Bukan Mantan Pacar

Bukan Mantan Pacar
Bab 68 Permintaan Desta


__ADS_3

Seminggu berlalu sejak pelaksanaan wisuda, namun Bianca belum juga mendapatkan panggilan kerja. Bianca sempat merasa gelisah namun dia tetap berusaha berpikir positif dan meghalau kekhawatirannya.


Kuliah S2 nya baru akan dimulai 3 bulan lagi. Akhinya Bianca mengisi waktu senggangnya dengan membantu mama Lisa membuat pesanan


Siang ini Bianca dan mama Lisa baru saja menyelesaikan pesanan 5 kotak kue sifon keju. Kelima box itu sudah tertata rapi di meja ruang tamu, siap diambil oleh pemesan.


Bianca duduk selonjoran di lantai ruang tamu. Kakinya baru terasa pegal. Sudah lama tidak berdiri berjam-jam membuat kue membantu mama Lisa.


Bianca sedang merenggangkan otot-otot nya saat bel berbunyi. Dia melirik jam dinding baru pukul 2 siang sementara pesanan kue baru akan diambil jam 3 sore.


Dengan sedikit malas-malasan Bianca bangun dan membuka pintu sambil mengintip tamu yang masih berdiri di luar gerbang.


“Bianca !” Panggilan itu membuat Bianca mempercepat langkahnya menuju gerbang dan membuka gembok.


“Kak Desta kok tumben ?” Bianca mengernyit. “Tahu darimana alamat rumahku ?”


“Boleh masuk dulu ? Ada hal penting yang mau aku omongin.”


Bianca menatap ekspresi Desta yang tidak seperti biasanya. Laki-laki yang biasanya berwajah ceria dan penuh semangat, siang ini lebih mirip orang putus asa.


“Ya udah, Kak Desta masuk duluan.”


Setelah Desta masuk, Bianca menutup gerbang tanpa menggemboknya.


“Mau ngobrol di sini atau di dalam ?” Tanya Bianca saat mereka sudah sampai di teras.


“Di sini aja.”


Keduanya lantas duduk di kursi yang ada di situ.


“Oh ya aku ambil minuman dulu.”


“Nggak usah.” Desta menahan lengan Bianca.


“Ada hal penting apa Kak ?”


Dalam hati Bianca sempat merasakan deg deg kan juga. Berharap cemas kedatangan Desta bukan mau mengajaknya pacaran. Bukannya kegeeran, tapi malam saat Bianca diajak makan lalu dijemput paksa oleh Devano, saat itu Desta sempat bicara sekilas soal hatinya.


Bianca sendiri sudah mulai berdamai dengan hatinya untuk melepaskan Devano dan menghapus sedikit demi sedikit semua hal tentang Devano. Namun tidak berarti Bianca langsung siap menerima cinta orang lain.


“Adikku Bi.” Lirih Desta. “Adikku satu-satunya mencoba bunuh diri dengan minum racun serangga.”


Bianca sempat terkejut. Tapi dia sadar bahwa saat ini Desta memerlukan teman bicara.


“Boleh aku tahu adik Kak Desta itu laki-laki atau perempuan ?”


“Perempuan, Bi. Dia hamil dan cowoknya tidak mau bertanggungjawab.” Desta menatap Bianca dengan sendu.


Bianca terdiam dan memandang Desta. Sikapnya menunjukan kalau dia siap menjadi pendengar yang baik tanpa bersikap agresif.


“Aku mau minta tolong Bi.”


“Apa yang bisa aku lakukan Kak ?”


“Selama ini adikku adalah anak yang pendiam dan penurut, tetapi cenderung tertutup Bi. Dia tidak memiliki banyak teman. Karena itu kami sangat kaget saat tahu dia mencoba bunuh diri, dan saat dibawa ke rumah sakit, ternyata dokter menyatakan kalau dia sedang hamil.”


Bianca terdiam menunggu Desta melanjutkan ceritanya. Pembicaraan tertunda karena ternyata Mbak Nisa, art yang sekarang menjadi teman untuk mama di rumah, keluar membawa minuman.

__ADS_1


“Terima kasih.” Ucap Desta.


