Bukan Mantan Pacar

Bukan Mantan Pacar
Bab 84 Jangan Buat Baper


__ADS_3

Bianca bangun dari pangkuan Devano. Dia merapikan pakaiannya.


“Aku keluar dulu biar kamu bisa konsentrasi urusin kerjaanmu. Lagian Dimas sama Arya pasti nggak enak mau masuk kamar kalau aku ada di sini.”


“Nggak usah keluar !” Tegas Devano. “Temenin aku di sini. Modelan Dimas dan Arya pasti tetap masuk biarpun kamu ada di sini. Lagian kita nggak melakukan apa-apa yang mereka nggak boleh lihat.”


Blush. Wajah Bianca langsung terasa panas hingga merona.


“Kalaupun sampai ketangkap aku melakukan apa-apa sama kamu, suruh Dimas laporan sama papa biar cepat dinikahin.”


“Ngaco !” Bianca memukul lengan Devano. “Dari kemarin ngomongnya nikah melulu.”


“Memang maunya aku begitu. Kamu balik ke Jakarta langsung aku nikahin. Kamu nggak mau ?” Devano memegang kedua bahu Bianca dan menatapnya.


“Selama kamu nggak larang aku selesaikan kuliah S2, aku….”


“Terima kasih, Bi. Aku sangat mencintaimu.” Devano langsung merengkuh Bianca dalam pelukannya.


“Tuh kan !” Seruan dari pintu membuat Bianca dan Devano menoleh namun Devano tidak membiarkan Bianca lepas dari pelukannya. Devano hanya merenggangkan pelukannya namun tangannya masih tetap di pinggang Bianca.


“Gue bilang juga apa, Ar. Mata kita bakal ternodai.” Ocehan Dimas langsung terdengar saat pintu semakin lebar terbuka.


“Kasihan yang jomblo jadi makin iri aja,” ledek Arya yang mengikutinya dari belakang.


Bianca tersipu malu dengan wajah merona saat ditatap Dimas dan Arya. Apalagi Devano semakin mengeratkan pelukannya.


“Iri bilang boss,” ledek Devano.


“Dih lihat tuh Ar, itu bocah bisa malu-malu meong juga.” Dimas menunjuk pada Bianca.


“Eh sembarangan panggil bocah. Dasar situ om om ya,” jawab Bianca sambil mencibir.


“Memang kamu bocah, badan nggak tinggi-tinggi.” Dimas menjulurkan lidahnya.


“Awas jatuh cinta, Dim,” Goda Arya setengah berbisik namun masih bisa terdengar oleh Devano dan Bianca.


“Berani jatuh cinta sama calon istri gue, langsung gue mutasi ke antah berantah.” omel Devano.


“Duh calon istri, Ar,” Dimas kembali meledek sambil mencibir. “Nikahnya aja minta digrebek Pak RT, kagak modal. Udah berani go public kenalin calon istri.”


“Selama bisa dapat yang gratis kenapa harus bayar ? Kan begitu slogan Kak Dimas kalau lagi malak makanan aku,” Bianca membalas ledekan Dimas sambil mencibir.


Arya tertawa mendengar perkataan Dimas.


“Pantesan jodoh elo jauh, Bro.” Arya menepuk-nepuk bahu Dimas sambil tertawa. “Pengennya yang gratis melulu. Udah gitu mintanya sama bocah lagi.”


“Rasain lo !” Timpal Devano dengan wajah mengejek sambil tertawa.


“Dih udah berani ya kamu, Bi.” Dimas mendekati Bianca dan Devano.


Devano melepas pelukannya dan membawa Bianca ke belakang tubuhnya.


“Mau diapain calon istri gue ?” Devano melotot sementara Bianca cekikikan di belakang Devano.


“Hehheehe nggak boss, mau kasih selamat akhirnya cintanya Bianca kesampaian, kagak cinta gantung lagi.” Dimas menggaruk tengkuknya.


