Bukan Mantan Pacar

Bukan Mantan Pacar
Bab 76 Macan Ompong


__ADS_3

Devano berhenti di ujung tangga karena baru merarasakan perutnya belum terisi. Dilihat jam di handphone ternyata sudah pukul 15.45. Pantas saja perutnya terasa lapar karena pagi tadi hanya minum setengah gelas susu.


Devano memutar langkah menuju ruang makan. Ternyata di dapur ada mama Angela dan Diana yang sedang membuat kue.


“Sore Ma.” Sapa Devano sambil duduk di salah satu kursi meja makan


“Kok lesu ?” Mama Angela yang baru saja memasukan loyang kue ke dalam oven menghampiri Devano.


“Lapar.”


Mama Angela menyuruh salah seorang pelayan untuk menyiapkan makanan.


“Tunggu dipanasin dulu ya.”


“Nggak usah, Ma. Yang penting nasi putihnya hangat.”


Tidak lama kemudian, salah seorang pelayan mulai menata makanan di meja.


“Papa kemana, Ma ?”


“Main golf sama opa dan Om Himawan.”


Devano kembali melihat handphonenya dan masuk ke aplikasi pesan namun masih tetap centang satu di bagian nama Bianca.


“Kok galau ? Kan baru jadian nih.” Diana yang sudah selesai dengan adonan kue mendekati kakaknya dan langsung duduk di sebelahnya.


“Wah bener kamu udah jadian sama Bianca ?” Mama Angela langsung ikut duduk di bangku seberang Devano. Terpancar binar kebahagiaan di wajahnya.


“Belum,” lirih Devano lesu.


“Ditolak ?” Tanya Diana.


“Atau kamu malah belum menyatakan cinta juga ?” Nada suara mama Angela berubah tinggi.


“Digantung.”


“Maksudnya digantung di pohon gitu ?” Diana langsung tertawa terpingkal mendengar jawaban Devano, apalagi dengan wajah kusut.


“Yang jelas kalau ngomong dong Devan.” Mama Angela tidak dapat menahan senyumannya juga. Mau tertawa rasanya tidak tega melihat ekspresi anaknya.


“Bianca nggak kasih jawaban pasti, menerima atau menolak aku, Ma.” Devano mengangkat wajahnya dan menatap mama Angela yang masih senyum-senyum.


“Makanya jangan suka gantung perasaan orang. Memangny enak digantung begitu ? Untung digantungnya di pohon toge bukan tiang listrik.”


Mama Angela tidak dapat lagi menahan tawanya saat mendengar omongan Diana.


Devano sendiri hanya diam saja, tidak seperti biasanya yang pasti langsung akan memarahi Diana.


Raut wajahnya berubah sedikit cerah saat melihat pesannya sudah centang dua dan berwarna biru.


“Makan dulu, Van.” Mama Angela menyendokkan nasi dan meletakkannya di depan Devano.


Sambil sekali-sekali melirik ke handphonenya, Devano yang memang sudah kelaparan langsung menikmati makan siangnya. Tidak ada percakapan lagi dengan mama Angela dan Diana karena keduanya juga kembali sibuk dengan panggangan kue.


Raut wajah Devano kembali berubah kecewa karena sampai dia selesai makan, Bianca tidak membalas pesannya, hanya membaca saja.


Diana sudah kembali duduk di seberang Devano dan memperhatikan wajah kakaknya yang tadi sempat cerah berubah kusut lagi.


“Kenapa lagi ?”


Devano hanya meliriknya sekilas lalu kembali memandang handphonenya. Diana langsung mengambil benda pipih kakaknya dan membaca pesan yang terlihat di layar sebelum Devano sempat mencegahnya. Devano berusaha mengambil kembali miliknya dan tanpa bersusah payah ternyata Diana langsung mengembalikannya.


Diana langsung mengeluarkan handphone miliknya dari kantong celana pendeknya. Dia memencet tombol yang ada di sana dan meletakannya di meja, di antara dia dan Devano.


