Bukan Mantan Pacar

Bukan Mantan Pacar
Bab 93 Para Sahabat


__ADS_3

“Duuhh jangan biarkan keuwuan kalian membuat kita-kita pada mencelos dong !” Suara cempreng yang akrab di telinga Bianca membuatnya langsung melepaskan diri dari pelukan Devano.


Keduanya menoleh ke arah pintu yang menghubungkan ruang dalam dan teras.


“Mia ! Della ! Dewi !” Pekik Bianca dan bergegas mendekati ketiga sahabatnya dan saling berpelukan.


“Kangennya,” ucap Bianca.


Tidak lama mereka melerai pelukan dan muncul sosok Arya yang baru keluar dari pintu.


“Duh serasa meluk Devano juga nih, wangi parfumnya nempel di baju elo, ikut nempel juga di baju gue.” Mia yang suka bicara asal mulai kembali pada kebiasaannya.


“Itu mah pengennya elo !” Della menoyor jidatnya.


“Kamu kepingin dipeluk sama Devano, Yang ?”


Mia yang langsung menyadari kalau Arya sudah berdiri di dekatnya langsung tertawa kikuk.


Belum sempat protes pada Della yang masih aja suka menoyor keningnya, Mia sudah dibuat ketar ketir dengan omongan Arya.


“Nggak kok, Yang. Kepikiran aja nggak. Bener sumpah deh,” Mia mengangkat kedua jarinya membentuk huruf V. Dia kembali tertawa canggung melihat Arya sudah melotot menatapnya.


“Langsung pada duduk aja.” Devano pun mendekat dan langsung merangkul bahu Bianca lalu tertawa pada Mia.


“Mati lo !” Ledeknya sambil tertawa. Devano mengajak Bianca kembali ke meja mereka sementara Della dan Dewi duduk di meja lainnya.


“Kok mereka bisa kemari, Van ?” Tanya Bianca setengah berbisik.


“Kejutan buat kamu. Lagian booking satu teras begini ada minimal ordernya, jadi nggak mungkin kita pesan banyak makanan cuma untuk kita berdua.”


“Ih pemborosan,” Bianca pura-piura merajuk dan mencubit lengan Devano.


“Demi kamu apa sih yang nggak aku lalukan,” Devano mengedipkan sebelah matanya. “Kamu kan udah lama juga nggak kumpul-kumpul sama sahabat-sahabat kamu.”


Belum juga pesanan keempat sahabat mereka datang, dari balik pintu muncul lagi ketiga cowok mantan idola SMA Dharma Bangsa.


“Ayo langsung Bro,” Devano yang posisi duduknya bisa melihat ke arah pintu langsung melambaikan tangannya pada 3 sahabatnya.


Bianca yang baru saja menyendok lasagna menoleh ke arah pintu.


“Kamu bikin acara reuni ?” tanyanya pada Devano dengan mulut yang terisi.


“Telan dulu makanan kamu,” Devano tersenyum sambil mengelus pipi Bianca.


“Ya ampun demi ultraman, ini beneran Devano ?” Joshua yang paling gokil langsung menggemakan suaranya saat dekat dengan meja Devano dan Bianca.


Devano menyodorkan minuman pada Bianca yang berusaha menelan habis makanannya.


“Pelan-pelan aja, sayang. Biarinin si Jojo koala itu mengoceh.”


Ernest dan Leo saling menatap lalu terbahak, membuat Devano langsung menoleh dan menautkan alisnya.


“Elo beneran Devano, kan ?” Leo mendekat dan memegang sebelah bahu Devano. “Kagak salah lihat seorang Devano bisa romantis juga pake banget lagi.”


“Makanya gue sampai terkejut-kejut,” timpal Joshua sambil mencebik dan wajah mengejek.


Wajah Bianca memerah karena malu digoda para sahabat Devano.


“Huss sana cari tempat,” Devano menggerakan tangannya mengusir ketiga sahabatnya. “Kasihan tuh calon istri gue sampai hilang nafsu makannya gara-gara elo pada.”


Spontan Joshua, Ernest dan Leo kembali terbahak-bahak. Arya pun sudah memutar bangkunya menhadap ke arah mereka.


