
Jam 6.45 ketiga sahabat itu tiba di tempat yang dituju. Dewi sudah tiba duluan dan sejak tadi dia berulang kali menelepon Bianca karena belum menemukan sosoknya di area pintu masuk yang dijanjikan.
“Ya ampun, nggak di Depok, nggak di Jakarta kenapa musti ketemunya elo lagi elo lagi sih ?” Revan mengoceh saat mendapati Dewi sedang duduk dekat situ.
“Dih sewot amit… Suka suka gue lah. Gue juga diajak sama Bianca.” Dewi menjawab sambil mencibir.
“Morning !” Suara cempreng Mia muncul di antara mereka. Di sana sudah ada Arya, Joshua, Leo dan Revan. Ernest tidak bisa ikut karena ada acara keluarga.
“Dewi !” Bianca menghampiri sahabatnya yang berdiri dekat Revan dan langsung memeluknya.
“Kenalin teman-teman SMA gue.” Bianca mulai memperkenalkan Dewi pada semua mantan siswa SMA Dharma Bangsa.
Dewi pun menyalami satu persatu dan berakhir di Mia.
“Biar nggak kesiangan, kita mulai aja yuk !” Ajak Leo yang dianggukkan oleh semuanya.
Mereka pun memasuki joging track yang disiapkan di sana, memgawali olahraga pagi dengan jalan santai.
“SMA nya dulu dimana ?” Della bertanya pada Dewi yang berjalan di sebelahnya.
“Ooo gue di Jakarta Timur, SMA Negeri.”
“Tinggal daerah sana ?” Tanya Mia. Dewi mengangguk sebagai jawaban.
“Ikutan aja kalau nanti kita kumpul-kumpul lagi.”
“Kalian memang satu grup sejak SMA ?”
“Kalau gue, Della dan Bianca iya… Tapi yang cowok-cowok itu bukan. Mereka grup lima sekawan.” Mia menjelaskan.
“Lima sekawan ?” Dewi mengerutkan dahinya.
“Iya lima jajaran cowok-cowok idola. Arya, Joshua, Leo.” Mia menjelaskan sambil menunjuk satu persatu sesuai namanya. Ketiganya berjalan di depan mereka.
“Yang dua lagi nggak ikut. Devano sama Ernest.” Mia melanjutkan penjelasannya.
“Devano ? Mantan pacar Bianca yang nggak jadi ?” Dewi tertawa kecil.
“Bukan mantan pacar. Calon pacar yang gagal.” Della menjawab sambil tertawa.
Bianca yang mendengar tawa ketiga cewek di belakangnya menoleh. Apalagi telinganya sempat mendengar ada nama Devano dan kata pacar dari obrolan mereka.
“Ngomongin gue pasti nih.” Bianca menghentikan langkah dan mensejajarkan dengan posisi Dewi yang berada di belakang Mia dan Della.
“Iyalah siapa lagi kalo bukan elo sama Devano.” Della mengejek lalu tertawa.
“Nggak ada bosennya ya pada ngomongin Devano. Bosen. Cerita basi.” Bianca menjawab sambil merenggut.
“Kalo Revan ? Nggak masuk kelompok mereka ?”
“Dia anak tim basket sekolah bareng lima sekawan.” Mia menjelaskan.
Dewi manggut-manggut. Dipandangnya dari belakang para cowok-cowok teman Bianca.
“Bi, kita joging dulu ya.” Arya menoleh dan dijawab dengan anggukan oleh Bianca.
Keempat cowok yang sudah duluan mulai berlari kecil memulai joging.
“Yang dipamitin Bianca doang.” Mia mencibir.
“Iri aja lo !” Della meyenggol bahu Mia.
“Bi, kayaknya dia belum bisa move on dari elo,” ejek Mia.
“Kenapa ? Elo cemburu ?” Bianca memajukan wajahnya ke Mia lalu tertawa.
“Kalo memang suka bilang Sis, jangan malu-malu gitu.” Bianca menoel dagu Mia sambil tertawa.
“Apaan sih lo !” Mia memberenggut.
__ADS_1
Della dan Dewi ikut tertawa melihat sikap Mia.
“Memang Arya gebetan Mia atau Bianca ?” Tanya Dewi.
