Bukan Mantan Pacar

Bukan Mantan Pacar
Bab 90 Jangan Sampai Menyesal


__ADS_3

Devano membawa Bianca ke salah satu tempat sepi depan pintu darurat.


Bianca ingin langsung memeluk Devano karena perasaan rindu yang memenuhi hatinya. Namun ditahannya. Karena selain berada di tempat umum, sikap Devano masih terlihat dingin.


“Kamu mengikuti aku ?” Devano memicingkan matanya.


“Nggak. Aku malah nggak tahu kalau kamu ada di sini.”


“Terus kamu tadi bilang nggak sendirian. Sama siapa ? Desta ?” Terdengar nada sinis dalam ucapan Devano.


Bianca menarik nafas panjang, menahan perasaannya yang mendadak kesal.


“Memangnya kenapa kalau aku sama Desta ? Kamu sendiri pergi sama Nindi. Aku kamu ? Sudah merubah panggilan kalian juga ?”


Devano menahan diri untuk tidak tertawa melihat ekspresi Bianca yang terlihat kesal. Hidungnya kembang kempis menahan emosi. Ada sedikit kebahagiaan karena merasa sedang dicemburui oleh Bianca.


“Jadi kamu beneran sama Desta ?” Devano menatapnya dengan wajah datar dan dingin.


Selain menahan ingin mencubit pipi Bianca, Devano berusaha menekan rasa cemburunya yang mulai menjalar perlahan. Namun dia berusaha menekannya dan tidak akan membiarkan Bianca mengetahui


kecemburuannya.


“Minggir !” Bianca mendorong tubuh Devano, namun tidak bergeser sama sekali.


Namun akhirnya Devano memberikan jalan pada Bianca yang bersungut-sungut kesal.


“Kamu cemburu ?” Devano mensejajarkan langkahnya di samping Bianca.


Bianca menghentikan langkahnya dan menoleh menatap Devano dengan wajah emosi.


“Kenapa ? Kamu keberatan ? Kalau buat kamu waktu yang kuminta adalah kesempatanmu untuk mencoba pacaran dengan perempuan lain, silakan saja.”


“Yakin kamu rela ?” Devano menahan lengan Bianca yang sudah berbalik dan mulai melangkah. Bianca menatap Devano yang bersikap biasa-biasa saja.


Bianca mendengus kesal dan menghentakkan lengan Devano. Hatinya mendadak sangat panas melihat Devano dan Nindi tadi. Aku kamu ? Bianca mencebik. Menyebalkan !


Sementara itu Devano menarik kedua ujung bibirnya


“Dasar perempuan pencemburu ! Bilang katanya aku cowok posesif, pencemburu dan protektif. Sepertinya kamu punya sifat yang sama juga denganku.” Batin Devano.


Bianca bergegas memasuki cafe xx. Mama Angela dan Mama Lisa masih asyik mengobrol di mejanya.


“Kok kamu lama banget j ke toiletnya, Bi ?” Tanya mama Lisa begitu Bianca kembali duduk di kursinya.


“Tadi nggak sengaja ketemu teman SMA, Ma.” Jawab Bianca dengan senyum terpaksa.


“Tidak mungkin juga bilang pada Tante Angela kalau tadi aku bertemu Devano.” Batin Bianca.


“Kalau begitu kita jalan-jalan sebentar bagaimana, Bi ?” Tanya mama Angela. “Mau pulang sekarang sepertinya bakal kena macet parah.”


Bianca melirik jam tangannya. Jam 5.45. Memang jalanan di sekitar mal pasti padat saat jam pulang kantor.


Bianca menoleh pada mama Lisa menanyakan ajakan mama Angela dengan tatapan matanya.


“Terserah kamu aja, Bi.” Jawab mama Lisa.


Bon makanan dan minuman sudah diselesaikan mama Angela sebelum Bianca kembali dari toilet, jadi ketiganya langsung beranjak bangun.


Sampai di depan pintu cafe, Mama Angela yang berjalan paling depan, berpapasan dengan Devano yang akan memasuki cafe.


