Bukan Mantan Pacar

Bukan Mantan Pacar
Bab 74 Tidak Rela


__ADS_3

Arya sudah duduk di kursi pengemudi dan membawa mobil Devano dengan kecepatan sedang. Dia sempat menanyakan keberadaan Bianca pada Mia dan mengatur cara agar Devano bisa bertemu Bianca.


“Kenapa masuk tol ?” Devano yang duduk di sebelah Arya mengernyit saat mobilnya memasuki jalan tol.


“Katanya mau ketemu Bianca ?” Arya tidak menoleh karena fokus ke jalan.


“Memangnya dia ada dimana ?”


“Bandara.”


“Jadi benar keluarganya Om Ardi akan membawanya ke Semarang entah sampai kapan.” Devano berucap dengan lesu.


“Hei Bro !” Arya menoleh sekilas sambil geleng-geleng kepala. “Jangan jadi manusia pesimis. Paling tidak elo masih bisa ketemu dengan Bianca untuk memastikannya.”


“Kalau ternyata berita itu benar ?”


Arya tergelak dan merasa aneh dengan sikap Devano. Sahabat kecilnya yang dikenal dengan sikap dingin dan selalu percaya diri, sekarang berubah menjadi manusia lembek yang penuh keraguan.


“Bro, elo kan sekarang mulai merintis jadi seorang businessman. Semua keputusan elo pasti ada resikonya. Tapi akan lebih baik mengetahui kebenaran meski mengecewakan daripada hidup dalam tanda tanya yang berujung pada penyesalan kan ?”


Devano terdiam dan menarik nafas panjang. Pandangannya bersalih ke samping jendela. 25 menit sejak memasuki gerbang tol, akhirnya mobil sampai di parkiran bandara.


Devano berkutat dengan pikirannya. Dia sendiri merasakan kalau dirinya mendadak jadi manusia yang pengecut. Rasa kantuk yang sempat dirasanya saat di dalam mobil, hilang seketika. Rasa cemasnya membuat telapak tangan Devano menjadi dingin.


Arya yang melangkah di depan Devano menutup teleponnya. Sesudah berbincang dengan Mia, Arya langsung melangkah menuju tempat yang diberitahukan oleh Mia.


Devano memghentikan langkahnya hingga jauh tertinggal dari Arya. Matanya menangkap sosok Bianca yang sedang berdiri dekat Mia dan Desta serta seorang gadis yang Devano tidak ketahui. Tampak tawa menghiasi wajah yang sering dirindukannya. Sempat terlihat beberapa kali Desta meletakkan tangannya di bahu Bianca.


“Mana ?” Mia bertanya tanpa suara sambil mengangkat kedua alisnya saat Arya sudah berdiri di belakang Bianca.


Arya menoleh dan tidak mendapatkan Devano di belakangnya. Netranya menelusuri jalan yang tadi dilewatinya dan menangkap sosok Devano masih diam berdiri sejauh kurang lebih 300 meter dari posisinya sekarang.


“Gimana ?” Bisik Mia mendekati Arya yang berdiri di belakang Bianca.


Arya terdiam dan berpikir sejenak. Saking fokusnya, Arya tidak mendengarkan sapaan Desta.


“Arya, elo datang sama siapa ?” Desta mendekati Arya yang sedang berbisik dengan Mia. Bianca ikut membalikan badannya.


Arya menggaruk tengkuknya. Bingung harus menjawab apa.


“Gue mau pinjam Bianca sebentar boleh ?”


“Elo kira gue buku di perpustakaan yang perlu ijin dipjnjam ?” Bianca memukul bahu Arya sambil tertawa.


Mia memberi kode pada Arya supaya membawa Bianca pergi. Arya langsung menggandeng tangan Bianca dan melangkah meninggalkan Desta, Sella dan Mia.


“Ya, lepasin, nanti Mia cemburu.” Bianca berusaha melepaskan genggaman Arya, tapi pria itu malah mengeratkan genggamannya.


“Mau kemana sih ?” Arya hanya diam saja malah mempercepat langkahnya.