“Menuju bucin, Bro,” ledek Arya.


“Van, boleh dong cipika cipiki sama Bianca soalnya udah lama nggak ketemu.” Leo bergerak mendekati Bianca namun segera Devano bangun dan menahan dengan tangannya.


“Eh nggak ada cipika cipiki sama calon istri gue. Sejak kapan juga elo ketemu Bianca langsung nyosor.” Devano mendelik dengan wajah kesal.


Devano pun bangun dan pindah tempat duduk dari berseberangan dengan Bianca, sekarang posisinya berada di sebelah Bianca.


“Aseeekk gue duduk seberang Bianca, bisa puas memandang.” Kali ini Ernest yang mulai bergerak menuju bangku yang tadi diduduki Devano.


Devano langsung menahannya dan memberikan tatapan tajam pada Ernest yang langsung dibalas dengan gelak tawa.


“Nggak ada ! Cari tempat duduk lain. Masih banyak tuh meja.”


Devano bangun dan mendorong ketiga sahabatnya ke arah meja yang masih kosong. Ketiganya langsung tertawa.


“Pelit amat sih, Van.” Goda Leo.


“Cih, dulu aja dicuekin sampai nggak dianggap tuh si Bian. Sekarang ditatap aja kagak boleh .” Joshua mencebik dengan tampang yang terlihat kesal.

__ADS_1


“Lain dulu lain sekarang,” jawab Devano santai.


“Pesen apa aja yang elo mau, Jo. Biar anteng tuh mulut elo,” ucap Devano sambil terkekeh.


“Sialan lo !” Omel Joshua.


Selesai dengan drama tiga sahabatnya, Devano kembali ke mejanya. Dilihatnya Della dan Dewi pindah tempat duduk untuk lebih mudah berbincang-bincang dengan Bianca. Pesanan makanan mereka juga belum datang.


Devano yang sudah kembali ke mejanya akhirnya ikutan ngobrol dengan Della dan Dewi. Dia hanya menjadi pendengar yang baik dan sesekali menimpali. Selain jarang bicara lama-lama dengan mahluk perempuan, Devano juga tidak terlalu kenal baik dengan Della dan Dewi. Undangan untuk mereka berdua pun diatur oleh Mia yang mengajaknya kewat aplikasi pesan.


Saat makanan pesanan meja Arya dan Ernest datang, dari pintu pun muncul kembali para sahabar yang diundang oleh Devano.


Wajah Bianca terlihat kaget saat melihat pasangan yang baru datang. Dia langsung berdiri dan menghampiri sahabat mereka yang baru datang.


“Diana, apa kabar ?” Bianca langsung memeluk adik Devano itu.


“Aku baik dan sehat nih, Bi. Kangen udah lama nggak ketemu,” Diana pun melebarkan senyumnya saat pelukan mereka terlepas.


“Gue nggak dipeluk juga, Bi ? Kan gue mantan masa depan elo,” goda Revan.


“Memangnya adik gue nggak cukup buat elo sampai calon istri gue mau dipeluk-peluk juga ?” Tegur Devano dengan nada galak plus pelototan matanya.


Bianca dan Diana hanya tertawa.


“Cih,” Revan mencebik. “Seharusnya elo sangat berterima kasih sama gue udah jagain Bianca. Kalo bukan karena gue sengaja pepetin Bianca, udah pasti sekarang dia jadian sama Justin.” Revan berkata dengan nada sinis dan mengejek tapi malah membuat Bianca dan Diana tertawa.


“Justin ?” Devano mengulang nama itu sambil menoleh dan menatap Bianca minta penjelasan.


“ Cuekin aja, Bi. Biar si cowok kulkas ini penasaran,” Revan malah memanasi Bianca dengan wajah mengejek Devano.


“Justin itu udah kebelet mau kawinin Bianca sejak mereka masih kuliah.” Arya yang sudah berdiri di belakang Devano merangkul bahu sahabatnya.


“Untung aja Revan cepat tanggap sepert pasukan buser,” Arya terkekeh. “Kalau nggak, bisa nangis bombay nih si Devano.”


“Tuh kan, elo denger sendiri,” Revan kembali mencebik.


