan ke Indonesia. Beberapa kali Arya mengirim pesan dan meneleponnya tapi Devano selalu punya banyak alasan untuk menolaknya.
Bianca duduk di sebelah Della berseberangan dengan Joshua.
“Bi, kok sekarang lebih kelihatan cantik.” Goda Joshua sambil mengerling genit.
“Dih amit-amit kelakuan elo !” Della melempar kentang goreng ke arah muka Joshua sambil mencibir.
“Jorok !” Joshua melotot kesal. Tapi kentang yang jatuh di piringnya diambil juga dan dimakannya.
“Tapi memang bener juga kata Joshua,” Ernest buka suara. “Elo kelihatan beda dengan yang kita lihat pas SMA.”
Wajah Bianca menjadi memerah merasa tidak enak dengan pujian Joshua dan Ernest.
“Gue sama aja kecuali rambut jadi pendek. Ada juga dia nih,” Bianca menunjuk pada Mia. “Tambah cantik udah kayak bule beneran.”
“Bulepotan,” cibir Ernest. “Kuliah keren di Australia kelakuan tetep minus.”
“Ah elo aja yang sok jaim !” Tukas Mia sambil melotot menatap Ernest. Cowok yang ditatap balas mencibir.
“Loh jadi kalian satu kampus ?” Tanya Leo.
“Nggak !”
“Iya !”
Keduanya menjawab bersamaan dengan jawaban berbeda. Mia bilang tidak dan Ernest menjawab iya dengan kesal.
“Waahh ternyata jodoh nggak lari kemana ya !” Joshua mulai mengeluarkan jurus isengnya sambil bertepuk tangan.
“Ogah gue jodohan sama dia !” Mia mencibir.
__ADS_1
“Siapa juga yang mau sama elo !” Ernest memajukan wajahnya sambil melotot.
“Fixed ini mah jodoh akut !” Leo menimpali sambil tertawa.
“Awas jangan kelamaan saling melotot nanti cinta sampai bucin lagi.” Della tertawa sambil menyenggol bahu Mia.
Keduanya terdiam dan kembali mencoba fokus ke makanan mereka dengan saling mengumpat kesal.
Arya hanya tertawa tanpa berkomentar apa-apa. Sebetulnya dia lebih sibuk memperhatikan Bianca yang hanya ikut tertawa tanpa bersuara.
Candaan itu terhenti saat seseorang tiba-tiba berdiri di belakang Bianca dan menyorongkan seikat rangkaian bunga mawar merah di depan wajah Bianca.
Semuanya langsung diam dan menatap sosok yang terlihat dalam keremangan. Bianca tersentak. Jantungnya berdegup semakin kencang. Hatinya penuh tanda tanya dan berharap seseorang yang dicarinya akan dilihatnya saat membalikkan tubuhnya.
Jantungnya semakin berdegup saat aroma mawar merah menyeruak memenuhi indra penciumannya. Tubuhnya sempat merasa panas dingin. Bianca mengambil rangkaian bunga di depannya dan masih merasakan sebuah tangan bertumpu di bahunya.
Bianca menjauhkan sedikit rangkaian bunga yang sudah digenggamnya dan bersiap memutar badannya. Hidungnya yang sudah menjauh dari aroma bunga mawar mulai menangkap aroma khas seseorang yang berdiri di belakangnya.
“Revan !” Joshua yang paling pertama memanggil sosok itu.
Bianca yang sudah bisa menangkap wangi khas sosok di belakangnya merasa kecewa. Sebelum Joshua menyebut namanya, Bianca sudah bisa menebak siapa yang datang.
Bianca tidak jadi bangun, hanya menoleh dan mencoba bersikap biasa sambil tersenyum.
“Kok tumben ?” Tanyanya saat menatap sosok Revan yang masih berdiri di belakangnya.
Revan tersenyum lalu menarik kursi yang masih kosong di ujung meja diapit Joshua dan Bianca.
Arya menatap Revan dengan sedikit rasa tidak suka. Sangat terlihat dari perilakunya kalau cowok itu menaruh rasa suka pada Bianca dan sedang melancarkan usahanya.
Revan langsung meminta menu dan memesan makanan. Suasana yang sempat tegang karena mendapati sosok Revan yang tiba-tiba muncul apalagi sampai memberikan Bianca rangkaian bunga membuat yang hadir di sana bertanya-tanya dalam hatinya.
Mia dan Della sempat menatap tajam ke arah Bianca seolah berkata mereka pinta penjelasan. Bianca menggeleng pelan. Dia sendiri tidak menduga kalau Revan akan datang bahkan sampai membawa rangkaian bunga. Dua tahun cowok itu mendekati Bianca namun belum sekalipun datang saat Bianca tampil.
“Elo hutang penjelasan sama kita !” Bisik Della.
Revan yang sudah memesan makanan membuka obrolan dengan teman-teman mantan tim basket SMA Dharma Bangsa. Perbincangan mereka seputar masal SMA dan dunia kuliah. Tanpa terasa 45 menit berlalu, Bianca harus kembali ke panggung untuk menyelesaikan tugasnya sebagai penyanyi malam itu sampai jam 10 malam.
Cafe tutup sampai jam 12 malam khusus di hari Jumat dan Sabtu karena pengunjung lumayan ramai di hari itu.
Bianca melantunkan beberapa lagu yang sudah disiapkan dan juga lagu-lagu permintaan pengunjung.
Matanya sempat beberapa kali mencuri pandang ke arah meja para sahabatnya. Beberapa kali matanya bertatapan dengan Arya. Sementara Revan yang sudah menyelesaikan makannya, memutar kursi menghadap panggung. Tatapannya fokus memandang Bianca dengan senyuman dan sekali-sekali bertepuk tangan atau mengacungkan jempolnya.
Bianca merasa tidak enak diperlakukan demikian.
Arya menatap kelakukan Revan sambil beberapa kali mengerutkan dahinya dan wajahnya sedikit kesal. Sementara Mia dan Della saling berbisik mempertanyakam hubungan Bianca dan Revan.
Bianca menarik nafas panjang setelah menyelesaikan lagu terakhirnya. Dia mendekati Mas Heri dan teman-temannya untuk mengucapkan terima kasih karena sudah mengiringinya malam ini.
__ADS_1
Hatinya tidak menentu. Berharap kejutan hari ini diberikan oleh sosok yang masih dirindukannya. Ternyata justru Van lain yang memberinya kejutan. Sungguh kejutan yang benar-benar mengejutkan !