
Tanpa terasa setahun berlalu. Situasi Bianca dan Revan semakin merenggang karena keduanya tidak ada yang berusaha memberi penjelasan dan mencari kejelasan. Bianca akhirnya menceritakan semuanya pada Dewi karena sahabatnya yang satu itu tidak berhenti berkali-kali menanyakan ada masalah apa antara Revan dan Bianca.
Diana juga tidak pernah mengajak Bianca bertemu lagi. Sempat sekali Diana merayakan ulangtahun di Cafe Pelangi bersama teman-temannya termasuk Arini, setelah sebelumnya Revan memastikan kepada pihak cafe bahwa bukan jadwal Bianca menjadi penyanyi hari itu. Ternyata karena Nina, penyanyi yang harusnya tampil mendadak sakit, Bianca diminta Kak Juan untuk menggantikan.
Baik Revan maupun Diana tampak terkejut saat mendapati Bianca yang menjadi penyanyi malam itu sementara Bianca bersikap biasa saja dan tetap profesional. Malah Arini, adik Arya yang sombong luar biasa itu, sempat mencari masalah dengan Bianca soal Devano. Tapi lagi-lagi Bianca bersikap datar malah cenderung mengejek kelakuan Arini, membuat sahabat Diana itu naik pitam dan hampir mengacaukan acara ulangtahun Diana.
Siang ini mahasiswa jurusan psikologi mulai sibuk mencari tempat magang di berbagai tempat, tergantung peminatan yang mereka ambil.
“Kenapa kok cemberut ?”
Dewi mendekati Bianca yang memegang amplop putih berisi surat pengantar kampus untuk keperluan magang.
“Gue kan ambil jurusan klinis, kenapa malah ditempatkan di perusahaan ?”
“Kok bisa ?” Dewi menautkan alisnya.
“Memang elo belum punya nama perusahaan atau lembaga yang menerima elo sebagai anak magang ?”
Bianca menggeleng dengan wajah cemberut.
“Gue memang baru cari. Tadi pagi dapat wa dari admin kampus disuruh datang. Nggak taunya langsung dikasih surat pengantar begini.”
“Terus nggak coba tanya Pak Rachman sebagai dosen pembimbing elo ?”
Bianca melebarkan matanya dan wajahnya sedikit berubah lebih cerah. Tapi nggak lama berubah menjadi kusut kembali.
“Memang bisa minta rubah ? Tuh lihat malah ada tandatangan Pak Rachman di sana.”
Bianca mengeluarkan surat pengantar yang dimaksud dan memperlihatkan pada Dewi. Sahabat Bianca itu membaca dengan seksama isi surat itu.
“Berdikari Putra Wijaya Grup.” Gumam Dewi.
“Gue mau nanya Pak Rachman.” Bianca mengambil kembali surat di tangan Dewi dan berjalan menuju ruang dosen.
“Iya lebih baik elo tanya langsung.” Dewi mengikuti langkah Bianca.
“Elo sendiri dapat dimana ?” Bianca menoleh sekilas pada Dewi yang sekarang berjalan sejajar dengannya.
“Gue udah hubungi sekolah SMA gue dan bicara sama kepsek. Besok mau dikasih kabar bisa nggak magang di sana.”
“Oh iya elo ambil peminatan pendidikan ya ?”
Dewi hanya mengangguk dan langkah mereka berhenti tepat di depan ruang dosen.
Bianca mengintip lewat pintu, mencari keberadaan Pak Rschman, dosen pembimbingnya.
Didapatinya sosok yang dicari sedang memegang berkas-berkas yang terlihat seperti tugas mahasiswa.
Bianca mengetuk pintu dan disapa oleh Bu Emi yang mejanya tidak jauh dari situ.
“Mau ketemu siapa Bianca ?” Sapa Bu Emi.
“Maaf Bu, saya mau ketemu Pak Rachman.”
Bu Emi memanggil Pak Rachman dan menyampaikan kedatangan Bianca dan Dewi. Sosok dosen berusia 50 an itu langsung menoleh dan berdiri lalu berjalan menghampiri Bianca dan Dewi.
__ADS_1
“Ada apa ?” Suara galaknya langsung menyapa keduanya.
“Maaf ada yang mau saya tanyakan soal magang Pak,” sahut Bianca.
Pak Rachman memberi kode supaya Dewi dan Bianca mengikutinya memasuki ruangan semacam ruangtamu kecil di sisi kanan pintu masuk
“Silakan.” Pak Rachman mempersilakan kedua mahasiswanya duduk.
“Ada masalah apa ?”
Bianca mengeluarkan surat pengantar magang dari dalam amplopnya.
“Saya dapat surat pengantar magang ini, Pak. Sepertinya saya belum memilih tempat untuk magang, tapi sudah diberikan surat ini dengan tandatangan Bapak.”
Bianca menjeda sejenak. Pak Rachman menatapnya galak di balik kacamata minusnya. Doden itu bahkan tidak melihat isi surat yang sudah dikeluarkan Bianca dan diletakkan di atas meja.
“Jadi kamu menolak begitu ?” Suara tegas Pak Rachman membuat Bianca menelan salivanya.
“Bukan menolak, Pak. Hanya saja peminatan yang saya ambil psikologi klinis, tapi penempatan magang saya di perusahaan.”
“Jadi maksud kamu tidak bisa praktek ilmu kamu di sana ? Apa kamu menganggap peminatan klinis tidak bisa dipraktekkan di perusahaan ?”
