
Devano sempat membujuk Bianca supaya tidak lagi merasa kesal dengan kelakuan Nindi.
Saat Dimas melihat posisi mereka dari kejauhan, Devano sedang menawarkan tempat makan siang yang kira-kira disukai oleh Bianca.
“Mau makan steak ?” Devano mulai menyalakan mesin mobil. Dia yakin kalau para cacing di perut Bianca sudah berteriak minta diberi makan.
Devano sendiri yang tadi pagi sempat menghabiskan bekal nasi goreng yang dibawakan oleh Bianca sudah mulai merasakan lapar lagi.
“Terserah !” Bianca menjawab dengan ketus lalu menoleh ke samping.
“Mau makan steak atau ayam bakar ?” Tanya Devano sambil mengelus rambut Bianca sementara tangan lainnya memegang setir.
“Apa aja asal jangan yang mahal !” Bianca tetap menjawab meskipun dengan nada ketus dan masih membuang pandangan ke samping.
Devano tersenyum menahan rasa geli melihat ngambeknya Bianca.
Akhirnya tanpa berbicara lebih banyak lagi, Devano membawa Bianca ke salah satu rumah makan yang cukup terkenal dengan sajian ayam bakarnya.
Devano menyempatkan diri mengirim pesan pada Dimas supaya mengosongkan jadwalnya hari ini demi kelancaran hubungannya dengan Bianca yang baru saja diperbaiki tadi pagi.
Devano mengajak Bianca turun dan masuk ke dalam rumah makan yang cukup ramai karena masih tersisa beberapa menit sebelum waktu makan siang berakhir untuk para karyawan kantor.
Devano sengaja tidak banyak mengajak Bianca berbicata, hanya pada saat menanyakan pesanan. Tatapan teduhnya terus tertuju pada Bianca membuat gadis itu jadi salah tingkah, namun enggan berbicara menegur Devano.
Devano senyum-senyum sendirian saat melihat Bianca malah menundukan kepalanya pura-pura sibuk dengan handphonenya.
Selesai makan siang dan membayar tagihan bon, keduanya berjalan keluar rumah makan. Devano tersenyum saat melihat wajah Bianca sudah tidak sekesal tadi. Dia meraih jemari Bianca dan menggandengnya menuju parkiran mobil. Senyum Devano semakin mengembang saat Bianca bukan hanya tidak menolaknya tapi membalas genggaman Devano dengan tidak kalah eratnya.
“Mau makan es krim ?” Tanya Devano saat mereka sudah duduk di dalam mobil.
Tanpa ekspresi apapun Bianca mengangguk. Tatapannya tidak tertuju pada Devano. Namun anggukan kepala Bianca kembali membuat Devano tersenyum lebar. Tangannya mulai sibuk menyetir membawa Bianca ke tempat yang sangat diyakininya akan membuat mood Bianca menjadi baik lagi.
Sudah 30 menit mobil yang dikendarai Devano masih membelah jalanan. Beberapa titik lokasi di Jakarta cukup padat di siang hari meski tidak sampai macet total.
“Kok nggak sampai-sampai ?” Bianca menoleh menatap Devano dengan sedikit cemberut.
“Sabar ya, kamu ngantuk ?” Devano sekarang punya kebiasaan baru suka membelai rambut Bianca yang sebahu.
“Nggak,” Bianca menggeleng.
“Tempatnya agak jauh karena di pinggir kota. Tapi pasti nggak akan buat kamu menyesal.”
“Nanti pulangnya bagaimana ?” Wajah Bianca masih terlihat cemberut namun sudah tidak seperti sebelumnya.
“Naik mobil ini lagi,” jawab Devano santai.
“Ih sebel, aku juga tahu kalau naik mobil ini. Maksud aku kalau kesorean, jalanan pasti macet.” Omel Bianca sambil mendengus kesal.
“Memang kamu keberatan kalau lama-lama sama aku ?” Devano malah tersenyum sambil mengedipkan sebelah matanya.
Bianca kembali mendengus kesal dan memilih diam sambil memandang ke samping jendela.
Tempat yang dituju Devano akhirnya dicapai juga dalam waktu 10 menit kemudian. Berarti total wKtu yang dibutuhkan adalah 52 menit dari rumah makan.