“Ucapan selamatnya diwakilin sama gue aja.” Ujar Devano dengan nada galak.


Arya yang melihat keduanya hanya geleng-geleng sambil tertawa pelan.


“Lah yang menderita kan Bianca karena cintanya digantung, masa yang dikasih selamat malah elo nya.”


“Mulai sekarang nggak boleh dekat-dekat !”


“Belum jadi istri aja udah posesif. Dulu gue rangkul Bianca, elo santai maning Bro,” ledek Dimas.


“Lain dulu, lain sekarang.”


“Bi,” Dimas memiringkan sedikit badannya melihat Bianca yang mengintip dari balik Devano. “Masa segitu jaimnya sama kakak tercintamu ini.”

__ADS_1


Dimas sengaja mengedipkan sebelah matanya pada Bianca membuat Devano semakin menajamkan tatapannya.


“Bukan jaim, tapi nurut sama calon suami,” jawab Bianca sambil terkekeh.


Devano langsung menoleh dan tersenyum bahagia saat mendengar Bianca menyebutnya calon suami.


“Udah Blo, cepetan cari pacar deh.” Arya mendekat dan merangkul bahu Dimas sambil menepuk-nepuknya.


“Bla Blo Bla Blo, elo kira gue Blorong ?” Omel Dimas.


Bianca dan Arya tergelak melihat wajah Dimas yang kesal. Devano masih menggenggam jemari Bianca sambil menatapnya penuh cinta.


“Jangan dipandangin terus Van, lama-lama Bianca bisa lumer,” goda Arya yang melihat Devano tidak berpaling masih menatap Bianca.


Gadis itu yang baru sadar masih ditatap oleh Devano menjadi tersipu malu sampai memerah wajahnya.


“Asli pasangan bucin tahun ini,” umpat Dimas kesal.


Tidak lama terdengar suara panggilan masuk di handphone Dimas. Pria itu segera mengangkat panggilan dari Papa Harry dengan tulisan Big Boss di layar handphone Dimas.


Tidak lama Dimas menutup teleponnya.


“Van, siap-siap zoom meeting sama Om Harry dan klien dari Jepang yang pernah datang ke kantor.” Wajah Dimas berubah sedikit serius.


“Aku keluar dulu ya, kamu langsung zoom meet aja sama Dimas dan Om Harry.”


Bianca melepaskan genggaman Devano dan mengelus lembut lengan pria itu sebelum meninggalkannya.


Devano menahan lengan Bianca lalu tanpa permisi dia mencium pipi Bianca.


“Nggak bisa bikin orang nggak iri, boss.” Gerutu Dimas membuat Arya kembali tertawa.


“Devan ih,” Bianca memukul lengan Devano pelan namun hanya ditanggapi dengan kekehan pria itu.


“Biar mereka tahu kamu itu punyanya Devano.”


“Gue keluar juga ya,” Arya berbalik sambil melambaikan tangannya.


“Titip Bianca, Ar. Tapi awas lo jangan pake pegang-pegang segala.” Seru Devano sebelum Arya menghilang di balik pintu.


“Nggak janji kalo itu, Van.” Arya kembali melongokan kepalanya dengan tersenyum licik lalu buru-buru kembali menutup pintu tanpa menunggu jawaban Devano.


Sementara Devano hanya mendengus kesal namun kembali ke meja dan laptopnya lalu bersiap-siap melakukan zoom meet sesuai dengan permintaan papa Harry.


Ternyata Bianca langsung pergi ke kebun belakang menghampiri Sella yang sedang duduk di gazebo. Devano tersenyum karena masih bisa melihat Bianca dari jendela kamarnya.


Dimas hanya geleng-geleng kepala melihat kebucinan seorang Devano Putra Wijaya.


Dimas membuka pesan di handphonenya yang dikirim oleh Eva dan mulai mengetik kode angka untuk masuk ke zoom meet.


