Bukan Mantan Pacar

Bukan Mantan Pacar
Bab 51 Obrolan Empat Pria


__ADS_3

Dimas lagsung mengetuk pintu ruangan kerja papa Harry dan karena setelah beberapa saat tidak mendapat jawaban akhirnya Dimas membuka pintu dan melongok ke dalam.


Papa Harry memberi kode menyuruh masuk karena beliau sedang berbincang di handphone.


Ketiganya pun masuk dan duduk di sofa yang ada di ruangan itu. Belum sempat berbincang dengan papa Harry, kembali terdengar suara ketukan pintu. Revan yang lebih dulu bangun dan langsung membukakan pintu. Ternyata salah seorang pelayan membawakan minuman teh dan kopi serta potongan kue yang disiapkan mama Angela.


Papa Harry yang sudah menutup telepon beranjak bangun dan ikut duduk di sofa Beliau langsung meraih cangkir khusus miliknya karena seperti biasa mama Angela akan menyiapkan cemilan sambil menunggu waktu makan malam.


“Kamu sudah siap bekerja di perusahaan mulai Senin, Devan ?” Papa Harry membuka percakapan setelah menikmati beberapa teguk kopinya.


“Siap, pa.” Devano mengangguk pasti.


“Dimas nanti yang akan menjadi asisten pribadimu dan Bianca akan menjadi sekretarismu.”


“Apa ? Serius, pa ?” Devano langsung terbelalak dan menatap papa Harry yang hanya mengangguk-angguk.


Devano menoleh ke arah Dimas yang langsung mengangguk juga meyakinkan Devano.


“Aku nggak mau !” Tolak Devano dengan keras.


“Nggak bisa.” Papa Harry menjawab dengan santai dan sesekali pandangannya beralih ke handphone yang digenggamnya.


“Hanya 3 bulan juga Van, Bianca cuma anak magang di kantor.” Dimas menjelaskan.


“Memangnya dia kuliah apa ?” Devano menautkan alisnya menatap Dimas.


“Psikologi.”


“Kok bisa dapat magangnya sebagai sekretaris ?” Devano menoleh ke arah papa Harry.


“Anggap saja kebaikan papa dan mama yang memberikan kamu kesempatan untuk mencari tahu bagaimana hatimu sebenarnya.”


“Pa !” Protes Devano dengan wajah masam. “Aku nggak mau mulai kerja dengan orang seperti Bianca.”


“Memangnya ada yang salah dengan Bianca ?” Papa Harry menatap Devano sambil mengernyitkan matanya.


“Dia…dia itu…” Devano kebingungan mencari istilah yang tepat untuk Bianca.


Ketiga pria yang ada di ruangan itu terdiam dengan pandangan terpusat pada Devano. Cowok itu sendiri agak tertunduk dengan ekspresi orang yang sedang berpikir keras.


“Dia itu cewek agresif. Apa papa dan mama akan membiarkan aku bekerja dengan cewek model begitu ?”


“Bukannya model begitu yang sudah membuat hari-hari kamu selama sekolah berkesan ?” Papa Harry terkekeh.


“Pa !”


Dimas dan Revan saling melempar pandangan dan ikut tertawa pelan melihat Devano yang terlihat kesal.


“Cuma 3 bulan Devano. Papa sudah janji sama mama untuk memberikan kesempatan pada kalian mencari tahu perasaan kalian berdua. Kalau ternyata itu cuma cinta monyet anak sekolah, ya Bianca tinggal pergi menjauhkan diri dari kamu.”


Devano terdiam. Wajahnya merenggut kesal dan terdengar beberapa kali menarik nafas panjang.


“Apa karena Emilia elo jadi nggak suka kehadiran Bianca ?” Revan menggoda Devano yang langsung dibalas dengan pelototan.

__ADS_1


“Gadis bule itu pacar baru kamu ?” Papa Harry bertanya dengan nada santai.


“Dia bukan bule, pa. Orang Indonesia asli. Dia anaknya Om Arman Kusuma.”


“Bule-bulean yang bikin kamu jadi cowok bulepotan.” Papa Harry tertawa mengejek karena mendapati Devano mengganti warna rambutnya.


Dimas dan Revan ikut tertawa. Mereka sendiri merasa aneh melihat Devano yang mengecat rambutnya.


