
Saat suasana membahagiakan dan mengharukan riuh terdengar memenuhi Cafe Pelangi yang dibooking seluruhnya oleh Keluarga Wijaya, suara bantingan pintu yang cukup keras langsung membuat suasana hening.
Semua pandangan tertuju pada dua sosok yang baru saja masuk ke dalam cafe.
“Opa Ruby,” desis Bianca.
Devano langsung menggenggam jemari Bianca.
“Nggak usah cemas, beliau sudah menyetujui hubungan kita, kok.” Bisik Devano saat melihat raut wajah Bianca yang berubah khawatir.
Opa Ruby yang makin mendekat dengan tongkatnya diikuti juga oleh Arini di belakangnya. Opa Ruby langsung menghampiri Devano dan Bianca.
“Dasar cucu kurang ajar, ya ! Mau melamar anak gadis orang tidak memberitahu apalagi mengundang opa,” omel Opa Ruby dengan tatapan tajam.
“Maaf Opa, maaf. Devan pikir kasihan opa harus datang ke Jakarta hanya untuk menghadiri acara lamaran saja. Untuk acara pernikahannya pasti akan Devan kasih tahu Opa dan Oma supaya hadir. Kalau perlu kami berdua yang jemput Opa dan Oma ke sana.”
“Memangnya tidak ada handphone yang bisa kamu pakai hanya untuk memberitahu Opa ?”
Bianca memberanikan diri mendekati Opa Ruby.
“Maaf ini salah saya, Opa. Devano sedang sibuk dengan pekerjaannya. Semua yang hadir malam ini juga diberitahu atas bantuan Arya dan Mia, kecuali kedua orang tua kami.”
“Jadi kamu sadar kalau kamu malah ikut mendukung kelakuan calon suami kamu ini ?” Hardik Opa Ruby.
Bianca yang terkejut langsung mundur dan menabrak badan Devano.
“Opa, ini salah aku sepenuhnya. Aku minta maaf karena lupa memberitahu Opa.” jawab Devano.
Opa mendengus kesal dan menoleh menatap mama Angela dengan tajam.
“Kamu ini cucu laki-laki opa satu-satunya. Mau sejauh apapun pasti Opa dan Oma akan datang untuk kamu dan Diana.”
“Maafkan Devan, Opa.” Devano menggeser posisi Bianca menjadi di belakangnya.
Tanpa diduga Opa Ruby malah memeluk Devano dengan erat sambil menepuk-nepuk punggungnya dan tertawa keras.
“Dasar anak polos, kamu gampang banget ya dikerjain orang. Bahkan calon istri kamu aja lebih pintar buat membayar keisengan kamu.”
Devano melerai pelukan Opa Ruby.
“Loh kok Opa sampai tahu sama masalah itu ?”
Opa tergelak melihat wajah bingung Devano. Opa Ruby mengangkat tongkatnya dan mengarahkan pada Desta.
“Si pengacara itu membagikan live show kalian sama Opa.”
Devano menarik nafas lega. Tangannya mengepal dan merasa kesal kembali. Kenapa selalu ada nama Desta dimana-mana.
Bianca yang melihat kekesalan Devano namun berusaha ditutupi mendekati Devano. Ditariknya lengan Devano hingga tubuhnya sedikit miring ke kiri. Memposisikan telinganya tepat berada di depan wajah Bianca.
“I love u so much Devano Putra Wijaya.”
Devano tercengang namun langsung tersenyum. Dia langsung menoleh dan tanpa sengaja bibir keduanya bertemu singkat.
“Kalau mau lebih dari sekedar itu, minta papa kamu segera sah kan hubungan kalian,” tegur Opa Ruby dengan keras namun tidak lagi galak.
Wajah Devano dan Bianca langsung merona malu karena Opa Ruby sempat melihat kejadian barusan. Bahkan ternyata diam-diam Dimas mengambil foto mereka mulai dari pelukan Opa Ruby untuk Devano.
“Jadi Opa sudah nggak marah lagi ?”tanya Devano menatap opa Ruby.
Opa hanya mendegus kesal tanpa menjawab.
__ADS_1
“Terima kasih atas restu Opa buat kami,” Bianca ikut mendekat dan mengulurkan tangannya.
