Bukan Mantan Pacar

Bukan Mantan Pacar
Bab 75 Gagal Fokus


__ADS_3

Devano membuka pintu depan sebelah pengemudi saat mereka sudah sampai di pakiran. Arya langsung menarik bahunya dan memberi kode supaya Devano duduk di belakang.


“Kenapa ?” Devano mengernyit.


“Elo mengkhayal di belakang aja sendirian. Gue mau pacaran dong di depan.”


Devano melongo, menatap Arya dan Mia bergantian.


“Kalian pacaran ?” Kedua orang itu mengangguk kompak.


“Sejak kapan ?” Wajah Devano masih mode terkejut.


“Udah ceritanya sambil jalan. Pindah lo ke belakang.”


Akhirnya Devano mengalah duduk di belakang tanpa membantah lagi. Diusapnya bibirnya sambil senyum-senyum saat mobil perlahan melaju meninggalkan pikiran.


Arya yang melihatnya dari spion tengah jadi geleng-geleng kepala sambil berdecak. Mia menoleh melihat kekasihnya yang langsung memberi kode pada penumpang di belakangnya.


Posisi Devano yang duduk persis di belakang Arya membuat Mia bisa melihatnya saat menoleh ke belakang.


“Elo masih waras kan Devan ?” Mia tidak bisa lagi menahan tawanya.


“Maklum sayang, namanya juga orang baru jadian.” Arya ikut menimpali dan tertawa juga.


“Sirik !” Omel Devano.


Matanya menatap ke luar jendela memandang pesawat yang mulai mengangkasa. Entah itu pesawat yang ditumpangi oleh Bianca atau bukan, yang pasti rasa rindu ingin berdekatan langsung menyeruak dalam hatinya.


“Elo sampai harus paksa cium Bianca supaya terima elo ?” Goda Arya sambil melirik ke arah spion.


“Nggak.”


“Pelit amat jawabannya,” cebik Mia. “Kayaknya salah kita bantuin mereka ketemu, Yang.”


“Perhitungan.” Gerutu Devano.


“Gue telepon Bianca nih kasih tahu kalau batalin aja jadiannya soalnya pacarnya balik mode kulkas.”


“Kayak anak kecil aja bisanya ngancem.”


Mia dan Arya kembali tergelak melihat wajah Devano yang semakin masam. Biasanya wajah datar itu tidak pernah menanggapi gurauan para sahabatnya.


“Jadi diterima apa ditolak Van ?” Mia menoleh ke belakang.


“Digantung,” lirih Devano.


“Mana bisa Bianca menolak, Yang, langsung disosor dan distempel sama Devan.” Arya yang menjawab.


“Baru tahu gue kalo Devano sebegitu romantisnya. Co cweeet…”


“Kamu mau juga aku sosor kayak gitu, Yang ?” Arya melirik kekasihnya. Mia langsung memukul bahu Arya dengan manja.


“Kasihan nanti Devano yang lagi menahan rindu dan digantung cintanya, melihat ke uwuan kita.” Mia mengedipkan matanya sebelah.


“Hati.hati kecantol Desta, Bro. Apalagi tiap hari sama-sama, satu rumah, satu…”


“Stop !” Seru Devano yang semakin cemberut mendengar omongan Arya yang semakin mirip kompor meleduk.


“Jangan jadi kompor,” sungut Devano.


Mia dan Arya tidak berhenti tertawa dan menggoda Devano.


“Ngomong-ngomong kalian beneran jadian ?” Devano menggeser duduknya ke tengah.


“Perlu bukti ?” Arya menatap Devano dari spion tengah.


“Sayang,” panggil Arya dan membuat Mia menoleh lalu…


Cup


Arya langsung mengecup bibir Mia. Antrian di gerbang tol memberikan kesempatan untuk Arya mencium Mia sekilas.

__ADS_1


“Ccckkk…” Devano berdecak.


“Sejak kapan ?”


“Udah hampir setahun.”


“What ?” Devano membelalak sambil memajukan badannya. “Kok bisa ?”


“Kenapa ? Elo ngerasa gue nggak pantes buat Arya ?” Mia memutar badannya ke belakang dan menatap Devano dengan galak membuat Devano meringis .


“Nggak… nggak begitu… Cuma gimana ceritanya ? Bukannya dulu Arya sukanya…” Devano tidak melanjutkan kalimatnya.


“Gue udah ditolak 2x sama Bianca, Devano. Ngapain kejar cinta yang udah tahu maunya kemana, makanya gue harus move on dong. Eh jodoh nggak lari kemana, ketemu sayangku ini yang buat hati meleleh.”


Arya dengan gaya gombalnya mengelus rambut Mia, membuat gadis itu memutar bola matanya namun dalam hati berbunga-bunga juga.


