Bukan Mantan Pacar

Bukan Mantan Pacar
Bab 81 Curahan Hati Devano


__ADS_3

Sepasang kekasih itu sedang bersantai duduk di gazebo menikmati terpaan angin malam. Terlihat lampu-lampu rumah yang berada di bawah villa seperti kunang-kunang di waktu malam.


Devano menggenggam salah satu jemari Bianca dan memasukan ke dalam jaketnya.


“Berapa lama kamu akan tinggal di sini Bi ?” Devano masih memandang ke depan saat bertanya.


“Mungkin 2 atau 3 bulan. Nggak lama kok.”


“Nggak lama kamu bilang ?” Devano menoleh dan menatap lekat mata Bianca.


“Membayangkan kamu sehari aja dekat-dekat sama Desta membuat aku melewati hari kayak lebih dari 24 jam.” Sungut Devano.


“Kamu cemburu ?” Bianca tertawa kecil.


“Ya udah pasti cemburu. Cowok mana yang rela membiarkan pacarnya dekat-dekat sama cowok yang suka sama ceweknya .”


Bianca tertawa melihat wajah Devano yang cemberut.


“Jelek kalau lagi manyun begitu.”


“Kenapa kalau aku jelek ? Mau putus ?” Devano semakin memajukan bibirnya dan membuat Bianca semakin tertawa.


“Nggak, malah tambah gemesin, tambah ngangenin.” Bianca mengusap pipi Devano.


Devano mendengus dan kembali menatap ke depan.


“Kamu tahu kenapa aku sampai ikut Desta kemari ?”


“Karena mau menghindari aku kan ?” Sindir Devano dengan ketus.


Bianca tertawa pelan dan merangkul lengan Devano dengan tangannya yang lain.


“Awalnya permintaan Desta dan akhirnya Om Ardi langsung yang ngomong ke aku. Kamu tahu kalau Sella itu hamil ?”


“Loh bukannya dia masih SMA ?” Devano menoleh sambil menautkan alisnya.


Bianca mengangguk. “Iya dia masih kelas 12, dan sekarang dia lagi hamil 12 minggu.”


“Terus apa hubungannya sama kamu ?”


“Sella pernah mencoba bunuh diri dengan minum racun serangga saat tahu dia hamil. Keluarganya baru tahu soal kehamilannya saat Sella dibawa ke rumah sakit. Untung janinnya baik-baik saja.”


“Depresi karena laki-laki yang menghamilinya tidak mau bertanggungjawab ?”


Bianca pun menceritakan secara garis besar permasalahan Sella tanpa menyebutkan secara gamblang masalah Andre. Devano memang kekasihnya, tapi bagi Bianca yang siap menjadi seorang psikolog profesional, Sella adalah pasiennya. Sudah menjadi kode etik bagi seorang psikolog untuk menyimpan rahasia pasienmya.


“Apa nggak mungkin kalau Desta mengambil kesempatan untuk mendekatimu saat ini ?”


Devano kembali dalam mode kesalnya saat mengingat permintaan Om Ardi supaya Desta ikut menemani selama Bianca dan Sella tinggal di villa.


“Desta ikut kan karena sekalian mengurus proyek pembangunan resort di sini.” Bianca senyum-senyum melihat wajah Devano yang cemberut.


“Dia lagi menyelesaikan masalah jual beli lahan untuk keperluan resort.”


“Iya tapi namanya tiap hari bertemu, satu rumah satu atap….”


Cup


Bianca langsung memberikan kecupan di pipi Devano. Wajah keduanya langsung memerah dan Bianca melepaskan rangkulannya di lengan Devano.


“Yang sini belum,” Devano menunjuk bibirnya.

__ADS_1


“Ogah… itu mah maunya kamu.”


Devano melepaskan genggamannya dan meraih tubuh Bianca dalam pelukannya.


“Susah rasanya menghalau perasaan khawatir dan cemburu sama kamu dan Desta. Apalagi dia pernah nembak kamu kan ?”


“Kok tahu ?” Bianca merenggangkan pelukannya dan mendongak menatap wajah Devano.


“Tebakan doang, tapi benar kan ?”


Bianca mengangguk dan masih menatap wajah Devano.


“Habis selesai tugas dari Om Ardi, langsung nikah yuk.”


Ajakan Devano membuat Bianca langsung terbelalak.


“Baru jadi pacar 48 jam, udah mau naikin statusku jadi istri aja,” ledek Bianca.