Bianca ikut duduk di dekat Sella yang sedang memejamkan mata menikmati hembusan angin. Arya tadi pamit pergi dengan Desta meninjau lokasi tanah yang akan dibangun resort.


“Maaf ya Sel, tadi aku beresin dulu urusan sama Devano,” Bianca menyapa Sella setelah duduk di sebelahnya.


“Senang sekaligus sedih melihat kamu sama Devano, Bi.” Sella menatap Bianca sekilas lalu memalingkan wajahnya menatap lurus ke depan.


“Maaf kalau membuat kamu jadi ingat soal Andre,” ujar Bianca dengan nada bersalah.


Sella menggeleng sambil tertawa pelan. Dia menoleh menatap Bianca yang merasa bersalah.


“Bukan sedih karena ingat Andre. Senang karena cinta kalian yang teruji selama hampir 10 tahun akhirnya bisa bersatu. Sedihnya karena harapan untuk membuat kamu jadi pendamping Kak Desta sudah tidak lagi memungkinkan.”


“Maaf, Sel.” Lirih Bianca.


“Jangan sedih begitu dong, Bi.” Sella meraih tangan Bianca dan menggenggamnya sekilas.


“Aku memang masih bocah, Bi, tindakanku suka sembarangan tanpa pertimbangan matang. Ego ku masih begitu besar, apalagi selama ini hampir semua keinginanku pasti terpenuhi. Tapi kehamilanku ini membuat aku sadar bahwa tidak semua keinginan kita bisa didapatkan. Bahkan aku merasa bahwa semua ini terjadi karena sifat ambisi aku yang menciptakan obsesi dan mengatasnamakan cinta di dalamnya.” Sella menarik nafas dalam-dalam lalu membuangnya dengan berat.


“Sekarang aku sadar, apalagi melihat kamu dan Devano. Cinta selalu tahu kemana hatinya harus berlabuh, tidak bisa diatur apalagi dibeli.”

__ADS_1


Sella menarik nafas panjang lagi lalu mengelus perutnya dengan lembut.


“Begitu juga dengan hatimu, Bi. Cintamu dan Kak Devano harus melewati banyak ujian sebelum mencapai pelabuhannya. Jadi aku tidak bisa memaksakan hatimu untuk menerima Kak Desta.”


“Kakakmu itu orang yang luar biasa, Sel,” Bianca mengelus punggung Sella. “Gambaran laki-laki sempurna untuk seorang kekasih bahkan calon suami.”


“Kecuali untukmu, Bi.” Sella tertawa pelan.


“Sebetulnya banyak yang mencoba menarik perhatian kakakmu, tapi dasar Kak Desta terlalu hanyut dalam kepahitan masa lalunya. Nanti akan aku bicarakan dengannya kalau dia harus bangkit, tunjukkan sama mantannya kalau Desta adalah seorang laki-laki yang kuat. Kalau perlu buat mantannya itu menyesal menyia-nyiakan seorang Desta.” Nada bicara Bianca yang menggebu membuat Sella melebarkan senyuman.


“Apa kamu bisa bicara dari hati ke hati sama Kak Desta tanpa dicemburui sama Kak Devano ?” Goda Sella.


“Bicaranya nanti kalau Devano sudah pulang ke Jakarta,” ujar Bianca pelan seolah takut ada orang lain yang mendengar.


Sella jadi tertawa melihat sikap Bianca.


“Apa Kak Devano memang se-posesif itu dari dulu, Bi ?”


“Aku nggak tahu,” Bianca menggeleng. “Selama aku mendekatinya pas SMA, Devano cenderung memiliki sikap yang dingin, datar dan acuh pada orang lain. Dan saat ini, aku sendiri harus belajar lagi mengenal Devano, Sel. Hatiku memang terpaut padanya hampir 10 tahun, tapi hanya dalam keinginan bukan kebersamaan. Jadi secara kepribadian aku belum terlalu mengenal Devano.”


“Jadi kamu mau menunda pernikahan kalian ?”


