Bukan Mantan Pacar

Bukan Mantan Pacar
Bab 96 Lamaran yang Tertunda


__ADS_3

Papa Harry, Mama Angela dan Mama Lisa mempersilakan para tamu untuk menikmati makan malam dulu.


Mereka yang hadir adalah keluarga inti Bianca dan Devano, para sahabat keduanya lengkap dengan orangtua dan saudara mereka ditambah undangan mama Lisa yaitu perwakilan dari keluarga papa Indra.


Mereka semua sudah tahu permasalahan yang dihadapi sehingga acara inti hari ini jadi tertunda atau mungkin dibatalkan.


Devano masih duduk di bangkunya dan menangkup wajah dengan kedua tangannya yang ditopang di atas meja. Pikirannya kacau. Rencana kejutannya malah berbalik membuatnya berantakan.


Para sahabat Devano mencoba membujuknya untuk makan dulu supaya pikiran Devano bisa lebih baik mencari jalan keluarnya. Mengingat beberapa hari ini Devano terlalu bersemangat mempersiapkan semuanya, hingga membuat pria itu melupakan jadwal makannya.


“Makan dulu, Devan.” Mama Angela meletakkan sepiring nasi lengkap dengan lauknya di depan Devano.


“Nggak nafsu makan, Ma.”


Mama Angela mengusap-usap punggung putranya. Tatapan wajah anaknya terlihat sendu dan putus asa.


“Sabar. Mungkin memang benar kalau Bianca sedang menemui Desta yang membutuhkannya karena sedang di rumah sakit. Jangan berpikiran negatif dulu.”


Devano berusaha tersemyum. Getir.


Mama Angela mendekatkan piring yang dibawanya ke hadapan Devano.


“Mau mama suapin seperti waktu kecil ?” Goda mama Angela.


Devano menggeleng sambil tersenyum dan mulai mengambil sendok dari atas piring.


Di meja itu, duduk bersamanya Arya, Joshua, Leo, Ernest, dan Dimas. Mia sudah bergabung dengan Della, Dewi dan yang lainnya. Daripada Mia terus merasa cemas dan gelisah, Arya menyuruhnya untuk bergabung dengan para sahabatnya.


Di tengah-tengah acara makan, tiba-tiba terdengar bunyi notifikasi pesan masuk dari beberapa handphone.


Di meja Devano, bunyi datang dari handphone Ernest dan Dimas. Tidak lama papa Ardi dan papa Harry mendekat.


“Van, handphone Bianca sudah terdeteksi aktif kembali.” ucap papa Harry yang bediri dekat Devano.


Joshua yang paling dekat posisinya dengan para orangtua itu langsung berdiri dan mengambilkan kursi untuk keduanya.


“Iya Van, handphone Desta juga sudah aktif. Om sudah mencoba menghubunginya tapi tidak diangkat.”


“Loh Van, orang gue mendeteksi kalau mereka berdua ada di sini, satu titik dengankita.” Ernest menatap Devano sambil mengerutkan dahinya.


“Di sini ?” Joshua, Leo dan Arya bicara bersamaan.


“Iya bener, Bro. Gue minta tolong Vino dan benar kata Ernest, mereka ada di sini.”


Devano langsung berdiri dengan raut wajah kesal. Kedua tangannya mengepal di samping kiri dan kanan.


Belum sampai langkah Devano masuk ke arah dapur Cafe Pelangi, Bianca dan Desta muncul sambil tertawa.


Wajah Devano bertambah kesal hingga memerah. Kepalan tanganya semakin kuat.


Bianca sudah berdiri di hadapan Devano, sementara Desta melewati mereka dan menghampiri meja dimana papa Ardi berada.


Para tamu menikmati acara makan sambil memperhatikan kedua insan yang menjadi bintang utama malam ini.


“Sudah puas mau kerjain aku ?” Tanya Bianca sambil tersenyum menatap Devano.


Pria itu membuang muka ke lain arah dengan wajah masih memerah menahan kesal.


“Masih tetap mau marah atau menuntaskan rencana kejutan kamu malam ini ?” Goda Bianca.


Devano pun menoleh dan menatap Bianca.


“Kenapa kamu sama Desta ?” tanyanya dengan nada kesal.


“Hanya mau mengimbangi permainan kamu sama Arya dan Mia.” Bianca tertawa pelan.

__ADS_1


“Kok kamu tahu ?” Devano mengerutkan dahinya.


“Buat aku nggak masalah kalau kamu mau buat kejutan, apalagi sampai bawa-bawa kekasih orang untuk membuat aku cemburu. Tapi yang benar-benar membuat aku kesal dsn akhirnya membalasmu, kenapa kamu mau aja dikasih ide sama Mia untuk pura-pura mengabaikan aku ?” Bianca mencibir.


“Laki-laki nggak punya prinsip,” gerutunya.


Devano memicing dan semakin mendekati Bianca.


“Seperti apa laki-laki yang punya prinsip ? Seperti Desta ?” Tatapan tajam Devano tidak mampu membuat Bianca cemas, malah gadis itu tertawa kecil.