“Ibu yang suruh, Non.” Mbak Nisa langsung bicara saat melihat tatapan Bianca.


“Terima kasih Mbak Nisa.” Ujar Bianca.


“Maaf kalau aku boleh tahu siapa nama adiknya Kak Desta ? Supaya lebih enak kita membicarakannya.”


“Sella, Bi. Namanya Marsella cuma biasa dipanggil Sella.”


“Apa yang bisa aku bantu Kak ?”


“Bisa ikut aku ke rumah sakit dan bertemu Sella, Bi ? Mungkin saja dia akan terbuka dengan orang lain selain keluarga. Sepertinya dia butuh teman bicara karena aku akui kalau mama adalah seorang ibu yang terlalu tegas dan disiplin cenderung galak. Itu sebabnya kami tidak terlalu terbuka satu sama lain.”


“Aku ganti baju dan pamit sama mama dulu, Kak.”


Bianca beranjak bangun dan masuk ke dalam rumah. Dia menemui mama Lisa dulu untuk ijin pergi. Setelahnya Bianca pergi ke kamar dan bersiap-siap.


10 menit Bianca kembali keluar kamar dalam keadaan rapi. Ternyata mama Lisa dibantu mbak Nisa sedang membawa pesanan kue sifon yang sudah dijemput.


Sampai di teras Bianca mengenalkan Desta pada mama Lisa yang masih berdiri di sana.


“Ma, kenalin ini Kak Desta, teman aku waktu magang.”


“Kak Desta kenalin ini mamaku.”


“Desta”


“Lisa”


Keduanya saling bersalaman dan Desta membungkukan sedikit badannya sebagai tanda hormat.


Mama Lisa hanya mengangguk dan menunggu mereka meninggalkan rumah sebelum kembali masuk ke dalam.


Hanya 30 menit keduanya sudah sampai di rumah sakit yang dituju. Saat memasuki lobby, pikiran Bianca teringat pada papa Indra yang juga pernah dirawat di tempat yang sama.


Bianca menarik nafas panjang. Belajar untuk tidak larut dalam memori yang berkepanjangan. Apalagi sekarang Bianca berstatus calon psikolog. Dirinya harus belajar memulai sesuatu yang seharusnya dilakukan oleh seorang psikolog.


Desta membawanya ke lantai 7 dan memasuki sebuah kamar yang terbilang mewah.


Bianca mengikuti Desta mendekati ranjang dimana seorang gadis sedang terbaring di sana. Wajahnya sekilas mirip Desta. Gadis ini sedang tertidur pulas. Di ruangan itu sendiri hanya ada seorang wanita paruh baya sedang duduk di sofa. Bianca sempat bersitatap dan mengangguk dengan hormat saat masuk ruangan. Dilihat dari wajah dan penampilan wanita itu, Bianca tidak yakin kalau itu adalah mamanya Desta.


“Sudah tidur hampir satu jam, Den. Diberi obat sama dokter karena sempat jerit-jerit.” Wanita itu memberi penjelasan panjang lebar saat Desta memandang wajahnya.


Desta mengangguk setelah mendengarkan ucapan wanita itu dan kembali menatap Sella. Dari panggilannya, Bianca yakin kalau wanita itu adalah salah satu asisten rumah tangga Desta.


“Oh ya Bi Isa,” Desta membalikan badan. “Kenalin ini temanku Bianca.”


Bianca menyalami wanita yang dipanggil Bi Isa sambil tersenyum.


“Bi Isa ini yang merawat Sella sejak masih bayi. Sudah lama di keluarga kami.”


Bianca tersenyum dan kembali menganggukan kepalanya.


Selesai perkenalan, Bianca dan Desta kembali mendekati ranjang Marsella dan masing-masing berdiri di kedua sisinya.


“Dokter minta supaya Sella ditemui dengan psikiater atau psikolog.”

__ADS_1


“Kenapa kamu nggak cari yang pengalaman Kak ?”


