Bukan Mantan Pacar

Bukan Mantan Pacar
Bab 57 Bukan Sekedar Karyawan


__ADS_3

Bianca hanya menyanyikan 3 buah lagu malam ini. Selesai menyanyi, Bianca menuju meja yang disiapkan pihak cafe untuk para pengisi acara. Sudah disediakan minuman dan cemilan di sana.


Bianca sedang menimbang-nimbang mendatangi atau tidak meja para cowok temannya. Satu sisi Bianca tidak enak karena mereka sudah saling menyapa meski dari jauh, di sisi lain sosok Devano ada di sana.


Lamunannya buyar saat seseorang menepuk bahunya.


“Kak Desta !“ pekik Bianca saat menoleh pada sosok yang menepuknya.


Sadar kalau pekikannya bisa mengganggu penyanyi bahkan pengunjung, Bianca menutup mulutnya.


“Kok bisa Kak Desta ada di sini ?”


Cowok tampan yang berdiri di depannya hanya memberikan senyuman manis buat Bianca.


“Bukannya ini cafe ya ? Siapa saja boleh datang kan ?”


“Maaf.. maaf” Bianca tergelak.


Desta makin melebarkan senyumnya. Setiap kali melihat Bianca tertawa, ada getaran di hatinya tidak mampu ditahannya.


Arya yang melihat Bianca bicara akrab dengan laki-laki asing langsung bangun dari kursinya dan menghampiri Bianca.


“Bi,” sapanya pelan.


“Arya !” Bianca memekik namun kali ini pelan. Arya datang dari arah belakang punggungnya.


Tanpa permisi, Arya langsung menarik lengan Bianca mengajaknya menuju meja para sahabatnya. Bianca yang tidak siap ditarik oleh Arya sempat menabrak kursi dan buru-buru ditahan oleh Desta supaya tidak sampai terjatuh. Bianca memberi kode supaya Desta memgikutinya.


“Bianca.”


“Bi”


Masing-masing cowok kecuali Devano tentunya menyapa Bianca yang dibalas dengan senyuman dan lambaian tangan Bianca.


“Hai semua !”


“Kok sekarang jadi cantik ya ?” Goda Leo.


“Jadi dulu jelek ya Le ?” Bianca mencibir lalu ikut tertawa bersama Leo.


“Duduk sini Bi,” Leo memberikan kursinya yang persis di sebelah Devano.


Bianca sempat melirik Devano yang tetap duduk dan asyik memainkan handphonenya.


“Oh ya kenalin ini teman aku. Teman sekantor tepatnya.”


Bianca meminta Desta mendekat untuk berkenalan dengan teman-temannya.


“Halo semuanya,” Desta menganggukan kepala dan melambaikan tangannya.


Dimulai dari Leo lalu Joshua dan Arya berkenalan satu persatu dengan Desta. Ernest yang mendapat belum dapat giliran, memicingkan mata memperhatikan sosok Desta yang sedang bersalaman.


“Desta Permana ?” Tanya Ernest saat mereka berjabatan tangan.


“Kamu anaknya Pak Ardi Permana kan ?” Tanya Ernest kembali untuk menyakinkan.


“Iya, kok kamu tahu ?”


“Kita pernah bertemu di kantor papaku kalau kamu ingat. Saat itu aku masih SMA dan kamu baru lulus kuliah, menemani papa kamu.”


Desta menautkan kedua alisnya dan berusaha mengingat-ingat ucapan Ernest.


“Star Tech ingat ?”


”Oh perusahaan Pak Gunawan ?” Wajah Desta berbinar karena berhasil mengingatnya.


“Iya betul, betul.

__ADS_1


“Apa kabar Ernest ?” Desta mempererat genggamannya dan tertawa lebar


“Senang bisa ketemu lagi dalam suasana santai begini.”


“Iya senang juga ketemu lagi Kak Desta.”


“No Kak Desta.” Protes Desta. “Panggil Desta aja biar lebih akrab.”


“Oke …oke..” Ernest tertawa sambil mengangguk-angguk.


Giliran terakhir adalah Devano yang tetap dalam posisi duduk dan masa bodoh.


“Malam,” sapa Desta pelan saat berdiri di belakang Devano.


“Pak Devano !” Wajah Desta terkejut bukan main saat mendapati anak pemilik perusahaan tempatnya bekerja jadi bagian dari teman-teman Bianca.


“Eh maaf Pak Devano. Saya tidak tahu kalau..”


