
Proses ujian masih terus berlanjut dan sekarang adalah masa Ujian Sekolah. Perjuangan terakhir anak-anak kelas 12 di penghujung masa putih abu-abu mereka.
Hari ini sebagian siswa yang berminat masuk PTN mengikuti SNMPTN di sekolah, dan sebagian lagi yang sudah memutuskan masuk Perguruan Tinggi Swasta diberi kesempatan untuk istirahat di rumab.
Jam dinding menunjukkan pukul 11.45. Bianca hanya seorang diri ikut ujian tersebut karena Mia sudah pasti meneruskan kuliah di Australia sedangkan Della sudah diterima di salah satu universitas swasta di Jakarta jurusan hukum. Bianca memeriksa kembali soal-soal yang terpampang di layar laptop di depannya.
“Bianca.” Bu Yuli memanggil pelan dan sudah berdiri di sampingnya.
“Kamu sudah selesai ?” Bu Yuli menepuk bahu Bianca pelan.
“Sudah Bu,” Bianca menjawab sambil menoleh ke arah Bu Yuli yang sekarang sudah berdiri di depan mejanya.
“Submit dulu ujian kamu setelah itu log out.”
Bianca sempat menautkan alisnya dengan pandangan bingung menatap Bu Yuli. Diliriknya jam dinding yang ada di tembok sebelah papan tulis. Waktu ujian masih sampai 12.15, tapi kenapa Bu Yuli memintanya menyelesaikan ujiannya sekarang. Bu Yuli hanya mengganggukan kepala sambil tersenyum, seolah menjawab tatapan Bianca yang terlihat bingung. Bianca segera melakukan yang diminta Bu Yuli lalu membereskan peralatan sekolahnya.
“Ikut saya,” Bu Yuli berbalik badan dan mulai melangkah.
“Terima kasih Pak,” Bu Yuli menganggukan kepala kepada Pak Arman yang bertugas menjadi pengawas.
Bianca mengikuti Bu Yuli dan ikut mengganggukan kepala ke Pak Arman.
“Saya permisi Pak.” Pak Arman hanya membalas dengan anggukan juga sambil tersenyum tipis.
“Bu, ada apa ya ?” Bianca bertsnya sambil mengikuti langkah Bu Yuli.
“Pak Kepala Sekolah minta kamu pergi ke suatu tempat, nanti saya temani dengan mobil sekolah.”
Bianca mengerutkan keningnya sambil bertanya-tanya dalam hatinya. Ada sedikit rasa deg deg kan menyelimuti hatinya. Namun tanpa banyak bertanya apa-apa, Bianca mengikuti Bu Yuli ke parkiran dan memasuki mobil operasional sekolah yang sudah siap dengan Pak Min sebagai sopirnya. Ternyata sudah ada Pak Edi menunggu duduk di kursi sebelah Pak Min.
Sepanjang perjalanan tidak ada yang berbicara, hanya sekali-kalo Pak Edi memberikan arahan jalur yang harus diambil oleh Pak Min.
30 menit kemudian mobil memasuki area rumah sakit.
Deg
Perasaan Bianca langsung bertambah resah dan tidak enak. Pak Min menghentikan mobilnya di depan lobby.
“Bu, kita mau nengok siapa ?” Bianca menahan lemgan Bu Yuli sebelum gurunya itu turun setelah membuka pintu mobil.
Pak Edi sudah turun duluan.
“Turun saja dulu Bianca.” Bu Yuli tersenyum tipis dan menepuk punggung tangan Bianca yang memegang lengannya.
__ADS_1
Bianca menurut dalam diam dengan perasaan tambah gelisah. Dia menggeser duduknya dan turun dari pintu di sisi Bu Yuli. Bertiga mereka memasuki rumah sakit dan mengikuti langkah Pak Edi yang berjalan di depan menuju IGD.
Bianca langsung lemas saat melihat mama Lisa dan Bernard duduk di kursi ruang tunggu depan ruangan IGD. Bernard masih memakai seragam sekolahnya juga. Tangannya merangkul bahu mama Lisa yang masih menangis.
Bianca mempercepat langkahnya mendahului Bu Yuli dan melewati Pak Edi menghampiri mama Lisa dan Bernard.
“Ma,” panggilnya pelan. Tak dapat menahan lagi air mata yang mulai menetes di ujung matanya.
“Bi,” mama bangun dan langsung memeluk Bianca.
“Papa kenapa ma ? Papa baik-baik aja kan ?” tetesan air mata Bianca tambah deras.
“Papa kristis, kak,” Bernard bangun dan menjawab pertanyaan Bianca sambil menepuk-nepuk bahu kakaknya pelan.
“Kok bisa ma ?” Bianca melerai pelukan mama Lisa dan menatap wajah mamanya yang hanya sesunggukkan menangis sambil menunduk.
Pak Edi dan Bu Yuli yang sudah menyusul Bianca hanya berdiri diam menyaksikan semuanya.
“Selamat siang nona,” seorang pria berusia sekitar 40 tahunan dengan pakaian khas kantoran lengkap dengan dasi mendekati mereka.
“Perkenallan saya dengan Hendra dari perusahaan tempat Pak Indra bekerja.” Pria yang bernama Hendra itu mengulurkan tangannya ke Bianca.
“Saya Bianca, anak papa Hendra yang paling besar,” Bianca menyambut uluran tangan pria itu sementara tangan kirinya menghapus sisa-sisa air mata di ujung matanya.
Bianca mengerutkan dahinya. Sepanjang yang Bianca tahu kalau papa Indra bertugas di divisi keuangan, kenapa bisa sampai ikut ke lokasi proyek ?