“Mau ngapain kamu ?” omel Opa Ruby. “Kamu kira lagi urusan bisnis sampai perlu salaman.”
Bianca menarik tangannya dengan wajah memerah, namun dengan cepat dia menguasai diri.
“Jadi kalau nggak salaman, Opa mau saya peluk sebagai tanda terima kasih karena sudah menerima saya sebagai calon cucu mantu Opa.”
“Memang suami kamu yang kekanakan itu kasih ijin peluk Opa ?” tanya Opa Ruby sambil melirik Devano dengan tatapan mengejek.
Bianca tertawa dan menoleh sekilas pada Devano yang wajahnya memerah kembali.
“Kalau sampai Devano tidak kasih saya memeluk Opanya untuk sebuah terima kasih, sepertinya saya harus berpikir kembali untuk menjadi istrinya.”
Opa Ruby langsung tertawa mendengar jawaban Bianca, kemudian meretangkan tangannya lebar-lebar. Bianca segera memeluk Opa Ruby yang membalas memeluknya.
Opa Ruby menjulurkan lidah meledek Devano yang berdiri di belakang Bianca.
“Sekarang Opa tahu kenapa Devano begitu jatuh cinta sama kamu, bahkan mamanya sudah mematenkan kamu sebaga menantunya.” Opa Ruby terkekeh.
“Memangnya saya barang produksi yang perlu dipatenkan , Opa ?” Bianca ikut terkekeh sambil melerai pelukannya.
“Boleh ikut gabung pelukannya ?” Devano mendekati opa Ruby dan Bianca.
Opa tergelak dan merentangkan tangannya. Sekarang Devano pun berada dalam pelukan opa bersama dengan Bianca.
“Terima kasih Opa, terima kasih.” Devano berusaha menahan cairan yang sudah ingin menerobos dari sudut matanya.
“Jangan sia-siakan yang sudah Tuhan berikan untukmu.” Opa Ruby membalas pelukan Devano dengan erat lalu menepuk-nepuk punggung cucu kesayangannya itu.
Sementara semua adegan berlangsung, Arini terlihat sangat kesal dengan wajah ditekuk. Terihat beberapa kali dia menghetakan kakinya di lantai.
Rencananya ingin mengacaukan rencana Devano malah berbalik jadi acara penuh haru biru. Bahkan Opa Ruby yang sejak dulu menjadi pendukung setia Arini untuk menjadi calon istri Devano, sekarang malah mendukung Devano dengan pilihannya sendiri.
Arini menggerutu sendiri dengan wajah seperti kain katun kusut yang tetap terlihat kusut meski sudah disetrika.
Acara malam itu pun dilanjutkan dengan ramah tamah dan perbincangan penuh kebahagiaan.
Sekitar jam 8, kedua orangtua Bianca dan Devano plus Opa Ruby, Bernard dan Diana duduk di satu meja atas permintaan Devano.
“Pa, Devano ingin segera mengesahkan hubungan kami di jenjang pernikahan. Apa bisa kami melaksanakannya bulan depan ?”
“Nggak bisa !” Mama Angela yang menjawab dan membuat Devano terkejut lalu mengerutkan dahinya.
“Mama nggak setuju Devan cepat-cepat memperistri Bianca ?” Protesnya dengan nada sedikit kesal.
Yang lainnya hanya senyum-senyum saja, begitu juga dengan Bianca. Hanya Opa Ruby yang terlihat santai dan memasang wajah datar.
“Kamu harus mempersiapkannya dengan jalan normal, nggak boleh pakai maksa dan jalur cepat,” lanjut Mama Angela dengan tegas dan terbantahkan.
“Terus kapan dong, ma ?”
“Paling cepat 3 bulan, Devan,” papa Harry yang menjawab.
“Mama kamu dan mama Lisa sudah mengurusnya sesuai prosedur, dan paling cepat 3 bulan persiapannya.”
“Dih Kak Devan kebelet banget sih,” ledek Diana. “Yang lalu aja bertahan sampai 10 tahun, nunggu 3 bulan aja kayak seabad.”
“Ya begitulah kakakmu, Di,” timpal Opa Ruby. “Dewasa di luar doang, dalamnya tuh kayak bocah,” Opa Ruby mencibir.
Diana dan Bernard ikut tertawa. Diana mengangkat tangannya dan melakukan tos dengan Opa Ruby sambil tertawa.
