Bukan Mantan Pacar

Bukan Mantan Pacar
Bab 62 Ke Kantor Arya


__ADS_3

Waktu terus berjalan. Tiga minggu berlalu sejak acara makan siang bersama dan kejutan hubungan Mia dan Arya.


Joshua akhirnya diterima bekerja di perusahaan keluarga Ernest dan memulai pelatihannya sebelum resmi menjadi asisten pribadi Ernest.


Begitu juga dengan Leo yang bergabung dengan perusahaan milik keluarga Arya.


Bianca memandang kalender yang ada di mejanya.


“Lihatin apaan Bi ?” Dimas yang baru keluar dari ruangan Devano langsung menegurnya.


“Empat minggu lagi, Kak. Empat minggu lagi si boss pasti bahagia karena udah nggak perlu lihat muka aku lagi di depan ruangannya.”


Bianca tertawa sementara Dimas hanya geleng-geleng kepala.


“Sesenang itu kamu bebas dari Devano ?”


“Iya senang, kak. Setidaknya aku bisa memastikan hatiku sendiri.”


“Maksud kamu ?” Dimas sudah kembali duduk di meja kerjanya.


Bianca beranjak dari tempat duduknya dan berpindah ke kursi yang ada di depan meja Dimas.


“Aku sudah memutuskan kak, kalau setelah selesai masa magang ini tetapi hubunganku dengan Devano malah semakin memburuk, aku akan pergi jauh-jauh dan nggak mau ketemu sama Devano lagi ?”


“Kok begitu ?” Dimas mengernyitkan alisnya.


“Capek kak,” Bianca menyenderkan badannya pada kursi dengan wajah sendu.


“Paling tidak aku sudah memenuhi permintaan banyak orang untuk bertahan dan membuktikan perasaan Devano padaku. Buat aku cukup 3 bulan untuk menjalaninya. Kalau ternyata pandangan mereka salah, aku tidak membuat mereka penasaran.”


“Boleh aku kasih pendapat ?”


Bianca hanya mengangguk. Dia membenarkan posisi duduknya untuk lebih tegak.


“Aku nggak kenal kamu, kalau Devano nggak usah dibilang, dari masih orok. Aku juga nggak tahu detail kejadian kamu dan Devano. Sebagai orang baru yang berada di luar lingkaran kalian, aku juga menangkap kok kalau Devano sebenarnya juga suka sama kamu.”


“Tapi sikapnya makin keras dibandingkan waktu SMA, Kak.” Keluh Bianca.


“Itu tandanya dia semakin berusaha keras untuk menyangkal perasaannya.”


“Masa sih ?”


“Kamu tuh ya Bi, sekolah psikolgi jurusannya psikologi klinis. Status bakal jadi psikolog. Masa masalah hati Devano nggak bisa kamu lihat atau rasakan ?” Dimas menyentil kening Bianca.


“Dih Kak Dimas, mana ada dokter bisa menyembuhkan dirinya sendiri ? Mana boleh dokter mengobati keluarga dekatnya kayak anak, orangtua atau istrinya. Karena kalau tetap bertindak, yang jalan itu perasaan bukan logika.”


Dimas tergelak mendengar penuturan Bianca.


“Kamu merasa nggak kalau Devano itu cemburu sama Desta ? Kalau Desta mulai dekatin kamu, galaknya Devano bertambah 3 kali lipat.”


“Kak Desta ? Padahal aku sama dia hanya sebatas teman sekantor.”


“Di mata lelaki, tingkah laku Desta sudah bisa terlihat kalau dia itu tertarik sama kamu Bi, lebih dari sekedar teman.”


“Yah gimana dong, kalau aku malah berharap dan tertariknya sama Kak Dimas.” Bianca terkekeh.


Dimas sampai menghentikan gerakan tangannya yang sedang mengetik. Kembali dia menggeleng-gelengkan kepalanya. Untung saja Dimas bukan model cowok baperan.


