Bukan Mantan Pacar

Bukan Mantan Pacar
Bab 94 Undangan Lamaran


__ADS_3

Lebih dari seminggu sejak acara dengan para sahabatnya berlalu. Bianca yang baru saja keluar kelas mata kuliah terakhir mengecek handphonenya.


Sudah 3 hari ini Devano mengurangi frekuensi kiriman pesan apalagi panggilan telepon. Bianca menarik nafas untuk menghalau kegelisahannya.


3 pesan yang dikirimnya sejak pagi hanya terlihat dibaca oleh Devano tanpa balasan. Bianca melirik jam tangannya. Jam 3 sore. Seharusnya bukan jam sibuk Devano.


Bianca memencet no panggilan dengan nama Devano. Panggilan pertama dan kedua tidak diangkat sama sekali, baru panggilan ketiga Devano mengangkatnya.


“Sorry aku lagi sibuk banget, Bi. Nanti aku hubungi kalau sudah senggang.”


Baru saja Bianca hendak menutup teleponnya, terdengar suara perempuan dari handphone Devano.


“Cepetan dong, Dev. Ini udah tanggung banget.”


Bianca mengerutkan dahinya dan menatap layar handphonenya yang sudah kembali ke posisi normal.


Suara perempuan itu terdengar asing di telinga Bianca. Namun kalimat yang diucapkannya membuat dada Bianca sedikit berdesir.


Bianca mencoba menghubungi Devano lagi tetapi langsung masuk ke layanan kotak suara. Akhirnya Bianca memutuskan untuk menanyakan pada Dimas lewat pesan.


Begitu pesan Bianca terkirim, terlihat Dimas langsung membacanya dan tidak lama balasan masuk ke handphone Bianca menyampaikan bahwa Devano dan Dimas sedang mengadakan meeting dengan klien dari Amerika.


Bianca akhirnya memilih duduk di bangku yang ada di taman kampus. Dia ingin meredakan kegelisahan hatinya dan rasa curiga yang membuat dadanya bergemuruh.


Baru saja Bianca hendak memasukkan handphone ke dalam tas, bunyi panggilan telepon membuat wajah Bianca sedikit cerah karena berharap Devano yang menghubunginya. Namun bukan kekasihnya melainkan Mia.


Dengan wajah lesu akhirnya Bianca mengangkat telepon juga.


“Bi, elo lagi di kampus ?”


“Iya, kenapa Mi ?”


“Gue lagi sama Della nih, mau ajak elo sekalian cari baju buat acara hari Minggu.”


Bianca mengerutkan dahi, “Acara apan Mi ?”


“Pokoknya ikut aja, deh. Cepetan keluar, kita udah hampir sampai gerbang kampus elo.”


Bianca bergegas merapikan tasnya dan berlari kecil menuju gerbang utama. Ternyata memang benar, mobil Mia sudah terpakir di pinggir jalan.


“Acara apaan sih Mi ?” Bianca yang sudah duduk manis di belakang sudah tidak dapat menahan rasa ingin tahunya.


Bianca memajukan badannya hingga berada di tengah antara kursi pengemudi dan penumpang depan.


“Lamaran,” jawab Mia santai.


“Lamaran elo sama Arya ?”


Mia hanya mengangkat kedua bahunya sambil tertawa pelan.


“Udah elo ikut aja, Bi,” sahut Della. “Kayak kagak tahu aja kebiasaan sahabat somplak elo ini.”


Kali ini Mia tidak mendelik seperti biasanya saat Della meledeknya, dia hanya tertawa kecil.


“Terus harus pakai baju khusus gitu ?” Bianca kembali bertanya.


“Temanya warna-warna pastel, Bi. Gue nggak yakin elo punya baju warna pastel yang cocok untuk acara pesta.”


“Iya sih. Tapi elo nggak bakal ajak ke butik yang mahal kan ?”


“Tenang aja, Bi, boss kita yang bayar.” Della menunjuk pada Mia.


“Tapi gue tetap nggak mau kalau dibeliin yang terlalu mahal. Baju mahal berarti mahal juga perawatannya.”


Mia langsung tertawa sementara Della geleng-geleng kepala.


“Ya tinggal minta sama calon suami elo dong, Bi,” sahut Mia. “Devano nggak bakalan nolak.”


“Mintanya tunggu nanti kalau sudah jadi suami beneran.”


“Takut dibilang cewek matere ?” Ledek Della sambil tertawa. Mia pun ikut tertawa.

__ADS_1


“Memangnya elo nggak keberatan menikah sama Devano dalam waktu dekat ?” Della memiringkan badannya bersandar pada pintu.


“Sebetulnya gue nggak masalah kalau harus kawin muda.”


“Dan elo paling muda di antara kita bertiga loh, Bi. Baru mau memasuki 22,” Ledek Mia sambil melirik Bianca dari spion tengah.


“Iya gue nggak masalah. Cuma memang banyak sifat dan kebiasaan Devano yang masih harus gue pelajari.”