Devano kembali menarik Bianca ke dalam pelukannya dan memeluknya dengan erat.


“Aku nggak mau jauh-jauh lagi dari kamu, Bi. Udah hampir 10 tahun berusaha menghindari perasaanku sama kamu, dan aku ingin secepatnya membayar waktu yang terlewati itu.”


“Aku masih ingin lanjut sekolah S2, Van. Untuk ambil profesi.”


“Nggak akan ada larangan buat kamu meneruskan sekolah bahkan nanti bekerja sesuai dengan cita-citamu. Asal kamu bisa membagi waktu untuk aku dan anak-anak kita.”


Wajah Bianca langsung merona dalam dekapan Devano saat mendengar pujaan hatinya itu mengucapkan kata anak-anak kita.


“Cuma satu larangan buat kamu,” Devano merenggangkan pelukannya lalu menatap mata Bianca dengan wajah serius.


“Jangan membuat laki-laki yang ada di dekatmu merasa nyaman.”


Bianca mengerutkan dahinya dan menatap Devano dengan wajah bingung.


“Tiga jomblo ?” Bianca mengernyit.


“Iya Arya, Dimas sama Desta.”


“Ih Arya kan udah nggak jomblo,” protes Bianca.


“Mantan jomblo,” jawab Devano asal membuat Bianca terkekeh.


“Terus kalau Kak Dimas memangnya kenapa ?”


“Kalau kamu kerja bareng dia lebih dari 3 bulan, bakalan dia jadi saingan Desta di kantor.”


“Saingan kamu juga dong,” Bianca memamerkan senyum lebarnya.


“Jangan kebanyakan senyum kayak begini, nanti para jomblo jadi melehoy.” Devano mencubit pipi Bianca membuat gadis itu meringis.


“Jadi ya kita nikah habis kamu selesai tugas di sini ?” Devano menatap penuh harap membuat hati Bianca berdesir dan merasa panas di seluruh wajahnya.


“Beneran kamu udah yakin sama aku ?” Tanya Bianca sambil mengerjap. “Bukan karena merasa harus memenangkan persaingan doang sama Desta.”


“Hufftt” Devano menghela nafas dsn membuangnya dengan kasar.


“Kamu mau denger nggak cerita aku yang sebenarnya ?” Devano melepaskan rsngkulannya dan memutar badannya kembali menghadap ke depan, kakinya dibiarkan menggelantung di pinggur gazebo.


“Mau,” Bianca pun memutar badan sejajar dengan Devano.


Kedua tangan Bianca merangkul lengan Devano dan bersender di lengannya. Devano mengusap kepala Bianca dengan penuh cinta.

__ADS_1


“Aku tertarik sama kamu sejak kelas 8, pas kamu isi acara untuk ulangtahun sekolah. Suara nyanyian kamu membuat hatiku bergetar.” Devano berhenti sejenak dan menatap manik mata Bianca.


“Aku tambah bahagia kareka kita sekelas di kelas 9 dan berarti aku makin punya kesempatan untuk bisa mengenalmu. Tapi di penghujung kelas 9, Opa Ruby memanggilku ke apartemennya di Jakarta. Beliau menyuruh aku kelak meneruskan kuliah di bidang arsitek, dan itu sama sekali bukan minatku.


Opa Ruby mengancam akan membuat usaha papa berantakan kalau aku tidak menurut. Mulanya aku menganggap itu hanya gertakan saja, dan sikapku sedikit acuh mengabaikan permintaan Opa. Sampai saat aku baru masuk kelas 10, usaha papa sedikit kacau. Banyak kerugian yang harus papa tanggung dan sempat membuat papa stress hingga dirawat di rumah sakit. “ Devano kembali menarik nafas panjang.


“Sebagai anak yang baru remaja, aku berpikir kalau opa benar-benar mewujudkan ancamannya karena aku mengabaikan permintaannya. Aku begitu khawatir dengan kondisi papa. Akhirnya sebelum masuk sekolah, aku menemui opa di Australia dan mengatakan bahwa aku akan menuruti permintaan opa dan kelak meneruskan usahanya. Tapi ternyata opa tidak berhenti sampai di situ. Di sana ada Arini dan Diana yang melanjutkan sekolah mereka sekaligus pengobatan untuk Diana. Arini merengek pada opa kalau dia menginginkanku menjadi calon suaminya. Opa mengingat bahwa usaha Om Himawan memang cocok dengan usaha opa dan beberapa kali keduanya sempat bekerjasama. Meiihat peluang yang baik itu, opa bukan saja memberikan satu tuntutan tapi mewajibkan aku meneima Arini sebagai calon istriku. Ujung-ujungnya demi kemajuan bisnis opa juga yang bisa merger dengan perusahan Om Himawan kalau aku sampai menikah dengan Arini. Aku dilarang berpacaran atau jatuh cinta pada perempuan lain.Dan lagi-lagi ancaman menghancurkan usaha papa membuat aku akhirnya hanya diam saja, tidak membantah atau tidak menerima. Aku juga membiarkan Arini berpikir bahwa aku menerima perjodohan itu.”