“Aku sendiri bingung, Sel. Pacaran untuk saling mengenal aja baru kami jalani belum 72 jam, Banyak sikap Devano yang baru aku lihat dua hari ini. Aku sendiri nggak tahu kalau Devano se-posesif itu bahkan pada orang-orang terdekatnya.”


“Itu karena cowok-cowok yang ada di dekatnya pernah punya perasaan sama kamu,” Sella tertawa pelan.


“Kalau aku jadi Kak Devano sudah pasti khawatir juga, apalagi sama Kak Desta. Kamu tahu kalau Kak Dimas itu hampir benar-benar menyukai kamu kan, Bi ?”


“Kak Dimas ?” Bianca terbelalak.


“Iya,” Sella menggangguk. “Tadi di meja makan setelah kamu menyusul Kak Devano, Dimas dan Arya saling bercerita kalau mereka memang cowok-cowok yang sempat menaruh hati padamu.”


“Kalau Arya aku tahu, Sel. Dia memang pernah nembak aku pas SMA. Tapi kalau Kak Dimas ?” Bianca terbengong dan agak terkejut dengan perkataan Sella.


“Mungkin sikapmu yang gampang akrab dan humble pada orang lain membuat para cowok jadi gampang baper. Apalagi cowok-cowok kelamaan jomblo kayak Kak Dimas dan Kak Desta.”


Bianca menghela nafas dan membuangnya dengan kasar.


“Kayaknya aku harus merubah diri nih supaya nggak jadi perempuan penggoda jomblo nih.” Raut wajah Bianca terlihat serius.


Sella tertawa mendengar perkataan Bianca.


“Bukan cuma jomblo yang tergoda, Bi, tapi yang harus diwaspadai adalah pria-pria jablai istri. Apalagi kalau nanti sesudah jadi psikolog profesional, jangan sampai klien pria yang bermasalah dengan rumah tangganya malah kepincut sama kamu.” Tutur Sella sambil terkekeh.


“Bibit pelakor dong namanya.” Ujar Bianca.


Sella kembali tertawa begitupun dengan Bianca.


“Kalau begitu nanti aku jadi psikolog khusus anak-anak aja biar aman.”


“Nanti ketemu sama bapaknya sama aja, Bi,” ledek Sella sambil tergelak.


“Terus jadinya salah pilih jurusan dong.” Bibir Bianca langsung mengerucut.


“Yang aman duduk manis jadi Nyonya Devano aja, Bi.” Goda Sella.


“Ogah udah capek-capek kuliah, kerjanya cuma di rumah nunggu suami pulang,” sungut Bianca.


“Jadi sosialita dong, Bi. Istri konglomerat tugasnya itu mempergunakan uang suami sebaik-baiknya supaya suami senang.” Goda Sella.


“Kerjanya cuma mempercantik diri sama manjakan suami ya, Sel ?”


Sella mengangguk sambil tersenyum.


“Kalau begitu bisa-bisa aku malah butuh psikolog karena stress. Biasa jumpalitan sama aktivitas di luar, di suruh duduk manis dan mempercantik diri biar kayak Barbie.” Bianca menggeleng-gelengkan kepalanya, membayangkan perkataannya sendiri.


Sella kembali tertawa melihat tingkah laku Bianca.


“Kamu itu memang unik, Bi. Di saat banyak wanita ingin seperti kamu hanya duduk manis sebsgai istri konglomerat, kamu malah menolaknya. Tidak aneh begitu banyak pria terpikat olehmu. Seandainya aku bisa menerima kenyataan hidup dan berpasrah pada takdir seperti kamu, mungkin aku tidak akan membuat kesalahan seperti sekarang ini. Aku tidak menyesali kehadiran janin di dalam rahimku, tapi yang aku sesali sikap memaksaku yang membuat janin ini hadir tanpa diinginkan oleh papanya sendiri.” Sella bermonolog dalam hatinya.

__ADS_1


__ADS_2