Devano kembali mengajak Bianca masuk sambil menggandeng lengan gadis itu. Mereka naik ke lantai dua dan diantar sampai ke teras
“Kok di sini kosong ?” Bianca mengedarkan pandangannya dan sempat merasa bingung karena tidak ada meja lain yang terisi.
Jumlah meja di balkon lantai dua ada 5 meja dan hanya Devano bersama Bianca yang menempati salah satu meja di sana.
Bianca memicingkan matanya menatap Devano. Dia yakin kalau Devano sengaja membuat keempat meja lainnya kosong.
“Udah ayo duduk dan nikmati suasana di sini.”
Devano merangkul bahu Bianca dan mengajaknya duduk ke salah satu meja yang sudah disiapkan. Mata Bianca berbinar saat melihat ada rangkaian mawar merah yang sudah diletakan di sana.
Bianca bergegas mendahului Devano. Tangannya terulur meraih rangkaian bunga mawar itu dan menciumnya beberap kali.
“Kamu suka ?” Devano mendekat.
“Suka banget,” jawab Bianca sambil kembali mencium bunga itu. “Wangi banget.” Sambungnya lagi.
__ADS_1
“Wangi mana sama cinta aku ?” Devano semakin mendekat dan berbisik pelan di telinga Bianca, dan lagi-lagi membuat bulu punduk Bianca meremang.
Wajah Bianca sudah berubah merona. Dengan wajah tersipu, Bianca langsung duduk di kursi yang sudah disiapkan.
Dari tempatnya duduk, Bianca bisa melihat ada sungai yang tidak terlalu besar mengalirkan air berwarna kecokelatan. Di pinggiran sungai tersebut terlihat cukup banyak orang sedang memancing di bawah tudungan pohon-pohon yang cukup rindang.
Tidak jauh dari sungai, terihat taman kota yang cukup terawat dengan beberapa sarana permainan anak dan jogging track disiapkan di sana.
“Sungai itu merupakan garis batas wilayah Jakarta Selatan ini dengan wilayah Jawa Barat.” Devano menjelaskan.
Tidak lama pelayan pun datang dan memberikan buku menu untuk mereka.
“Pesan apa aja yang kamu suka. Bebas sesuai keinginan kamu.”
Bianca hanya mengangguk dengan wajah berbinar dan mulai memesan beberapa jenis makanan, minuman bahkan ice cream untuk mereka.
“Kamu mau minum kopi sore ini ?” Bianca menanyakan kopi karena hafal kebiasaan Devano yang meminum kopi setiap jam 3 sore saat di kantor.
“Nggak usah. Hari ini aku mau menikmati es krim aja kayak kamu.” Devano mengerling membuat Bianca kembali tersipu.
Akhirnya Bianca memesankan menu es krim yang berbeda dengannya. Sejak tadi dia bimbang memilih 2 menu es krim yang sama-sama menggiurkan, namun rasanya malu kalau sampai memesan 2 porsi hanya untuk dirinya sendiri. Bianca merasa senang akhirnya bisa menikmati keduanya dengan saling berbagi bersama Devano.
Bianca berdiri di dekat pagar kayu yang nlmerupakan pembatas teras lantai dua.
“Kamu kok tahu tempat seperti ini ? Sudah pernah diajak sama cewek lain ya ke tempat ini ?” Bianca berbalik lalu memicingkan matanya menatap Devano curiga.
Devano hanya tertawa dan membuka sesuatu di handphonenya lalu menunjukkan sesuatu pada Bianca.
“Kamu lupa kalau mbah google bisa memberikan informasi apa saja ? Belum lagi para blogger yang rajin mem-viralkan tempat-tempat makan seperti ini.”
Bianca melihat tulisan dan gambar yang ada di kayar handphone Devano.
Saat Bianca sedang asyik menggeser kanan kiri artikel dan foto lainnya di handphone Devano, pria itu langsung memeluk diirnya.
“Kangen,” Devano dengan suara manjanya langsung meletakkan kepalanya di ceruk leher Bianca.
Gadis itu sempat kaget mendapat pelukan tiba-tiba namun akhirnya membalas memeluk pinggang Devano.