“Kamu satu kampus dengannya ? Dia anak bungsu Om Arman kan ?”


“Iya satu kampus, pa. Dia adik kelas aku, hanya beda setahun. Kakaknya, Erwin kakak kelas aku di kampus beda jurusan juga.”


“Terus kamu pacaran beneran sama dia ?”


Devano hanya menggeleng.


“Loh kalau bukan pacaran kenapa dia berani ngaku kalau dia itu calon istri kamu ?”


“Udah ganti selera kelamaan tinggal di Amrik, Van ?” Goda Revano sambil tertawa meledek.


“Erwin belum bisa pulang ke Indonesia karena masih harus mengurus perusahaan papinya di sana. Emilia udah merengek terus mau balik ke Surabaya. Jadi dia titip aku untuk bareng sampai Jakarta dan akan ada orang suruhan papinya yang menjemput di Jakarta untuk mengantarnya pulang ke Surabaya.”


Ketiganya hanya menjadi mendengar cerita Devano dengan berbagai ekspresi. Revan lebih sering mencibir meledek Devano.


“Aku teringat akan wa yang dikirim oleh Arini kalau dia sudah menunggu kepulanganku dan akan memastikan hubungan kami lebih serius. Akhirnya dua hari sebelum kepulangan, aku meminta Emilia untuk berpura-pura jadi pacarku supaya Arini mundur.”


“‘Memangnya Opa Ruby sudah mengijinkan kamu mencari pasangan hidup sendiri ?”


Devano terdiam tidak memberikan jawaban apa-apa. Dalam pembiacaraan terakhir di Singapura empat tahun yang lalu memang Opa Ruby akhirnya memberikan kebebasan pada Devano untuk melepaskan dari kewajiban menjadikan Arini istrinya, namun dengan syarat yang begitu sulit Devano terima.


Dimas terkekeh saat mendengar perkataan Revan yang memberi Emilia titel baru pacar jadi-jadian.


“Elo kira tuh cewek dedemit ?” Komentar Dimas.


Papa Harry tertawa saat mendengar penuturan Revan dan komentar Dimas.


“Tapi sepertinya strategi kamu kurang tepat Boy. Revan benar kalau kamu mau membuat Arini berhenti merengek padamu, yang harus kamu perlihatkan adalah pacar kamu yang beneran dan serius.”


“Maaf aku sudah bertindak ceroboh. Pa. Tapi aku beneran nggak mau Bianca bekerja sebagai sekretaisku.” Devano memandang papa Harry dengan wajah memelas namun diabaikan oleh papanya.


“Kalau masalah itu keputusan papa sudah bulat, tidak dapat diganggu gugat. Lagian Bianca cuma jadi sekretaris sementara yang akan lebih banyak bersama kamu kan Dimas.”


Devano menarik nafas karena merasa tidak mungkin lagi membantah permintaan papanya.


“Tenang Van, kalau memang setelah 3 bulan elo udah yakin nggak suka beneran sama Bianca, gue bersedia kok mengejar cinta Bianca.” Dimas mengedipkan matanya sebelah sambil tertawa.


“Kayak dia mau aja sama elo.” Omel Devano.


“Eh bukan nggak mungkin loh Van kalo Bianca berubah pikiran ke Dimas,” Revan ikut memanas-manasi.


“Waktu di kampus aja banyak cowok-cowok keren yang deketin Bianca. Ada saatnya orang akan menyerah juga sama hatinya Van. Asal jangan pas waktu itu datang, elo malah balik menyesal.” Revan bicara panjang lebar.


“Gue udah lumayan deket sama Bianca sebelum elo pulang kok Van… Dan gue merasa bukan nggak mungkin untuk jatuh hati sama dia.” Dimas kembali menggoda Devano.

__ADS_1


Devano hanya diam dengan wajah yang terlihat kesal namun berusaha disembunyikannya.


Papa Harry yang melihat tingkah putra sulungnya sesekali tersenyum tipis sambil melanjutkan menikmati kopinya.


“Revan benar boy, jangan sampai kamu menyesal setelah Bianca menyerah dan memutuskan pergi darimu. Kalau sampai itu terjadi sebelum atau setelah 3 bulan, papa dan mama tidak akan ikut campur lagi.”


