
Arya terlihat bolak balik gelisah sebelum masuk ke area check-in bandara. Beberapa kali matanya beredar berharap melihat sosok Bianca tiba-tiba muncul mendatanginya.
Handphone Bianca aktif namun tidak ada satupun pesan yang terbaca, ditelepon pun tidak diangkat. Menghubungi Mia dan Della malah lebih parah karena langsung masuk ke kotak suara.
“Ar, sudah waktunya masuk. Sudah ada panggilan.”
Devano menepuk bahunya membuat Arya menghentikan kepalanya yang terus memutar ke segala arah.
“Tapi dia janji bakalan datang, Van.”
“Mungkin ada halangan yang menbuatnya tidak bisa memenuhi janjinya.”
“Bianca bukan model orang yang menghilang tanpa kabar, Van. Bahkan Mia dan Della juga nggak bisa dihubungi.”
Devano menepuk-nepuk pelan bahu sahabatnya. Kedua orangtua mereka mendekat karena panggilan untuk penerbangan mereka sudah menggema.
Devano dan Arya akan satu pesawat sampai Singapura. Keduanya diminta menemui Opa Ruby di sana, ada hal penting yang Opa Ruby ingin bicarakan di sana. Tapi perihal apa, baik Devano, Arya maupun kedua papa mereka tidak ada yang tahu permasalahannya.
Keduanya bergantian memeluk papa dan mama masing-masing kemudian bertukar tempat. Setelahnya berpamitan dengan pelukan pada Joshua, Ernest dan Leo yang ikut mengantar. Ernest sendiri baru berangkat minggu depan.
“Jangan lupa hubungin kita-kita kalo pas liburan ke Jakarta.” Joshua memeluk Devano sambil menepuk punggung sahabatnya.
“Elo juga, Bro !” Sekarang giliran Joshua memeluk Arya.
“Kayak elo nanti kagak pada sibuk aja kalo udah kuliah apalagi udah pada punya cewek.” Arya mencibir lalu tertawa.
Dan setelah adegan pamitan dengan semua yang mengantar, Devano, Arya dan Om Hendra memasuki pintu kaca menuju ruang tunggu di dalam.
Devano, Arya dan Om Hendra duduk di ruang tunggu sampai pintu menuju pesawat di buka. Masing-masing sibuk dengan handphonenya.
“Om,” panggil Arya. “Om punya nomor teleponnya Tante Lisa ?”
Arya baru teringat kalau selama ini Om Hendra menjadi wakil perusahaan untuk mengurusi masalah kecelakaan papa Indra. Sudah pasti Om Hendra punya nomor telepon mama Lisa.
“Ada. Memangnya kenapa ?”
“Boleh minta Om ? Daritadi aku hubungi Bianca nggak ada respon sama sekali.”
Om Hendra berusaha menutupi keraguannya. Pikirannya melayang pada ucapan Bianca supaya tidak memberitahu berita tentang meninggalnya Pak Indra, papa Bianca. Dengan sifat Arya, sudah pasti cowok itu bisa membatalkan keberangkatannya bahkan mungkin merubah rencana kuliahnya jadi di Indonesia.
“Om,” panggil Arya yang melihat Om Hendra hanya memandangi layar handphonenya saja.
“Eh iya,” Om Hendra sedikit gelagapan. “Sorry tadi lagi mikir kerjaan yang ditinggalkan. Sebentar Om kirim nomornya ya.”
Om Hendra mencari nama Ibu Lisa - Indra di layar handphonenya dan mengirimkannya ke handphone Arya dengan ekspresi sedikit ragu. Devano yang duduk persis berseberangan dengan Om Hendra sempat mengerutkan dahinya melihat keraguan pada Om Hendra.
__ADS_1
“Thanks Om.” Arya membuka pesan yang baru saja masuk di aplikasi handphonenya.
Disimpannya nomor panggil mama Lisa dan tidak lama langsung diteleponnya.
Om Hendra yanh duduk persis sebelah Arya berusaha menutupi kecemasannya dengan sibuk dengan benda pipih itu di tangannya.
“Semoga Ibu Lisa tidak mengangkat teleponnya.” Batin Om Hendra.
Arya terlihat tidak sabar dan sedikit kesal karena panggilan ke mama Lisa juga tidak mendapatkan respons apapun. Bahkan pesan yang dikirimnya lewat aplikasi hijau hanya centang 1.
Tidak lama pintu menuju pesawar dibuka dan petugas meminta para penumpang mulai memasuki pesawat. Ketiganya yang memang memegang tiket kelas bisnis mmendapat giliran pertama.
“Huufftt.” Arya menarik nafas panjang dan kesal karena sampai dia duduk dalam pesawat masih belum bisa menghubungi Bianca bahkan lewat nomor mama Lisa.
“Sudahlah,” Devano yang duduk di sebelah Arya mencoba menenangkannya.
“Kamu bisa menghubunginya kembali setelah kita sampai di Singapura.”
Arya meniup wajahnya sendiri dengan perasaan kesal.
“Tapi apa yang mau disampaikan ke Bianca kan penting, Van. Kamu nggak merasa gimana gitu ?”
Arya menatap wajah sahabatnya yang sedang membuka-buka majalah yang ada di bangku pesawat dengan ekspresi datar.
“Terus dengan kesal dan marah-marah begini apa ada solusinya ?” Devano menoleh sekilas.
“Mungkin belum jodohnya.”