“Aku tanya lagi nih, mau meneruskan acara ini atau batal karena aku pergi lagi ?”


Devano menarik nafas dan membuangnya dengan kasar. Pandangannya kembali menoleh ke lain arah.


“Sudah ayo habiskan dulu makanan kamu,” Bianca langsung merangkul lengan Devano dan mengajaknya kembali ke meja.


Mulanya Devano menolak sampai Bianca hendak melepaskan tangannya. Devano langsung menahannya dan menggandeng Bianca kembali ke mejanya.


Ernest langsung bangun dan berpindah ke kursi lain supaya Bianca bisa duduk di sebelah Devano.


“Gimana ceritanya kamu sama Desta bisa ada di sini ?” Tanya papa Ardi sambil menautkan kedua alisnya.


Bianca menatap Desta sejenak dan akhirnya keduanya tertawa.


“Karena bocoran dari Arini,” ucap Bianca sambil menoleh ke Arya.


Semua wajah langsung terkejut tidak terkcuali Arya juga. Spontan orang-orang yang duduk di meja itu ikut menatap Arya. Arya menggeleng-geleng mengisyaratkam kalau dia tidak tahu soal itu. Bianca dan Desta kembali ke tertawa.


“Aku akan ceritakan semuanya, tapi kamu sambil makan, ya.” Bianca menggenggam satu tangan Devano sambil menatapnya. Berkata pelan untuk menyuruh Devano menghabiskan makannya.


“Maunya disuapin, Bi,” celetuk Dimas.


“Nanti kalau sudah sah aku suapin tiap hari biar pada iri,” bisik Bianca di telinga Devano. Wajah pria itu langsung memerah namun senyum tipis juga terukir di wajahnya.


Devano pun mendekatkan piringnya yang masih sisa setengah.


Ternyata tidak lama Mama Angela dan Mama Lisa ikut bergabung juga di meja itu dan duduk di kursi yang ditempati Dimas dan Leo. Kedua pria itu mengambil kursi lain dan menempatkan di belakang yang lainnya. Kedua mama itu ingin juga mendengarkan penjelasan Bianca.


Bianca pun mulai bercerita bagaimana awalnya dia tahu tentang kejutan acara malam ini. Awalnya Desta yang mendapat kabar dari Arini bahwa Devano akan melamar Bianca dalam acara kejutan. Semua itu dilakukan Arini karena ingin mengejek Desta yang gagal mendapatkan Bianca, senasib dengannya yang gagal mendapatkan Devano. Bianca pun menjelaskan bagaimana Arini bisa mengenal Desta. Mereka tidak sengaja bertemu di kantor Papa Ardi karena Opa Ruby meminta Arini menemaninya menemui papa Ardi.


Desta yang mengetahui rencana Devano akhirnya mengabarkan Bianca tepat pada saat Bianca diajak ke butik dan berada di kamar ganti tanpa didampingi salah satu sahabatnya. Mereka sempat berbincang lama lewat telepon.


Bianca yang sempat kesal karena merasa diabaikan oleh Devano lebih dari seminggu terakhir, mencetuskan ide untuk balik mengerjai Devano dengan bantuan Desta.


Bianca memang sempat curiga dengan tingkah ketiga sahabarnya yang memaksanya mencoba pakaian sendirian sedangkan ketiganya malah tidak mencoba satu pakaian pun. Padahal awal tujuan mereka mengunjungi butik bareng karena ingin mencari pakaian yang cocok sesuai tema acara. Belum lagi dengan perlakuan Mia yang langsung memberinya 2 buah dress tanpa memberi kesempatan Bianca untuk melihat-lihat.


Sehari sebelum hari H, dengan bantuan Desta akhirnya Bianca berhasil menemui Arini untuk memastikan rencana kejutan Devano,. Mia sempar membuatnya berpikir kalau hari ini adalah lamaran Arya kepada Mia.


Arini yang memang sudah terbakar cemburu dan rasa marah, begitu mudahnya bercerita tentang semuanya termasuk keterlibatan semua pihak untuk mendukung keberhasilan rencana Devano.


Bianca pun menyusun rencana, termasuk panggilan telepon dari orang lain yang seolah-olah mengabarkan berita tentang Desta. Sengaja Bianca memilih pergi dengan kondisi mematikan handphone karena teringat kalau orang-orang yang berdiri di belakang Devano adalah orang-orsng hebat yang pasti akan langsung melacaknya.


Selain dengan Desta, Bianca pun meminta bantuan Kak Juan sang pemilik cafe yang kemudian mempercayakan eksekusi rencana Bianca pada Rendi, manajer cafe.


Desta dan Bianca tidak pergi kemana-mana. Mereka ada di tempat yang sama dan melihat semua kejadian yang ada di cafe dari ruangan Kak Juan melalui CCTV.


Bahkan keduanya menikmati kejadian di bawah seperti sebuah live show.