“Eh bukan maksud saya begitu Pak…. Tapi…”
“Seharusnya kamu berbangga karena perusahaan yang meminta kamu untuk magang di sana. Coba tanya teman kamu itu,” Pak Rachman menunjuk Dewi dengan dagunya.
“Kamu sudah dapat tempat untuk magang ?” Pandangan Pak Rachman yang terlihat galak langsung pindah menatap Dewi dan reflek Dewi langsung menggeleng sambil menelan salivanya.
“Pimpinan perusahaan itu yang meminta saya secara langsung untuk memberikan kesempatan kamu magang di sana. Berusahalah maksimal dan jangan bikin malu saya sebagai pembimbing kamu !”
“Maaf Pak kalau boleh saya tanya..”
“Tanya apa ?” Potong Pak Rachman.
“Apa tugas saya sesuai dengan bidang peminatan saya atau akan ditempatkan di HRD ?”
“Tugas kamu mengamati dan menganalisa beberapa orang yang butuh penilaian darimu sebagai seorang calon psikolog. Jadi tidak akan melenceng dari bidang peminatanmu.”
Bianca hanya mengangguk-angguk dengan kepala sedikit tertunduk.
“Masih ada lagi ?” Tegas Pak Rachman.
Bianca mendongak dan membalas tatapan Pak Rachman.
“Tidak ada Pak. Hanya kalau boleh saya bisa tetap berkonsultasi pada Bapak seandainya saya kesulitan pada waktu magang.”
“Hubungi saja saya lewat wa.” Pak Rachman menjawab sambil berdiri dan meninggalkan Dewi serta Bianca lalu kembali ke meja nya.
“Ingat bekerja yang benar dan jangan terlalu pilih-pilih. Jangan bikin malu fakultas dan saya sebagai dosbing kamu !” Pak Rachman berhenti sejenak saat di depan pintu dan menoleh menatap Bianca dengan galak.
Bianca langsung bangun dari kursinya dan membalikkan badan supaya berhadapan dengan Pak Rachman.
“Akan saya ingat baik-baik pesan Bapak.” Bianca mengangguk sopan.
Pak Rachman meneruskan langkah menuju mejanya sementara Bianca dan Dewi yang kembali melewati meja Bu Emi untuk pamit dan keluar meninggalkan ruangan dosen.
__ADS_1
“Bi,” Dewi mendekatkan posisinya pada Bianca yang berjalan dengan lesu.
“Lihat nih !” Dewi menyodorkan handphonenya.
“Pak Rachman betul, seharusnya elo bangga karena dipilih sama perusahaan multinasional begini.”
Bianca menerima handphone Dewi dan membaca data yang didapat oleh sahabatnya lewat mbah google. Matanya langsung terbelalak saat memencet icon berisi data perusahaan.
“Shit !” Umpat Bianca.
“Kenapa Bi ?” Dewi memegang lengan Bianca membuat gadis itu berhenti. Bianca kemudian berjalan ke arah taman dekat situ dan duduk di salah satu bangku yang ada.
“Kenapa Bi ?” Dewi bertanya kembali saat melihat wajah Bianca bertambah kesal.
“Elo lihat nama pemiliknya !” Bianca mengembalikan handphone Dewi.
“Harry Wijaya.” Tutur Dewi. “Siapa memangnya Bi ?”
Bianca menarik nafas sangat panjang dan membuangnya dengan kasar.
“Perusahan itu milik keluarganya Devano.”
“Beneran ?” Dewi ikutan duduk di sebelah Bianca.
“Waahh berarti papanya Devano yang meminta elo langsung untuk magang di sana dong ?”
Bianca menutup wajah dengan kedua telapak tangannya. Tidak diperdulikan Dewi yang menggodanya. Beberapa kali terdengar tarikan nafas Bianca yang berat dan umpatan kekesalan keluar dari mulutnya.
“Kenapa gue nggak bisa jauh-jauh dari Devano sih !” Bianca mendengus dengan pandangan ke arah lain.
“Jodoh kayaknya Bi,” Dewi tertawa.
“Selesai dengan Revan sekarang malah sama bapaknya Devano. Bener-bener ngeselin !”
“Hahahhaha.. berarti setelah utusan nggak berhasil, Rsja turun tangan langsung Bi.” Ledek Dewi yang langsung mendapat pelototan dari Bianca.
“Terima aja Bi… Jalanin dulu aja.”
“Males banget gue.”
“Elo lihat sendiri kan reaksi Pak Rachman tadi. Keputusan menempatkan elo di sana bukan pilihan tapi ultimatum.”
“Tapi kenapa harus ada hubungannya dengan Devano lagi…. Devano lagi.”
“Mantan terindah memang susah dilupakan , Bi. CLBK lagi lah.” Dewi menyenggol bahu Bianca sambil tertawa.
“Eh mana ada ya gue pernah pacaran sama dia !” Bianca langsung cemberut.
“Mana bisa status gue mantan, pacaran aja juga nggak pernah.”
Dewi masih tertawa-tawa dan menoel dagu Bianca membuat gadis itu kembali melotot dan tambah memanyunkan bibirnya.
“Bukan mantan pacar Bi, tapi mantan calon pacar.”
“Dewi !” Bianca beranjak bangun dan berusaha memukul Dewi yang sudah lari duluan sambil tertawa.
__ADS_1