Della dan Mia langsung tertawa.


“Bibi Bian, memangnya nanti ada ujian tertulis sampai elo perlu mempelajari Devano ? Kalau sudah menikah dan sama-sama terus tiap hari, dengan sendirinya akan saling memahami dan mengerti kok,” nasehat Mia.


Bianca langsung mengerucutkan bibirnya.


”Yang gue maksud itu bukan mempelajari kayak buku pelajaran.”


“Duh yang statusnya udah calon istrinya Pak Devano, digodain langsung manyun.” Goda Della.


“Devano itu posesif banget, protektif dan gampang terhasut.” Lirih Bianca dengan wajah lesu.


“Itu semua karena dia cinta banget sama elo, Bi,” sahut Mia.


“Elo bayangin aja kalau dia itu udah menahan rasanya sama elo selama 10 tahun, gimana nggak mendadak jadi bucin begitu dapetin elo ?” timpal


Della.


“Pokoknya elo harus percaya, Bi. Selama 10 tahun kalian bisa tetap punya rasa yang sama satu sama lain, meskipun banyak yang lebih. Mereka datang silih berganti mendekati elo berdua. Gue sama Mia yakin kalau Devano pasti mampu membahagiakan elo.” Della menepuk-nepuk bahu Bianca.


Bianca kembali ke posisi semula, bersender pada jok mobil dan menggeser ke kiri dekat pintu. Posisinya persis di belakang Mia. Dia menopang wajahnya dengan tangan yang diletakkan di pintu.


“Elo nggak ada janji apa-apa sama Devano, kan ? Udah bilang kalau elo lagi pergi sama kita berdua ?” tanya Mia sambil menatap Della dari spion tengah.


Bianca menoleh dan membalas tatapan Mia di spion.


“Sudah 3 hari ini jangankan bertemu, Devano juga nggak pernah telepon, wa gue dibalas singkat-singkat doang bahkan terkadang hanya dibaca doang,” keluh Bianca sambil menghela nafas.


“Elo nggak coba tanyakan Dimas soal jadwalnya Devano ?” tanya Mia kembali.


“Gue nggak mau nanti Dimas jadi tahu kalau Devano lagi nggak menghubungi gue. Baru 3 hari juga, sih. Cuma tadi siang akhirnya gue coba tanyain sama Dimas lewat wa, soalnya…”


“Kenapa Bi ?” Della menoleh menatap Bianca.


Keraguan tampak terlihat dari tatapan Bianca.


“Kalau elo nggak mau cerita nggak apa-apa.”


Terdengar suara tarikan nafas Bianca yang panjang dan berat.


“Gue sempat teleponan sama Devano sebelum kalian jemput. Sebelum telepon benar-benar terputus, gue dengar ada suara perempuan lain yang menyuruhnya cepat-cepat karena sudah tanggung.”


Mia terkekeh. “Maksud elo Devano berbuat macam-macam sama perempuan lain ?”


“Gue nggak tahu Mia. Tapi telepon gue hampir nggak pernah diangkat selama 3 hari ini. Kalaupun diangkat paling cuma jawab maaf sedang sibuk, kalau sudah senggang dia janji mau telepon gue balik. Tapi nyatanya dia nggak permah telepon balik.”


“Terus kalau Dimas bilang apa sama elo ?” Della gantian yang bertanya.


“Dimas bilamg mereka sedang sibuk ada meeting dengan klien dari Amerika.”


Setelahnya suasana mendadak hening. Bianca kembali memandang jalan lewat jendela samping. Tidak lama kemudian, mobil mereka sudah sampai di tempat yang dimaksud dengan Mia.


Bianca sempat ragu saat melihat nama yang terpampang di depan bangunan yang akan mereka masuki.


Sudah bisa dipastikan kalau harga pakaian yang tersedia di toko ini amat sangat di luar budget Bianca. Tetapi karena tidak enak hati, Bianca tetap mengikuti Mia dan Della yang sudah masuk ke dalam butik.


Bianca ceingukan saat melewati pintu masuk. Hanya ada satu orang pegawai di meja resepsionis merangkap kasir. Mungkin pegawai lainnya sedang sibuk melayani tamu lainnya.


“Sudah ada janji, Mbak ?” Sapa pegawai yang berdiri di balik meja.


“Hmmm tadi teman saya sudah duluan masuk.”


“Ooo temannya Mbak Mia ya ?” Tanyanya kembali. Bianca mengangguk sebagai jawaban.

__ADS_1


“Langsung masuk ke pintu kaca itu saja, Mbak. Sudah ditunggu.”


Bianca mengangguk dan mengucapkam terima kasih dan menuju pintu yang dimakaud oleh pegawai tadi.


“Bianca !” Sapa seseorang saat dia memasuki ruangan yang penuh dengan gantungan pakaian yang tersusun rspi.


“Dewi ?” Bianca nampak terkejut. “Elo ikut kemari juga ? Disuruh Mia coba baju juga ?”