“Jangan berisik, dengerin aja.” Pesannya pada Devano saat nada sambung mulai terdengar dengan nama Bianca muncul di sana. Diana memencet tombol speaker supaya Devano bisa ikut mendengarkan suara Bianca.


“Halo.” Akhirnya terdengar suara Bianca membuat Devano sedikit berbinar.


Diana meletakkan telunjuk di bibirnya sebagai kode supaya Devano tetap diam.


“Halo Biii, apa kabarnya ? Udah lama nggak ketemu.”


“Cckk baru juga 3 bulanan kita nggak ketemu. Lebay deh.”


“Dimana Bi ? Ketemuan yukkk, kebetulan hari ini Revan lagi libur nih.”

__ADS_1


“Iihh ogah ah kalau pergi sama kamu dan Revan, jadi nyamuk dong akunya.”


“Aku ajak Kak Devano ya ?” Diana terkekeh.


“Langsung batal kalo kakak kamu yang ikut pergi.”


Ekspresi Devano berubah kesal saat mendengar Bianca menolak pergi dengannya.


“Udah jinak kok sekarang, Bi.” Diana tergelak.


“Memangnya macan Di, udah jinak.” Bianca ikut tertawa.


“Kan kamu sendiri sama Kak Dimas yang bilang kalau Kak Devano itu macan.”


“Macan ompong.” Sahut Bianca masih dalam tawanya.


Diana semakin tertawa apalagi melihat wajah kakaknya memerah dan terihat sangat kesal.


“Kamu nggak mau jadian aja sama Kak Devano, Bi ? Kan asyik kita bisa doubel date atau malah triple sama Mia dan Kak Arya.”


“Duh gimana yaaa…” Bianca menggantung kalimatnya. “Kamu jodohin aja kakak kamu sama Arini, Di.” Bianca terkekeh.


“Wah kalau sama Arini bukannya dating tapi darting.”


Bianca dan Diana langsung tertawa.


“Apa kabar sayang ?” Mama Angela yang kembali ke meja makan dengan seloyang kue bolu keju yang baru matang ikut menyapa Bianca.


“Sore Tante, apa kabarnya ?” Balas Bianca.


“Kamu kok nggak main lagi kemari ?”


“Takut diusir sama macannya Tante.” Bianca tertawa kecil aaat menjawab pertanyaan Mama Angela.


“Udah jinak sekarang Bi,” mama Angela melirik ke arah Devano.


Bianca hanya tertawa tanpa menjawab apapun.


“Papa Harry bilang kamu lagi pergi sama anaknya Om Ardi ?” Tanya mama Angela.


“Kemana Bi ? Lama nggak ? Tante kangen nih.”


“Ke Salatiga, Tante. Mungkin sekitar 2 - 3 bulan Tante.”


Devano langsung membelalak saat mendengar waktu kepergian Bianca. Wajahnya mendadak lesu.


“Salatiga dimananya Bi ?” Diana gantian bertanya.


“Persisnya aku nggak tahu Tante, ini langsung ikut aja.”


Devano mengepalkan tangannya di bawah meja. Bisa-bisanya Bianca mau diajak sama Desta tanpa mengetahui tujuan tempat tinggalnya.


“Kamu nggak takut dibawa ke hutan dekat kaki gunung, Bi ?” Gurau Diana.


“Udah biasa sama macan Di, jadi sepertinya aman biar dilepas di hutan.”


“Begitu balik Jakarta, kamu harus main ke rumah dan ketemu tante ya.” Mama Angela kembali buka suara.


“Nggak khawatir saya makannya banyak Tante ?”


“Aman Bi, mau makan apa tinggal disiapin.”


“Yang penting pawang macan Tante aja… Takut saya nanti diomelin.”


Bianca, Diana dan mama Angela tertawa. Diana malah tertawa paling keras karena melihat rona wajah Devano yang dalam mode kesal.


“Kalau kamu mau terima jadi pawangnya, pasti macan tante akan nurut.”


“Sekarang sampai dimana Bi ?” Tanya Diana.


