Bukan Mantan Pacar

Bukan Mantan Pacar
Bab 66 Pamitan


__ADS_3

Bianca berpindah duduk ke meja Dimas karena yang bersangkutan menemani Devano meeting dengan tamu dari Jepang. Mimi yang ternyata jago bahasa Jepang pun diminta untuk ikut meeting merangkap sebagai penerjemah.


Bianca yang merasa iseng akhirnya menelepon Eva, niatnya ingin pamitan kepada papa Harry karena beliau lah Bianca magang di tempat ini.


Ternyata papa Harry yang tidak ikut meeting dan ada di ruangannya. Bianca pun segera menuju ke ruangan lain di ujung koridor setelah meninggalkan catatan di meja Dimas, ditempel di kalender.


“Langsung masuk aja, calon mantu udah ditunggu.” Eva tertawa saat melihat Bianca sudah masuk ke ruangannya.


“Ngaco deh Kak Eva.” Bianca mencibir dan dibalas dengan tawa Eva.


Setelah mendapat jawaban dari dalam, Bianca pun membuka pintu perlahan.


“Selamat siang, Pak.” Bianca membungkukan badan.


“Ayo masuk.” Papa Harry yang masih duduk di meja kerjanya menyuruh Bianca masuk dan mempersilakannya duduk berhadapan dengannya.


“Gimana Bianca ?” Papa Harry membuka kacamatanya dan menatap Bianca dengan senyum ramahnya.


“Saya mau pamit om… Eh maaf,” Bianca menutup mulut dengan tangannya. “Maksud saya, saya mau pamit hari ini Pak.”


“Panggil om saja, kan sebentar lagi kamu bukan karyawan di sini.” Bianca mengangguk sambil tersenyum.


“Yakin nggak mau extend ?” Goda papa Harry.


“Terima kasih tawarannya om, tapi hati pengennya cepat-cepat jauh dari sisi Devano.”


Papa Harry tertawa sambil mengangguk-anggukan kepalanya.


“Ceritanya misi kamu gagal ya ?”


“Bukan cuma gagal Om, tapi ambyar.” Bianca terkekeh sambil menutup mulutnya membuat papa Harry tergelak.


“Jadi rencana kamu selanjutnya ?”


“Saya mau ambil S2 untuk profesi om. Tapi sebelumnya saya mau kerja dulu.”


“Nggak langsung aja lanjut S2, bisa kan ?”


“Bisa om, tapi saya mau cari pengalaman dulu.”


“Sukses buat kamu ya. Terima kasih juga kamu mau menuruti permintaan mama Devano untuk mencoba sekali lagi sama Devano.”


“Terima kasih juga atas kepercayaan dan kesempatan yang diberikan om dan tante.”


Papa Harry hanya tersenyum. Dipandangnya gadis di depannya ini. Tidak aneh istrinya begitu menyayangi dan menginginkannya sebagai menantu keluarga Wijaya.


Secara fisik wajah Bianca tidak jelek namun bukan wanita yang bisa dibilang cantik seperti para gadis yang papa Harry kenal, yang mencoba mengambil hati anaknya. Penampilannya sederhana dan apa adanya. Namun dari sorot matanya, Bianca adalah pribadi yang hangat dan menyenangkan, seorang perempuan yang tangguh namun penuh perhatian.


Tapi papa Harry maupun mama Angela tidak bisa memaksa jika anaknya tetap bersikeras bila tidak menginginkan Bianca menjadi pedamping hidupnya.


“Om,” panggilan Bianca membuyarkan pikiran papa Harry.


“Saya mau pamit ke Pak Sofian ambil surat hasil magang saya.” Bianca beranjak bangun.


“Oooo masalah surat perusahaan, Devano yang akan memberikan langsung sama kamu.”


Bianca terkejut dan membelalakan matanya.


“Beneran saya harus ambil sama Devano langsung, om ?”


Papa Harry tersenyum dan mengangguk.


“Apa nggak bisa didelegasikan ke Pak Sofian aja om ? Saya rasa jadwal Devano cukup padat hari ini.”


Wajah Bianca seperti memohon dengan ekspresi memelas.


“Aturannya begitu Bianca. Harus atasan langsung yang memberikan.” Papa Harry bersandar sambil menautkan kedua jemarinya.


Bianca semakin lesu mendengarnya. Tapi dalam hati


dia memberi semangat pada dirinya sendiri.


“Masa bodoh harus bertemu dengan Devano. Toh ini akan jadi perbincangan terakhir dengan Devano” batin Bianca.


Akhirnya setelah pamitan, Bianca berjalan di koridor dengan lesu. Dia langsung memencet lift karyawan ke lantai 5 untuk pamitan dengan Pak Sofian, lanjut dengan beberapa divisi lainnya.


Bianca tidak mendapati Desta di ruangan SDM. Setelah pamitan dengan staf SDM yang ada, Bianca masuk ke ruangan Pak Sofian.