“Eh jangan ngadi-ngadi ya kalian berdua,” protes Bianca. “Darimana asal berita Justin ngajak gue kawin. Pacaran aja belum sempat.”


Mata Bianca ikutan melotot bergantian menatap Arya dan Revan yang malah terbahak melihat Bianca yang sedikit panik sementara wajah Devano terlihat kesal. Tatapan mata pria itu masih menajam ke arah Bianca.


“Jangan dengerin mereka, Van. Dasar kompor !” Omel Bianca. Tangannya langsung bergelayut manja pada Devano.


“Pasang mata, pasang telinga, Bro. Yang deketin Bianca kagak kalah pamor sama elo,” seru Leo yang kembali memanasi Devano.


Para sahabat yang lainnya ikut tertawa apalagi melihat wajah Devano yang memerah dan hanya diam saja sementara Bianca masih mencoba merayunya.


Baru saja akan kembali ke meja mereka, ternyata kembali muncul tamu lainnya dari pintu.


“Sella, Andre! ! Eh Kak Dimas juga. Kak Desta nya nggak sekalian ?.” Bianca menyapa sambil melepaskan tangannya pada pergelangan Devano.


Bianca mendekati Sella dan langsung memeluknya.


“Kak Desta harus menyelesaikan urusan resort, Bi. Kemarin pagi berangkat ke sana,”


Sesudahnya Bianca menoleh pada Devano yang masih berdiri di tempatnya.


“Devano, kenalkan ini calon suami Sella.”


Andre lebih dulu mengulurkan tangannya dan sedikit membungkukan badannya. Keduanya pun berkenalan dan dipersilakan duduk di meja-meja yang masih kosong.


“Gue kagak disalami Bi ?” Goda Dimas dari belakang.


“Oh iya, terima kasih udah bantuin Devano mengundang para sahabat kami,”


Bianca berhenti dan memutar badan lalu mengulurkan tangannya pada Dimas. Belum sempat Dimas membalasnya langsung ditepis oleh Devano.


“Jangan cari-cari kesempatan !” Devano melotot. “Mau gue pecat jadi asisten ? Membantu boss kan udah bagian tugas elo !” omel Devan.


Bianca hanya bisa geleng-geleng kepala.


“Dih pelit amat salaman doang,” Dimas mencibir.


Kelakuan Devano kembali diledek oleh para sahabatnya dan membuat semuanya saling menimpali dan tergelak.


“Kangen sama Desta ?” Bisik Devano dengan nada sinis.


Namun belum sempat menjawab, Devano sudah meninggalkannya menuju meja para cowok. Bianca hanya bisa geleng-geleng dan menuju meja para cewek.


Diana dan Sella yang baru datang akhirnya memisahkan diri juga dengan pasangan mereka dan bergabung dengan masing-masing kelompok.


“Elo yakin mau jadi istrinya Devano ?” bisik Della di telinga Bianca.

__ADS_1


“Bi, elo kuat ngadepin Devano yang semakin bucin sama elo ?” tanya Mia sambil mengerutkan dahinya.


Diana dan Sella tertawa mendengarnya.


“Kakak gue itu saking kelamaan menahan perasaan cintanya sama Bianca, makanya begitu dapat langsung dikekepin, dikurung biar nggak lepas lagi.” Diana yang menyahut di sela-sela tawanya.


“Iya Kak Devano itu udah cinta mati banget deh sama Bianca,” timpal Sella. “Udah kayak anak ayam nempel terus sama induknya.”


Candaan Diana dan Sella membuat yang lainnya tertawa.


“Siap-siap aja lo, Bi,” ledek Dewi. “Keluarkan jurus hipnotis elo kalo Devano sampai lebay.”


“Ngaco lo,” Bianca mencibir. “Gue ini psikolog bukan pakar hipnotis.”


“Tapi buktinya kamu berhasil membuat aku terhipnotis sampai nurut sama kamu, Bi,” ledek Sella.


Di tengah obrollannya, Bianca melirik Devano yang masuk ke dalam cafe. Bianca pun langsung bangun hendak mengejar Devano.


Hati kecilnya merasa cemas juga, takut Devano belum bisa menerima candaan dari para sahabatnya.


