Bukan Mantan Pacar

Bukan Mantan Pacar
Bab 64 Kunjungan Opa Ruby dan Mama Angela


__ADS_3

Sejak kejadian malam itu, Bianca terlihat lebih pendiam. Gadis itu pun sering menghindar untuk berinteraksi langsung dengan Devano. Bukan Devano saja, bahkan Desta pun kena imbasnya. Beberapa kali Bianca menolak ajakan Desta, entah makan siang atau pulang bareng. Hanya Dimas dan Eva yang masih sering berbincang dengannya.


Dimas dan Eva tidak menanyakan apapun mengenai perubahan sikap Bianca. Melihat Devano juga berubah tidak lagi galak seperti biasanya, membuat sang asisten sudah memahami bahwa telah terjadi sesuatu di antara mereka. Apalagi malam sebelum perang dingin terjadi, Devano sempat meminta bantuan Dimas sampai 2 kali untuk mengecek keberadaan Bianca.


Dua minggu berlalu, seorang perempuan seumuran Eva sudah ditempatkan untuk menggantikan Bianca. Mimi, calon sekretaris baru Devano, sudah berpengalaman dan sangat cekatan hingga Bianca tidak kesulitan untuk mengalihkan tugas-tugasnya.


Di sisi lain, Dimas yang lebih dulu menyadari kalau setelah perang dingin Bianca va Devano terjadi, justru sosok Arya semakin sering datang ke kantor Devano. Memang kedua perusahaan itu sedang menjalin kerjasama membangun rumah sakit yang dikelola oleh keluarga Revan. Yang menjadi perhatian Dimas kalau kedatangan Arya bukan sekedar urusan pekerjaan dengan Devano, tapi Arya selalu menyempatkan diri menemui Bianca. Beberapa kali malah mereka pergi keluar makan atau pulang kerja bersama. Dan kedekatan antara Arya dan Bianca tidak membuat Devano terpancing emosinya. Sangat berbeda jika yang dekat dengan Bianca adalah Desta atau bahkan Dimas sendiri.


Siang ini Bianca sedang sibuk menulis catatan untuk Mimi pada saat makan siang. Dia hanya memakan buah untuk menu siang ini. Dimas sedang pergi meeting di luar dengan Devano sedangkan Mimi makan siang di luar dengan Eva.


“Halo manis,” sapaan yang akrab itu membuat Bianca mengangkat wajahnya dan langsung tersenyum.


Dia segera bangun dan membungkukan badannya.


“Selamat siang Tante.” Senyum lebar menghiasi wajah mungil Bianca.


Mama Angela mendekatinya dan langsung memeluk Bianca.


”Apa kabarnya sayang ? Kamu aman-aman aja kan selama bekerja dengan Devano ?” Mama Angela mengusap pipi Bianca dengan lembut.


“Baik Tante dan aman pastinya.” Bianca tertawa kecil.


“Ehheemm…” suara deheman dari sosok pria yang berdiri di depan pintu masuk ruangan Bianca dan Dimas, membuat gadis itu menoleh. .


“Selamat siang Pak. Ada yang bisa saya bantu ?” Bianca membungkukan badan dan hendak mendekati pria beruban dan memakai tongkat itu.


Mama Angel menahan Bianca dan menggeleng sebagai kode pada Bianca kalau tidak perlu mendekati sosok pria itu.


“Itu Opa Ruby. Papa nya Tante.” Jelas Mama Angela.


“Selamat siang Pak Ruby,” Bianca kembali menyapa sambil membungkuk sopan.


“Panggil opa dong, jangan Pak Ruby.” Mama Angela tertawa.


“Eh iya… selamat siang Opa Ruby.” Bianca tersenyum kikuk.


“Pa, kenalkan ini yang namanya Bianca.”


Bianca mengulurkan tangannya pada Opa Ruby. Sejenak opa Ruby memicingkan mata menelisik Bianca dari atas sampai ke bawah.


“Pa,” tegur mama Angela.


Opa Ruby mengulurkan tangannya menggenggam tangan Bianca.


“Kamu sekretarisnya Devano ?”


“Hanya magang opa, dan akan berakhir 2 minggu lagi. Sudah ada penggantinya juga.”