“Cinta segitiga.” Celetuk Della sambil tergelak.
“Segitiga model gimana nih Del ? Gue masih belum konek nih.” Dewi memandangi wajah 3 gadis di depannya dengan pandangan penuh tanda tanya.
“Arya sukanya sama Bianca tapi Mia sukanya sama Arya.” Della menjelaskan.
“Ngaco ! Asli ngaco ! Sejak kapan gue suka sama Arya.” Mia memukul bahu Della membuat sahabatnya meringis sambil mengusap bahunya.
Sementara Bianca hanya geleng-geleng kepala sambil tersenyum.
“Arya ganteng kok Mi,” goda Dewi.
“Kakak gue memang ganteng, tapi bukan barang obralan !” Seorang gadis dengan suara nyaring dan ketus mendekat ke arah mereka. Tampangnya tidak bersahabat dan menatap mereka satu persatu dengan wajah menyebalkan.
“Eh siapa lo ?” Tanya Della.
Tempak dua orang gadis seumuran mereka datang mendekat. Bianca memperhatikan wajah keduanya. Salah satunya membuat Bianca menyipitkan matanya, Tanpa gadis itu memperkenalkan diri, Bianca sudah bisa menebak kedua sosok yang baru datang.
“Diana ?” Gumam Bianca pelan namun terdengar oleh si empu pemilik nama.
“Kok tahu ?” Si gadis yang dipanggil Diana menoleh dan tersenyum ke arah Bianca.
“Kamu Bianca, ya ?” Diana balas bertanya.
“Iya.” Bianca mengangguk sambil tersenyum tipis.
“Ooo jadi elo yang namanya Bianca ?”
Tangan Bianca yang tadinya terulur mau membalas uluran tangan Bianca ditepis dengan kasar oleh temannya Diana.
“Jadi ini pelakor yang namanya Bianca ?” Gadis itu mendekatkan wajahnya ke Bianca sambil melotot dan bertolak pinggang.
“Pelakor ?” Bianca mengernyitkan matanya.
“Elo yang udah berani-beraninya menyatakan cinta sama Devano di depan sekolah kan ?”
Bianca tersenyum tipis dan memasang wajah santai.
“Jadi elo Arini ?” Tanyanya santai.
“Iya gue Arini, calon istrinya Devano.” Gadis yang bernama Arini itu memajukan langkahnya masih dengan tatapan menghunus.
“Sorry gue nggak merasa jadi pelakor.” Bianca kembali tersenyum tipis. “Gue nggak ada hubungan apa-apa sama Devano. Lagian elo statusnya juga baru calon istri kan, belum istri beneran. Mana ada gue statusnya jadi pelakor.”
“Elo !” Arini menunjuk wajah Bianca dengan muka kesal dan marah.
“Jangan sembarangan ngatain orang.” Bisik Bianca di telinga Arini.
“Hati-hati dengan sikap elo begini, bukan nggak mungkin Devano membuka peluang buat para pelakor beneran di luar.” Lanjut Bianca sambil melewati Arini.
“Mau kemana lo !” Arini berbalik dan meraih leher kaos Bianca membuat gadis itu tertarik ke belakang.
Bianca berusaha melepaskan tangan Arini dan membalikkan badan berhadapan dengan Arini.
“Gue nggak ada urusan lagi sama Devano !” Suara Bianca mulai meninggi. “Kalo memang eo takut calon suami elo direbut orang, kekepin sana !”
“Elo !” Arini mengangkat tangannya, namun belum sempat bergerak lebih jauh seseorang meneriakkan namanya.
“Arini !” Teriak Arya yang baru saja sampai dekat situ.
Arini mendengus kesal san menurunkan tangannya.
“Apa-apaan kamu !” Bentak Arya sambil melotot ke Arini.
“Aku mau kasih tahu sama pelakor ini !” Arini menunjuk Bianca dengan tatapan kesal. “Aku ini calon istrinya Kak Devano. Jangan sampai dia gangguin terus.”
__ADS_1
“Bikin malu !” Omel Arya sambil menarik tangan Arini menjauh.
“Maafin kelakuan Arini ya,” Diana mendekati Bianca yang terihat kesal lalu meraih jemari Bianca dan menggengamnya erat.
