
Bianca mengedarkan pandangan ke sekeliling sebelum memasuki gedung fakultas psikologi untuk menuntaskan tugas akhirnya supaya bisa mengikuti wisuda bulan depan.
Sidang skripsi dan magang sudah diselesaikan dengan hasil memuaskan meski pada awalnya sangat berat bekerja di perusahaan keluarga Wijaya karena sangat tidak sesuai dengan bidangnya.
Bianca tersenyum dengan raut wajah sedikit sedih. 4 tahun penuh perjuangan dilewati di tempat ini. Banyak kejadian dan pengalaman berharga terlintas satu persatu dalam pikirannya. Perjuangannya menempuh masa pendidikan sambil bekerja cukup menguras hati dan pikirannya. Namun saat ini, setelah semuanya berlalu, masa-masa itu menjadi kenangan manis yang akhirnya mampu membuat Bianca mengembangkan senyuman manisnya.
Bianca menatap amplop bertuliskan PT Berdikari Putra Wijaya. Isi surat di dalamnya akan menuntaskan masa pendidikannya di kampus ini selama 4,5 tahun termasuk magang.
Dia menunduk menatap amplop yang digenggamnya sejak menapaki kampus. Dia menahan sekuat tenaga agar tidak ada airmata yang lolos dari pelupuk matanya. Bukan sekedar karena bahagia dan haru, namun rasa kesedihan ikut muncul perlahan di dalam hatinya.
“Papa, akhirnya aku berhasil menjadi sarjana sesuai impianku. Seandainya papa masih ada di sini, pasti dapat kulihat pancaran kebanggaan di mata papa yang akan melengkapi semuanya. Namun aku percaya papa tetap tersenyum dari atas sana karena aku berhasil melewati semuanya. Aku percaya pancaran mata papa yang selalu tersimpan baik dalam ingatanku akan tetap kurasakan meski tidak dapat kulihat.”
Bianca memejamkan matanya sambil bermonolog dalam hatinya. Kerinduan akan sosok papanya yang tidak lagi bisa hadir saat kelulusan SMA dan selesai perguruan tinggi menciptakan kepiluan yang menusuk hati.
“Halo Bi !” Seruan dan tepukan di bahunya membuyarkan lamunan Bianca.
Suara yang sudah akrab di telinganya membuat Bianca tersenyum dan menghapus titik airmata yang hampir lolos dari sudut matanya
“Dewi !” Bianca terlihat bahagia saat memutar badan dan mendapati sahabatnya berdiri di belakangnya.
Keduanya saling berpelukan layaknya sahabat.
“Kangen banget gue sama elo.” Dewi menepuk-nepuk punggung Bianca saat berpelukan.
“Dih udah kayak sama pacar aja.” Bianca mencibir sambil melerai pelukan mereka.
Keduanya akhirnya tertawa.
“Gimana kabar elo Wi ? Kok baru 3 bulan udah balik aja ? Bukannya harus 1 semester atau minimal 4 bulan elo magang di sekolah ?”
“Gue kan guru preman.” Dewi tertawa.
“Tetap tuntas tugas magang elo ?”
“Iya tuntas. Memangnya elo nggak mau bareng gue di wisuda bareng ?” Dewi pura-pura cemberut.
“Mau dong besties,” Bianca menowel dagu Dewi sambil mengedipkan mata.
“Adduuhh meleleh saya.” Dewi dengan gaya alay-nya merubah raut wajahnya menjadi terenyuh.
Keduanya kembali tertawa.
“Gue mau ke ruangan dosen, biar beres dan bisa cepat di wisuda.”
“Ya udah yuk, gue juga mau ketemu Pak Rachman. Kasih ini.” Bianca mengangkat amplop yang dipegangnya.
“Gimana kabarnya ayang Devano ?” Tanya Dewi saat mereka mulai menaiki tangga menuju ruang dosen di lantai 2.
Bianca menggerakan tangan di lehernya. “End !”
“Beneran ?” Dewi mengernyit.
“Iya, kali ini gue udah memutuskan nggak akan tergoda bujuk rayu atau mencoba mengulang kebodohan yang sama ketiga kalinya.”
“Maksud lo ?”
“Elo masih inget kan alasan kenapa gue sampai magang di perusahaan papanya ?” Dewi mengangguk.