“Kamu kok nggak makan siang ?” Mama Angela bertanya sambil mengelus punggung Bianca.


“Sudah makan buah Tante.”


“Yuk temenin tante dan opa makan siang.”


“Tapi Tante…” mama Angela langsung menarik tangan Bianca.


“Saya ambil tas dulu Tante,” Bianca kembali ke mejanya dan mengambil tas serta handphonenya.


Mama Angela masih menggandeng lengan Bianca berjalan di belakang opa Ruby yang sudah melangkah menuju lift. Ternyata papa Harry sudah berdiri di dekat lift.


Mama Angela melepaskan tangan Bianca dan mengambil handphone lalu menghubungi seseorang.

__ADS_1


“Mama ajak Bianca makan siang dulu. Jangan dicari-cari, ya.”


Dari percakapan itu Bianca tahu kalau mama Angela sedang berbincang dengan Devano.


Bianca sendiri sudah mengirim pesan pada Dimas .


Bianca : Kak aku diajak makan siang sama Tante Angela. Kayaknya Pak Devano sudah tahu juga.


Dimas : Aman 👌🏻 Boss lagi meeting juga.


Papa Harry mengajak mereka ke restoran yang tidak jauh dari kantor namun tetap ditempuh dengan mobil. Mereka masuk ke ruang VIP yang memang sudah disediakan. Duduk di meja bulat dengan posisi Bianca di antara mama Angela dan Opa Ruby.


“Kamu temannya Devan ?” Tanya opa Ruby di balik kacamatanya.


“Iya opa, teman dari SMP.”


“Sekedar teman atau pacar ?” Opa Ruby tidak mengurangi pandangannya yang penuh selidik membuat Bianca menjadi gugup.


“Oh teman kok, opa. Saya belum pernah pacaran.”


“Saya nggak tanya.” Perkataan opa Ruby membuat wajah Bianca memerah karena malu.


Di sebelahnya mama Angela dan papa Harry saling memandang sambil tersenyum.


“Kamu tamat kuliah ?”


“Baru akan opa, selesai magang dari perusahaan Pak Devano.”


“Pak Devano ?” Opa Ruby mengernyit mendengar panggilan Bianca pada temannya.


“Kan Devano atasan saya saat ini,” Bianca tertawa kecil. “Jadi sudah seharusnya saya panggil Bapak.”


“Kamu lulusan mana ?”


Opa Ruby terdiam dan menunggu pelayan menyajikan pesanan mereka.


“Makan dulu ya, pa. Ngobrolnya dilanjutkan nanti.” Mama Angela mulai menyendokkan nasi untuk opa Ruby lalu papa Harry.


“Nggak boleh malu-malu ya sayang.” Mama Angela menepuk tangan Bianca dan dibalas dengan anggukan.


“Kamu kenal Arya ?” Tanya opa Ruby di tengah-tengah makan.


“Kenal opa. Bahkan orangtua saya adalah mantan karyawan di perusahaan keluarga Arya.”


“Mantan ?” Opa mengernyit.


“Iya opa, beliau meninggal hampir 5 tahun yang lalu.”


“Bianca ini anaknya Indra, pa.” Papa Harry menjelaskan.


Opa Ruby menoleh menatap Bianca lebih intens.


“Iya saya anak dari Indra Susanto, opa.” Bianca tersenyum tipis.


Makan siang pun berlanjut tanpa percakapan apa-apa lagi. Setelah semua selesai, mereka masih bersantai sambil menikmati hidangan penutup.


“Kamu kenal dengan gadis yang diperebutkan Arya dan Devano ?” Pertanyaan opa Ruby membuat Bianca yang sedang menikmati buah jadi tersedak.


Mama Angela memukul punggung Bianca dan memberikan segelas minuman.


“Sepertinya selama kami bersekolah belum pernah melihat Devano dan Arya bertengkar karena masalah perempuan.” Jawab Bianca pelan.

__ADS_1


“Apa kamu yakin tidak mengenal perempuan yang sama-sama disukai oleh Devano dan Arya ?” Opa Ruby memicingkan matanya.


Papa Harry hanya menggeleng-gelengkan kepala mendengar pertanyaan-pertanyaan opa Ruby yang lebih mirip interogasi.