“Nggak apa-apa.” Bianca yang tadi sempat terlihat kesal membalas perlakuan Diana dengan tersenyum.
“Eh aku panggil Bianca aja boleh kan ?” Diana kembali tersenyum.
“Boleh dong, lebih enak malah didengarnya.” Bianca mengangguk sambil tersenyum.
“Oh iya ini kenalin teman-teman satu sekolah kakak kamu juga.”
Bianca memperkenalkan Diana pada semua yang ada di sana dan sejak tadi hanya berdiri memperhatikan drama yang Arini buat.
“Kecuali yang itu,” Bianca membuka suara saat Diana menyalami Dewi. “Dia teman kampusku dan bukan alumni SMA Dharma Persada.”
“Hai Kak Revan,” Diana langsung menyapa saat giliran Revan yang akan diaalami.
“Hai Di, apa kabar ? Lagi liburan lagi di Indo ?” Balas Revan yang masih menggenggam tangan Diana.
“Bukan liburan Kak,” Diana menjawab dengan ekspresi malu-malu. “Aku kan memang melanjutkan kuliah di Jakarta, udah nggak di Aussie lagi.”
“Beneran ?” Wajah Revan berbinar cerah.
Interaksi keduanya membuat Mia dan Della mengerutkan dahi dan tanpa sadar saling melemparkan pandangan
“Kok feeling gue ada yang nggak beres ya ?” Bisik Mia pada Della.
“Iya kayaknya lebih dari sekedar kenal.” Sahut Della dengan bisikan juga.
“Tatapannya nggak bisa bohong ya,” Della mencebik.
Dewi ternyata juga ikut melihat Revan masih asyik mengobrol dengan Diana tanpa melepaskan genggamannya.
“Revan don juan ya pas SMA ?” Dewi mendekati Mia dan Della dan bertanya pelan.
“Nggak juga,” sahut Mia. “Belum pernah dengar Revan pacaran sama salah satu cewek di sekolah.”
“Aneh,” Dewi mengernyitkan matanya. “Deketin Bianca agresif banget sampai bilang kalo Bianca masa depannya. Tapi lihat perlakuannya ke Diana kok kayak ada sesuatu.”
“Iya,” sahut Della tanpa menoleh.
Bianca ternyata baru kembali dari membeli minuman botol ditemani Leo dan Joshua. Ketiganya saling melempar pandangan saat melihat Revan asyik berbincang dengan adik Devano sambil menggenggam jemari Diana. Ketiganya hanya tersenyum tipis.
“Tadi datang cewek ngatain elo pelakor,” tutur Joshua. “Tapi ternyata adiknya Devano mirip-mirip pebinor.”
“Maksud elo ?” Leo menoleh menatap Joshua.
“Elo nggak inget kelakuan Revan semalam ke Bianca. Udah kayak cowok bucin dan beberapa kali ngomong kalo dia tuh masa depannya Bianca.”
“Eh nggak gitu kali Jo,” sangkal Bianca. “Gue nggak ada hubungan apa-apa ya sama Revan.”
“Bener juga sih Jo,” Leo tertawa. “Tadi adiknya Arya datang marahin Bianca dan ngatain nih cewek pelakor.” Leo menunjuk Bianva dengan gerakan jempolnya.
“Sekarang adiknya Devano kayak jadi pebinor gangguin calon masa depannya Bianca.”
“Leo !” Pekik Bianca sambil memukul bahu cowok itu. Sementara Leo hanya tertawa.
“Pake pegang-pegangan tangan segala lagi.” Joshua mengejek sambil tertawa.
“Kalo begini mirip pebinor beneran.” Leo menyahut sambil tertawa.
“Gue setuju.” Dewi menimpali dan ikut tertawa.
Mereka sudah bergabung dan duduk di atas rumput sementara posisi Revan dan Diana tidak terlalu jauh, duduk di atas bangku semen.
“Jadi hari ini ceritanya pelakor ketemu pebinor,” ceetuk Mia.
“Suka-suka kalian lah !” Bianca melengos lalu menenggak minuman botolnya.
__ADS_1
Kelima temannya hanya tertawa. Dari kejauhan terlihat Arya dan Arini datang mendekat.