
Seperti biasa Bianca bangun lebih awal untuk membantu Bi Isa menyiapkan sarapan. Saat keluar dari dapur, Bianca mendapati Devano baru saja masuk setelah berolahraga.
Devano sempat melirik Bianca namun dengan sikapnya yang kembali dingin dan datar,. Devano mengabaikan Bianca yang mendekatinya dan melangkah ke lain arah menghindari Bianca untuk langsung menuju ke kamar.
Bianca geleng-geleng kepala. Pacar 48’jam nya itu kembali ke mode datar dan dingin gara-gara semalam. Bianca yang masih kesal masalah Emilia, sengaja duduk di antara Dimas dan Desta yang sedang asyik mengobrol di teras depan. Sementara Arya duduk di sebelah Desta.
Beberapa kali Devano memanggilnya dan memberi kode supaya pindah tempat duduk, tetapi Bianca tidak mengindahkannya. Malah secara tidak sengaja, Bianca meminum wedang jahe dari gelas Dimas.
Bianca mengira gelas itu baru karena masih penuh. Ternyata gelas itu milik Dimas yang sudah mengisi ulang lagi gelasnya dengan minuman yang sama.
Dimas yang reflek mengatakan kalau Bianca menggunakan gelasnya tidak sadar telah membangunkan macan tidur. Bianca hanya bisa tertawa kikuk saat Devano menatapnya dengan tajam.
Jam 7.30 semua sudah kumpul lagi di meja makan. Pagi ini menunya nasi goreng sosis, telur ceplok dan kerupuk udang.
“Masakan kamu masih enak, Bi.” Dimas membuka percakapan pagi itu.
“Kok tahu kalau ini masakan Bianca ?” Tanya Sella.
“Sudah sering makan pas nih bocah magang di kantornya Devano. Selalu kebagian jatah kalau bekalnya nasi goreng.” Dimas terus saja berceloteh tanpa memperhatikan raut wajah boss nya yang sudah berubah keruh.
Bianca berusaha menggenggam jemari Devano di bawah meja, tapi pria itu menepisnya dan mengangkat kedua tangannya di atas meja.
“Dih siapa juga yang khusus bawain Kak Dimas. Habis tiap aku bawa bekal nasi goreng selalu dipalak. Daripada porsi makan aku berkurang, lebih aman aku bawakan sekalian.” Protes Bianca sekaligus penjelasan tidak lamgsung pada Devano.
“Devano nggak kamu bawain sekalian ?” Goda Arya yang duduk persis berseberangan dengan Devano.
Arya sudah memahami sifat sahabatnya itu yang sedang memasang mode datar dan dingin. Wajah kesal Devano terlihat jelas meski pria itu menutupinya dengan sikap dinginnya.
“Bawain juga,” jawab Bianca spontan.
Devano langsung menoleh dan menatap Bianca sambil mengernyit. Bianca membalas tatapan Devano yang seolah-olah bertanya kapan Bianca pernah membawakan.
“Beberapa kali aku bawakan untuk kamu, tapi malah kamu abaikan atau kamu kasih OB.” Bisik Bianca pelan dan berharap hanya Devano yang mendengar.
Dimas yang posisi duduknya persis di sebelah Devano, baru sadar akan sikap Devano yang ternyata kembali dalam mode diam. Dari bangku seberang terlihat Arya yang cekikikan dan berkata tanpa suara.
“Habis lo !”
Dimas jadi salah tingkah saat sadar akan perbuatannya dan memilih diam tanpa melanjutkan percakapan.
“Aku juga kebagian loh kalau Bianca lagi bawa nasi goreng. Rasanya memang enak dan nggak berubah.” Tiba-tiba Desta yang juga melihat raut wajah kesal Devano ikut membuka mulutnya dan bicara dengan kalimat yang membuat hati Devano bertambah kesal.
Devano akhirnya memilih bangun dan menyudahi sarapannya.
“Aku duluan, sudah kenyang.” Devano masih berusaha sopan sebelum meninggalkan meja makan.