“Kamu tega banget sama aku, Bi.” Lirih Devano.


“Bukan tega, Devan… Tapi mengimbangi permainan kamu biar makin seru.” Bianca tersenyum manis.


“Lagian elo juga Devan,” Desta yang duduk berseberangan dengannya akhirnya buka suara.


“Calon istri elo ini bukan psikolog sembarsngan, tapi merangkap cenayang.”

__ADS_1


Semua yang duduk berkelilinh di meja itu jadi tertawa mendengar perkataan Desta.


“Coba tuh tanya Sella yang pernah dibantu sama Bianca, dia sendiri bilang kalau Bianca itu sebenarnya psikolog apa cenayang ?”


“Iya benar Devano, Sella pernah bilang begitu juga sama Om,” timpal Papa Ardi.


Bianca hanya senyum-senyum mendengar pembicaraan itu.


“Wah Bro, elo harus hati-hati dan mikir dua kali kalau mau selingkuh. Bukan cuma bisa ketahuan sama Bianca tapi sekalian disantet,” celetuk Joshua yang langsung disambut gelak tawa yang lainnya.


Bianca ikut tertawa sementara Devano terihat masam karena kesal karena termyata Bianca mengerjainya balik.


“Jadi bagaimana, Van, masih mau melamar Bianca jadi istri kamu nggak ?” Goda Papa Harry.


“Kalau nggak jadi, biar om aja yang melamar untuk Desta,” sahut papa Ardi yang langsung membuat wajah Desta memerah.


“Dasar om-om jahil,” omel Mama Angela yang melempar papa Ardi dengan tissue yang sudsh dikepal seperti bola.


“Mau aku panggil orang sekampung buat pukulin kamu kalau berani mengambil calon menantuku ?”


Tatapan galak mama Angela membuat mama Lisa jadi tersenyum.


Ada kebahagiaan di hatinya karena akan melepas anaknya bukan hanya pada pria yang sangat mencintainya tetapi juga keluarga yang sangat menyayangi dan melindunginya.


“Kalau yang begini, dilarang pakai jalur hukum, Di,” papa Harry menggoda papa Ardi sambil menyenggol bahu sahabatnya.


“Ini lebih ganas, Bro. Perlu kamu sebagai pawangnya.”


Kedua pria paruh baya itu pun sama-sama tergelak.


“Bagaimana Devano, kamu masih mau lanjutkan sekarang atau nggak nih ?” Mama Angela pun menanyakan pada Devano yang sedari tadi hanya diam saja.


Devano menoleh dan menatap Bianca dalam-dalam. Dia menarik nafas panjang dan menghembuskannya perlahan.


Devano langsung berdiri dan mengeluarkan sebuah kotak dari saku jasnya. Lalu dia langsung berlutut di depan Bianca.


“Bianca Aprilia, di depan orangtua kita dan para sahabat aku ingin melamarmu menjadi istriku. Apa kamu bersedia menjadi teman hidupku ?”


Blushh..


Wajah Bianca langsung merona diperlakukan sedemikian romantis oleh Devano. Bahkan melamarnya pun di depan banyak orang. Bianca masih terdiam dengan wajah menunduk tersipu malu.


Wajah-wajah di sekitar meja mendadak tegang tanpa bersuara sedikitpun.


Ketiga sahabat Bianca dan Bernard pun mendekat tanpa disadari siapapun yang sudah ada di dekat Bianca dan Devano.


“Bi,” panggil Devano pelan. “Kaki aku kok berasa sakit, nih.”


Dimas dan Joshua yang ikut mendengar tidak mampu menahan tawanya membuat yang lain langsung tertawa.


“Devan, baru berlutut belum 5 menit aja udah sakit,” ledek Joshua.


Mereka yang tadinya bingung melihat kelakuan Dimas dan Joshua langsung ikut tertawa juga.


Devano langsung cemberut diledek dan ditertawkan yang lainnya. Pelan-pelan dia bangun untuk meluruskan kakinya.


Namun belum sampai dia berdiri sempurna, tangan Bianca menahannya dan menarik ke dekatnya.


“Aku mau Devano Putra Wijaya,” bisik Bianca pelan di telinga Devano. Setelah itu Bianca langsung mencium pipi Devano.


Keluarga dan sahabat yang semula tertawa mendadak diam dan memandang terkejut saat Bianca mencium pipi Devano.


Namun melihat semburat merah di wajah Devano, sudah bisa dipastikan jawaban apa yang diberikan oleh Bianca. Spontan semuanya bertepuk tangan, termasuk para undangan lainnya yang berada di sisi yang lain.


Devano kembali berdiri sempurna dan mengulurkan tangannya meminta Bianca ikut berdiri di hadapannya.

__ADS_1


Devano pun menyematkan cincin lamaran yang sudah disiapkannya. Sesudah itu dia mencium kening Bianca lama dan penuh kehangatan.


“Aku ikut berbahagia untukmu, Bianca,” batin Desta yang duduk di seberang keduanya.


__ADS_2