“Jadi pas elo deketin Bianca, kalian sudah jadian.”


“Eh ralat ya…” protes Arya dengan wajah kesal. “Gue nggak deketin Bianca, tapi elo yang suruh gue mendekati Bianca supaya dia nggak terlalu kecewa sama elo kan ? Lagian semua yang gue lakuin ke Bianca atas sepengetahuan dan ijin dari sayang gue ini.”


“Arya,” Mia berucap manja. “Malu panggil sayang-sayang terus di depan Devano.”


Devano langsung berdecih dan memandang ke samping melihat kelakuan kedua mahluk di depannya.


“Elo nggak keberatan kelakuan Arya, Mi ?”


“Nggak lah,” Mia menggeleng. “Gue sama Arya malah sengaja bikin elo salah kaprah. Dan kalau elo nggak berubah juga, kita berdua udah rencana mau menjodohkan Bibi sama Desta.”


“Eh nggak boleh !” Protes Devano cepat.


“Bianca nggak boleh jadian sama Desta. Dia udah jadi milik gue sekarang.”


“Katanya masih digantung,” ejek Arya.


“Kalau perlu besok gue nyusul ke sana buat pastiin Bianca udah milik gue.”


“Waahhh seorang Devano menuju bucin ni,” ledek Mia.


“Tadi dia bilang di Salatiga.”


“Salatiga mananya ? Elo kira itu kota cuma segede halaman rumah elo doang ?” Sindir Arya.


Devano berpikir sejenak. Perkataan Arya benar juga, dimana persis Bianca tinggal Devano belum tahu. Mau nanya pada om Ardi, papanya Desta, Devano tidak mengenalnya bahkan belum pernah bertemu dengannya. Devano meraih handphone nya yang ada di jok mobil. Dia mulai mengetik pesan di aplikasi berwarna hijau dengan nama penerimanya Bianca. Dia menanyakan alamat tempat tinggal Bianca. Meski tahu kalau Bianca sedang mematikan handphonenya karena masih dalam pesawat, Devano berharap Bianca segera membalasnya saat handphonenya sudah aktif kembali.


“Gue seneng akhirnya Bianca mendapatkan jawaban yang sebenarnya dari elo, Van.” Mia dengan posisi menatap ke depan bicara pada Devano.


“Dia itu dari dulu memang cinta juga sama Bianca, cuma gengsi.” Arya mencebik.


“Gara-gara elo juga.” Omel Devano.


“Kok jadi gue yang salah ?” Arya menatap Devano kembali dari spion.


“Opa tahu kalau elo suka sama Bianca. Waktu kita ketemuan di Singapur sebelum berangkat kuliah, opa minta gue supaya memberikan Bianca buat jadi pacar elo bahkan istri elo.”


“Kenapa elo mau ?” Arya menautkan kedua alisnya. “Kan gue udah pernah cerita kalau Bianca menolak perasaan gue. Dan bukan model gue bertahan maksain perasaan gue.”


“Tapi opa yakin kalau Bianca memang jodohnya sama elo dan gue diminta membantu mewujudkan keyakinan opa tersebut.”


“Parah lo ! Nggak punya prinsip !” Ejek Mia.


“Maksud lo ?” Devano mengernyit.


“Elo itu tahu gimana perasaan Bianca sama elo, dan elo sendiri tahu perasaan elo sendiri gimana ke Bianca. Kalau memang elo beneran cinta juga sama Bianca, mau orang lain minta sampai nangis darah supaya kalian berpisah , seharusnya kan elo tolak. Elo perjuangkan cinta elo sendiri.”


Devano terdiam mendengar perkataan Mia. Ya, selama ini dia sadar kalau terlalu mengabaikan perasaannya sendiri sampai-sampai malah menyakiti Bianca. Hanya karena permintaan Opa Ruby yang hampir tidak ada habisnya, Devano membiarkan cintanya dipendam tanpa melihat bagaimana perasaan Bianca sendiri.


“Elo harusnya berterima kasih sama Arya dan Revan. Mereka udah berjasa jagain Bianca selama kuliah supaya nggak diambil orang.” Ujar Mia sambil mengusap lengan Arya .


“Jagain gimana ?”


“Jangan elo kira Bianca nggak banyak yang melirik,” sindir Mia lagi.

__ADS_1


“Revan sampai ngaku-ngaku kalau dia itu calon masa depannya Bianca di kampus. Cowok-cowok yang usaha sama Bianca langsung ditendang mundur.” Ujar Arya


“Dia tempelin terus udah kayak perangko.” Mia terkekeh mengingat cerita Bianca yang merasa kesal karena Revan seperti bayangan buatnya.