“Aku yakin nggak akan pernah membalas perasaan Bianca, pa.” Devano mendongak menatap papanya dengan jawaban yang tegas.


“Jadi sekarang atau nanti, keputusan aku tetap sama.”


Ketiga pria yang ada di hadapannya sempat terkejut mendengar jawaban Devano dengan tatapan yang dingin. Papa Harry yang terlebih dulu merubah raut wajahnya menjadi biasa-biasa saja.


“Terserah kamu saja Devan. Kamu sudah dewasa, umur kamu aja sudah di angka 2 depannya. Lagipula kamu akan menggantikan papa menjadi pemimpin perusahaan. Jadi ada baiknya kamu belajar bertindak seperti seorang pemimpin mulai dari hal-hal kecil.”


“Aku mengerti, pa. Dan untuk masalah Bianca menjadi sekretarisku selama 3 bulan, aku akan menerima keputusan papa.”


Papa Harry tersenyum dan mengangguk-angguk.


Revan dan Dimas masih tidak mengerti dengan keputusan Devano. Mereka merasa apa yang terucap di mulut Devano sedikit bertentangan dengan tingkah lakunya.


Saat mereka masih berbincang beralih topik mengenai perusahaan, pintu ruangan kerja kembali diketuk. Suara ketukannya terdengar kasar dan tidak sabar. Belum sempat papa Harry mempersilakan masuk, pintu sudah terbuka.


“Sayang, kamu nggak mandi dulu ? Aku sudah cantik dan kelaparan nih.” Sosok bule jadi-jadian itu langsung masuk, mendekati Devano dan duduk di sebelahnya lalu bergelayut manja di lengannya.


Papa Harry mengernyitkan matanya melihat tingkah Emilia yang mengabaikan kehadiran orang lain di ruangan itu.


Devano yang menangkap reaksi papa Harry cepat-cepat melepaskan tangan Emilia dan sekilas melotot pada gadis itu.


Sadar akan kecanggungan Devano, Emilia yang sadar sedang diperhatikan oleh papa Harry langsung tertawa malu-malu.


“Maaf om, saya benar-benar sudah kelaparan. Saya kira Devano sudah selesai ngobrol dengan om.”


“Tolong kamu keluar dulu.” Pinta Devano.


Emilia menggeleng namun mendapati tatapan tajam dan marah Devano akhirnya dia mengalah dan beranjak bangun dari kursi.


“Jangan lama-lama, sayang. Permisi om.” Emilia sedikit menundukkan kepala pada papa Harry dan mengabaikan Dimas dan Revan.


Papa Harry hanya diam saja dan menatap Emilia dengan wajah datar.


“Asli gue rasa elo salah pilih peran utama buat diajak main sandiwara.” Dimas yang tidak mampu lagi menahan rasa gelinya langsung berkomentar sambil tergelak.


“Siap-siap aja lo dimusuhi sama Tante Angela.” Timpal Revan ikut tergelak.


“Kamu salah strategi boy !” Papa Harry beranjak bangun dan menepuk bahu putranya.


“Kalian siap-siap aja, pasti sebentar lagi mama kamu memanggil untuk makan malam. Dimas kamu bisa tinggal sebentar, ada sedikit kerjaan yang perlu dibereskan.”


Revan dan Devano pun pamit meninggalkan ruangan sementara Dimas berpindah ke bangku yang berada di depan meja kerja papa Harry karena beliau sudah kembali duduk di kursi kerjanya.


“Gue hargai keputusan elo soal Bianca. Tapi jangan sampai elo akhirnya sangat menyesal. Karena kali ini adalah kesempatan elo yang terakhir buat bicara jujur soal hati elo.” Revan menepuk-nepuk bahu sahabatnya saat berjalan menjauh dari ruang kerja papa Harry.


“Gue kan udah bilang…”

__ADS_1


“Iya gue denger,” potong Revan. “Cuma seperi yang tadi om Harry bilang, elo itu calon pemimpin jangan sampai salah strategi. Untuk di awal aja elo udah salah mengambil keputusan soal Emilia.”


Devano terdiam dan melangkah ke lantai dua menuju kamarnya sementara Revan masuk ke dalam salah satu kamar tamu di lantai satu untuk menyegarkan badan.


__ADS_2