“Ceritanya panjang nona,” Pak Hendra berusaha menjawab ekspresi Bianca yang penuh tandatanya.
“Perusahaan akan bertanggungjawab penuh atas kecelakaan yang menimpa Pak Indra.” Lanjut Pak Hendra kembali.
“Semoga semua baik-baik saja,” gumam Bianca pelan sambil melirik ke arah mama Lisa yang masih menangis pelan dalam pelukan Bernard.
“Keluarga pasien Pak Indra,” seorang suster yang keluar dari ruang IGD memanggil keluarga papa Indra.
“Saya anaknya, Suster,” Bianca segera menghampiri perawat tersebut sementara Bernard sudah melerai pelukannya dan mama Lisa perlahan menghapus air matanya dengan tissue.
“Bagaimana keadaan papa saya, Suster ?”
“Pak Indra masih belum sadar, dek. Sementara akan dipindahkan ke ruang ICU karena masih memerlukan pemantauan lebih lanjut.”
“Apa boleh kami bertemu, Suster ?”
“Sementara belum dapat ditemui, mungkin nanti agak sore atau atas seijin dokter. Saya permisi dulu,”
__ADS_1
Perawat tadi kembali masuk ruang IGD. Kira-kira 10 menit kemudian, brankar dimana papa Indra diletakkan dibawa keluar menuju ruang ICU di lantai 2.
Bianca segera mengikuti langkah para petugas yang membawa. Disusul dengan mama Lisa yang berjalan sambil dirangkul oleh Bernard bersisian dengan Pak Hendra. Di paling belakang Pak Edi dan Bu Yuli ikut menyusul.
Bianca merasakan kesedihan yang luar biasa saat melihat kondisi papa Indra yang penuh terpasang alat-alat kesehatan dengan 2 kantong infus yang berbeda warna menggantung di tiang. Rasanya ingin menangis meraung-raung tapi dia sadar bahwa kelemahannya akan membuat mama Lisa semakin terpuruk. Posisinya sebagai anak sulung harus kuat dan tegar meski menangis penuh kecemasan dalam hatinya.
Setelah papa Indra masuk ke ruang ICU, seorang dokter menghampiri mereka.
“Keluarga Pak Indra ?” Tanya dokter sambil menatap Bianca yang setia berdiri dekat pintu masuk ruang ICU.
“Bagaimana kondisi papa saya, Dok ?” Bianca menatap penuh kecemasan.
Bernard yang masih merangkul mama Lisa berjalan mendekat menghampiri Bianca.
“Kondisi lukanya cukup parah, 3 bagian tulang lehernya ada yang patah. Jadi kemungkinan kalau memang Pak Indra bisa melewati masa kristisnya, kemungkinan beliau akan mengalami kelumpuhan.”
Mama Lisa terkejut dan menutup mulut dengan tangannya dan kembali meneteskan air mata membuat Bernard mengeratkan ramgkulannya sambil mengusap-usap bahu mama Lisa. Anak kelas 10 itu akhirnya tidak mampu menahan juga rasa sedihnya. Ada tetesan air mata keluar dari sudut matanya. Bianca sendiri menggigit bibir bawahnya setelah mendengar penjelasan dokter. Air matanya ikut keluar lagi namun ditahannya agar jangan sampai terlalu berlebih agar mama Lisa tidak semakin terpuruk.
Bu Yuli yang melihat itu segera merangkul Bianca dan mengusap-usap bahunya.
“Menangislah kalau kamu ingin menangis,” tutur Bu Yuli pelan. Bianca menoleh dan menatap Bu Yuli dan hanya menggangguk pelan dengan deraian air mata yang bertambah deras.
“Kami doakan yang terbaik untuk papa kamu, Bianca.” Pak Edi ikut menghampiri dan menepuk-nepuk bahu Bianca.
Setelah memberikan penjelasan, dokter tadi mohon pamit dan membiarkan mereka masih berkumpul di ruang tunggu depan ICU.
“Nona, jangan sungkan-sungkan menghubungi saya apabila ada yang dibutuhkan.” Pak Hendra menghampiri Bianca dan menyerahkan selembar kartu nama pada Bianca.
“Terima kasih Om,” Bianca mengangguk pelan.
Pak Edi dan Bu Yuli akhirnya memaksa Bianca, mama Lisa dan Bernard untuk makan siang dulu. Semula Bianca dan mama Lisa menolak dan ingin tetap tinggal di ruang tunggu.
“Bu, tetap jaga kesehatan supaya bisa menemani bapak,” tutur Pak Edi.
“Iya ma, kak Bi. Kalau kalian sakit mana bisa menjaga papa yang membutuhkan kita.” Bernard menimpali.
Akhirnya setelah drama singkat dan bujukan dari Bernard, Bu Yuli dan Pak Edi baik Bianca maupun mama Lisa mau juga diajak makan siang bersama si kantin rumah sakit.
Selesai makan dan diskusi bersama akhirnya disepakati kalau Bernard akan pulang dulu dengan mama Lisa untuk mengambil pakaian dan kebutuhan lain sementara Bianca tetap menunggu di rumah sakit. Nanti sore Bernard dan mama Lisa kembali dan malamnya Bernard akan berjaga sendirian. Anak bungsu dan saat ini satu-satunya laki-laki andalan keluarga bersikeras melarang mama dan kakaknya berjaga di waktu malam.
Akhirnya Bernard dan mama Lisa pulang diantar mobil sekolah sementara Bianca kembali ke ruang tunggu yang disiapkan untuk keluarga pasien ICU.
Hai readers…
__ADS_1
Mohon dukungannya untuk memberikan like, vote dan komen untuk karya pertama saya di noveltoon yaaa…