Saat Devano sudah masuk ke kamar, Desta dan Arya sudah tidak bisa lagi menahan tawanya. Dimas yang semula terlihat cemas akhirnya ikutan tertawa, begitu juga dengan Sella yang sedari tadi juga memperhatikan wajah Devano.
Hanya Bianca yang langsung pasang muka cenberut.
“Kalian nih ya… benar-benar bensin turbo. Udah tahu mood nya Devano lagi jelek, malah makin dipanas-panasin.”
“Habis nggak tahan melihat mukanya cemberut kayak anak kecil nggak kebagian lolipop.” Sahut Arya di sela-sela tawanya.
__ADS_1
“Awas ya kamu !” Bianca memberikan kepalan tangannya pada Arya yang masih tertawa.
“Kak Desta juga samanya nih, kapan aku pernah bawain nasi goreng buat kakak ?”
Desta hanya tertawa melihat muka Bianca yang samgat kesal. Meski hatinya masih merasa tercubit, melihat wajah Bianca yang menggemaskan rasanya ada sedikit rasa bahagia yang menyembul.
Akhirnya Bianca ikutan bangun dan berjalan menuju kamar yang ditempati ketiga pria itu.
“Eh mau ngapain masuk ke sana ?” Tanya Dimas.
“Pacaran,” jawab Bianca sambil melambaikan tangannya di atas kepala tanpa menoleh.
“Nggak boleh kalau belum sah.” Goda Arya.
“Biarin ! Sirik aja !” Bianca berhenti dan berbalik lalu menjulurkan lidahnya. “Laporin sana sama Pak RT sekalian, biar digrebek langsung dikawinin.”
“Ih maunya ! Langsung kawin nggak nikah dulu.” Ledek Dimas sambil mencibir.
“Lagian kalian tuh teman-teman durjana !” Omel
Bianca.
Omelan Bianca membuat para sahabatnya jadi tertawa. Setelah Bianca berlalu ke dalam kamar, ketiga pria plus Sella yang masih duduk di meja makan akhirnya melanjutkan sarapannya dengan membahas masalah Devano. Sesekali terdengar tawa di antara mereka.
Tanpa mengetuk, Bianca membuka pintu kamar san melongokan kepalanya sebelum benar-benar masuk.
Tidak ada sosok Devano, tapi terdengar suara gemericik air dari dalam kamar mandi.
Bianca langsung duduk di atas ranjang yang dia yakin adalah tempat Devano tidur karena di ujungnya ada sweater yang semalam Devano pakai dalam keadaan terlihar rapi.
Bianca membiarkan Devano menyalakan laptopnya dulu hingga terbuka dengan sempurna.
Perlahan Bianca berjalan mendekat ke Devano dan menarik kursi lain yang ada di situ.
“Van, masih marah sama aku ?” Bianca menyentuh tangan kiri Devano yang dibiarkan bebas di atas meja.
Devano tidak menolak namun tidak juga menyahut.
“Aku minta maaf soal kejadian semalam. Aku benar-benar nggak sengaja soalnya masih emosi soal Emilia.”
Devano masih dalam mode diam. Melihat Devano mengetik hanya dengan tangan kanannya dan membiarkan tangan kirimya dipegang Bianca membuat hati gadis itu sedikit lega. Sepertinya perlu mengeluarkan jurus bujukan dan rayuan yang lebih dahsyat untuk membuat Devano kembali tenang.
“Dan masalah nasi goreng, beneran sumpah deh kalau aku nggak pernah bawain buat Kak Desta.” Bianca mengangkat jari telunjuk san tengahnya.
“Kalau Kak Dimas memang betul pernah aku bawain beberapa kali, soalnya kalau aku bawa bekal nasi goreng suka dipalak sama dia. Aku kan jadi nggak kenyang.”
Bianca menunggu reaksi Devano namun tatapan kekasihnya itu masih fokus ke laptop.
“Aku pernah beberapa kali bawain kamu karena kata Tante Angela kamu suka nasi goreng. Tapi dari semua yang aku bawain, kamu nggak pernah makan sekalipun. Malah aku sempat melihat kamu suruh OB buang atau dimakan asal nggak ada di meja kamu.” Lirih Bianca.