“Ayok aja, aku nggak keberatan kok.” Dimas menopang wajah dengan kedua tangannya sambil mengerjapkan matanya dengan genit.


“Batal ah kalo Kak Dimas pasang wajah begitu.” Bianca tertawa dan bangun dari kursinya.


“Yah kamu kok PHP sih ?” Dimas langsung memasang wajah lesu. Bianca malah makin menertawakannya.


“Jadi kakak angkat aku aja mau nggak ?”


“Nggak,” Dimas menggeleng. “‘Maunya kakak ketemu gede.” Dimas mengedipkan matanya sebelah.


Bianca mencibir sambil tertawa.


“Kenapa Dim ? Mata elo kemasukan debu ?” Suara Devano yang tiba-tiba terdengar membuat kedua orang itu langsung terdiam.


“Eh maaf Pak.” Dimas tersenyum malu sambil menunduk dan memandang ke arah lain.


Kok bisa nggak kedengeran si boss keluar ruangan ? Apa tadi pintunya belum gue tutup rapat ya ? Batin Dimas.


“Kamu jangan suka mengganggu Dimas kaau lagi jam kerja !” Devano mendekati meja Bianca dan menatapnya dengan galak.


“Maaf, Pak.” Bianca menjawab pelan sambil menunduk.


“Mau saya kasih nilai F karena terlalu banyak ngobrol dan bercanda selama jam kerja ?”

__ADS_1


Devano masih menatap Bianca yang masih tertunduk.


“Nggak Pak,” Bianca menggeleng.


Devano beranjak ke meja Dimas dan menyerahkan satu map.


“Surat pengunduran diri Desta sudah saya tandatangani.”


“Hah Desta mengundurkan diri ?” Bianca spontan menanggapi sambil memutar badan ke arah meja Dimas yang berada di belakangnya.


“Kenapa ? Ada masalah sama kamu ?” Tanya Devano dengan senyum mengejek sambil menatap Bianca.


Bianca menghindari tatapan Devano dengan beralih menatap Dimas yang malah memandang ke arah lain.


“Tidak Pak.”


“Nanti saya serahkan ke bagian SDM Pak.” Dimas menerima map yang diberikan Devano


“Apa ada jadwal meeting hari ini ?” Devano memastikan pada Dimas.


Dimas segera mengambil tab nya dan mengecek jadwal kegiatan Devano hari ini.


“Tidak ada meeting apapun hari ini Pak.”


“Hei !” Devano memanggil Bianca yang sudah membalikkan badannya kembali. “Telepon ke kantor Pak Arya dan bilang saya mau ketemu hari ini sekalian makan siang.”


“Baik Pak.” Bianca mengangguk tanpa berani menatap Devano.


Selesai menelepon sekretaris Arya, Bianca beranjak menuju ruangan Devano. Boss nya itu sudah kembali ke ruangannya sejak memintanya membuat janji bertemu dengan Arya.


“Permisi Pak,” Bianca membuka pintu dan mendekat ke meja Devano.


“Pak Arya baru bisa ditemui jam 2 Pak, karena beliau ada lunch meeting di luar sampai jam 1.30.”


“Hmmm” hanya itu jawaban Devano tanpa mengalihkan pandangan dari laptop.


“Nanti kamu ikut saya ketemu dengan Pak Arya.”


Ucapan Devano menghentikan gerakan Bianca yang hendak membuka pintu. Dia membalikkan badannya.


“Baik Pak. Permisi.” Bianca membungkukan badannya meski Devano tidak melihatnya.


“Gimana ?” Tanya Dimas saat Bianca sudah menutup rapat pintu ruangan Devano.


Dimas hanya tertawa melihat Bianca yang sepertinya semakin hari semakin frustasi dengan sikap Devano.


“Semoga waktu cepat berlalu.” Gumam Bianca yang masih bisa didengar oleh Dimas.


