
Hari ini Bianca datang lebih awal dari biasanya. Bahkan resepsionist di lobby belum ada yang datang, baru para satpam. Itupun masih yang jadwal malam karena pergantian shift baru jam 7.
Bianca mengedarkan pandangan ke seluruh ruangannya di lantai 10. 3 bulan dia bekerja di tempat ini, namun rasa nyaman dan keakraban dengan Dimas dan Eva membuatnya cukup berat meninggalkan rutinitasnya selama 3 bulan terakhir ini. Bahkan sikap galak dan marah-marahnya Devano menciptakan kesedihan untuk meninggalkan tempat ini.
Bianca sudah melakukan serah terima secara resmi pada Mimi, sekretaris Devano. Hari ini hanya tinggal berpamitan pada papa Harry dan beberapa bagian yang memang sering berhubungan dengannya. Dan yang paling penting mengambil surat hasil magangnya untuk diserahkan ke kampus.
Bianca menyusuri lorong menuju pantri yang letaknya dekat ruangan papa Harry. Sampai di sana dia berdiri dekat jendela sambil menunggu air mendidih di atas teko listrik yang baru saja dia nyalakan. Saat tombol mati secara otomatis, Bianca mengambil bungkusan susu coklat dalam sachet dan menuangnya dalam mug dan dicampur dengan air panas.
“Hari ini terakhir buat kamu menjadi wadah susu cokelatku,” Bianca cekikikan sambil menatap mug yang selalu menjadi gelas kesayangannya.
Sambil mengaduk susu, Bianca kembali menyusuri lorong untuk kembali ke ruangannya.
Saat di depan lift, bunyi tanda berhentinya lift membuatnya menghentikan langkah. Diliriknya jam tangannya, baru jam 6.45. Diyakininya bukan Dimas, Eva atau Mimi karena ketiganya biasa datang paling cepat jam 7.15.
Pintu lift terbuka dan sosok yang dihindarinya muncul dari dalamnya. Keduanya sama-sama terkejut. Untung saja gelas di tangan Bianca tidak terlepas.
“Selamat pagi Pak Devano.” Bianca membungkukkan badannya sebagai tanda hormat.
Devano tidak menjawab apapun dan meneruskan langkahnya menuju ruangannya.
Bianca menghela nafas. Setelah Devano menjauh, dia mengelus-elus dadanya.
“Untung aja hari ini terakhir gue ketemu elo.” Bianca mencibir lalu tertawa sendiri.
Setelah sebulan terlewati sejak kejadian di pantai, Bianca akhirnya bisa berdamai dengan perasaannya. Tekadnya sudah bulat akan melepaskan dan menghapus Devano dari kehidupannya.
Jam 7.30 Mimi dan Dimas sudah ada di ruangan, sementara Bianca sudah berpindah posisinya duduk di sofa.
“Nggak pulang Bi ? Jam segini kok udah nongol aja.” Ledek Dimas sambil merapikan beberapa berkas di mejanya.
“Iihh memangnya aku penunggu kantor ?” Bianca ikut tertawa.
“Semoga boss hari ini nggak kesiangan datang, banyak yang musti disiapkan sebelum meeting hari ini.”
“Udah datang kok,” Bianca menjawab.
“Beneran ?” Dimas sedikit tidak percaya.
“Kamu nggak janjian sama Pak Devan buat pesta perpisahan khusus kan ?”
“Iihhh mana ada !” Tukas Bianca cepat. “Malah kalau boleh begitu surat hasil magang, aku mau pulang langsung. Boleh nggak ?”
“Tanya boss lah !” Dimas mengambil tambahan map yang diserahkan oleh Mimi.
“Bukannya Bianca sekretaris khususnya Pak Devano ?” Mimi ikutan menggoda sambil tertawa.
“Kalian berdua kalo sudah bully membully apalagi gabungan sama Kak Eva memang paling kompak.” Bianca menggeleng-gelengkan kepalanya.
Dimas dan Mimi hanya tertawa. Dimas sudah berdiri di depan pintu ruangan Devano, namun niatnya mengetuk dibatalkan. Dimas memutar badannya menatap Bianca.
__ADS_1
“Surat kamu sudah ditandatangi langsung oleh Pak Harry karena beliau juga yang menandatangi surat penerimaan magang kamu. Tapi kemarin sore aku diinfo dari HRD kalau harus Devano sendiri yang menyerahkannya sama kamu. Nggak bisa ditolak karena perintah big boss.”
“Beneran kak ?” Bianca terbelalak. “Apa nggak runyam kalau aku harus ambilnya langsung dari Devano ?”
Bianca langsung menyender dengan lesu menbuat Mimi dan Dimas kembali menertawakannya.
“Sudah aku bilang kan Dim, ayangnya pak Devano.”
Dimas mengangguk dan akhirnya mengetuk pintu ruangan Devano. Setelah mendapat jawaban, Dimas langsung masuk dan menutupnya kembali.
Dimas membacakan jadwal Devano hari ini. Dia juga meletakkan tumpukan map yang sudah disusunnya.
Devano mengambil 2 yang teratas dan mulai membacanya.
“Oh ya Bro,” panggilan Dimas saat mereka hanya sedang berdua. Dimas mengambil satu map yang berbeda warnanya dari yang lainnya dan membuka isinya.
“Ini surat hasil magangnya Bianca, sudah ditandatangani sama Om Harry setelah elo paraf dua hari lalu. Tapi ada catatannya Bro.”