__ADS_1
“3’bulan nggak lama kok Devan, tante yakin kalau bisa dilewati dengan cepat.”
“Loh kok masih panggil tante, Lis. Anakmu sudah menerima lamaran anak kami loh, jadi nggak boleh panggil tante lagi.” Protes mama Angela.
Mama Lisa tertawa pelan menyadari ucapannya.
“Maaf belum terbiasa Angel. Soalnya baru beberapa jam.”
“Kamu harus putuskan segera Devan, kalau makin lama berarti makin lama juga kalian mengesahkan hubungan kalian,” tegas papa Harry.
“Nggak bisa hanya 2 bulan, ma ?” Devano masih berusaha menawar membuat Opa Ruby geleng-geleng kepaa sementara Bernard dan Diana cekikikan.
“Kamu kira urusan belanja di pasar ?” Omel mama Angela sambil melotot menatap putra tunggalnya.
Bianca yang dari awal hanya menjadi pendengar senyum-senyum sendiri melihat tingkah Devano.
“Besok aku akan urusin sama mama-mama kita, jadi kamu tenang aja.” Bianca menyentuh punggung Devano dan mengusapnya.
“Ya udah jadi 3 bulan lagi kita baru bisa menika,” jawab Devano dengan wajah pasrah.
“Nggak apa-apa, lagian bagus kalau 3 bulan lagi. Berarti itu jatuhnya tepat di akhir tahun, aku nggak perlu cuti dan aku nggak menolak kalau sesudahnya kamu ajak aku jalan-jalan.” ujar Bianca sambil senyum-senyum.
“Bulan madu dong, sayang. Masa pergi jalan-jalan biasa aja. Nanti kalau mamaku yang cerewet ini mau ikutan, repot aku.”
Devano tersenyum dengan wajah berbinar. Sikapnya itu benar-benar membuat Opa Ruby geleng-geleng kepala.
“Apa kamu bilang ?” Mama Angela langsung menjewer kuping Devano. “Berani bilang mama cerewet ?” omel mama Angela kembali.
Yang lainnya hanya tertawa melihatnya.
“Ampun ma, ampun. Sakit nih. Dan memang benar kan kalau mama cerewet.”
Mama Angela melepaskan jewerannya dan mendengus kesal.
“Kalau mama nggak cerewet, opa kamu yang galak itu akan terus memaksa kamu menikahi wanita pilihannya dan opa nggak akan datang malam ini di sini,” omel mama Angela sebal.
“Iya mama sayang, mama cerewet tapi baik hati. Devano sayang sama mama,” bujuk Devano. Dipeluknya sang mama dari samping.
“Terima kasih sudah menjadi mama paling cerewet yang selalu mengerti dan mendukung Devano. Dan sebagai balasannya, Devano sudah memenuhi permintaan mama untuk menjadikan calon menantu kesayangan mama ini jadi istri Devano yang sah.”
“Ah itu kan maunya kamu,” gerutu mama Angela dengan wajah masam. Beliau sengaja masih memasang muka kesal padahal hatinya bahagia karena Devano dan Bianca bisa bersatu.
“Mau nya mama dong, kan mama yang suruh-suruh aku menerima Bianca dan menyuruh Bianca pantang mundur mendekati aku.”
“Devano !” Pekik Bianca.
Semua menoleh menatap Bianca yang sudah melotot menatap Devano.
Bianca menggebrak meja.
“Kalau itu alasan kamu, nggak usah tunggu 3 bulan doang, tapi selamanya aja sekalian.”
Bianca bangun dan meninggalkan meja.
“Eh nggak begitu Bi. Aku kan cuma bercanda. Bi…”
Devano bergegas bangun dan mengejar Bianca yang berjalan menuju ke arah dapur.
Sementara yang ditinggal duduk di meja saling melemparkan pandangan dan tertawa keras.
“Anak kalian tuh ya, pintar-pintar bodoh !” ujar Opa Ruby sambil geleng-geleng.
__ADS_1
“Untung calon istrinya model Bianca, kalau nggak sudah habis dia di bully sama istrinya,” lanjut Opa Ruby kembali.
Gelak tawa masih terdengar di meja keluarga sekaligus rasa bahagia karena Bianca dan Devano akan bersatu.