Devano hanya menatap Desta sekilas tanpa acara jabat tangan perkenalan. Bahkan Devano kembali sibuk sendiri dengan handphonenya.


“Sudah santai Bro,” Leo menepuk bahunya mencoba mencairkan suasa kikuk yang Desta rasakan.


“Ayo duduk dan gabung dengan kita. Temannya Bianca ya teman kita juga.” Joshua yang duduk di seberang meja mempersilakan Desta duduk.


Desta melihat wajah Devano yang teelihat dingin dan kaku membuatnya sedikit bergidik.


“Mau kemana ?” Tanya Bianca.


Desta hanya memberi kode dengan tangannya menunjuk bangku kosong di sebelah Joshua. Leo yang memberikan bangkunya untuk Bianca berpindah ke sisi ujung meja di antara Devano dan Arya.


“Jadi elo karyawan di perusahaannya Devano ?” Ernest yang duduk dekat Desta langsung mengajaknya ngobrol.


“Iya baru 3 tahun kerja di sana bagian SDM.”


“Loh bukannya elo ambil jurusan hukum ?”


“Iya membantu di SDM masalah hukum ketenagakerjaan dan permasalahan hukum lainnya.”


Ernest dan Desta tertawa, lupa kalau mereka asyik ngobrol berdua.


“Jadi Desta ini anaknya Pak Ardi Permana, pengacara yang terkenal itu. Sepertinya perusahaan Om Himawan juga menggunakan jasa Om Ardi untuk menangani masalah legalitas.” Ernest menjelaskan.


“Loh jadi elo anaknya om Ardi ? Kok nggak gabung di perusahaan law firm bokap sendiri aja ? Malah jadi pegawainya Devano.” Arya gantian bertanya.


“Masih butuh belajar dan menimba ilmu,” jawab Desta merendah sambil tertawa.


Bianca yang sejak tadi mendengarkan menatap wajah Desta dengan serius. Dia tidak menyangka kalau seorang Desta yang bawel, ramah dan teman yang menyenangkan adalah anak seorang pengacara terkenal.


“Bianca jangan terpesona gitu dong,” goda Desta sambil mengedipkan matanya sebelah.


“Dih kepedean,” cebik Bianca yang membuat teman-temannya tergelak.


“Jadi mulai ada getar-getar nih sama Desta ?” Goda Joshua sambil melirik Devano. Sementara yang dilirik hanya diam saja kembali memainkan handphonenya.


“Gimana ya ?” Bianca pura-pura berpikir.


“Nggak pantes Bi !” Arya melemparkan sepotong kentang goreng yang reflek ditangkis oleh Bianca. Ternyata kentangnya malah jatuh tepat di atas handphone Devano dan membuat cowok itu menoleh ke Bianca dan memandangnya tajam.


“Maaf.” Ucap Bianca pelan sambil mengatupkan kedua tangannya.


Devano memberi kode dengan gerakan wajahnya supaya Bianca bertanggungjawab atas perbuatannya.


Bianca mengambil tissue bersih dan mengambil handphone Devano yang sudah diletakkan di atas meja. Dia menyingkirkan potongan kentang goreng dan mulai melap kaca handphone Devano. Namun betapa terkejutnya saat layar tersentuh dan posisi nya tidak terkunci, Bianca mendapatkan fotonya terpampang di layar Devano. Foto yang pernah Bianca posting di akun sosmednya.


Bianca mendadak membeku. Gerakan tangannya terhenti. Arya yang ikut menatapnya dengan wajah penuh tanda tanya membuat Devano yang sedang berbincang dengan Arya mengikuti arah pandang sahabatnya. Saat dilihatnya Bianca masih memegang handphonenya dengan tampilam foto Bianca, reflek Devano menarik miliknya cepat-cepat.


“Sudah tidak berminyak.” Ujarnya dengan nada terdengar gugup.

__ADS_1


Arya beralih memandang Devano yang terlihat salah tingkah. Dari ujung lainnya Desta juga melihat kejadian itu dan bertanya-tanya kenapa keduanya mendadak diam dan salah tingkah. Ada rasa penasaran bercampur tidak suka dalam hatinya.


“Bianca.” Panggil Desta berusaha membuat Bianca tidak hanya diam larut dalam pikirannya.


“Eh iya.. kenapa kak ?” Bianca mengangkat wajahnya dan menoleh ke arah Desta.


“Aku pesenin makanan ya, kamu kan belum makan.”


Mendengar percakapan Desta dan Bianca yang sudah pasti terdengar oleh semua yang duduk di meja membuat mereka saling bertukar pandangan dan bertanya dalam hati tentang hubungan Desta dan Bianca.