“Loh Devan, kamu di sini juga ?” Mama Angela terlihat terkejut mendapati putranya ada di tempat yang sama.


“Habis meeting, Ma. Ini mau lanjut makan malam dulu.” Devano juga terkejut karena melihat ada Bianca di belakang mamanya.


“Kamu sendiri ? Nggak sama Dimas ?” Pertanyaan Mama Angela tidak dijawab oleh Devano yang langsung menyapa mama Lisa.


“Sore Tante,” Devano mengangguk sekilas sambil tersenyum saat melihat ada mama Lisa di dekat situ


“Mamanya doang, anaknya nggak ?” Goda mama Angela.


“Anaknya udah disapa tadi habis dari toilet,” jawab Devano santai.


“Oooo jadi tadi kamu ketemu teman SMA kamu yang ini, Bi ?” Gantian mama Lisa menggoda Bianca.


Bianca terlihat malu-malu tapi masih kesal dengan Devano, apalagi mengingat kedatangan Devano ke cafe untuk menemani Nindi makan malam. Biarpun ada Dimas di antara mereka, rasanya tidak rela. Tidak bisa terhapus perlakuan Nindi padanya saat masih SMA


“Jadi mau jalan-jalan dulu, Tante ?” Bianca mengalihkan pembicaraan.

__ADS_1


“Jadi. Ayo !” Mama Angela mengangguk. “Eh Van, nanti kamu pulang sama siapa ? Bisa anter Bianca dan mamanya sekalian ?”


“Tidak usah Tante,” Bianca langsung menjawab sebelum Devano bicara. “Saya sama mama nanti naik taksi online saja.”


“Tuh kan mama dengar sendiri.” Ucap Devano sambil tersenyum sinis pada Bianca. “Lagian aku sudah janji akan mengantar teman. Nggak enak kalau batalin mendadak.”


“Kamu tuh ya, sama calon istri kok kayak gitu,” omel mama Angela. Devano menggaruk tengkuknya.


“Yuk Tante, nanti kemalaman.” Bianca menggandeng lengan mama Angela dan meninggalkan Devano.


Hampir jam 10 malam Bianca dan mama Lisa sampai di rumah, diantar oleh mama Angela dan sopirnya. Entag bagaimana cerita Nindi dan Devano.


Bianca bergegas ke kamarnya karena ingin segera mandi. Badannya merasa lengket karena sudah keluar sejak pagi.


Selesai mandi, Bianca merebahkan dirinya di atas kasur dan menatap langit-langit kamar.


Dia merutuki dirinya yang tidak mampu menahan emosi saat melihat Nindi bersama Devano. Dan panggilan aku kamu itulah yang langsung menyulut rasa kesal di hatinya bagaikan bensin tersiram api.


Bianca memejamkan matanya berharap kerinduannya pada Devano akan berkurang. Hingga akhirnya rasa lelah mengantarnya ke alam mimpi.


Seperti biasa Bianca sudah bangun setiap pagi dan membantu mama Lisa di dapur.


Wangi nasi goreng ebi pedas masakan mama Lisa membuat perut Bianca mendadak lapar. Apalagi setelah diingat-ingat, kemarin saat di cafe, Bianca hanya minum segelas es cokelat dan kentang goreng.


“Kamu mau bawain ini buat Devano ?”


“Maksud mama ?”


“Ya kamu bawain ke kantornya Devano. Kemarin mamanya cerita kalau Devano itu paling suka nasi goreng.”


“Kalau Devano nggak mau terima ?”


Mama tertawa pelan. Tangannya menyendok nasi goreng ke dalam kotak bekal.


“Memangnya waktu yang diberikan sama Devano untukmu masih belum cukup ?” Goda mama.


“Kok mama tahu ?” Bianca mengernyit. “Terbukti kalau jaringan Tante Angela memang top. Paling-paling Kak Dimas sumbernya.” Bianca tergelak.


“Udah sana anterin dulu.” Mama Angel menyodorkan tas bekal yang sudah diisi sekotak nasi goreng.