Keduanya masih saling berpelukan menyalurkan rasa rindu yang harus ditahan dan diabaikan selama sebulan terakhir.
“Kamu marah sama aku gara-gara Nindi ?” Tanya Devano setelah melerai pelukannya. Kedua tangan Devano masih mengikat di pinggang Bianca.
“Sedikit, tapi kelakuan Nindi yang sebetulnya membuat aku kesal.” Wajah Bianca berubah masam. “Nggak cukup apa membully aku waktu SMA. Lagian kah…”
Devano meletakkan telunjuknya di bibir Bianca.
“Mau denger penjelasan aku nggak ?”
Tatapan mata Devano yang begitu hangat membuat Bianca tidak mampu menolak malah mengangguk dengan pasrah.
Devano mengajak Bianca duduk di kursi yang sudah diputar menghadap ke sungai plus taman kota.
Belum sempat Devano mulai bercerita, pesanan es krim mereka sudah diantar.
“Sambil makan ya ? Nanti kalau meleleh keburu nggak enak,”ujar Devano.
Bianca mengangguk dan memberikan salah satu pesanan es krim pada Devano.
Bianca kembali duduk dan keduanya mulai menikmati es krim mereka.
“Arif itu masih sepupuan sama Dimas. Sepupu papanya Dimas itu orangtuanya Arif.”
“Kok bisa jadi suaminya Nindi ?”
“Itu Dimas juga tidak tahu pada awalnya. Bahkan saat Nindi dan Arif menikah, Dimas tidak diundang juga. Dimas pikir mungkin karena papanya sudah meninggal. Lagipula Dimas memang bilang kalau mereka sudah lebih dari 15 tahun tidak permah bertemu.”
Bianca hanya diam mendengarkan cerita Devano sambil menikmati es krimnya. Sesekali tangannya menyimpang ke mangkuk Devano dan mengambil milik Devano.
“Suapin,” rengek Dimas manja.
Bianca tergelak namun tangannya tetap menyiapi es krim dari mangkuknya.
__ADS_1
“Intinya Arif dan Nindi bertemu di Surabaya dan mulai menjalin asmara saat Nindi kuliah tingkat akhir.”
“Memangnya Nindi kuliah di sana ?”
“Aku juga baru tahu saat ketemu Arif dan dengar ceritanya, Bi.”
“Terus ?” Bianca dengan wajah penasaran meminta Devano melanjutkan ceritanya. Devano tertawa dan mencubit pipi Bianca dengan gemas.
“Kepo !” Ledeknya sambil mencibir
“Biarin !” Bianca membalas sambil mencibir juga.
“Ternyata usut punya usut, pernikahan mereka dadakan karena Nindi hamil di luar nikah,”
Bianca langsung membelalak, tidak percaya kalau Nindi yang memang sudah kegenitan sejak SMA ternyata membawa kebiasaannya itu sampai kuliah.
“Untung saja Kak Arif mau bertanggungjawab.”
“Kok kamu panggil Arif dengan sebutan kakak ? Memang kamu tahu dia umur berapa ?” Devano manutkan kedua alisnya.
“Kalau dilihat dari wajahnya, kemungkinan dia seumuran Kak Desta, lebih tua dari Kak Dimas.”
“Pinter,” Devano memberikan jempolnya.
“Terus akhirnya mereka berdua menikah ?”
“Tadinya Nindi tidak mau terikat dengan anak dan berencana menggugurkannya, Dia bilang masih mau bersenang-senang dulu menikmati masa muda. Arif melarangnya dan minta Nindi mempertahankan bayinya. Arif mengatakan bahwa ia akan menikahi Nindi bukan hanya karena rasa tanggungjawabnya tapi juga karena sangat mencintai Nindi.”
“Duh romantisnya Kak Arif.” Bianca mengerjap-kerjapkan matanya membuat Devano melotot.
“Kamu mau aku nikahi juga dengan cara seperti itu ?” Tanya Devano dengan nada kesal.
“Iihh nggak mau lah,” tolak Bianca sambil menggeleng.