“Jadi selesai sudah jadwal magang kamu Bianca ?” Pak Sofian membuka percakapan saat Bianca sudah duduk berhadapan dengannya.

__ADS_1


“Terima kasih ataa dukungan dan kesempatan yang diberikan oleh perusahaan, Pak.” Bianca mengulurkan tangan dan dibalas oleh Pak Sofian.


Bianca berbincang sedikit namun tidak menyinggung sedikitpun tentang surat keterangan magangnya. Selesai dari ruangan Pak Sofian, Bianca masih belum menemukan sosok Desta di sana.


“Apa dia sudah tidak bekerja ya ?” Tapi kalau diingat belum sampai sebulan saejak surat persetujuan pengunduran dirinya ditandarangani Devano.” Bianca bermonolog dalam hati.


Bianca pun melanjutkan acara pamitannya ke lobby sampai lantai 7.


Saat kembali ke ruangannya ternyata Mimi duduk di meja kerjanya sedangkan Dimas tidak kelihatan.


“Mereka langsung lanjut makan siang dengan Mr Watanabe.” Ujar Mimi seolah mengerti dengan tatapan Bianca.


“Kak Mimi nggak makan siang ?” Bianca melirik jam dinding baru pukul 11.30.


“Mau nih sebentar lagi. Rencana keluar sama Eva juga. Bareng yuk !”


“Ayo deh… hari terakhir maksi bareng ya.” Bianca tersenyum


“Maksi ?” Mimi menautkan alisnya.


“Makan siang kak,” Bianca tergelak. Mimi hanya manggut-manggut.


Jam 11.45 ketiganya langsung keluar menuju cafe dekat kantor. Mereka cari tempat yang tidak terlalu ramai karena Eva dan Mimi tidak bisa meninggalkan kantor lama-lama. Devano masih belum kembali dengan Dimas, sementara papa Harry keluar kantor sejak jam 11.


“Bi, habis ini kamu mau lanjut kuliah lagi ?” Tanya Eva sambil menikmati hidangan makan siang mereka.


“Rencana ambil S2 untuk profesi, Kak. Biar bisa berstatus psikolog.”


“Wah kalau mau konseling gratis dong ya ?” Timpal Mimi.


“Tenang aja,” Bianca tersenyum.


Mereka asyik berbincang layaknya teman.


Bianca banyak mendapat cerita-cerita pengalaman Eva dan Mimi yang sudah bekerja sejak usia muda. Makan siang pun selesai sebelum jam 1. Ketiganya kembali ke kantor. Bianca tidak langsung naik karena merasa sedikit bosan hanya duduk tanpa melakukan apa-apa.


Saat sedang berbincang dengan Ina, resepsionis baru di lobby, seseorang menepuk bahunya.


“Nggak boleh kebanyakan ngobrol ya dek !”


Bianca menoleh dan mendapati Desta sedang tertawa lebar.


“Perlu bantuan buat ngelusin dada kamu biar cepat hilang kagetnya ?” Desta mengerling sambil tersenyum.


“Dih maunya !” Bianca mencebik sambil memukul bahu Desta


“Ngapain di sini ?”


“Gabut di atas, jadi gangguin resepsionis aja yang bisa diajak ngobrol.”


“Loh memangnya nggak dikasih kerjaan sama bossmu ?”


Bianca tertawa sambil geleng-geleng.


“Bukan, hari ini aku terakhir magang. Besok status udah mahasiswa lagi.”


“Loh kok nggak bilang ?” Desta menekuk wajahnya.


“Aku tadi cari-cari di ruang SDM sekalian ketemu Pak Sofian, eh malah ketemunya di sini.”


“Naik yuk, ke ruang SDM aja.” Desta mendorong pelan kedua bahu Bianca menuju lift.


“Eh kagak pake dorong-dorong begini.” Bianca menggeliat melepaskan tangan Desta dan dibalas dengan tawa.


“Aku juga terakhir bekerja hari ini. Tadi ke divisi lain buat pamitan.” Desta menjelaskan saat keduanya sedang menunggu antrian lift.


“Hah ? Beneran hari ini juga ? Bukannya masih seminggu lagi ?”


“Iya harusnya,” Desta mengangguk. “Tapi ada keperluan mendesak, papa sampai telepon Pak Harry buat mempercepat seminggu.”


“Jadi…”


Belum sempat Bianca meneruskan kalimatnya, repukan di bahunya membuat Bianca stop mengoceh dan menoleh.


“Duuhh kakanda Dimas bikin kaget aja.” Bianca tersenyum lebar.


“Kamu mau kemana ?” Tanya Dimas


“Ke ruangan bapak ini,” Bianca menunjuk Desta yang berdiri di sampingnya.

__ADS_1


“Pak Boss suruh kamu bareng naik langsung ke lantai 10.” Dimas berbisik.


Bianca megernyit dan malihat punggung Devano yahg masih berdiri di depan pintu lift yang tertutup.