“Biar kalau Devano kepedasan, bisa makan pisang untuk mengurangi rasa pedasnya.”


“Aku belum pesan ojol.” Bianca mengambil handphonenya dan membuka aplikasi pemesanan online.


40 menit kemudian Bianca sudah berdiri di depan gedung milik keluarga Wijaya.


Bianca melirik jam tangannya. Jam 7.20. Masih ada waktu sebelum kuliah jam pertama yang dimulai pukul 09.15.


Bianca langsung menghampiri satpam karena meja resepsionis masih kosong. Jam kantor memang baru dimulai pukul 08.00.


“Pagi, Pak. Maaf saya mau menanyakan apa Pak Devano sudah tiba di kantor ?”


“Sepertinya belum.”


“Kalau begitu saya tunggu di sana saja, Pak.” Bianca menunjuk sofa yang ada di sisi kanan pintu masuk.


Bianca melewati waktu sambil membuka sosial media di handphonya. Sesekali dia tersenyum atau tertawa pelan saat melihat tampilan yang keluar di aplikasi yang sedang dibukanya.


Bianca melirik jam tangannya. Jam 8.20. Belum ada tanda-tanda kedatangan Devano. Biasanya selama Bianca bekerja magang di situ, Devano tidak pernah datang ke kantor lebih dari jam 8.


Bianca berjalan menuju meja resepsionis. Mengingat harus mengikuti kelas pagi ini, Bianca akan menitipkan bekalmya di sana. Namun baru saja menyapa Lili, resepsionis di sana dan sudah mengenal Bianca, Lili langsung bangun dalam posisi tangannya menaut di depan perut.


Bianca langsung menoleh dan melihat Devano serts Dimas memasuki gedung kantor.


“Mbak Lili, aku langsung aja ya.” Bianca mengangkat tangannya sambil menunggu Devano mendekat.


Lili hanya melirik lalu mengangguk pelan.


Bianca yakin kalau Devano sudah melihatnya namun sengaja mengabaikannya. Lelaki itu langsung menuju ke depan lift khusus untuk Direksi.


“Bi, “ sapa Dimas yang berada di belakang Devano. Langkahnya tertinggal karena Dimas menyempatkan diri untuk menyapa Bianca.


“Pagi Kak Dim. Maaf aku samperin Devano dulu.”


Bianca bergegas menghampiri Devano yang masih bediri depan lift.


“Devano,” sapa Bianca pelan.

__ADS_1


Devano hanya melirik sekilas tanpa merubah posisinya menatap ke pintu lift. Bianca yang sudah berdiri di sampingnya tetap diabaikannya.


“Aku bawakan sarapan.” Bianca mengusungkan tas bekalnya. Devano meirik tas itu sekilas namun tidak mengambilmya. Devano malah mengeluarkan handphone dari saku celananya.


“Devano, kamu nggak dengar omonganku ? Ini aku bawakan sarapan untukmu,” Bianca meninggikan suaranya dan semakin mendekatkan tas bekal itu di hadapan wajah Devano. Pria itu mundur dua langkah karena tas yang disodorkan Bianca terlalu dekat ke wajahnya.


Dimas berdiri dengan jarak yang terlalu jauh. Dia ingin memberikan kesempatan untuk Bianca dan Devano.


“Nggak perlu. Aku sudah sarapan,” tolak Devano tanpa menatap Bianca. Tangannya menggeser sedikit posisi tas bekal yang terasa mengganggunya.


“Kamu begitu jadikan bekal makan siang.


aja. Nggak akan basi kok. Ini nasi goreng spesiAl buatan mama.” Bianca masih ngotot memaksa Devano untuk menerima bawaannya.


“Kamu mengerti Bahasa Indonesia, kan ? Aku udah jawab dengan jelas TIDAK MAU !” Devano menatap Bianca dengan tajam dan menekankan kata terakhirnya.


Bianca menarik nafas dan menghembuskannya dengan kasar.