“Ada yang mau ketemu elo.” Arya berhenti dan berhadapan dengan Bianca lalu memegang kedua bahu Bianca.


Bianca hanya menautkan kedua alisnya menatap Arya dengan wajah bingung.


“Jangan kabur ya !” Arya menggerak-gerakan telunjuknya di depan wajah Bianca.


Arya bergeser dari hadapan Bianca dan sekarang berganti sosok Devano yang terlihat di hadapan gadis itu meski masih agak jauh.


“Devano.” Desis Bianca.


“Jangan kabur ! Beresin masalah elo sama dia.” Tegas Arya


“Masalah gue sama Devano…” protes Bianca. Namun belum selesai omongannya, Arya mendorongnya pelan mendekati Devano.


“Jangan sia-siakan lagi.” Tatapan tajam Arya ditujukan pada Devano sebelum meninggalkan mereka.


“Minggir yuk, biar nggak terlalu di tengah jalan.” Tanpa sadar Devano menggandeng tangan Bianca dan menuntunnya ke deretan kursi yang kosong.


Bianca sempat terpaku dengan cara bicara Devano yang terdengar lembut, belum lagi genggaman tangannya terasa hangat menuntun Bianca.


“Mau sambil duduk atau berdiri ?” Tangan Devano masih menggenggam Bianca.


Bianca melepaskan tangannya dan langsung duduk. Devano ikutan duduk persis di sebelah Bianca.


“Elo mau kemana ?” Pertanyaan Devano membuat Bianca melongo. Tidak percaya bahwa di sebelahnya duduk Devano yang biasanya jutek dan galak sekarang bersikap lembut.


“Salatiga.”


“Nggak balik Jakarta lagi ?”


Bianca terdiam dan menatap Devano sambil sesekali mengernyit.


“Elo Devano kan ? Bukan jadi-jadian kan ?”

__ADS_1


Pertanyaan Bianca membuat Devano tertawa, apalagi melihat ekspresi Bianca yang masih tidak percaya. Darah Bianca mendadak berdesir saat melihat Devano tertawa. Terakhir kali melihat Devano tertawa seperti ini mereka masih duduk di kelas 8.


“Kenapa ? Gue aneh ?” Bianca mengangguk.


“Bi, elo bakal pergi dan nggak balik Jakarta ?”


“Kata siapa ?” Bianca mengernyit.


“Gosip,” Devano terkekeh.


“Elo ngapain kemari ?”


“Nggak boleh ?”


Bianca terdiam dan menatap Devano membuat pria di depannya agak salah tingkah.


“Elo aneh.” Bianca mengalihkan pandangannya.


“Iya gue adalah cowok paling aneh karena terus bertahan bilang nggak suka sama elo, padahal cinta pake banget.” Devano terkekeh.


Bianca langsung menoleh dengan mata terbelalak.


“Elo nggak dibawah pengaruh obat kan ?” Bianca kembali mengernyit.


“Kena racun gue, racun cinta elo,” Devano kembali menggombal.


“Asli elo bener-bener aneh !” Dengus Bianca sambil beranjak bangun dan hendak meninggalkan Devano namun ditahan oleh pria itu.


“Buru-buru pergi, memang pesawat jam berapa ?”


“Jam 2.30.”


“Masih lama, lagian kan domestik.”Devano agak menarik tangan Bianca hingga gadis itu kembali duduk di sebelahnya.


“Bianca, gue serius dengan ucapan tadi. Gue nggak mau berbohong lagi kalau sebenarnya gue juga suka dan cinta sama elo.”


Devano semakin mengeratkan genggamannya dan menatap Bianca penuh cinta.


“Kok mendadak berubah pikiran ?”


Devano menautkan kedua alisnya karena bingung dengan pertanyaan Bianca. Gadis itu menarik nafas dan membuangnya dengan kasar.


“Huffttt… Kenapa sih sukanya bikin perasaan gue kacau melulu.” Oceh Bianca denga wajah kesal. “Kenapa musti ganggu gue dengan gombalan elo yang nggak berkualitas.”


“Sejak dulu gue juga diam-diam kagum sama elo, lama-lama suka akhirnya cinta.” Devano memamerkan senyum lebarnya.