Keduanya sudah membahasakan diri mereka aku dan kamu ? Devano yang paling bersikap biasa saja, namun satu tangannya terkepal di bawah meja.


“Nggak usah kak. Aku udah makan sebelum nyanyi tadi.”


“Minum aja ya ?” Bianca hanya mengangguk.


Kelima cowok lainnya hanya terdiam dan semakin mempertanyakam hubungan Bianca dan Desta.


“Kok pada bengong ?” Desta memecah kebisuan.


“Ehem… kayaknya ada yang perlu kalian jelasin nih.”


Joshua yang paling lancar mulutnya langsung memandang Desta dan Bianca bergantian.


“Masa percobaan Bro,” Desta menjawab sambil tertawa.


Bianca terbelalak dan melirik sekilas pada Devano.


“Gini ya Jo,” Bianca buka suara. “Gue tuh lagi jadi anak magang di perusahaannya Om Harry alias papanya Pak Devano yang terhormar ini,” Bianca menunjuk Devano yang duduk di sebelahnya.


“Desta ini yang ternyata anak pengacara terkenal, adalah karyawan Berdikari Putra Wijaya yang pertama kali menerima gue pas hari pertama datang ke kantor. Maklumlah sesuai dengan penjelasannya tadi kalau dia tuh kerja di bagian SDM, jadi ya urusan karyawan baru musti berkunjung ke ruangan mereka kalau mau diridhoi bekerja.”


Joshua dan Leo tertawa.


“Bukannya yang wajib meridhoi itu Devano ?” Komentar Leo.


“Kalau bapak yang satu ini bagian meridhoi orang-orang yang nggak bisa kerja untuk dipecat.” Sindir Bianca.


“Dan bentar lagi giliran elo !” Ketus Devano sambil menatap tajam ke arah Bianca.


“Saya menanti Pak Devano yang terhormat,” Bianca berdiri dan membungkukkan badannya menghadap Devano.


Tingkah Bianca membuat teman-temannya tertawa sementara Devano makin mendengus kesal. Hanya Desta yang tertawa terpaksa. Kenapa hatinya berubah khawatir saat tahu bahwa Bianca bukan hanya sekedar anak magang di perusahaan Devano tapi juga sahabatnya. Dan dari pandangan Desta, keduanya memiliki hubungan yang lebih dari sekedae sahabat.


“Elo nggak suka kena omel sama Devano kan Bi ?” Tanya Arya sambil mengerling.


“Bagaimana baiknya saya menjawab pertanyaan pak Arya boss ?” Bianca yang sudah duduk kembali mendekatkan wajahnya ke Devano yang menatap ke arah lain.


Devano langsung menoleh hingga keduanya berada dalam posisi yang sangat dekat. Bianca dan Devano sama-sama terkejut namun tidak ada yang berusaha menghindar.


“Duh tinggal sosor tuh Van,” Goda Leo yang duduk paling dekat dengan mereka.


Devano yang lebih dulu sadar langsung mundur dan membuang pandangan ke arah lain. Mukanya makin terlihat masam membuat Arya dan Leo tertawa paling keras.


Bianca yang ikutan sadar juga membuang pandangan ke arah lain dan segera mengambil gelas minuman yang baru diantar oleh pelayan.


Mukanya mendadak panas dan berubah menjadi merah. Begitu juga dengan Devano.


Dalam sekali tenggak, minuman es cokelat langsung tandas di gelas Bianca. Gadis itu langsung berdiri.


“Gue pamit pulang dulu ya. Udah malam.” Suara Bianca terdengar gugup membuat yang lainnya senyum-senyum.


Devano ikut bangun dan langsung menarik tangan Bianca.


“Gue yang anter pulang !”


Bianca dan yang lainnya bengong melihat reaksi Devano yang di luar dugaan itu.

__ADS_1


Desta yang sudah bersiap bangun dan berniat mengantarkan Bianca pulang mengurungkan niatnya dan duduk kembali. Hatinya bertambah sakit melihat Devano menggehgam tangan Bianca dan gadis itu bahkan tidak menepisnya. Selama ini begitu banyak alasan Bianca bila Desta berusaha menggenggamnya, menggandengnya atau merangkul bahu Bianca sebagai teman.


“Kenapa perasaan ini harus layu sebelum berkembang ? Tapi selama janur kuning belum berdiri, masih ada kesempatan untuk memiliki hati Bianca ?” Batin Desta.


__ADS_2