“Lihat tuh pasangan bucin,” ledek Joshua saat melihat Bianca ikut masuk menyusul Devano.


“Makanya cepetan cari pacar lo, biar kagak terlalu absurd kelamaan jomblo,” jawab Arya.


“Wah Ar, jangan menyindir gue, Leo sama Ernest nih,” Dimas yang menyahut.


Sementara Bianca sudah menunggu di depan toilet. Tadi dia sempat melihat Devano masuk ke sana.


“Van, kamu nggak apa-apa ?” Bianca langsung merangkul lengan Devano.


Bianca menggigit bibir bawahnya karena cemas melihat wajah Devano yang sedikit memerah. Rambutnya agak basah, sepertinya Devano habis cuci muka.


“Siapa Justin ?” Devano bertanya tanpa menoleh. Bianca tersenyum melihatnya.


“Teman satu jurusan di kampus.”


“Memangnya dia ajakin kamu menikah dengannya.”


“Udah aku bilang jangan dengarkan Revan.” Bianca tertawa pelan. “Justin memang pernah coba mendekati aku dan mengajak aku pergi berdua. Tapi kamu tahu kalau Revan itu udah kayak ulet keket nempelin aku terus.”


“Aku sudah dengar ceritasoal Revan dari Diana dan Arya,”jawab Devano cepat.


“Makanya kamu tahu mana mungkin ada cowok yang mau dekati aku kalau ada Revan yang siap bertarung layaknya bodyguard,” Bianca terkekeh.


Devano menghentikan langkahnya tepat di depan pintu yang menuju teras.


“Jadi kalau Revan nggak menahan, kamu mau menerima ajakan Justin ?” Tatapan tajam Devano terlihat mengintimidasi. Bukannya menakutkan tapi malah membuat Bianca kembali terkekeh.


“Nggak tahu.”


“Huufffttt” Devano mendengus kesal dan membuang pandangan ke sembarang arah.


Bianca mendekat dan memegang kedua lengan Devano.


“Kalau aku mudah membuka hati untuk orang lain, aku sudah pasti menolak mentah-mentah permintaan Tante Angela dan Om Harry. Kalau aku gampang terpikat dengan cowok-cowok seperti Justin, Desta, Dimas atau siapapun, aku nggak akan merasakan kebahagiaan di sini.”


Bianca terdiam dan menunggu reaksi Devano. Dengan wajah kesalnya, Devano masih menoleh ke arah lain.


Bianca mengelus pipi Devano hingga pria di depannya menoleh membalas tatapan Bianca.


“Sayangnya aku tidak mudah membuka hati apalagi terpikat dengan gombalan yang lain. Cuma perlakuanmu yang membuat aku deg deg kan dan serasa diterbangkan, calon suamiku.”


Bianca berjinjit dan mendekat ke telinga Devano saat membisikan kata calon suamiku.


Wajah Devano langsung memerah dan senyuman lebar merekah di wajahnya.


Devano langsung menarik Bianca menuju teras dan sengaja menutup pintu dengan cukup keras hingga membuat kumpulan para cowok dan cewek menoleh menatap mereka berdua.


Gerakan spontannya yang langsung menarik Bianca ke dalam pelukannya membuat Bianca dan yang lainnya tercengang. Tanpa permisi, Devano langsung menundukkan wajah dan menahan tengkuk Bianca lalu menciumnya.


Bukan hanya menempelkan bibirnya pada bibir Bianca namun memberikan ciuman dalam. Bianca yang masih dalam keadaan kaget hanya bisa diam saja dan membiarkan Devano menciumnya.


Para sahabat mereka langsung berteriak menggoda. Mia, Della dan Dewi saling bertukar pandang dan berteriak.


“Dasar Devano gila !”


Devano melepaskan ciumannya dan mencibir pada para sahabatnya. Bianca yang langsung merasakan panas di seluruh wajahnya karena malu, menyembunyikan wajahnya di dada Devano.


“Tenang, gue bakal segera bertanggungjawab.” Devano berkata dengan wajah berbinar.


Para sahabat mereka hanya geleng-geleng kepala sambil menggoda tanpa bosannya.

__ADS_1


__ADS_2