Jam 1.50, Devano didampingi oleh Dimas dan Bianca sudah tiba di kantor Arya. Ketiganya disuruh langsung ke ruangan Arya karena yang dicari ternyata sudah kembali dari lunch meetingnya.


“Mau ngapain kamu ?” Tanya Devano ketus saat dilihatnya Bianca malah berjalan menuju meja Shinta, sekretaris Arya.


“Saya menunggu di depan saja Pak. Sudah ada Pak Dimas yang akan mendampingi Bapak.”


“Memangnya saya suruh kamu ikut hanya untuk jadi penggembira ?” Ketus Devano kembali.


Bianca hanya menghela nafas lalu menatap Dimas yang berdiri di belakang Devano. Dimas memberi kode supaya Bianca ikut masuk.


“Maaf, Pak. Saya akan ikut ke dalam.” Jawab Bianca dengan wajah tertunduk.


Tanpa mengetuk pintu, Devano langsung masuk ke dalam ruangan diikuti Dimas dan Bianca.


“Tumben Bro mendadak datang kemari.” Arya langsung beranjak dari kursi kerjanya menuju sofa.


“Waahhh paket lengkap rupanya,” Arya melebarkan senyumnya saat melihat ada sosok Bianca selain Dimas yang menemani Devano.


“Halo Bibi Bian…. Kok nggak tambah tinggi ?” Arya meledeknya sambil tertawa karena Bianca terlihat sangat pendek berdiri di antara mereka bertiga.


“Udah mentok Pak, nggak bisa ditarik lagi.” Bianca tersenyum sambil mengerjapkan matanya.


Dimas tertawa pelan melihat tingkah Bianca sementara Devano menoleh dengan melotot.


“Ini kantor bukan cafe, yang sopan sedikit sama rekan saya.” Tegur Devano.


“Maaf Pak.” Bianca langsung menundukkan wajahnya dan memukul bibirnya yang terlalu lancar bicara.


Arya tergelak dan mendekatinya lalu merangkul leher Bianca membuat gadis itu terkejut dan melotot pada Arya.


“Boss kamu terlalu galak dan kaku. Mau nggak pindah jadi karyawan saya aja ?” Bisik Arya namun bisa didengar oleh semuanya.


“Memang sudah dari sananya, Pak. Terlalu kelamaan jadi manusia es jadi pas mencair bawaannya panas terus.” Bianca menjawab pelan sambil cekikikan.

__ADS_1


Devano mendengus kesal namun tidak menanggapi apapun. Dihempaskan bokongnya di salah satu sofa.


Arya melepaskan rangkulannya dan duduk di ujung sofa berdekatan dengan Devano. Dimas dan Bianca duduk bersebelahan di sofa berseberangan dengan Devano.


“Gue mau bahas soal pembangunan rumah sakit.” Ujar Devano to the point.


“Elo yang pegang proyeknya ?”


“Bokap minta gue sama Revan buat membantu menjadi tim persiapan pendiriannya.”


“Eh tuh anak apa kabarnya ? Bukannya dia lagi koas ya ?”


“Di rumah sakit bokapnya.” Jawab Devano singkat.


Arya beranjak menuju meja kerjanya dan mengambil satu folder yang cukup tebal.


“Baru aja tadi pagi gue meeting di site. Sejauh ini pembangunan tidak ada kendala, saluran pembuangan limbah medis dan pengolahannya juga sudah dipersiapkan dengan baik.”


Arya menunjukkan beberapa lembar gambar dan laporan tertulis pada Devano.


30 menit perbincangan keduanya berlangsung. Terlihat Dimas mencatat beberapa hal penting di tabnya sementata Bianca yang tidak mengerti topik pembicaraan mereka, sekali-sekali mengarahkan perhatian pada handphonenya.


“Gue balik dulu kalau begitu.” Devano beranjak bangun dari tempat duduknya.


Dimas dan Bianca ikut bangun juga.


“Kamu nggak usah pulang sama saya. Nanti minta anterin Pak Arya saja.” Devano menatap Bianca dengan tajam dan dingin.