“Mereka semua yakin kalau Devano memang sebelas duabelas sama gue. Kadang gue juga merasa begitu, beberapa kali gue kok menangkap kalo Devano sempat cemburu saat gue deket sama Desta.”
“Desta ? Siapa pula lagi ?”
“Selingkuhan,” jawab Bianca sambil tertawa.
“Cakep nggak ?”
“Cakep dong, kalo nggak mana mau gue punya sekingkuhan yang lebih jelek dari Devano. Bisa dilecehkan gue sama Devano.”
__ADS_1
“Kenalin dong, buat cadangan kalo nggak jadi sama elo.” Dewi menyenggol bahu Bianca.
“Nggak rela ditikung sahabat sendiri.” Bianca menggeleng dan mencibir.
“Sekali-kali perlu tikungan, ngantuk kalo lurus terus.” Jawab Dewi asal dengan wajah santai.
Keduanya kembali tertawa bersama sampai akhirnya mereka tiba di depan ruang dosen. Keduanya menghampiri dosen pembimbing yang berbeda.
“Bagaimana magang kamu di perusahaan Pak Harry ?”
Pak Rachman langsung bertanya pada Bianca setelah menerima amplop surat yang diberikan oleh Bianca.
“Aman Pak,” Bianca tersenyum.
“Bisa bikin laporan hasil magang yang sesuai dengan peminatan kamu ?”
Bianca mengambil map yang ada dalam tas selempangnya dan menyerahkan pada Pak Rachman.
“Kalau begitu persiapkan diri kamu untuk ikut wisuda bulan depan.”
“Tidak perlu nenunggu hasil penilaian laporan magang saya dulu, Pak ?”
“Bisa berbarengan kan ? Atau kamu masih mau memperpanjang masa kuliahmu.”
Bianca buru-buru menggoyangkan kedua telapak tangannya.
“Saya mau melanjutkan ke S2 Pak, tapi setelah wisuda pastinya.” Bianca tersenyum.
“Langsung ke bagian admin saja urus masalah wisudamu.”
”Terima kasih banyak Pak.” Bianca membungkuk dengan wajah berbinar.
Selesai urusan surat menyurat, Bianca dan Dewi langsung pergi ke kantin mengisi perut menjelang makan siang.
“Bi, gimana kabar Revan ? Kangen juga sama tuh anak.”
“Lagi koas sampai tahun depan.”
“Di Jakarta juga ?”
“Iya… gue juga baru tahu ternyata bokapnya punya rumah sakit dan lagu bangun satu lagi joinan sama keluarga Devano.”
“Susah ya orang kaya… Uangnya nggak berseri.” Dewi tertawa.
“Masih jalan sama adiknya Devano, Bi ?”
Bianca hanya mengangguk. Pesanan mereka sudah datang dan Bianca yang memang belum sempat sarapan langsung menikmatinya.
“Senang juga kalau elo beneran jadian sama Devano, punya adik ipar kenal baik.”
Bianca langsung melotot tanpa bicara apa-apa karena masih mengunyah makanan. Dewi tergelak.
“Bisa nggak elo stop membawa-bawa nama Devano. Gue sampai di satu kondisi selain malas, enek juga dengar namanya.” Bianca mengomel panjang lebar setelah makanan di mulutnya tertelan semua.
Wajahnya berubah masam membuat Dewi tertawa.
“Iya sorry… sorry.” Dewi memberikan gelas minuman milik Bianca untuk meredakan kekesalan hati sahabatnya.
Selanjutnya perbincangan mereka soal persiapan wisuda, mencari pekerjaan yang sesuai dan rencana Bianca mengambil S2.
Menunggu datangnya hari wisuda, Bianca mulai berfokus mencari pekerjaan sekaligus mempersiapkan lanjutan pendidikannya di jenjang S2. Tidak semudah yang dibayangkan, Bianca harus sabar menunggu panggilan daei beberapa lamaran yang sudah dikirimnya. Dewi sendiri diminta balik ke sekolah tempatnya menjalankan magang.
Dan tanpa terasa, waktu yang dinanti pun akhirnya datang juga.
Bianca maju lebih awal menjadi salah satu mahasiswa lulusan terbaik di bidangnya. Air mata yang terus mendorong keluar ditahannya sekuat tenaga saat dirinya diminta memberikan sambutan. Pikirannya kembali melayang pada sosok papa Indra yang akhir-akhir ini sangat dirindukannya.