Arya menatap kesal sahabatnya yang bersikap biasa saja. Dan akhirnya Arya pun mengganti mode handphonenya ke gambar pesawat. Pandangannya mengarah ke luar jendela.
“Selamat tinggal Jakarta.” Gumamnya pelan.
“Gue bakal uber elo Bianca sampai bisa menjelaskan kenapa bisa batalin janji elo hari ini !” Batin Arya.
Sementara itu suasana di rumah duka tampak mengharukan. Kedua orangtua Devano dan Arya datang melayat sepulang dari bandara.
Sesuai pesan yang disampaikan oleh Om Hendra, baik orangtua Devano ataupun Arya tidak memberitahukan kepada Ernest, Leo atau Joshua.
Mulanya mama Angela protes keras karena mulutnya tidak mampu menahan untuk memberitahukan berita duka itu pada anaknya. Namun dicegah dan diberi pengertian oleh papa Harry. Apalagi ditegaskan oleh papa Himawan kalau itu adalah permintaan dari Bianca langsung.
Baik Devano maupun Arya akan diberitahu setelah keduanya sampai di negara tujuan masing-masing.
“Turut berdukacita Lisa.” Mama Angela langsung memeluk tubuh mama Lisa dengan erat dan mengelus punggung wanita itu.
“Kamu yang sabar dan kuat ya.” Ucapnya kembali setelah melerai pelukan mereka.
__ADS_1
Mama Deasy pun memeluk mama Lisa dengan tidak kalah eratnya, bahkan ikut meneteskan air mata.
“Indra adalah seorang yang baik dan bertannggungjawab,” tutur mama Deasy. “Terima kasih karena telah menolong Arya.”
“Terima kasih, Bu Deasy.” Mama Lisa yang masih menitikkan airmata mengangguk lemah.
“Saya sudah ikhlas melepasnya. Indra akan melakukan hal yang sama sekalipun itu bukan Arya.”
Papa Himawan dan Papa Harry ikut memberikan ucapan belasungkawa tanpa pelukan. Papa Himawan tampak begitu sedih mengingat papa Indra adalah salah satu orang kepercayaannya yang sangat bertanggungjawab. Papa Indra sudah menjadi karyawan di perusahaannya lebih dari 17 tahun sebelum Bianca lahir.
Di dekat peti jenazah Bianca masih berdiri menatap papa Indra yang terlihat seperti tidur tanpa alat-alat medis yang terpasang. Air matanya tidak berhenti memandang wajah papa Indra sambil sekali-sekali mengelus tangan sang papa yang memakai sarungtangan putih.
Mama Angela dan mama Deasy mendekatinya dan merangkulnya penuh kasih sayang.
“Kamu yang kuat sayang.” Mama Angela mengelus punggung Bianca dengan penuh cinta. Air matanya ikut menetes melihat wajah Bianca yang begitu pucat dan terlihat sangat kehilangan.
Bianca hanya mengangguk pelan dan tangannya membalas pelukan mama Angela dengan erat. Gadis itu semakin kencang menangis dalam pelukan mama Angela.
Hari ketiga akhirnya jenazah papa Indra dimakamkan di rumah peristirshatan terakhirnya. Mama Lisa dan Bernard sudah duluan meninggalkan makam menuju mobil yang membawa mereka. Mereka berdua terlihat lebih kuat dan ikhlas menghadapi kepergian papa Indra.
“Pa, Bibi kangen sama papa.” Bianca mengelus nisan kayu dengan berderai air mata.
“Kita nggak jadi jalan berdua setelah Bibi lulusan. Kita nggak jadi kencan seperti kata papa.”
Bianca semakin sesunggukan di pinggir gundukan tanah merah yang masih basah dan bertabur bunga itu sambil berjongkok.
“Bianca.” Suara panggilan papa Harry memanggilnya sambil menepuk bahu Bianca.
“Kamu harus kuat, nak !” Papa Harry mengulurkan tangannya mengajak Bianca beranjak dari tempatnya.
Bianca mendongak dengan mata penuh derai airmata. Ragu-ragu dia melihat uluran tangan papa Harry yang kemudian mengganggukan kepala sambil tersenyum.
Bianca meraih uluran tangan papa Harry dan beranjak bangun. Papa Harry memeluk tubuh Bianca layaknya seorang ayah kepada anaknya, membuat tangis Bianca kembali pecah. Tidak ada kalimat yang keluar dari keduanya, papa Harry mengusap punggung Bianca penuh kasih sayang.
“Kita pulang ya ?” Papa Harry melerai pelukannya
. “Kamu harus kuat, sudah besar sekarang.” Papa Harry mengambil saputangan dari saku celananya dan mengusap pelan wajah Bianca yang basah.
“Ingat masih ada mama dan Bernard yang membutuhkan kamu.” Ditatapnya mata Bianca yang penuh kesedihan.
“Yuk kita pulang, kasihan mama dan adik kamu. Mereka butuh istirahat.” Papa Harry menggandeng tangan Bianca dan mulai melangkah meninggalkan makam. Bianca mengikutinya dan membiarkan tangannya digenggam.
Beberapa langkah kemudian Bianca menghentikan langkahnya dan melepaskan genggaman papa Harry. Dia membalikkan badan dan menatap kembali makam papa Indra.
“Selamat tinggal papa. Papa tidak akan sendirian dan kesepian karena akan selalu ada di hati kami.” Ucapnya pelan sambil menahan air matanya.
__ADS_1
Bianca berbalik dan papa Harry kembali menggandengnya dengan penuh kasih sayang.