“Terus kenapa galak-galak pas gue lagi magang ? Dan bilang sendiri kan kalo elo nggak bakal punya perasaan yang sama kayak gue ?”


Mereka saling bertatapan dan Devano masih tersenyum sambil menggenggam tangan Bianca.


“Ceritanya panjang, makanya jangan pergi ya. Jangan ikut Desta.” Tatapan memelas Devano membuat Bianca akhirnya tersenyum juga.


Devano melepaskan genggamannya dan berdiri.


“Pegel, sayang.” Devano memegang dengkulnya yang sedikit bergetar karena pegal berjongkok.


“Kurang olahraga pasti, baru sebentar sudah pegel.” Bianca mencibir lalu tertawa.


“Gue mau boarding dulu.” Bianca beranjak bangun dan mengalungkan tas selempangnya.


“Nggak bisa !” Devano menahannya dengan muka cemberut. “Aku nggak kasih ijin kamu pergi sama Desta !”


Bianca mengernyit. Tadi bilang sayang dan sekarang Devano juga merubah sebutan dirinya dengan aku kamu.


“Eh kok melarang-larang ?” Bianca menatap Devano kesal.


“Karena mulai detik ini kita pacaran ! Nggak boleh ada penolakan !” Tegas Devano.


“Mana bisa begitu, memangnya gue mau diajak pacaran sama elo ?” Omel Bianca.


“Aku kan udah jujur bilang kalau aku juga cinta sama kamu. Dan sekarang jangan pakai gue elo lagi ya, tapi aku kamu.” Devano membelai pipi kanan Bianca.


“Iihh nggak bisa begitu. Elo cukup bilang cinta sama gue terus kita pacaran. Anda terlalu kepede-an Bapak Devano Putra Wijaya. Saya sudah tidak punya perasaan apa-apa lagi sama anda.”


Bianca menatap Devano dengan tatapan tajam, membuat pria di depannya menarik nafas panjang dan membuang pandangan ke lain arah.


“Gimana caranya buat kamu jatuh cinta lagi sama aku.”


“Nggak ada,” Bianca menggeleng. “Gue udah mulai bisa menghapus nama elo dari dalam hati ini.” Suara Bianca sudah tidak segalak tadi.


Devano langsung lemas dan melepaskan genggamannya. Dia mundur dua langkah.


“Nggak bisa ada kesempatan kedua buatku ? Akan aku buktikan kalau aku juga mencintaimu ?” Lirih Devano dengan tatapan sendu.

__ADS_1


Bianca membuang pandangan ke lain arah. Dia berusaha menahan untuk tidak tertawa mendapati sosok Devano yang bertingkah sangat berbeda dari biasanya. Belum lagi Bianca berusaha mengendalikan jantungnya yang berdetak semakin kencang dan hatinya yang berbunga-bunga mendengar pernyataan cinta dari Devano.


“Kalo langsung terima begitu aja , kok kesannya gue cewek gampangan ya ? Perlakuannya pas terakhir buat gue berasa jadi pengemis cinta.” Batin Bianca.


“Bukan kesempatan kedua lagi tapi ketiga !” Omel Bianca dengan mulut mengerucut.


“Eh kok ketiga ?” Devano mengerutkan dahinya.


“Pertama ditolak pas SMA, kedua pas di pantai, dan hari ini ditolak jadi yang ketiga.” Bianca dengan nada kesal menjawab Devano sambil mengangkat jarinya satu persatu sampai 3 jari.


Devano menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Dia pun tertawa kikuk.


“Nggak begitu dong hitungannya, kalo hari ini yang nolak kan kamu bukan aku.” Protes Devano.


Bianca hanya diam dengan wajah cemberut. Beberapa kali terdengar tarikan nafas panjangnya.


“Bi, aku beneran cinta sama kamu. Kita jadian ya ?” Devano meraih jemari Bianca dan menatapnya dengan penuh harap. Sementara Bianca masih memandang ke arah lain.


Devano melepaskan tangan Bianca dan menangkup wajah Bianca dengan kedua tangannya dan memutar wajah itu hingga bertatapan dengannya.