Devano menghentikan aktivitasnya dan menarik nafas panjang. Pandangannya masih menatap laptopnya.
“Masih mau minta dicium sama Desta atau Dimas atau Arya supaya impas sama aku ?”
__ADS_1
Bianca tersenyum tipis. Ada rasa lega di hatinya karena Devano sudah mulai mau bersuara meskipun masih terdengar datar.
“Memang boleh biar kita seri ?”
Devano langsung menoleh sementara Bianca tersenyum sambil mengerjapkan matanya.
“Nggak boleh !” Devano berkata dengan suara galaknya sambil melotot.
Bianca tertawa lalu menghambur memeluk Devano membuat pria itu hampir saja terjatuh. Satu tangannya cepat-cepat memegang meja dan tangan lainnya memeluk pinggang Bianca.
“Bi !” Serunya. “Kamu mau kita jatuh ?”
Bianca hanya tertawa dan langsung duduk di pangkuan Devano. Satu tangannya merangkul leher kekasihnya.
“Terima kasih sudah cemburu sama aku. Senangnya merasakan dicemburui sama pacar setelah menunggu 10 tahun.”
Devano menatapnya dengan intens membuat Bianca menghentikan tawanya dan membalas tatapan Devano.
“Apa kamu sebegitu bahagianya ?”
Bianca hanya tersenyum sambil mengangguk. Devano langsung memeluk Bianca dan menempelkan kepalanya pada dada Bianca.
“Jantung kamu kok kenceng banget detaknya Bi ?”
Bianca terkekeh.
“Setiap dekat sama kamu, aku selalu merasa deg deg kan. Apalagi di peluk begini.”
“Kamu beneran tetap sayang sama aku kan , Bi ?” Devano menjauhkan wajahnya supaya bisa menatap Bianca.
“Kok kamu jadi kayak orang nggak percaya diri gini sih, Van ?”
Bianca menatapnya sambil menautkan kedua alisnya sementara Devano menarik nafas panjang.
“Aku khawatir kamu akan jenuh padaku karena terlalu lama aku biarkan dalam ketidakpastian. Aku takut perasaanmu akan cepat berubah. Apalagi di pertengkaran kita yang terakhir kamu bilang akan menghapus semua tentang aku dalam hidupmu. Sejak perkataanmu itu, aku sempat meihat bahwa kamu benar-benar berusaha dan mulai berhasil menghapus tentang aku dalam dirimu.”
Devano berhenti sejenak dan membelai lembut pipi Bianca.
“Kamu sangat istimewa, Bi. Bukan karena fisikmu yang tinggi semampai dan wajah cantik yang mampu menarik mata orang lain hanya sekali pandang, tapi hatimu Bi. Hatimu yang tulus selalu menarik banyak orang dan membuat mereka ingin mendekatimu lalu akhirnya susah lepas darimu.”
Bianca mengernyit dengan wajah bingung.
“Jadi aku jelek banget ya ? Makanya kamu perlu waktu hampir 10 tahun untuk meyakinkan perasanmu sama aku ?” Mulut Bianca mulai mengerucut.
Devano tertawa pelan dan menangkup wajah Bianca hingga bibirnya semakin mengerucut.
“Iya kamu jelek, pesek, pendek tapi bikin mataku susah menolak untuk mencuri-curi pandang setiap ada kesempatan. Bikin deg deg juga, soalnya yang jelek ini udah seperti gula dikerubungi semut, dinanti-nanti sama cowok-cowok cakep di sekolah. Untungnya aku tahu kalau nilaiku masih di atas mereka.” Devano terkekeh.
“Narsis !” Sungut Bianca dengan wajah cemberut.
Devano mendekatkan wajahnya dengan wajah Bianca dan mencium kedua pipi Bianca dengan penuh kasih sayang.
“Bukan narsis tapi kenyataan.” Bisiknya di telinga Bianca.
__ADS_1
Devano tergelak saat melihat wajah Bianca semakin kesal dengan bibir mengerucut.