“Loh kok jadi gue Van ?” Arya menunjuk dirinya tanpa bangun dari sofa.


“Gue masih ada meeting di luar sama Dimas.” Devano menoleh ke Arya.


“Iya tapi kan elo yang bawa dia, terus kenapa gue yang harus bertanggungjawab antar dia pulang ?”


“Elo kan udah biasa bolak balik ke rumahnya.” Suara Devano terdengar santai namun dingin.


“Iya tapi…”


“Nggak apa-apa Pak Arya. Nanti saya bisa menunggu sampai Pak Arya pulang.”


Bianca mengedipkan mata sebagai kode supaya Arya tidak memperpanjang perdebatan dengan Devano. Masalah nanti bagaimana dia pulang urusan belakangan, yang penting biar Devano pergi dulu.


“Jangan suruh orang lagi buat anterin Bianca. Gue nyuruhnya elo bukan sopir atau siapapun.” Tegas Devano saat Arya mengantarnya sampai ke pintu.


Suara Devano terdengar seperti berbisik supaya Bianca tidak mendengarkan ucapannya.


“Iya.” Arya mengangguk dan kembali menutup pintu setelah Devano berlalu. Bianca sendiri masih berdiri dekat sofa.


“Boss elo lagi kenapa sih ?” Arya kembali menuju sofa dan menyuruh Bianca juga ikut duduk.


“Nggak tahu gue. Makin kemari kelakuannya makin nyebelin.”


“Elo nggak berbuat salah kan sama dia ?”


“Mau salah atau benar pokokya Devano udah benci sama gue dari ubun-ubun sampai ke ujung kaki.”


Arya tergelak melihat wajah Bianca yang langsung cemberut. Bibirnya langsung mengerucut 5 cm.


“Gue masih ada kerjaan yang belum beres. Elo mau nunggu kan ?” Bianca hanya mengangguk.


“Eh Mia nggak ikutan kerja bareng elo aja di sini ?” Bianca berkeliling ruangan Arya sementara cowok itu sudah kembali bekerja di mejanya.


“Mia belum mau, katanya tunggu sampai hubungan kita resmi.”


“Maksudnya menikah gitu ?”


Arya hanya mengangkat kedua bahunya. Bianca mengambil bingkai foto di atas lemari dekat meja Arya.


“Cie cie… udah foto mesra aja nih berdua.”


“Iya dong… memangnya kayak elo sama Devano yang udah hampir karatan tapi masih belum jelas.” Arya menoleh sekilas sambil tertawa mengejek.


“Rese deh..” Bianca cemberut


Supaya tidak mengganggu Arya, akhirnya Bianca menghentikan celotehnya dan duduk di sofa sambil memainkan handphonenya. Hingga tanpa sadar ternyata Bianca ketiduran. Arya yang terlalu fokus dengan pekerjaannya baru menyadari kalau Bianca tertidur. Arya beranjak dari kursi kerjanya berniat membangunkan gadis itu karena waktu sudah menunjukkan pukul 5 sore. Namun belum sampai Arya mendekati Bianca, handphone Bianca berbunyi cukup keras hingga membuat gadis itu terbangun.


Bianca menatap layar handphonenya dan langsung memencet icon berwarna hijau untuk menerima. Selesai menutup telepon, Bianca langsung berdiri dan membenarkan baju serta rambutnya.


“Arya, elo nggak usah anter gue pulang ya. Gue ada perlu sebentar. Udah ada yang jemput gue. Bye.”


Muka bantal Bianca langsung berubah cerah dan tanpa menunggu jawaban Arya, Bianca bergegas meninggalkan ruangan Arya.

__ADS_1


“Siapa lagi yang jemput dia ? Bisa gawat kalo Devano tahu bukan gue yang antar. Tapi biarin aja deh, toh Devano juga nggak punya hak buat atur hidup Bianca,” Monolog Arya dalam hati


__ADS_2