“Iya, kemarin Mia hubungi gue soal acara lamaran hari Minggu dan gue disuruh pilih baju di sini. Awalnya gue disuruh ke kampus elo dulu biar berangkat bareng, tapi lebih dekat langsung kemari daripada ke kampus elo dulu.”


Bianca hanya mengangguk sambil tersenyum. Tidak lama Mia keluar dari balik tirai yang seperti pembatas untuk ruangan lainnya.


“Bi, elo piih antara 2 ini mana yang elo suka. Cobain dulu deh, biar kelihatan mana yang cocok buat elo.”


Bianca memandang 2 pakaiaj yang dibawa oleh Mia.


Keduanya berwarna pink muda. Dengan panjang kira-kira 10 cm di bawah lutut. Sangat kalem dengan hiasan kain tile dan renda serta bordiran benang sewarna dengan kainnya. Yang satu lagi juga berwarna pink muda. hanya bedanya, yang satu benar-benar polos dimodifikasi dengan bahan tile berwarna biru muda supaya terlihat kontras.


Mia menyerahkan kedua baju itu di tangan Bianca dan segera mendorongnya masuk ke dalam ruangan di balik tirai panjang.


“Kalian sendiri bagaimana ?”


“Gue akan ajak Dewi buat lihat-lihat. Della lagi ke toilet, mules katanya.”


Akhirnya Bianca mengikuti saran Mia dan di balik tirai, sudah ada 2 pegawai yang siap membantunya.


Bianca merasa tidak nyaman kalau harus berganti pakaian dengan dibantu orang lain. Akhirnya keduanya membiarkan Bianca mencoba pakaiannya di dalam ruang ganti.


Setelah keluar dengan pakaian yang berhiaskan kain tile dan renda, kedua pegawai tadi menghampiri Bianca dan membantu merapikan. Bahkan salah seorang dari mereka membantu Bianca memodifikasi rambutnya sebentar.


Tidak lama kain penutup itu dibuka untuk memperlihatkan penampilan Bianca pada para sahabatnya.


Bianca yang tertunduk malu langsung mendengar decakan para sahabatnya yang memujinya terihat sangat berbeda dan cantik.


Bianca pun akhirnya mengangkat kepalanya dengan wajah merona. Namun tubuhnya terasa kaku saat melihat sosok lelaki yang baru saja memasuki pintu kaca diikuti oleh seorang perempuan cantik dengan rambut sepunggung yang bergelombang dan berwarna blonde.


“Devano !” Desis Bianca.


Ketiga sahabatnya menoleh mengikuti pandangan Bianca dan mereka pun melihat Devano dengan aeorang wanita asing. Tidak tampak Dimas di sana.


Devano berjalan mendekat dan melihat Bianca sekilas. Sikapnya biasa saja seolah tidak ada yang perlu dijelaskan.


Devano pun menyapa ketiga sahabat Bianca lalu beraih pada Bianca.


“Kamu mau beli baju itu, Bi ? Tumben kamu mau diajak ke butik.” Ucapan Devano terdengar datar.


Ucapan Devano memang biasa saja dan terdengar santai tapi itu cukup menohok hati Bianca.


“Beliin dong Van kalau cakep,” goda Della.


“Kalau dia mau nanti guetinggal bayarin,” jawab Devano masih dengan sikap santainya.


“Eh nggak usah,” tolak Bianca cepat.


“Kamu pilih aja yang kamu mau,” Hanya kalimar itu yang keluari mulut Devano.


“Sorry girls, gue lagi sama klien penting. Kalian lanjut aja ya, gue tinggal dulu.” Devano berpamitan pada semuanya termasuk Bianca.


Devano tidak mendekatinya. Tidak ada kata-kata manis untuk Bianca yang terucap dari mulutnya.


Bianca terpaku dan tidak tahu harus bersikap bagaimana.


Della dan Dewi segera memberi kode pada Mia dengan gerakan mata.


Mia yang sadar buru-buru mendekati Bianca dan meminta gadis itu mencoba pakaiajn yang satu lagi. Semula Bianca menolak keras, apalagi tahu kalau Devano yang akan membelikan. Namun dengan segala cara Mia berusaha membujuknya.


“Ayolah Bi, ini demi acara lamaran hari Minggu.”


“Sudah pasti ini lamaran kamu ?” Bianca menyipitkan matanya menatap Mia meminta kepastian.


“Pokoknya acara penting. Lagian aku oercaya kok sama Devano, dia nggak bakal segampang itu tertarik dengan cewek blonde. Kalau memang kepengen udah dari pas sekolah di Amerika, dia bakal pacarin tuh satu bule.”

__ADS_1


Mia mendorong Bianca menuju kamar ganti untuk memakai baju yang lainnya.


Akhirnya Bianca pasrah dan menuruti permintaan Mia. Setelah Bianca masuk ke ruang ganti, Mia mengelus dadanya sambil menarik nafas lega.


__ADS_2