“Terus gimana caranya sampai kamu mengabulkan keinginan Nindi dengan alasan ngidam untuk terus sama kamu ?” Ucap Bianca sambil
“Arif merupakan pengusaha yang cukup berhasil di Surabaya. Dia bermaksud bekerjasama dengan perusahaan papa. Saat kami meeting pertama kali, ternyata Arif membawa Nindi karena khawatir meninggalkannya di Surabaya. Saat itu juga Arif baru tahu kalau Dimas sepupunya adalah asistenku.”
“Memangnya Kak Arif sudah tidak punya keluarga ?”
“Orangtua Arif terutama mamanya kurang menyukai Nindi namun tidak bisa menolaknya karena di dalam perut Nindi sudah ada calon cucunya.”
“Nggak aneh kalau dia menyebalkan,” Bianca mencibir. “Sudah mau punya anak saja kelakuannya masih nggak berubah kayak wakru di SMA.”
Devano hanya tertawa dan sependapat dengan Bianca.
“Aku lanjut ya ?” Bianca hanya mengangguk menanggapi pertanyaan Devano.
“Dua minggu setelH pertemuan bisnis itu. Arif tiba-tiba menghubungi Dimas dan menceritakan tentang keinginan Nindi atas nama keinginan bayi ingin dekat-dekat denganku. Tentu saja aku menolak keras, apalagi aku tahu bagaimana kelakuan Nindi pas SMA. Arif sampai datang langsung menemuiku dan sampai memohon padaku. Mungkin kalau aku tidak akan menghentikannya, dia akan berlutut di depanku. Aku tetap menolak, dan akhirnya Dimas yang bicara padaku dan memohon supaya aku membantu Arif memenuhi permintaan istrinya. Butuh 4 hari Dimas terus membujukku sampai akhirnya aku mengiyakan namun hanya untuk jangka wakru 1 minggu. Aku menolak permintaan Nindi untuk mengijinkannya datang ke kantor setiap hari menemuiku. Aku langsung menolaknya. Aku katakan hanya satu kali pertemuan setiap harinya, itupun hanya untuk makan siang atau makan malam atau sekedari ngopi-ngopi cantik. Tidak ada kegiatan lainnya termasuk nonton, menemani berbelanja dan lainnya.”
“Tapi kemarin di mal kamu menemaninya belanja,” oceh Bianca dengan nada kesal.
“Jangan asal tebak,” Devano terkekeh. “Kemarin jatahnya makan malam dengan Nindi. Dia sengaja memilih mal karena katanya sekalian mau belanja. Habis meeting akhirnya aku setuju ke Mal XX karena letaknya tidak jauh dari tempat aku meeting. Sampai di sana, Nindi malah minta dijemput di toko. Dia bilang belanjaannya banyak sampai dia tidak bisa bawa sendirian. Aku suruh Dimas duluan ke sana, 5 menit kemudian aku menyusulnya namun akhirnya harus menerima telepon dulu sampai ketemu kamu.”
“Dasar memang bibit pelakor. Demennya sama punya orang. Udah punya suami yang baik malah pengennya calon suami oramg.” Bianca dengan wajah emosi bicara sambil mengepalkan kedua tangannya.
Devano tertawa melihat tingkah Bianca.
“Memangnya sudah boleh aku menaikan status jadi suaminya Bianca Aprilia ? Mana bisa Nindi disebut pelakor kalau yang dia dekati itu pria mapan dengan status pacar doang ? Kan kata orang selama janur kuning belum melemgkung, masih boleh ditikung ?” Goda Devano.
Bianca menatap Devano dengan mata membelalak dah wajah galaknya.
“Jadi hari ini kamu mau merubah status jadi mantan pacar ?”
Nada marah Bianca bukannya membuat Devano menciut malah semakin terbahak. Dia mengambil mangkuk di tangan Bianca dan meletakkan bersama dengan mangkuknya.
Didekatinya Bianca dan dipeluknya kembali tubuh mungil itu.
“Aku bukan mantan pacar kamu, tapi calon suami kamu,” bisik Devano di teinganya lalu meniup telinga
Bianca membuat gadis itu bergedik.
__ADS_1
Bianca merebahkan kepalanya di dada bidang Devano sambil mengeratkan pelukan di pinggang Devano.