“Lebih baik kamu nurut daripada surat magang nggak keluar.” Bisik Dimas kembali.


Bianca sempat cemberut kesal karena tahu tidak mungkin membantah perintah Devano saat ini.


“Maaf Kak, aku ada keperluan sama Pak Devano.” Bianca mengatupkan kedua tangannya depan wajah dengan tampang memelas.


“Iya nggak apa-apa.” Desta tertawa sambil mengacak rambut Bianca yang langsung mendelik.


“Berantakan kak.” Omelnya. Namun Desta malah semakin iseng dan tertawa sampai akhirnya pintu lift berbunyi dan terbuka.


“Udah sana naik !” Bianca mendorong Desta sambil cemberut.


“Pulang bareng ya.” Ujar Desta sebelum masuk ke lift.


Bianca hanya diam saja dan meleletkan lidahnya meledek Desta.


Devano yang sudah tidak sabar menatap Dimas sebagai kode untuk segera membawa Bianca.


Dan akhirnya bertiga masuk lift khusus dengan posisi Devano di belakang Dimas dan Bianca yang berdiri sejajar sambil berbincang.


Sampai di ruangan, Bianca ragu-ragu untuk langsung mengikuti Devano masuk ke dalam ruangannya lagi. Apalagi Bianca melihat Dimas malah menuju ke mejanya dan meletakkan tas serta jasnya di sana, lalu duduk.


“Kak,” Bianca menghampiri meja Dimas. “Ketemu Pak Devanonya sekarang atau nanti ?”


“Loh bukannya barusan kamu ketemu Pak Devano, Bi ?” Goda Mimi.


“Iiihh bukan ketemu begitu Kak Mi, tapi mau minta surat nih. Bisa gagal wisuda kalau nggak dapat surat hasil magang.”


“Kalau gagal di wisuda paling langsung dikawinin sama Devano.” Jawab Dimas santai.


“Duh berdua ya…” Bianca mengomel. “Udah aku bilangin…”


Lagi-lagi perkataan Bianca terpotong karena bunyi telepon internal di meja Dimas.


“Disuruh masuk sama boss. Mau ada drama perpisahan.” Dimas kembali menggoda Bianca setelah menutup telepon.


“Awas ya Kak Dimas sama Kak Mimi,” Bianca mengepalkan tangan dengan wajah ditekuk.


“Tarik nafas dulu Bi, biar deg deg kan nya hilang.” Celoteh Mimi saat melihat Bianca sempat terdiam sebelum mengetuk pintu.


Bianca menggerutu sendiri membuat Mimi dan Dimas makin tergelak.


Namun Bianca memang menarik nafas panjang sebelum mengetuk. Tangannya terasa dingin sangat membuka handel pintu setelah mendapat sahutan Devano dari dalam.


“Jangan kelamaan Bi,” celetuk Dimas.


“Selamat siang Pak,” Bianca membungkukan badan dan tetap berdiri dekat meja kerja Devano.


“Duduk !”


Bianca pun menarik bangku di depan meja Devano dan terus mengatur perasaannya yang tidak menentu.


“Ini surat hasil magang kamu.” Devano menggeser sebuah map ke dekat Bianca.


“Terima kasih, Pak.” Bianca langsung mengambil mapnya dan membaca seksama isinya.


Bianca menarik nafas lega bahwa satu tahap untuk mencapai akhir kuliahnya akhirnya terlewati.


“Terima kasih banyak atas kesempatan dan bimbingan Bapak selama saya bekerja di sini.” Bianca bangkit berdiri dengan map di tangan kirinya.


“Saya pamit, Pak.” Bianca mengulurkan tangannya namun Devano mengabaikannya. Bahkan cowok itu tidak menatap Bianca sama sekali, sibuk dengan berkas pekerjaannya.


Bianca menghela nafas dan membuangnya dengan perasaan kesal.


“Devano, karena masa kerja aku sudah selesai maka status kita bukan lagi pegawai dan atasan.” Nada suara Bianca berubah jadi galak. Devano mendongak, menatapnya sambil mengernyit.


“Gue nggak lupa sama janji gue. Kalaupun setelah ini kita nggak sengaja ketemu, gue akan bersikap nggak kenal lagi sama elo. Terima kasih sudah bertahan selama gue kerja di sini.”


Bianca membalas tatapan Devano dengan penuh emosi.


“Permisi.” Bianca membungkukan badan dan berlalu dari hadapan Devano.


Devano masih memandang Bianca dari tempat duduknya sampai pintu ruangannya tertutup dan sosok Bianca hilang dari pandangannya.


Devano menarik nafas panjang. Ada rasa yang hilang dari hatinya. Mulai besok tidak bisa lagi melihat sosok Bianca menyambutnya di depan, bahkan mungkin Bianca akan menjadi orang asinh saat mereka bertemu.

__ADS_1


Devano menyugar rambutnya dengan perasaan yang campur aduk.


__ADS_2