“Lagi otw ke Salatiga Di, lagi di tol. Tadi kan naik pesawatnya sampai Semarang.”


“Ya udah kamu hati-hati di jalan ya… Tante sama Diana menunggu kamu balik ke Jakarta.”


“Mau titip salam buat macan ompong nggak Bi ?” Goda Diana yang langsung mendapat pelototan dari Devano.

__ADS_1


“Nggak usah, Di. Nggak bakal dibalas juga.” Terdengar tawa Bianca di sela jawabannya.


“Sampai bertemu di Jakarta Tanre, Diana. Salam buat om Harry.”


“Kamu jaga kesehatan di sana, sayang.”


“Terima kasih. Tante sama Om juga ya.”


“Tunggu Bi,” Diana buru-buru bersuara sebelum Bianca memutus sambungan teleponnya.


Devano memberi kode kalau dia ingin berbicara dengan Bianca.


“Ada apa Di ?”


“Sebentar ada yang mau aku omongin.”


Devano langsung mengambil handphone Diana dari atas meja makan dan mematikan lambang speaker di handphone sambil berjalan meninggalkan meja makan.


“Kenapa wa aku dibaca doang nggak dibalas Bianca ?” Devano yang masih kesal langsung berbicara si handphone.


“Kamu…”suara Bianca terdengar gugup.


“Mau langsung diputusin teleponnya ?” Omel Devano.


“Sorry Van, aku tadi turun pesawat hanya buka wa tapi belum sempat membalas. Lagipula aku…”


“Sibuk sama Desta ?” Potong Devano.


Terdengar tarikan nafas panjang Bianca karena menahan kesal.


“Kalau kamu mau marah-marah doang, aku lagi nggak mood dengerinnya. Nanti aja telepon lagi kalau sudah tenang.”


Devano gantian menarik nafas dan berusaha mengendalikan emosinya.


“Sorry.” Ucapan Devano membuat Bianca terkejut. “Aku khawatir banget karena kamu perginya sama Desta.” Cicit Devano.


Tanpa sadar, Bianca menyunggingkan senyum yang sudah pasti tidak bisa dilihat Devano. Ada jutaan bunga-bunga bermekaran di hatinya.


“Ya udah nanti aku telepon lagi.”


“Kamu beneran nggak ada apa-apa sama Desta kan ? Kamu nggak mau membalas pernyataan cinta aku bukan karena Desta kan ?”


Bianca kembali tersenyum di dalam mobil. Desta yang duduk di depan sebelah sopir pun tidak bisa melihat pancaran kebahagiaan Bianca, sementara Sella yang duduk di sebelahnya sedang tertidur pulas sejak mobil memasuki jalan tol.


“Nggak kok,” jawab Bianca pelan.


Devano pun langsung tersenyum lebar dengan wajah bahagia saat mendengar jawaban Bianca.


“I love you, Bi.”


“Iya”


“Kok jawabnya iya doang !” Protes Devano.


Namun belum sempat melakukan protes lebih lanjut, sambungan telepon terputus. Devano mengomel sendiri dan mencoba menghubungi Bianca kembali namun langsung masuk ke kotak suara.


Devano kembali ke ruang makan dan mengembalikan handphone Diana lalu mengambil handphone nya sendiri.


Devano lanjut kembali ke kamarnya untuk menyegarkan diri dan matanya mulai mengantuk.


Selesai mandi, ternyata suara notifikasi pesan masuk terdengar dari handphonenya yang diletakkan di nakas.


Bianca : Sorry sinyal agak jelek karena masuk daerah pegunungan Dev.


Devano : Ya


Bianca : jaga kesehatan dan makan teratur. I love you too 😘


Devano : love you more ❤️❤️


Devano kembali melebarkan senyuman di wajahnya. Bianca sudah memberikan kepastian pada Devano dengan tulisan di pesannya.


Devano langsung mencium layar handphonenya dengan kebahagiaan yang tidak terlukiskan.


“Semoga keputusanku tidak salah.” Batin Bianca setelah mengirim pesan balasan untuk Devano.

__ADS_1


__ADS_2