Devano mengangkat kepalanya dan menatap Dimas.
“Om Harry sudah berpesan pada Pak Sofian bahwa surat itu harus diserahkan langsung sama elo.”
“Harus ?” Devano membelalak tidak percaya.
“Bisa hubungi om Harry langsung buat memastikan. Tapi kalau menurut gue, nggak mungkin Pak Sofian ngada-ngada.”
Devano menarik nafas. Entah perasaan apa yang berkecamuk di hatinya, Devano pun enggan mencari kebenarannya. Ada perasaan kehilangan sejak Bianca sama sekali tidak mau dekat-dekat dengan dirinya. Jangan kata bicara, saat mereka bertemu pun Bianca selalu menghindar darinya.
“Kenapa gue harus suka laki-laki pengecut kayak elo ? Gue benci ! Gue benci !”
“Devano, aku akan berhenti mencintaimu, mengharapkanmu dan menghapus bersih bayanganmu dalam hatiku sampai tidak bersisa. Berikan aku waktu 4 minggu. Hanya tinggal 4 minggu, aku akan menyelesaikan semuanya dengan baik.”
Perkataan Bianca masih tersimpan baik dalam memorinya. Derai air mata yang membasahi wajah mungil di sela-sela ucapannya yang penuh kemarahan membuat Devano bergumul dengan hatinya.
Namun melihat gadis itu bisa tertawa lepas saat bersama Arya membuat hatinya lebih tenang. Arya adalah satu-satunya lelaki yang Devano percaya dapat mengembalikan kebahagiaan Bianca. Bahkan waktu Nindi membully Bianca, Arya adalah sosok penghibur Bianca. Itu sebabnya Devano sengaja meminta pertemuannya dengan Arya dilakukan di kantor PT Berdikari, supaya Arya dapat sering-sering bertemu Bianca dan menjadi penghibur hatinya.
“Van, Devano.” Dimas menepuk bahunya setelah berkali-kali memanggil nama Devano bahkan sambil mengibaskan tangannya di depan wajah Devano namun pria itu tetap tak bereaksi.
“Eh sorry, gimana jadinya ?”
“Kita ada meeting dengan Mr Watanabe jam 9 pagi ini.”
“Dimana ?”
“Di kantor ini. Semua bahan meeting sudah gue email kemarin sore.”
“Terus kapan surat Bianca harus dikasih ke dia ?”
Dimas terdiam seakan bingung dengan pertanyaan Devano. Ditatapnya sang boss yang terlihat kurang bersemangar hari ini. Apa karena hari ini adalah hari terakhir Bianca berdekatan dengannya ?
__ADS_1
Dilihatnya Devano pun terdiam dan kembali melamun. Biasanya Devano langsung bekerja bila setumpukan map sudah diletakkan Dimas di mejanya. Tapi pagi ini, belum ada satu berkas pun yang selesai dibaca dan ditandatanganinya.
“Bro, elo yakin baik-baik aja hari ini ? Nggak sakit ?”
Devano menatap Dimas dan menggeleng.
“Memangnya gue kelihatan sakit ?”
Tanpa sadar Dimas malah mengangguk.
“Sakit yang nggak kelihatan dan nggak berdarah.”
“Maksud lo ?” Devano mengernyit sambil menatap Dimas.
Dimas jadi tergelak. Rasanya ingin terpingkal-pingkal melihat kelakuan Devano. Namun dia sadar kalau sepupunya ini memang jago soal akademis dan pekerjaan di kantor, tapi nol bahkan minus soal hati apalagi cinta.
“Memangnya elo kapan maunya kasih surat itu ke Bianca ?” Tanya Dimas.
“Surat apaan ?” Devano mengernyit.
Dimas tidak mampu lagi menahan tawanya lebih dari yang tadi.
“Elo sedih ya Bianca mau keluar ?” Dimas memicingkan matanya.
“Ngaco lo !” Omel Devano.
“Kalau memang nggak sedih kenapa daritadi kebanyakan bengong sejak gue membahas soal surat hasil magang Bianca ?”
Dimas duduk di kursi depan meja kerja Devano.
“Elo sengaja ya janjian datang pagi supaya punya waktu lebih panjang dengan Bianca ?” Tanyanya sedikit pelan namun bernada meledek.
“Bener-bener sinting lo!” Devano melempar pena yang dipegangnya membuat Dimas kembali tergelak.
“Kalau cinta bilang cinta Bro. Jangan sampai jadi penyesalan seumur hidup. Apalagi gue lihat Arya semakin nempelin Bianca.”
“Biarin aja,” dengus Devano.
“Awas kalo nyesel, jangan suruh-suruh gue kirim bunga sama cokelat ya !” Ancam Dimas membuat Devano mendelik kesal.
“Udah mana bahan meeting yang nanti mau dibahas.”
Devano membuka laptop nya dan mencari email yang dikirim Dimas untuk dipelajari lebih lanjut.
Saat menatap layar laptopnya, namun lagi-lagi ingatan akan perkataan Bianca melintas di benaknya.
“Devano, aku akan berhenti mencintaimu, mengharapkanmu dan menghapus bersih bayanganmu dalam hatiku sampai tidak bersisa….”
Apa Devano benar-benar rela jika Bianca menghapus dirinya dalam hati gadia itu ?
__ADS_1
Devano memejamkan matanya sejenak mencoba mengusir pertentangan dalam hatinya.
Dimas hanya terdiam melihat sikap Devano. Dia berharap bahwa akhir hubungan keduanya akan baik-baik saja.