Mama Lisa langsung memberinya pelukan saat semua prosei terlewati dan mereka berkumpul di luar gedung.
__ADS_1
“Terima kasih ma, ataa segala dukungan dan cinta mama sampai Bibi bisa berdiri hari ini.” Akhirnya airmata itu keluar juga.
Mama Lisa memeluk dan mengelus-elus punggung Bianca penuh kasih sayang.
“Terima kasih juga sudah menjadi putri mama yang luar biasa. Sudah menjadi perempuan hebat yang kuat dan bertanggungjawab.”
Mama Lisa melerai pelukan mereka. Ditangkupnya wajah Bianca dan dihapusnya air mata yang membasahi pipinya.
“Kangen papa, ma.” Lirih Bianca sendu.
Mama Lisa memegang dagu Bianca dan mengangkatnya hingga wajah Bianca tengadah menatap ke langit.
“Dari atas sana papa pasti sedang tersenyum berbahagia karena putri kesayangannya sudah tumbuh semakin dewasa.”
Bianca memejamkan matanya dan menbiarkaj airmata mengalir di wajahnya.
“Terima kasih papa, terima kasih. Terima kasih karena papa dan mama sudah menjadi orangtua yang hebat.” Batin Bianca.
Hari ini tidak ada sosok Bernard yang hadir karena adik semata wayangnya itu tidak bisa ijin di tengah kesibukannya mengikuti kuliah kedokteran di salah satu PTN di Yogyakarta.
Dewi dan orangtuanya menghampiri Bianca dan mama Lisa. Mereka saling memberikan selamat atas kelulusan kedua putri mereka.
“Bi, akhirnya kita jadi sarjana juga.” Dewi tersenyum dengan tetesan air mata haru.
“Iya Wi.” Bianca mengangguk. “Terima kasih sudah jadi teman terbaik gue selama kuliah.”
Bianca memeluk erat sahabatnya. Perjuangan mereka belum berakhir, bahkan baru akan dimulai.
Bianca melerai pelukannya dengan Dewi saat seseorang menepuk bahunya.
“Kak Desta ! Kak Dimas !” Seru Bianca saat mendapati kedua laki-laki tampan itu berdiri di depannya.
“Selamat dulu dong.” Dimas langsung mengulurkan tangannya dan hendak memeluk Bianca namun reflek Bianca mundur.
“Nggak ada Devano,” goda Dimas. Bianca langsung melotot.
“Nggak boleh peluk-peluk,” omel Bianca.
“Kalau aku yang peluk boleh nggak Bi ?” Desta mengedipkan matanya sambil tersenyum.
“Sama.” Ketus Bianca.
“Ya ampun Bi, baru juga resmi jadi sarjana psikolog. Kok jutek amat ya… Awas pasien kamu tambah setres.” Dimas yang gemas langsung mencubit pipinBianca.
“Kak Dimas !” Bianca berusaha menepiskan tangan Dimas sambil mengomel.
“Ngomong-ngomong ada cewek cantik di belakang kamu, boleh dikenalin dong.” Dimas melirik Dewi yang masih berdiri di belakang Bianca. Tangannya sudah tidak lagi mencubit pipi Bianca.
“Oh iya… kenalin ini sahabat aku Dewi.”
“Dewi.”
“Dimas.”
“Desta.”
Ketiga bersalaman dan saling kenalan.
“Ooo jadi ini yang namanya Desta ?” Dewi asal ceplos.
“Dewi !” Pekik Bianca. Dimas senyum-senyum sendiri melihat Bianca yang langsung cemberut.
“Kenapa Wi ?” Desta sedikit mendekat ke sisi Bianca. “Dia sering cerita betapa baik dan gantengnya aku ?” Desta mengedipkan matanya sebelah ke arah Bianca.
“Mana ada begitu ceritanya !” Tukas Bianca dengan mulut mengerucut.
“Hati-hati jangan sebal-sebal, nanti malah jatuh cinta.” Bisik Desta di telinga Bianca.
__ADS_1
Bianca hanya membelalakan matanya dengan wajah cemberut membuat Desta, Dimas dan Dewi tertawa.