“Itu sebabnya kamu semakin bersikap dingin di sekolah ?”


Devano mengangguk dan menggeser duduknya membuat rangkulan Bianca terlepas. Devano merengkuh pinggang Bianca dan merebahkan kepalanya di bahu gadis itu.


“Sedih rasanya harus memupus perasaanku sama kamu. Namun kejadian di kelas 11, saat kamu memberikan surat cinta adalah kebahagiaan terbesarku saat merasa tertekan dengan kondisi yang tidak bisa kulawan. Apalagi tahu saat mama sangat menerima dirimu dan memberikan dukungan padaku. Rasanya aku ingin berteriak bahwa aku juga mencintaimu. Tapi tidak lama setelah kejadian surat cintamu, opa tiba-tiba menghubungiku dan mengancamku kembali kalau sampai aku berani membatalkan perjodohan. Aku yakin kalau Arini yang mengadu pada opa. Tapi yang masih membuatku penasaran bagaimana Arini bisa sampai tahu.”


“Nindi,” potong Bianca.


“Nindi ?” Devano mengangkat kepalanya dari bahu Bianca lalu mengernyit. Bianca mengangguk.


“Nindi cukup kenal dengan Arini dan menjadi mata-matanya di sekolah. Namun aku sempat mendengar kalau akhirnya mereka berdua ribut karena berebut ingin memilikimu.”


“Pantas aja,” ujar Devano dengan wajah kesal.


“Lanjut lagi dong ceritanya,” Bianca mendekati Devano dan kembali merangkul lengan pria itu.


“Kamu pikir aku lagi mendongeng ?” Sungut Devano membuat Bianca terkekeh.


“Kok sekarang jadi cepat ngambek sih sayangku ini ?” Bianca mencubit pipi Devano dengan gemas.


“Sakit Bi,” Devano meringis. “Daripada dicubit mendingan dicium lagi. Tadi kan pipi kiri, pipi kanannya belum. Iri kan dia.”


Devano merubah posisi duduknya dan mendekatkan pipi kanannya di depan wajah Bianca membuat gadis itu langsung tersipu malu.


“Kamu ih ternyata mesum juga, maunya dicium melulu,” omel Bianca dengan wajah memerah.


“Loh yang tadi nyosor duluan kan kamu.”


“Habisnya tadi kamu manyun terus. Bikin gemes.”


“Kamu juga bikin gemes.” Devano mencubit kedua pipi Bianca dan menggoyang-goyangkannya.


“Sakit Devano !” Bianca berusaha melepaskan tangan Devano.


“Sakit ya sayang ?” Devano mengelus kedua pipi Bianca lalu menangkup wajahnya.


“Mau aku obatin ?” Devano mengerling.


“Pasti langsung sembuh nih.” Dan tanpa permisi Devano mencium kedua pipi Bianca hingga membuat gadis itu kembali merona.


“Udah enakan ?”


Bianca membuang mukanya dengan wajah merona. Devano tertawa dan mengacak rambut Bianca.


“Pengennya yang ini,” Devano menunjuk bibir Bianca. “Tapi takut kebablasan, soalnya suasana mendukung banget nih.”


“Devano iihh,” Bianca memukul lengan pria di depannya yang hanya menanggapinya dengan tawa.


“Tetap mencintai aku seperti yang sudah kamu lakukan selama ini ya, Bi.” Devano kembali merengkuh Bianca dalam pelukannya.


“Kamu juga,” cicit Bianca.


“Aku tidak akan membohongi diri sendiri lagi dan mencintaimu di sepanjang hidupku. Kalau sampai aku lalai, jangan pernah merasa ragu untuk menegurku, Bi.”

__ADS_1


Bianca melingkarkan tangannya di pinggang Devano dan membalas pelukan sama eratnya.


“Semoga perasaan ini akan mampu menjadi kekuatan kita melewati berbagai rintangan di depan.” Batin Bianca.


__ADS_2