“Aku sempat dekat dengan Sella sebelum bekerja. Saat itu dia masih di SMP dan aku kuliah. Usia kami berbeda usia 8 tahun. Sella banyak bercerita padaku tentang banyak hal karena kedua orangtua kami cukup sibuk. Tetapi sejak aku bekerja, kami jarang sekali mengobrol santai. Hanya kadang-kadang di hari Sabtu atau Minggu.”


“Apa Sella tidak punya teman dekat ?”


“Ada namanya Hani. Tetapi yang aku tahu sahabatnya itu pindah saat kelas 10 semester 2 karena harus ikut orangtuanya yang pindah tugas.”


“Dan sesudahnya tidak ada sahabat yang baru ?”


“Aku tidak tahu lagi soal itu. Aku berpikir kalau Sella sudah bertambah dewasa karena sudah SMA. Apalagi sekarang dia sudah kelas 12.”


“Bi, kamu mau membantu Sella ?” Wajah sendu Desta memandang Bianca dengan memohon.


“Tapi aku belum pengalaman sebagai seorang psikolog, Kak. Baru juga lulus.”


“Aku tidak berharap kamu jadi psikolog pribadinya Sella. Jadilah teman, sahabat atau kakak buat Sella. Biar dia tidak merasa kesepian lagi dan mampu mengobati lukanya pelan-pelan.”


Percakapan mereka terhenti karena perlahan Sella membuka matanya. Ditatapnya wajah Desta yang sedang memandangnya penuh kasih sayang.


“Sudah baikan, dek ?” Desta mengusap rambut Sella dan mencium kening Sella.


Sella mengangguk pelan. Kemudian dia menoleh menatap Bianca. Memperhatikan wajah asing di depannya dengan sekali-kali mengerutkan alisnya. Kemudian Sella menoleh kembali menatap Desta tanpa bicara.


“Ini namanya Bianca, dek.” Desta menunjuk Bianca yang masih tersenyum memandang wajah Sella.


“Teman kantor kakak. Cantik nggak, dek ? Doain semoga bisa jadi pacar kakak juga.” Desta terkekeh.


Bianca langsung menatap Desta. Senyuman manisnya hilang berganti dengan wajah galaknya. Desta malah tergelak melihatnya.


Tanpa disadari Sella menarik kedua sudut bibirnya dan ikut tersenyum. Desta yang melihatnya langsung merasa bahagia namun ditahannya untuk tidak bereaksi berlebihan.


“Kenalan dulu sama adik cantikku.” Desta menggerakan kepalanya memberi kode pada Bianca.


Bianca meraih jemari Sella yang terpasang selang infus lalu menggenggamnya dengan erat.


“Hai Sella, aku Bianca. Tadi seperti kakakmu bilang, aku mantan teman sekantornya Kak Desta.”


Sella yang semula memasang wajah datar saat bertatapan dengan Bianca, merubah raut wajahnya menjadi lebih ramah. Dia membalas genggaman Bianca dengan lemah.


“Marsella.” lirihnya hampir tidak terdengar.


“Senang bisa kenalan dengan adiknya Kak Desta.”


Bianca mengeratkan kembali genggamannya untuk memberikan rasa nyaman pada Sella.


“Hati-hati kalau sudah dekat dia, dek.” Celetuk Desta. “Kalau ngomong kayak kereta 12 gerbong, nggak ada habisnya.”


Bianca mengerucutkan bibirnya dan cemberut.


“Cela aja terus. Cela aja. Orangnya lagi ke Bandung. Nggak sadar kalau sendiri itu gimana ?” Ledek Bianca.


“Setidaknya omonganku lebih berbobot.” Desta berkata dengan nada sombong sambil membusungkan dadanya.


“Wajar kalau bicaramu harus lebih berbobot, wong dari segi umur aja kamu jauh lebih tua.” Bianca mencibir.


“Eh main fisik ya. Bukan tua tapi matang.” Protes Desta.

__ADS_1


Bianca hanya mencebik. Melihat perdebatan keduanya, Marsella kembali menyunggingkan senyum. Bi Isa yang melihat Sella mulai bisa tersenyum ikut merasa bahagia. Sudah lima hari ini sejak dirawat di rumah sakit, Sella cenderung pendiam dan pemurung. Bahkan tidak jarang tiba-tiba menjerit dan histeris.


__ADS_2