“Loh kan Revan sama Diana ?” Devano mengernyit.


“Ya Diana ikutan juga bikin drama buat Bianca.”


“Bianca sampai nembak Revan.” Arya tertawa saat mengingat ekspresi Revan yang cemas karena mengira kalau Bianca salah paham dengan kebaikannya.


“Diana sama Revan sampai kebingungan saat Bianca malah nembak Revan balik.”


“Terus gimana ?”


“Ternyata itu trik nya Bianca doang. Dia sudah punya firasat kalau Diana sama Revan pacaran, tapi mereka nggak mau ngaku. Jadilah malah Revan sama Diana yang terjebak drama nya Bianca.”


“Kalau sampai elo nyakitin hati Bianca lagi, nih..” Mia menunjukkan kepalan tangannya pada Devano.


“Bakalan kita keroyok ramai-ramai loh, Van. Belum lagi Tante Angela sama Diana, bisa habis loh dikuliti.”


Arya dan Mia tertawa bersamaan. Rasanya senang bisa menggoda Devano.


“Jadian setelah hampir 10 tahun masa bakal gue sia-siakan.” Jawab Devano.


“Ke rumah gue dulu ya, Van. Nanti bisa pulang sendiri kan ?”


“Elo anter gue ke rumah aja, habis itu bawa mobil gue aja.”


“Eh rempong banget kalo begitu. Besok gue anterin mobil lagi ke rumah elo ?”


“Nggak lah, kan bisa suruh sopir ambil ke rumah elo.”


“Kenapa nggak habis antar gue dan Mia, elo bawa mobil sendiri pulang ?”


“Gue nggak bisa. Bianca belum balas wa gue nih.”


“Terus apa hubungannya sama pulang sendiri ?” Mia bertanya sambil mengerutkan keningnya.


“Harap dimengerti sayang, hatinya masih galau takut ditikung sama Desta. Devano nggak bisa setir soalnya galfok. Susah bedain gas sama rem, nanti malah nyebur ke kali kan repot.” Arya mengelus lembut pipi Mia.


“Ya ampun Devano !” Mia menepuk jidatnya. “Model orang cool kayak elo bisa gagal fokus juga gara-gara cinta ?”


Sepasang kekasih itu langsung tertawa terbahak. Sementara Devano hanya diam saja sambil menatap handphonenya. Pesan yang dikirim untuk Bianca masih centang satu.


Mobil sudah memasuki halaman rumah keluarga Wijaya dan berhenti dengan sempurna, namun Devano masih tetap dalam posisi semula. Pandangannya tidak beralih pada aplikasi pesan di handphonenya.


Terlihat beberapa kali Devano menarik nafas panjang saat Arya menyebutkan nama Desta sedang bersama pujaan hatinya. Rasanya nggak rela kalau Desta menghabiskan waktu terlalu lama dengan Bianca.


Arya dan Mia yang sudah memutar posisi duduk nya menyamping hingga bisa melihat Devano di kursi belakang saling melemparkan pandangan. Mereka geleng-geleng kepala melihat raut wajah Devano yang gelisah dan cemas.


“Devan, elo masih waras kan ?” Mia memecah keheningan.


“Elo nggak tahu dimana Bianca tinggal, Mi ?” Lirih Devano.


Arya tidak dapat lagi menahan rasa gelinya melihat sikap Devano yang benar-benar tidak se-normal biasanya. Mia sempat menggeleng memberi kode supaya tidak menertawakn Devano terus.


“Devan, Devan, asli gue nggak nyangka elo bisa kayak begini juga. Udah sana turun. Nanti handphone elo meleleh.”


Arya turun dan membukakan pintu untuk Devan. Mia ikutan turun tetapi hanya berdiri di samping mobil.


Tanpa bicara apa-apa Devano turun dari mobil laluberjalan menuju rumahnya dengan pandangan sekali-sekali ke handphone di tangannya.


Baru saja Arya dan Mia membuka pintu mobil untuk melanjutkan perjalanan mereka, dari


Brrukkk !


Suara benturan yang cukup keras sontak membuat mereka menoleh ke arah suara. Saat melihat Devano berdiri depan pintu sambil memegang kepalanya, Arya dan Mia tidak dapat lagi menahan tawa mereka hingga terbahak-bahak.


“Asli Yang, kagak nyangka banget segitunya Devan galfok sampai pintu segede gajah ditabrak juga,” ujar Arya di tengah-tengah tawa mereka.


Sementara di teras Devano masih mengusap jidatnya lalu membuka pintu dan mengabaikan kedua sahabat yang tidak tahu diri itu menertawakannya tanpa menanyakan keadaannya. 😀😀.

__ADS_1


__ADS_2