“Bianca lihat ke aku dong.” Bianca yang dipaksa menoleh akhirnya menatap wajah Devano.


“Aku benar-benar mencintai kamu. Mau ya jadi pacarku… eh bukan pacar,” Devano menggelengkan kepalanya. “Tapi jadi calon istriku.”


Bianca langsung membulatkan matanya lalu menepiskan tangan Devano.


“Mana ada orang melamar calon istri kayak begini. Udah maksa, nggak ada romantisnya, di tempat umum, nggak…”


Devano menutup mulut Bianca dengan tangannya.


“Aku cium nih kalo protesnya nggak stop kayak kereta.”


Bianca mendengus kesaln dan kembali mengerucutksn bibirnya.


“Udah aku mau berangkat dulu. Udah mau boarding.”


Bianca mendorong pelan tubuh Devano yang berdiri tepat di depannya. Dia pun melangkah pergi dan disusul dengan Devano.


“Jangan pergi !” Devano meraih lengan Bianca namun tidak menahannya melainkan mengikuti langkah Bianca.


“Nggak bisa Devano, aku harus pergi.”


Devano tersenyum saat mendengar Bianca sudah merubah sebutan dirinya tidak lagi gue elo.


“Tapi aku nggak rela kamu pergi sama Desta.”


Mendekati posisi berdirinya keempat orang yang sudah menunggunya, Bianca berhenti dan melepaskan tangan Devano perlahan lalu memutar badannya hingga berhadapan dengan Devano.


“Devano, tolong ya… Kita belum jadian makanya kamu nggak bisa melarang-larang aku mau kemana. Aku harus berangkat. Terima kasih atas kejujuran hatimu.”


Bianca tersenyum sekilas dan kembali memutar badannya lalu menghampiri Desta, Sella, Arya dan Mia.


“Yuk berangkat !” Bianca mengambil koper kecilnya dekat Desta.


Keempatnya masih memandangi Bianca dengan wajah berharap penjelasan darinya, namun ekspresi Bianca terlihat biasa saja.


“Arya, Mia, gue berangkat dulu ya. Yang akur sama awet.” Bianca terkekeh saat berpamitan pada dua sahabatnya.


“Bye bye.” Bianca melambaikan tangannya lalu berbalik dan menarik lengan Sella.


Desta pun berpamitan pada Arya dan Mia dan menatap Devano sekilas sambil menganggukkan kepalanya.


“Bianca Aprilia !” Teriakan Devano membuat langkah Bianca, Desta dan Sella terhenti dan langsung memutar badan menoleh.


Devano setengah berlari mendekati, langsung menangkup wajah Bianca dan…


Cup


Devano memberikan ciuman panjang pada Bianca yang langsung membelalakan matanya.


“Aku mencintaimu. Kamu harus kembali untukku.” Devano mengucapkan cintanya di depan keempat orang yang hanya bisa melongo melihat kelakuan Devano.


“Kamu gila ya !” Omel Bianca dengan suara pelan. Matanya masih melotot menatap Devano.


“Iya aku gila… Gila karena memendam cinta sama kamu.” Jawaban Devano yang tanpa malu-malu membuat Desta dan Arya bahkan Mia semakin terkejut.


“Tadi itu stempel kepemilikan.” Bisik Devano di telinga Bianca. “Biar Desta sama Arya tahu bahwa kamu adalah milikku. Sebenarnya aku nggak rela kamu pergi sama Desta, makanya aku kasih stempel dulu biar dia tahu siapa pemilikmu.”


Bianca hanya menarik nafas dengan perasaan yang campur aduk. Dia langsung berbalik dan melangkah karena merasakan panas mulai menjalar di wajahnya yang semakin merona.


Tanpa sadar Bianca menyentuh bibirnya sambil tersenyum. Desta dan Sella’buru-buru meyusul Bianca yang semakin menjauh.


“Keren Bro !” Arya menepuk bahu Devano yang masih memandangi punggung Bianca sambil senyum-senyum dan wajah berbinar.

__ADS_1


__ADS_2