“Saya tidak pernah tahu gadis yang disukai Devano, opa. Kalau Arya…” Bianca terlihat ragu-ragu bicara.


“Kenapa Arya ?” Selidik opa Ruby.


“Bukannya Arya sudah punya pacar, opa ?” Bianca berkata pelan.


“Darimana kamu tahu kalau Arya sudah punya pacar ?”


“Kebetulan pacarnya Arya itu sahabat baik saya sejak SMA.”


“Saya tidak menanyakan tentang pacar Arya yang sekarang.” Nada Opa Ruby sedikit meninggi.


“Yang saya tanyakan gadis yang sama-sama disukai Devano dan Arya saat sekolah dulu.”


Bianca terdiam, bingung harus menjawab apa. Bilang kalau dirinya pernah ditembak Arya namun ditolaknya ? Tapi gadis yang disukai Bianca ? Dia sendiri tidak yakin kalau Devano juga menyukainya saat SMA karena terang-terangan Devano menunjukkan sikap tidak sukanya saat Bianca dekat dengan mama Angela.


“Atau kamu justru gadis itu ?” Pertanyaan dengan nada tegas dan dingin itu membuat Bianca terkejut dan membelalakan matanya.


“Saya ?” Bianca menunjuk pada dirinya sendiri. Setelahnya Bianca tertawa dengan sumbang. Beberapa kali dia menelan salivanya dengan susah payah sebelum melanjutkan perkataannya.


“Saya bukan gadis yang disukai oleh Devano.” Bianca memberanikan membalas tatapan Opa Ruby dengan wajah sendu.


“Bahkan Devano sangat membenci saya karena sudah membuatnya malu akibat surat cinta yang saya kirimkan padanya.” Lirih Bianca sambil menundukkan kepalanya.


Papa Harry langsung menggenggam tangan mama Angela dan memberi kode dengan gelengan saat dilihat istrinya ingin buka suara.


“Kamu yakin ?” Opa Ruby mengernyit.


Bianca mengangguk pelan tanpa berani mengangkat wajahnya.


“Apa Devan pernah bilang dia membencimu ?”


“Tidak pernah.” Bianca menggeleng.


“Lalu kenapa kamu membuat kesimpulan kalau Devan membencimu ?” Opa Ruby kembali mengernyit. Gadis yang duduk di sampingnya tetap dalam posisi menduduk sambil memainkan sepotong melon yang ada di piringnya.


“Devano pernah meminta saya untuk tidak menanggapi permintaan Tante Angela supaya saya tetap mendekati Devano. Dan dua minggu lalu…”


Bianca terdiam kembali. Rasanya memalukan menceritakan bagaimana dia menangis bagaikan pacar yang dicampakkan kekasihnya.


“Kenapa dua minggu lalu ?” Opa Ruby menegakkan duduknya dan bertanya dengan tidak sabar.


“Devano sudah memastikan kalau perasaannya pada saya tidak seperti yang orang lain pikirkan.”


Bianca menarik nafas panjang dan memberanikan diri mengangkat wajahnya.


“Dan saya sudah berjanji akan menjauhkan diri dari Devano dan menghapus semuanya tentang Devano dari hati saya.”


Bianca mengumpulkan semua keberaniannya sambil menatap satu persatu mulai dari Opa Ruby, mama Angela dan papa Harry.


“Maafkan saya tante,” Bianca kembali menatap mama Angela.


Mama Angela ikutan menarik nafas berat. Ada kesedihan dalam hatinya bukan karena Bianca menyerah tapi karena Devano terlalu berkeras hatinuntuk mengakui perasaannya.


“Kami yang seharusnya minta maaf karena terlalu yakin dengan apa yang kami lihat, sayang. Lakukanlah apa yang terbaik untukmu.”


Mama Angela membelai rambut Bianca dengan penuh rasa sayang sambil tersenyum. Bianca pun ikut tersenyum meski terasa pahit dan menyakitkan.

__ADS_1


Sekali-sekali opa Ruby mengernyit dan memperhatikan apa yang dilakukan Bianca. Papa Harry memilih diam dan membiarkan istrinya yang memutuskan tentang hubungan cinta anak sulungnya.


__ADS_2