“Kalau kamu masih marah dan tidak memberikan aku kesempatan untuk bicara, aku tidak akan meminta waktu lagi padamu.” Bianca langsung melewati Devano sambil membawa kembali tas bekalnya.


Bianca menggigit bibirnya menahan air mata yang terus memberontak ingin keluar dari sudut matanya.


Dimas langsung mendekati Devano.


“Elo yakin mau tetap berkeras meskipun Bianca sampai khusus datang kemari untuk bisa membuka hari baru sama elo ?”


“Dia sendiri kan yang minta waktu,” ketus Devano.


“Dan dia sendiri juga yang berinisiatif duluan untuk menemui elo. Kemarin sore terang-terangan elo bikin dia kesel, tapi pagi ini dia menahan egonya untuk datang nemuin elo.”


“Biar dia lebih yakin,” sahut Devano sinis.


“Elo yakin kalau dengan sikap elo begini membuat Bianca berpikir seperti elo ? Gue berani taruhan, kalau elo nggak kejar dia sekarang, dia pasti akan berpikir kalau ketakutannya untuk hidup bersama elo benar-benar terbukti.”


“Maksud lo ?” Devano menatap Dimas sambil mengernyit.


“Elo kejar dia sekarang atau elo akan kehilangan dia selamanya ! Ngerti ?” Dimas terlihat emosi melihat sikap keras kepalanya Devano.


Devano berpikir sejenak. Tapi akhirnya dia memutar badan dan berlari menuju luar gedung. Beberapa karyawan yang baru datang menatap tingkah boss nya dengan bingung.


Dimas langsung memerintahkan Lili supaya menghubungi pos depan dan menahan Bianca di sana.


Dengan napas terengah-engah, akhirnya Devano sampai juga di pos depan. Dilihatnya Bianca yang sudah bersiap naik motor ojek pesanannya.


“Maaf batal, Pak.” Devano segera menghampiri Bianca dan mengeluarkan selembar uang ratusan lalu memberikan pada si pengemudi. Bianca hanya bisa melongo melihat Devano yang sudah ada di depannya. Bianca sampai tidak bisa berkata apapun.


“Kebanyakan Om,” si pengemudi menunjukkan uang yang diberikan Devano.


“Ambil saja semuanya.” Pengemudi ojek itu pun mengucapkan terima kasih lebih dari satu kali pada Devano.


Sesudah urusan ojek sudah beres, Devano langsung menggenggam jemari Bianca dan menariknya masuk kembali ke gedung kantor.


“Mau kemana ?” Tanya Bianca.


Devano mengeluarkan saputangan dari kantong celananya. Dia berhenti untuk mengusap wajah Bianca dari sisa-sisa air mata.


“Katanya bawain bekal untuk aku.” Devano masih membersihkan wajah Bianca.


“Aku ada kelas pagi ini. Nggak bisa bolos.” Bianca menatap wajah Devano dengan perasaan rindu yang tertahan.


“Jadi nggak bisa temani aku makan ?” Wajah Devano terlihat sedih.


“Kalau makan siang aku bisa. Kuliah hanya sampai jam 12.” Bianca mengerjapkan matanya membuat Devano gemas dan tidak bisa menahan untuk mencubit kedua pipinya.


“Aku harus jalan sekarang, Devan. Kalau nggak pakai pasti terlambat,” rengek Bianca.


“Kalau aku anter naik mobil nggak keburu ya ?” Devano membelai rambut Bianca.


“Nggak keburu, terlalu mepet. Jemput pulangnya aja, ya ?” Bianca mengedipkan matanya sebelah membuat Devano tertawa pelan.


“Ok. Kalau begitu aku jemput jam 12 sekalian makan siang ya.”


“Ya udah terserah kamu aja.” Bianca melebarkan senyuman.


Dia mengambil handphone dan memesan kembali ojek motornya.


“Hati-hati,” bisik Devano sambil mengusap kepala Bianca yang akhirnya berangkat ke kampus dengan ojol.

__ADS_1


__ADS_2